Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Diagnosis
Bau pembersih karbol yang tajam bercampur dengan aroma obat-obatan kimia dosis tinggi langsug menyergap indra penciuman begitu pintu kamar VIP Rumah Sakit Medika Utama dibuka.
Kamar berharga belasan juta per malam itu memiliki fasilitas setara hotel berbintang, namun atmosfer di dalamnya sedingin kamar mayat.
Cahaya lampu neon putih yang berpendar dari plafon memantulkan kesan steril yang kaku, menguliti sisa-sisa kenyamanan dari siapa pun yang terpaksa mendekam di sana.
Maya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit yang posisinya sedikit dinaikkan. Berbagai selang instrumen medis menempel di tubuhnya yang kian kurus.
Selang infus terpasang di punggung tangan kirinya, sementara seutas kanula oksigen melingkari hidungnya, menyalurkan napas buatan yang terdengar konstan.
Wajah yang dua minggu lalu masih memancarkan pesona jelita itu kini hampir tak mengenali dirinya sendiri. Kulitnya kusam keabu-abuan, pipinya cekung, dan bibirnya yang mengelupas tampak pecah-pecah memerah akibat luka goresan paku berkarat yang ia muntahkan malam itu.
Aryo duduk di kursi kayu di samping ranjang, kedua tangannya saling bertautan menopang dahinya. Setelan kemeja mahalnya kusut masai, matanya merah berdarah dengan kantung mata yang menebal.
Pengusaha yang biasanya selalu tampil rapi dan penuh wibawa itu kini tampak rapuh, seolah-olah usianya mendadak bertambah sepuluh tahun hanya dalam hitungan hari.
Pintu kamar bergeser pelan. Dokter Tirta masuk bersama dua orang pria paruh baya yang mengenakan jas putih dokter spesialis. Di tangan mereka, terdapat beberapa map tebal berisi hasil pemindaian radiologi dan lembaran laboratorium.
Aryo langsung berdiri, menyongsong ketiga dokter tersebut dengan tatapan penuh harap yang bercampur rasa cemas.
"Bagaimana, Dok? Apa hasil dari pemeriksaan menyeluruh dan USG istri saya? Kenapa muntah-muntah berdarah itu belum berhenti sepenuhnya?"
Dokter Tirta melirik kedua rekannya, seolah saling melempar beban untuk menyampaikan kabar yang tidak masuk akal ini kepada seorang miliarder yang sedang frustrasi. Setelah berdeham pendek, Dokter Tirta pun membuka map di tangannya.
"Pak Aryo, kami sudah melakukan seluruh rangkaian pemeriksaan fisik, mulai dari endoskopi saluran pencernaan, CT-scan seluruh tubuh, hingga pemeriksaan toksikologi darah untuk mendeteksi kemungkinan adanya zat beracun," Dokter Tirta menjeda kalimatnya, wajahnya tampak sangat kusut. "Namun ... hasilnya benar-benar membingungkan kami secara medis. Saluran pencernaan Ibu Maya, mulai dari kerongkongan hingga lambung, semuanya bersih. Tidak ada luka robek besar yang dihasilkan oleh benda tajam, tidak ada tanda-tanda infeksi berat, dan tidak ada sisa-sisa material asing yang tersisa."
"Bersih?!" Aryo menyela, suaranya naik satu oktav akibat emosi yang tak tertahan. "Dok, Anda sendiri yang melihat foto gumpalan rambut dan tiga paku berkarat yang keluar dari mulut istri saya di rumah! Saya punya buktinya! Bagaimana mungkin hasil CT-scan menyatakan lambungnya bersih?!"
Dokter spesialis radiologi di samping Dokter Tirta ikut angkat bicara, mencoba menenangkan dengan pendekatan ilmiah yang kaku.
"Pak Aryo, kami memahami kondisi psikologis Anda. Namun, mesin CT-scan kami adalah teknologi mutakhir. Jika ada logam atau benda padat asing sekecil jarum pun di dalam organ dalam Ibu Maya, mesin itu pasti akan menangkap bayangan radiopak yang jelas. Tapi dalam hasil pemindaian ini, organ dalam istri Anda normal. Yang ada hanyalah penurunan drastis fungsi imun yang tidak diketahui penyebabnya."
"Lalu bagaimana dengan kandungannya?" tanya Aryo lagi, suaranya mendadak melorot, parau diliputi ketakutan.
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan maju selangkah, membuka lembaran hasil ultrasonografi (USG).
"Ini yang paling membuat kami khawatir, Pak. Janin di dalam rahim Ibu Maya dalam kondisi yang ganjil. Secara fisik, detak jantung bayinya masih terdengar, namun posisinya ... terus berubah-ubah secara ekstrem dalam jangka waktu singkat. Lebih dari itu, cairan ketubannya tampak sangat keruh pada layar monitor, tidak jernih seperti kehamilan normal dua bulan. Kami mendeteksi adanya gumpalan partikel padat yang melayang-layang di dalam kantung ketuban, tetapi kami tidak bisa mengidentifikasi zat apa itu tanpa melakukan amniosentesis yang berisiko memicu keguguran."
Aryo melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding kamar mandi. Ia menatap ketiga dokter itu dengan pandangan kosong.
Logika medis yang selama ini ia agungkan sebagai pria berpendidikan modern kini hancur berkeping-keping. Mereka memiliki peralatan seharga puluhan miliar, obat-obatan terbaik dari barat, dan gelar profesor, namun tak satu pun dari hal-hal itu mampu membaca tulisan gaib yang dikirimkan dari gubuk tua di lereng Gunung Ijen.
"Kami menyarankan agar Ibu Maya tetap dirawat di ruang isolasi untuk observasi psikiatrik dan penanganan suportif nutrisi," tambah Dokter Tirta pelan. "Ada kemungkinan ... gejala muntah benda asing itu merupakan manifestasi dari gangguan psikologis ekstrem atau histeria massal yang berujung pada tindakan melukai diri sendiri tanpa sadar."
"Dokter bodoh ...."
Sebuah suara bisikan parau memotong kalimat Dokter Tirta. Mereka semua menoleh ke arah ranjang. Maya telah membuka matanya. Sepasang matanya yang kuyu melotot menatap ketiga dokter itu dengan kebencian dan rasa takut yang amat sangat.
"Kalian tidak tahu apa-apa ...," lirih Maya, napasnya tersengal di balik kanula oksigen. "Peralatan kalian tidak akan bisa melihat mereka ... mereka tidak ada di lambungku ... tapi mereka ada di sini ...."
Maya mengangkat tangan kanannya yang gemetar, menunjuk tepat ke arah perutnya sendiri yang tertutup selimut putih rumah sakit.
"Ibu Maya, tenang dulu ya—" Dokter spesialis kandungan mencoba mendekat.
"Jangan mendekat!" jerit Maya mendadak histeris.
Suaranya yang semula parau berubah menjadi melengking tinggi, memicu alarm pada monitor detak jantung di samping ranjang berbunyi nyaring bip-bip-bip dengan ritme yang sangat cepat.
"Mereka sedang mengunyah di dalam sana! Mas Aryo! Tolong aku! Singkirkan dokter-dokter bodoh ini! Mereka tidak bisa menolongku, Mas!"
Aryo segera menerjang maju, memeluk tubuh Maya yang mulai berontak di atas ranjang.
Selang infus di tangannya menegang, hampir terlepas dari kulitnya.
"Dok, tolong keluar dulu! Biar saya yang menenangkannya! Keluar!" teriak Aryo pada ketiga dokter yang tampak panik tersebut.
Melihat kondisi pasien yang tidak stabil, Dokter Tirta segera memberikan isyarat kepada rekan-rekannya untuk mundur. Mereka bergegas keluar dari kamar VIP, meninggalkan sepasang suami istri siri itu dalam pergulatan teror yang tak kasat mata.
Setelah pintu tertutup, ruangan kembali sunyi, hanya menyisakan jeritan tangis Maya yang bersandar di dada Aryo. Tubuh wanita muda itu bergetar hebat bagai dihantam demam panggung kematian.
"Mas ... bawa aku pulang dari sini ... di sini terlalu dingin," tangis Maya, air matanya membasahi kemeja Aryo. "Rumah sakit ini tidak ada gunanya. Setiap kali lampu kamar ini diredupkan oleh perawat, aku bisa mencium bau bunga kantil itu dari dalam lubang AC-nya ... perempuan itu ... Sekar ... dia ikut denganku ke sini, Mas. Dia tidak membiarkanku tenang bahkan untuk semenit pun."
Aryo mendekap kepala Maya erat-erat, air matanya sendiri akhirnya luluh, menetes di atas rambut Maya yang kusam. Ia menyadari satu hal yang mutlak: dunia medis telah angkat tangan.
Mengunci Maya di dalam kamar rumah sakit yang mahal ini sama saja dengan menunggu waktu hingga istri mudanya mati perlahan karena kehabisan darah atau gila.
Tiba-tiba, di tengah pelukan mereka, telinga Aryo yang peka menangkap sebuah suara aneh dari arah bawah ranjang rumah sakit yang bermaterial besi modern tersebut.
Srekk ... srekk ....
Suara itu sangat halus, menyerupai bunyi gesekan daun-daun bambu kering yang tersapu angin di atas lantai ubin. Bersamaan dengan suara itu, pendar lampu neon putih di langit-langit kamar VIP mendadak berkedip dua kali, memancarkan rona kemerahan yang redup selama sepersekian detik sebelum kembali normal.
Aryo memejamkan matanya rapat-rapat, mengatupkan rahangnya hingga bergemeletuk. Diagnosis medis telah gagal total. Kini, ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk melawan sihir yang dikirimkan Sekar adalah dengan menggunakan cara yang sama—ia harus mencari bantuan dari dunia yang selama ini ia remehkan.
Ia harus mencari orang pintar yang mampu mencabut akar jahanam yang sedang menggerogoti hidup barunya, sebelum Pring Sedapur benar-benar meratakan segalanya menjadi liang lahat.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .