Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teh Pagi dan Kedatangan Sang Bayangan
**Empat Tahun Kemudian**
Angin sore berembus lembut membawa guguran daun *maple* yang menguning di halaman belakang rumah kayu keluarga Wiraya. Danau Wakatipu memantulkan cahaya jingga matahari terbenam, menciptakan lukisan alam yang begitu menenangkan.
Di ruang tengah rumah yang dulunya selalu rapi dan minimalis, kini berserakan balok susun warna-warni, boneka beruang, dan buku cerita bergambar.
Aluna baru saja kembali dari rumah kaca di samping kediaman mereka, membawa sekeranjang penuh bunga *lavender* segar. Saat ia melangkah masuk ke ruang tengah, pemandangan di depannya membuat langkahnya terhenti. Sang mantan "Palu Es" harus menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak meledakkan tawa.
Di atas karpet berbulu tebal, duduklah pria bertubuh raksasa dengan bahu selebar pintu. Pria yang dulu dikenal sebagai "Sang Algojo dari Timur"—pembunuh paling mematikan yang pernah ditakuti seluruh mafia daratan Eropa—kini sedang duduk bersila dengan patuh.
Yang membuat Aluna menahan tawa adalah sebuah mahkota plastik berwarna merah muda bertengger miring di atas rambut hitam Arjuna yang sedikit berantakan. Di tangan besarnya yang kapalan, Arjuna memegang sebuah cangkir teh mainan berwarna kuning seukuran ibu jarinya, sementara jari kelingkingnya ditekuk ke atas dengan gaya bangsawan yang kaku.
Di hadapan Arjuna, duduk seorang gadis kecil berusia tiga tahun dengan rambut hitam lebat dan sepasang mata bulat yang sangat gelap—mewarisi tatapan tajam ibunya. Gadis kecil itu, Aurora Wiraya, mengenakan gaun tutu biru dan menatap ayahnya dengan wajah sangat serius.
"Ayo minum tehnya, Papa Beruang. Nanti dingin," perintah gadis kecil itu dengan nada otoriter yang luar biasa mirip dengan Aluna saat memimpin sidang.
"Baik, Yang Mulia Tuan Putri Aurora," jawab Arjuna dengan suara beratnya yang sengaja dilembutkan. Pria itu mendekatkan cangkir mainan kosong itu ke bibirnya dan membuat suara seruputan yang berlebihan. "Ah, teh stroberinya lezat sekali. Apakah Papa Beruang boleh minta biskuitnya?"
"Tidak boleh. Biskuitnya untuk Tuan Kelinci," jawab Aurora tegas, menyodorkan piring mainan ke arah boneka kelinci di sebelahnya.
Arjuna hanya bisa mengerucutkan bibirnya pasrah, membuat Aluna akhirnya tak kuasa menahan tawa. Tawa renyah wanita itu menggema di ruangan, membuat ayah dan anak itu serempak menoleh.
"Mama!" seru Aurora, melompat berdiri dan berlari memeluk kaki ibunya.
Aluna meletakkan keranjang bunganya dan berjongkok, menggendong putri kecilnya itu dan menghujaninya dengan ciuman hingga Aurora terkikik geli. Arjuna ikut berdiri, melepaskan mahkota plastik itu dari kepalanya dengan wajah sedikit bersemu merah, meski senyum lebar tak bisa lepas dari wajahnya.
"Aku sedang disandera, Na," keluh Arjuna seraya melangkah menghampiri istri dan putrinya. "Tuan Putri ini menyanderaku di meja teh selama satu jam penuh, dan aku bahkan tidak diberi biskuit."
"Itu karena kau belum belajar cara bernegosiasi dengan Tuan Putri, Juna," goda Aluna, mengecup pipi suaminya.
Arjuna mendengus pelan, lalu memeluk pinggang Aluna dan Aurora sekaligus, merengkuh dua wanita paling berharga dalam hidupnya itu ke dalam dada bidangnya.
"Tertawalah sesukamu, Nyonya Wiraya," bisik Arjuna, mendaratkan ciuman dalam di dahi Aluna. "Karena aku rela menukar seluruh kekuasaanku di dunia bawah tanah dulu, hanya untuk bisa minum teh kosong dari cangkir plastik ini setiap hari."
**Malam Harinya, di Bawah Bintang Wakatipu**
Setelah Aurora tertidur lelap di kamarnya dengan dongeng pangeran dan naga yang diceritakan ayahnya, Arjuna melangkah keluar menuju balkon kamar utama. Udara malam Selandia Baru terasa sejuk.
Aluna sudah berada di sana, bersandar pada pagar kayu sambil memandangi bintang-bintang. Wanita itu mengenakan kardigan rajut tebal yang menutupi bahunya. Arjuna datang dari belakang, melingkarkan lengannya dari perut Aluna dan menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
"Tangan ini..." gumam Arjuna pelan, mengangkat telapak tangan kanannya dan menatapnya di bawah cahaya bulan. Tangannya penuh dengan bekas luka masa lalu, luka sayatan pisau Katya, dan kapalan karena mengangkat senjata api selama bertahun-tahun.
"Dulu, tangan ini hanya tahu cara menghancurkan. Mengambil nyawa orang, menarik pelatuk," suara Arjuna terdengar bergetar oleh emosi. Ia membalik tangannya, lalu menggenggam jemari Aluna erat-erat. "Tapi hari ini... tangan yang sama ini menyisir rambut Aurora. Tangan ini menahan tubuhnya saat dia belajar bersepeda. Tangan ini merangkulmu."
Arjuna memutar tubuh Aluna agar menghadapnya. "Terima kasih, Aluna. Jika bukan karena keberanianmu meruntuhkan sistem ayahku... aku mungkin akan mati sebagai monster. Kau memberiku jiwa yang baru."
Aluna tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ia berjinjit dan melingkarkan lengannya di leher Arjuna.
"Kau bukan monster, Juna. Kau adalah pelindungku," balas Aluna, suaranya sarat akan cinta yang tak terukur.
Arjuna menunduk, menyatukan bibirnya dengan bibir Aluna dalam ciuman yang lembut dan penuh rasa syukur. Di bawah taburan bintang Wakatipu, dunia terasa begitu damai.
Namun, dunia mereka yang sempurna itu hanya bertahan hingga keesokan paginya.
**Pesan dari Neraka**
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti permukaan danau. Arjuna melangkah keluar rumah dengan secangkir kopi panas di tangannya. Ia berjalan menyusuri jalan setapak kecil menuju kotak surat kayu di depan pagar pekarangan mereka.
Rutinitas paginya selalu sama: mengambil koran lokal dan menikmati udara segar sebelum Aurora dan Aluna terbangun.
Namun, saat Arjuna membuka kotak surat itu, tidak ada koran di sana.
Sebagai gantinya, terdapat sebuah amplop hitam berbahan *velvet* tebal. Tidak ada prangko. Tidak ada nama pengirim. Hanya ada sebuah segel lilin merah darah di bagian penutupnya.
Jantung Arjuna seolah berhenti berdetak saat melihat cetakan pada segel lilin itu. Itu bukan lambang sembarangan. Itu adalah lambang naga berkepala dua—simbol dari sindikat Bratva generasi lama, faksi fanatik yang seharusnya sudah hancur lebur bersama kematian Katya di Pegunungan Alpen empat tahun lalu.
Dengan tangan yang mendadak dingin, Arjuna mematahkan segel lilin itu.
Di dalam amplop, terdapat dua lembar barang. Yang pertama adalah sebuah foto beresolusi tinggi. Mata kelam Arjuna seketika membelalak ngeri.
Itu adalah foto Aurora. Putrinya sedang bermain di taman bunga *lavender* mereka, difoto dari jarak jauh menggunakan lensa *sniper* tingkat militer. Di sudut foto itu, tercetak *timestamp* digital: gambar itu diambil hanya dua belas jam yang lalu.
Barang kedua adalah secarik kertas perkamen tua. Hanya ada satu kalimat yang ditulis menggunakan tinta merah:
> *Palu es mungkin telah mencair, dan sang algojo mungkin telah tertidur. Tapi darah seorang Bratva tidak akan pernah bisa dicuci bersih dari tangan kalian. Kami menunggumu pulang, Baskara. Atau kami yang akan menjemput paksa putrimu.*
>
Kopi di tangan Arjuna jatuh berdebum ke atas rumput basah, menodai sepatunya.
Udara pagi yang segar mendadak terasa mencekik. Hantu dari Eropa tidak mati. Mereka hanya menunggu dengan sabar di dalam kegelapan, melacak sisa-sisa abu dari ledakan itu hingga ke ujung dunia.
Arjuna meremas surat dan foto itu hingga hancur di dalam kepalan tangannya. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga urat-urat di lehernya menonjol. Sorot matanya yang hangat sebagai seorang ayah kini lenyap tak bersisa. Sepasang mata itu kembali menggelap, sedingin dasar lautan es, memancarkan aura membunuh yang absolut.
Sang Algojo dari Timur telah terbangun dari tidurnya. Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan musuh-musuhnya menghancurkan rumahnya; ia yang akan membawa neraka itu kembali kepada mereka.