NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Status WA yang Menusuk

"Iya, Mbak. Ada apa ya kok tumben nelpon jam begini?"

pinta Andira. Dia bingung.

Lia langsung nyambung, "Apa yang terjadi, Ndir?

Kenapa Mbak Imel bikin status tentang kamu?

Sebenarnya kalian berdua kenapa? Hah?"

Andira kaget. "Buat status ke saya?

Sebentar ya, Mbak. Saya buka WA dulu."

Cepet Andira buka aplikasi biru di HP-nya.

Dia scroll satu-satu status yang muncul di layar HP cantiknya itu.

Tapi gak ada satu pun status milik Imel, kakak iparnya.

"Gak ada, Mbak. Status Mbak Imel gak muncul.

Emangnya statusnya kapan?" tanya Andira penasaran.

"Statusnya baru beberapa menit aja.

Makanya Mbak telpon kamu buat mastiin sebenarnya ada apa,"

tukas Lia di seberang.

"Emangnya isinya bagaimana, Mbak?" lanjut Andira.

"Itu loh. Katanya, 'Sok banget dinasehati malah gak mau denger.

Padahal kan saya cuma mau yang baik biar punya anak.

Kok malah adu ke suami, ih dasar tukang ngadu.'

Ada lagi, 'Bangga dengan pencapaian sekarang,

padahal gak bisa kasih anak ke adik saya.

Ih dasar mandul, gak guna, wkwk.'

Gitu, Ndir," ungkap Lia. Suaranya nahan emosi.

Di seberang, Andira gak tahan. Air matanya jatuh membasahi pipi.

Dadanya serasa dicabik-cabik.

"Tapi, Mbak, gak gitu.

Waktu itu di warung Mbak Imel bukan negur sopan.

Tapi seakan mempermalukan saya di depan banyak orang.

Sampai saya jadi bahan tontonan saat itu,"

jelas Andira. Suaranya gemetar.

"Hah? Kok bisa gitu? Ya udah, jangan diambil hati ya, Ndir.

Kamu kan tau sifat Mbak Imel. Mentang-mentang dia kakak,

semua yang kita adik-adik lakuin tetap salah,"

hibur Lia dari jauh.

"Mbak udah banyak makan asam garam sama sifatnya dia.

Kamu yang kuat ya. Tetep berdoa biar Allah SWT ngabulin

apa yang kamu sama Renaldi inginkan," sambung Lia.

"Iya, Mbak. Makasih banyak ya.

Udah dulu ya, Mbak. Assalamualaikum," ucap Andira pelan.

"Waalaikumsalam, Ndir," jawab Lia.

Abis nutup telpon, Andira nangis sejadi-jadinya.

Dia gak nyangka. Selain dihina di depan umum,

dia juga dihina lewat status WA kakak iparnya sendiri.

Dia gak mau banyak beban pikiran.

Gak mau masalahnya makin panjang.

Andira milih nyembunyiin dari suaminya.

Dia takut Renaldi emosi, terus masalahnya tambah ribet.

"Ya Allah, salah aku di mana?

Apa aku gak berhak mengandung dan melahirkan

kayak perempuan pada umumnya?

Apa dosa aku sama suami aku sampe sekarang belum dikasih anak?

Apa ini yang harus kami terima? Dihina, dipermalukan,

cuma karena belum hamil?"

bisik Andira dalam tangis. Air matanya deras banget.

"Pokoknya aku harus kuat. Jangan lemah karena hinaan ini.

Kalau Mas Renaldi pulang, kita harus ke dokter.

Periksa sebenarnya kendalanya apa sampe kami belum punya anak,"

ucap Andira buat menguatkan dirinya sendiri.

"Kamu kenapa, Ndir?"

ucap Intan yang dari tadi liatin muka Andira sedih abis nerima telpon.

Andira noleh. "Aku bingung, Ntan.

Entah salah dan dosa aku apa sampe gak bisa hamil

kayak perempuan pada umumnya.

Sehingga hinaan selalu aku dapet.

'Mandul' seakan jadi label buat aku. Hiks... hiks... hiks..."

Andira nangis. Dia meluapkan semua isi hatinya ke Intan.

Rekan kerja sekaligus sahabat tempat dia curhat.

Intan langsung peluk Andira kenceng.

"Kamu gak salah, Ndir. Kamu gak berdosa.

Ini semua hak Tuhan. Yang salah dan dosa itu orang-orang

yang selalu nanyain kehamilan kamu.

Kamu pasti punya anak. Ini cuma soal waktu aja.

Jangan sedih lagi. Kamu berhak bahagia meskipun belum punya anak.

Jangan masukin setiap kata hinaan itu ke hati kamu ya.

Kamu wanita baik dan wanita kuat kok,"

ucap Intan sambil ngusap punggung sahabatnya.

"Makasih ya, Ntan.

Makasih selalu ada dan siap dengerin keluh kesah aku,"

imbas Andira sambil menyeka air mata pake tisu.

Intan senyum. "Udah, yuk kita lanjut tugas kita. Semangat!"

Andira angguk. Dia tarik napas panjang.

Dia hapus sisa air mata. Terus masukin HP ke laci meja guru.

Di luar, anak-anak udah pada teriak minta masuk kelas.

Andira berdiri, rapikan jilbabnya. Dia pasang senyum.

"Bu Guru harus kuat," bisiknya ke diri sendiri.

Jam istirahat, Andira duduk di bangku taman sekolah.

Dia buka HP lagi. Status Imel udah ilang.

Tapi screenshot dari Lia masih ada di galeri.

Gambarnya: tulisan putih di background hitam.

"Buat istri adik yang sok pinter.

Udah dinasehatin malah ngadu. Gak guna."

Andira liat itu lama. Tangannya gemetar.

Dia pencet tombol "Hapus". Screenshot itu ilang.

"Ya Allah, aku ikhlas. Aku pasrah," gumamnya.

Siang itu dia makan sendirian di ruang guru.

Nasi + sambel + kerupuk. Lauk ayamnya dia bungkus buat Renaldi.

HP bunyi "ting". Chat dari Renaldi masuk.

"Sayang, Mas udah selesai ketemu Abang Ikbal.

Gak enak, tapi Mas udah ngomong baik-baik.

Mas pulang ya. Kangen."

Andira senyum tipis. Dia balas, "Iya, Mas. Hati-hati."

Dia gak cerita soal status Imel.

Dia simpen sendiri sakitnya.

Biar Renaldi gak kepikiran, gak berantem sama kakaknya.

Sebelum bel masuk, Andira ke kamar mandi.

Dia cuci muka pake air dingin. Liat cermin.

"Andira, kamu gak mandul. Kamu cuma belum dikasih.

Kamu berharga," ucapnya ke bayangannya sendiri.

Abis itu dia keluar. Masuk kelas.

Ngajar 30 muridnya dengan semangat kayak biasa.

Di rumah, Imel masih ketawa-ketawa liat statusnya.

Dia ngira Andira pasti nangis baca itu.

Padahal di sekolah, Andira milih diem.

Milih sabar. Milih percaya sama waktu Tuhan.

Karena dia tau, hinaan orang gak akan nentuin rezekinya.

Yang nentuin cuma Allah. Dan suaminya yang selalu belain dia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!