Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba
Kasih melangkah memasuk ke ruko itu dengan jantung yang berdegub kencang.
Perutnya yang lapar dan perih ia coba tahan, demi mendapatkan sebuah pekerjaan..
Tertulis di spanduknya 'LAUNDRY RARHMA—DICARI KARYAWATI BAGIAN SETRIKA'.
Ibu pemiliknya, Bu Rahma, dan usianya 50-an tahun. Kerudungnya rapi. Matanya tajam dalam menilai seseorang.
"Kamu serius bisa setrika?" ucapnya sembari memindai penampilan Kasih dari ujung rambut hingga ujung kepala.
"Bisa, Bu. Dulu bantu di warung juga." Kasih menunduk. Takut ketahuan gugup.
"Gaji 70 ribu per hari. Makan bawa sendiri. Tidurnya di belakang. Mau?"
Kasih langsung mengangguk. "Mau, Bu. Makasih banyak."
"Baiklah. Kamu boleh bekerja mulai hari ini," jawab Rahma, sembari mempersilahkan Kasih untuk masuk.
***
Hari pertama bekerja, Kasih mendapatkan upahnya. Ia sangat senang. Lalu membeli nasi, dan makan dengan lahap, karena sudah kelaparan sejak pagi.
Tak lupa ia membeli daster seharga tiga puluh ribu yang di jual di toko sebelah, sebagai ganti. Ia merasa sangat lega.
Hingga tiga hari pertama ia bekerja masih dalam kondisi yang aman.
Kasih bekerja dari pukul tujuh pagi sampai pukul delapan malam. Tangannya cekatan. Baju pelanggan rapi semua.
"Kamu memang sangat cekatan. Saya sangat suka memiliki karyawan seperti kamu." ucap Bu Rahma dengan tulus.
Kasih mengulas senyum tenang. Ia sudah mendapatkan gajinya. Menyisihkan sebagainnya.
Malam ini, ia menyiapkan pekerjaannya lebih cepat. Karena laundry cukup ramai dan mencapai seratus kilo, maka Bu Rahma memberikannya bonus tiga puluh ribu.
Kasih sangat senang dengan upahnya. Itu tandanya uang bonus tersebut, lepas membeli nasi geprek seharga sepuluh ribu seporsi.
Ia kembali ke gudang. Tubuhnya yang lelah dan penat, langsung ia baringkan di atas kasur lipat yang di sediakan oleh Bu Rahma.
Matanya sudah sangat mengantuk, dan ia perlahan mulai tertidur.
Akan tetapi, ia merasakan sesuatu di atas dadanya.
Dimana ada tangan yang meremas kedua buah semangkanya. Dalam kondisi kepala yang kliyengan menahan rasa lelah dan penat seharian bekerja, ia memaksa membuka matanya.
Alangkah terkejutnya ia, saat melihat seorang pria berusia lima puluh dua tahun dengan rambut yang memutih sudah berada di atas tubuhnya.
"Hah!" ia tersentak kaget.
Dengan susah payah ia mendorong pria tersebut, dan berusaha untuk melepaskan dirinya.
"Aaaa...!"
Mulutnya langsung di bungkam. Kasih tidak tahu, bagaimana bisa pria itu masuk ke dalam tempat peristirahatannya.
Apakah ia memantau jam kerjanya, dan menyelinap masuk sebelum ia pulang bekerja.
Suara teriakan Kasih yang terdengar oleh Rahma, langsung membuat wanita itu mersa curiga.
Tepat pukul sebelas malam, Bu Rahma menuju ke gudang. Ia mendengar suara desah nafas dari pria yang berusaha memaksa kehendak hasratnya.
Saat itulah di perut bawah Kasih terasa berdenyut lagi.
Dari celah pintu, keluar asap hitam yang sangat tipis. Dan membentuk sosok wajah yang sangat mengerikan.
Karyo membeliakkan kedua matanya. Tetapi tiba-tiba...
Braaak!
Saat bersamaan, pintu di paksa di buka. Saat itu, Bu Rahma diam membeku melihat apa yang terjadi.
Pria tua yang merupakan suaminya berusaha menggagahi karyawannya.
"Biadab!" maki Bu Rahma dengan perasaan yang sangat hancur. Wajahnya memucat.
"Kasih, tolong pergi dari sini," suara Bu Rahma cukup pelan. Ia tau Kasih tidak bersalah, dan ini terpaksa ia lakukan.
"Sayang, dia yang mencoba menggodaku," tuduh Karyo dengan keji.
Tetapi Bu Rahma tidak menggubrisnya. "Sayang, dengarkan a..."
"Stop! Kamu yang biadab!" potong Bu Rahma dengan cepat.
Kasih bergegas membenahi pakaiannya. Ia pergi dengan berbekap uang dua ratus ribu saja. Tetapi ia kersa jika itu lebih dari cukup.
Ia keluar dari rumah Bu Rahma. "Makasih sebelumnya, Bu. Dan maaf untuk semuanya." ucap Kasih dengan bibir gemetar.
Bu Rahma tak menjawab. Ia sedang menahan rasa sakit di hatinya.
Kasih melangkah dengan sendal berbahan serofom yang ia beli dengan gajinya.
"Ya Tuhan... Mau kemana lagi..." rintihnya dengan wajah memelas.
Langkahnya menyusuri trotoar yang sedikit gelap. Karena beberap lampu penerangannya mati.
Di ujung sana, terdapat gerombolan para anak jalanan yang sedang mabuk-mabukkan dan pengguna drugs khas para pengangguran.
Kasih terus melangkah. Konsentrasinya yang pecah akibat semua masalah yang di hadapinya, sehingga tanpa sadar melewati para gerombolan tersebut.
"Wiiih, malam-malam begini ada cewek cakep lewat sendirian. Sepertinya sedang mencari teman untuk di garap," ucap salah satu pemuda yang bertindik.
Kelima pemuda itu saling pandang. Lalu mengangguk pelan.
Mereka berjalan membuntuti Kasih dari arah belakang dengan motor, sedangkan dua orang lainnya dengan berjalan kaki.
"Hai, Cantik," salah satunya menghadang.
Kasih tersentak kaget. Lalu berjalan mundur.
Akan tetapi seorang pria brandal menangkapnya dari arah belakang.
Dengan cekatan mereka akan membawa Kasih untuk naik ke atas motor.
"Lepasin!"
Kasih memberontak, dan merampas helm yang di pegang oleh salah satu pemuda brandal.
Taak!
Helm tersebut menghantam kepala pemuda yang memeganginya dengan paksa.
Tak!
Dua orang pemuda berhasil ia getok. Dan ia meloloskan diri, lalu melarikan dirinya menyusuri trotoar yang sepi dan gelap.
Para pemuda berandal itu mengejarnya. Kasih semakin mempercepat larinya. Ia memilih memasuki sebuah SPBU yang hampir tutup, tetapi berharap dapat berlindung di sana.
Hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang sedang berdiri di samping mobilnya, dan sedang ingin pergi ke toilet.
Braaak!
Kasih jatuh ke dalam pelukannya, dan merapat ke dinding mobil.
Melihat para pemuda itu masih mengejarnya. Pikirannya sangat kacau, lalu memutar tubuhnya dan membuat tubuhnya yang berada di dinding mobil, dan pria itu melindunginya dari pandangan para preman tersebut.
Melihat Kasih menghilang dan masuk ke dalam fasilitas umum, membuat para Berandalan itu pergi.
Nafas Kasih tersengal. Lalu melirik ke arah luar. Dan setelah memastikan semuanya aman, Kasih mendorong tubuh pemuda tersebut.
"Maaf." ucapnya dengan nada bergetar, dan kepala yang menunduk, sembari ngeloyor pergi.
Pemuda itu menatap punggung Kasih yang berjalan menyusuri ruang gelap SPBU, sepertinya ia ke mushola untuk menumpang tidur.
Pemuda itu ingin menghampirinya, tetapi sebuah panggilan telepon masuk, dan membuatnya memilih untuk bergegas pergi. Bahkan lupa untuk buang air kecil.
Di tempat lain, Terlihat Karyo sedang menggigil ketakutan. Dimana tubuhnya mendadak seperti kaku dan tidak dapat di gerakkan setelah ia melihat sosok mengerikan yang muncul di dalam gudang.
Sedangkan Rahma tak peduli padanya. Pengkhianatan itu sungguh menyakitkan.
"S-sayang... Tolong aku, aku benar di jebak," ucapnya dengan terbata.
"Dijebak bagaimana?! Aku tau kau seperti apa! Dasar mata keranjang!" jawab Rahma dengan geram.
"T-tetapi aku khilaf," Karyo membela diri.
"Khilaf yang berulang, dan itu namanya kesengajaan!"
Mendadak wajah Karyo membiru, dan mengejang.
Rahma tersentak kaget. Tak ingin mendapatkan masalah, akhirnya ia membawa Karyo le rumah sakit.
dr ikut Rayyan dan skrg ikut sama Farhan ( anak nya )