Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 bianca yang mulai suka adrian
Malam sudah semakin larut ketika suara pintu apartemen terdengar pelan. Adrian masuk dengan langkah yang sedikit lebih berat dari biasanya, jasnya sudah tidak rapi, wajahnya tampak lelah setelah seharian di luar. Lampu ruang tamu masih menyala redup, dan di sofa Nadia terlihat tertidur dengan tubuh meringkuk, seolah menunggu tanpa sadar hingga akhirnya kalah oleh kantuk.
Adrian berhenti sejenak.
Tatapannya jatuh pada Nadia yang terlelap. Wajah istrinya terlihat tenang, namun ada garis lelah samar yang tidak bisa disembunyikan. Perlahan, Adrian mendekat lalu mengambil selimut dari sandaran sofa dan menyelimuti tubuh Nadia dengan gerakan hati-hati, hampir tanpa suara.
Saat kain hangat itu menyentuh kulitnya, Nadia sedikit bergerak. Matanya terbuka perlahan, masih samar antara sadar dan tidak.
“Mas…” suaranya lirih, serak karena baru bangun. “Kamu dari mana?”
Adrian berhenti sejenak, lalu menghela napas pelan. “Aku sama Ryan tadi. Karaoke sama teman-teman kantor.”
Nadia menatapnya beberapa detik, seolah mencoba mencari kebenaran di wajah suaminya. Namun kantuk dan lelah membuatnya tidak mampu berpikir terlalu jauh. Ia hanya mengangguk kecil.
“Ayah kamu… tadi nelpon,” ucap Nadia pelan, masih setengah sadar. “Beliau bilang besok kamu diminta pulang ke rumah. Katanya ada yang mau dibicarakan.”
Nama itu membuat Adrian sedikit mengeras. Sorot matanya berubah, meski hanya sesaat.
“Aku lagi nggak ada waktu untuk itu,” jawabnya singkat.
Nadia terdiam.
“Ayahmu kelihatan serius,” lanjutnya pelan, mencoba meyakinkan. “Mungkin penting.”
Namun Adrian justru mengalihkan pandangan. Rahangnya mengeras tipis, seperti menahan sesuatu yang tidak ingin ia bicarakan.
“Besok aku ada sidang penting,” ucapnya dingin, lebih seperti penutup pembicaraan. “Suruh aja mereka tunda.”
Nadia menatapnya lama. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Adrian berbicara malam itu. Bukan sekadar lelah, tapi seperti ada jarak yang sengaja diciptakan.
Ia tidak menjawab lagi.
Hanya menarik selimut lebih erat ke tubuhnya.
Adrian berdiri beberapa detik di sana, memandangi Nadia yang kembali memejamkan mata, lalu perlahan berbalik menuju kamar.
Langkahnya berat.
Sementara di belakangnya, Nadia kembali terlelap dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.
Dan malam itu, di antara keheningan apartemen yang dingin, sesuatu di antara mereka terasa semakin jauh… meski masih berada di bawah atap yang sama.
Di dalam kamar yang remang, Adrian duduk di tepi ranjang dengan tangan bertumpu pada lututnya. Suara pendingin ruangan terdengar pelan, namun tidak mampu meredakan kegelisahan yang perlahan naik di dadanya. Kalimat Nadia tadi terus terngiang di kepalanya.
“Ada yang mau dibicarakan…”
Adrian menghela napas panjang.
Ia sudah terlalu sering mengalami pola yang sama dari keluarganya. Setiap kali ayahnya memanggilnya pulang dengan nada serius, selalu ada satu tujuan yang tidak pernah berubah: mendorongnya meninggalkan dunia hukum dan kembali ke perusahaan keluarga Mahendra.
Tatapannya menajam dalam diam.
Sejak dulu ia sudah menolak jalan itu.
Bukan karena ia tidak mampu.
Tapi karena ia tidak ingin hidupnya ditentukan oleh nama besar keluarganya.
Ia ingin diakui karena kemampuannya sendiri, bukan karena status Mahendra yang melekat di belakang namanya.
Adrian mengusap wajahnya kasar, menahan emosi yang mulai naik perlahan.
“Selalu begitu…” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Bayangan ayahnya kembali muncul di pikirannya—tegas, dominan, dan selalu yakin bahwa dunia hukum bukan tempat yang cukup “besar” untuk seorang Adrian Mahendra.
Sementara di sisi lain, dunia perusahaan yang diwariskan itu sudah menunggu, seolah tidak akan pernah melepaskannya.
Namun Adrian sudah membuat keputusan sejak lama.
Bahkan jika itu berarti harus berhadapan langsung dengan ayahnya sendiri.
Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke jendela kamar, menatap lampu-lampu kota yang berkilauan jauh di bawah sana. Dari kejauhan, semuanya terlihat tenang. Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai retak perlahan.
Tapi karena satu hal yang mulai tidak bisa ia kendalikan.
Hubungannya dengan Nadia.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Adrian merasa bahwa ada dua tekanan besar yang sedang menariknya ke arah yang berbeda… dan ia tidak yakin berapa lama lagi ia bisa bertahan di tengah-tengahnya.
Di tengah keheningan kamar yang hanya diterangi lampu meja, ponsel Adrian yang tergeletak di sampingnya tiba-tiba bergetar pelan. Notifikasi muncul di layar, memecah sunyi yang sejak tadi menekan pikirannya.
Matanya melirik sekilas, lalu jemarinya langsung mengambil ponsel itu.
Nama yang muncul membuatnya berhenti sejenak.
Bianca.
Pesan itu sederhana, tidak panjang, hanya beberapa kalimat yang terasa ringan namun hangat di saat yang tepat.
"Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri. Kamu udah kerja cukup baik hari ini."
Adrian membaca pesan itu perlahan.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu tanpa sadar, sudut bibirnya naik sedikit. Senyum kecil yang sejak lama tidak benar-benar ia rasakan dengan tulus.
Bukan senyum bahagia yang besar.
Lebih seperti lega.
Seperti seseorang yang akhirnya merasa dipahami tanpa harus menjelaskan terlalu banyak.
Ia bersandar di kepala ranjang, menatap layar ponsel yang masih menyala. Ada rasa tenang yang aneh, berbeda dari semua kegelisahan yang ia bawa sepanjang hari.
Di luar kamar, Nadia sudah terlelap dalam kelelahan menunggu.
Sementara di dalam kamar yang sama, meski terasa jauh secara batin, Adrian untuk sesaat merasa beban di pundaknya sedikit lebih ringan hanya karena satu pesan singkat dari seseorang yang mengerti tanpa menuntut penjelasan.
Di apartemennya yang tenang, Bianca duduk di dekat jendela sambil memegang segelas teh yang sudah mulai dingin. Cahaya kota Jakarta di luar sana berkilau samar, memantul di kaca seperti titik-titik kecil yang bergerak tanpa arah.
Pikirannya kembali pada Adrian.
Cara pria itu berbicara tadi malam. Cara diamnya ketika merasa tertekan. Dan senyum kecil yang muncul sesaat ketika membaca pesannya.
Semua itu terlintas begitu saja, tanpa bisa ia hentikan.
Adrian Mahendra bukan pria yang mudah dibaca.
Di kantor, ia terlihat tegas, terkadang dingin, dan terlalu banyak memikul sesuatu sendirian. Tapi di balik itu, Bianca bisa melihat sisi lain yang jarang muncul—pria yang lelah, yang sebenarnya hanya butuh seseorang untuk memahami tanpa banyak pertanyaan.
Dan entah kenapa, sisi itu justru membuatnya sulit untuk mengabaikan keberadaannya.
Bianca menghela napas pelan, menatap bayangannya sendiri di kaca jendela.
“Dia terlalu… menarik untuk diabaikan,” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Namun di saat yang sama, ia tahu kenyataan yang tidak bisa diubah.
Adrian adalah suami Nadia.
Nadia.
Nama itu membuat pikirannya sedikit berhenti.
Bianca mengenalnya, meski tidak dekat. Wanita yang dulu sama-sama satu SMA dengannya. Sosok yang selalu terlihat tenang, kuat, dan terlalu sibuk mengejar kesempurnaan hidupnya sendiri.
Bianca menunduk, memutar ulang ingatannya tentang Nadia yang kini menjadi istri Adrian.
Ada sesuatu yang terasa tidak seimbang dalam pikirannya.
Satu sisi melihat Adrian sebagai pria yang mempesona, cerdas, dan penuh beban yang tidak terlihat.
Namun sisi lain mengingat bahwa pria itu sudah menjadi milik orang lain.
Ia menghembuskan napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
Namun semakin ia mencoba menjauh, semakin jelas bayangan Adrian muncul kembali di kepalanya.
Seolah tanpa sadar, batas yang seharusnya tidak disentuh itu mulai terasa sedikit lebih kabur dari sebelumnya.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah