Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.
Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.
Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.
Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 : Ancaman Clarissa
Clarissa menatap Winarsih tanpa berkedip. Wajahnya masih tenang, tetapi sorot matanya berubah semakin dingin. "Bagus kalau memang begitu."
Winarsih mengangkat wajahnya perlahan.
"Kalau benar kamu tidak memiliki perasaan apa pun kepada Arga..." lanjut Clarissa, "maka seharusnya kamu bisa menjaga jarak darinya."
Winarsih tampak semakin bingung. "Maksud Nona?"
Clarissa melangkah lebih dekat hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah. "Dengarkan baik-baik." Nada suaranya tetap pelan, tetapi penuh penekanan. "Mulai hari ini, jangan pernah mendekati Arga lagi."
Winarsih terdiam. "Saya tidak mendekati Dokter Arga, Nona."
"Benarkah?" Clarissa tersenyum tipis. "Lalu kenapa setiap kali aku mendapat laporan, Arga selalu berada di dekatmu?"
Winarsih langsung mengernyit. "Laporan?" Ia tidak mengerti apa maksud wanita itu.
Clarissa melipat kedua tangannya di dada. "Aku tidak peduli itu kebetulan atau bukan. Yang aku mau sekarang cuma satu... jauhi Arga."
Winarsih menarik napas pelan. "Nona... saya menghormati Dokter Arga sebagai orang yang telah menolong saya. Tidak lebih."
Clarissa tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kehangatan. "Aku harap begitu." Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan nada lebih dingin. "Karena kalau kamu terus menerima semua perhatian dan kebaikan Arga..." Tatapannya menajam. "Hidupmu tidak akan pernah tenang dan aku bisa hidup mu lebih sulit dari sekarang."
Winarsih membeku. "Nona... apa maksud perkataan anda?"
Clarissa tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Winarsih beberapa saat sebelum berkata pelan, "Anggap saja itu sebuah peringatan."
Winarsih menggenggam erat setang sepedanya. "Saya tidak ingin bermasalah dengan siapa pun."
"Kalau begitu, lakukan apa yang aku katakan." Clarissa mencondongkan sedikit tubuhnya. "Dan satu hal lagi, jangan pernah berpikir tidak ada yang memperhatikanmu."
Winarsih mengernyit.
Clarissa melanjutkan dengan tenang, "Selama dua puluh empat jam, ke mana pun kamu pergi... akan selalu ada yang melihat."
Ucapan itu membuat bulu kuduk Winarsih meremang.
Clarissa hanya tersenyum tipis. "Kamu harus ingat itu."
Winarsih mulai merasa tidak nyaman. Ia tidak memahami mengapa wanita yang baru dikenalnya itu seolah mengetahui setiap gerak-geriknya.
Clarissa kemudian membuka pintu mobilnya. Sebelum masuk, ia kembali menoleh kepada Winarsih. "Aku tidak ingin menyakitimu. Tapi kalau karena kehadiranmu Arga semakin menjauh dariku..." Ia menghentikan ucapannya sesaat. "Aku akan melakukan apa pun agar Arga membencimu dan menjauhimu."
Winarsih terbelalak. "Nona, saya sungguh tidak pernah berniat merebut Dokter Arga dari siapa pun."
Clarissa menggeleng pelan. "Aku tidak sedang meminta penjelasanmu." Ia menatap Winarsih untuk terakhir kalinya. "Kalau kamu benar wanita yang baik seperti yang mereka katakan... buktikan. Buat Arga berhenti memperdulikanmu. Kalau perlu, buat dia kembali bekerja di kota dan meninggalkan Desa ini."
Setelah mengatakan itu, Clarissa masuk ke dalam mobilnya.
Brumm...
Mesin mobil menyala. Sedan mewah itu perlahan berbalik arah, lalu melaju meninggalkan Winarsih yang masih berdiri terpaku di tengah jalan desa.
Winarsih memandang mobil itu hingga menghilang dari pandangan. Dadanya berdegup semakin kencang, ia sama sekali tidak mengerti mengapa dirinya tiba-tiba terlibat dalam persoalan antara Dokter Arga dan Clarissa.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Winarsih kembali memegang setang sepedanya. "Ya Allah..." bisiknya lirih. "Sebenarnya... apa yang sedang terjadi?"
Winarsih masih berdiri mematung beberapa saat setelah mobil Clarissa menghilang di ujung jalan.
Dadanya terasa sesak, ucapan demi ucapan wanita itu terus terngiang di kepalanya. Winarsih menggenggam erat setang sepedanya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu..." gumamnya lirih.
Baginya, Dokter Arga hanyalah orang yang telah beberapa kali menolongnya di saat ia sedang berada dalam kesulitan. Tidak pernah sedikit pun terlintas di benaknya untuk menjalin hubungan yang lebih dari itu.
"Kenapa Nona Clarissa berpikir seperti itu?" bisiknya. Ia mengusap sudut matanya yang kembali basah. "Apa karena Dokter Arga mengantarku pagi tadi?" Winarsih menggeleng pelan. "Tapi itu juga karena dia kasihan melihat keadaanku." Ia menarik napas panjang, lalu kembali mengayuh sepedanya menuju pabrik.
Di dalam mobil sedan mewah, Clarissa duduk di kursi belakang sambil menatap jalan melalui jendela. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya masih dipenuhi bayangan Winarsih.
Beberapa saat kemudian, Dimas yang duduk di kursi pengemudi melirik ke kaca spion. "Bagaimana, Nona?"
Clarissa menyandarkan tubuhnya. "Wanita itu memang sederhana."
"Menurut saya juga begitu, Nona."
Clarissa menghela napas pelan. "Tapi justru itu yang membuatku heran."
Dimas tidak langsung menanggapi.
"Arga bukan pria yang mudah peduli pada seseorang." Clarissa memejamkan mata sejenak. "Selama kami bersama, dia selalu bisa membatasi urusan pribadi dan pekerjaannya. Lalu sekarang... dia justru ikut mengurus masalah seorang wanita yang baru dikenalnya."
Dimas berkata hati-hati, "Mungkin Dokter Arga memang hanya ingin membantu."
Clarissa tersenyum tipis. "Aku berharap begitu." Ia kembali membuka matanya. "Tapi aku tidak suka mengambil risiko."
Dimas mengangguk pelan.
"Lanjutkan pengawasan."
"Baik, Nona."
"Kalau Arga kembali menemui Winarsih..." Clarissa menghentikan ucapannya beberapa detik. "Laporkan kepadaku secepatnya."
"Siap."
Mobil kembali melaju meninggalkan Desa Sekar Sari.
***
Winarsih akhirnya tiba kembali di Pabrik Roti Juragan Warso. Ia memarkirkan sepedanya di samping gudang, lalu mengangkat keranjang yang kini sudah kosong.
Rudi yang sedang menata beberapa karung tepung melihat wajah Winarsih yang tampak pucat. "Mbak Winarsih."
"Iya, Mas?"
"Kenapa wajah Mbak makin pucat? Apa terjadi sesuatu di jalan?"
Winarsih sempat terdiam. Ia ingin menceritakan pertemuannya dengan Clarissa, tetapi teringat ancaman wanita itu.
Winarsih menelan ludah. "Tidak apa-apa, Mas."
"Mbak yakin?"
Winarsih memaksakan senyum. "Mungkin saya hanya sedikit lelah."
Rudi masih tampak ragu, tetapi akhirnya mengangguk. "Kalau merasa tidak enak badan, bilang saja. Nanti saya yang menggantikan mengantar pesanan."
"Terima kasih, Mas."
Winarsih kemudian berjalan masuk ke ruang produksi.
***
Di puskesmas...
Jarum jam di dinding ruang praktik Puskesmas Sekar Sari menunjukkan pukul dua siang. Dokter Arga baru saja menyelesaikan pemeriksaan pasien terakhir. Ia melepas stetoskop dari lehernya, lalu mengembuskan napas lega.
Perawat Dessi masuk sambil membawa beberapa berkas. "Dok, pasien terakhir sudah selesai."
Arga mengangguk. "Alhamdulillah."
Dessi tersenyum. "Hari ini lumayan padat, ya, Dok."
"Iya. Tapi syukurlah semuanya sudah tertangani." Arga merapikan meja kerjanya. Di benaknya kembali terlintas wajah Winarsih.
"Pagi tadi dia pasti sangat terpukul," batinnya. Ia teringat janjinya. "Saya akan membantu Mbak mencari cara menghubungi Mas Benni."
Arga mengambil ponselnya. Ia berniat menemui Winarsih setelah pulang dari puskesmas. Selain ingin memastikan keadaan wanita itu, ia juga ingin meminta beberapa informasi tambahan tentang Benni agar rekannya di Jepang lebih mudah membantu.
"Semoga dia sudah sedikit lebih tenang," gumamnya.
Setelah berpamitan kepada para perawat, Arga berjalan keluar menuju halaman puskesmas. Baru beberapa langkah, pandangannya tertuju ke seberang jalan.
Di depan sebuah warung kecil, seorang wanita sedang menurunkan beberapa bungkus roti dari keranjang sepedanya.
Arga langsung mengenalinya. "Mbak Winarsih..." Tanpa sadar, senyum tipis terukir di wajahnya. "Ternyata masih mengantar pesanan." Ia pun melangkah menyeberang jalan.
"Mbak Winarsih."
Mendengar suara yang begitu dikenalnya, Winarsih menoleh. Begitu melihat Dokter Arga berjalan menghampirinya, wajahnya langsung berubah.
Ucapan Clarissa beberapa saat lalu kembali terngiang Jantung Winarsih berdegup kencang. Ia tanpa sadar melirik ke kanan dan ke kiri jalan, seolah takut ada seseorang yang sedang mengawasi mereka.
"Ya Allah..." batinnya.
Arga semakin mendekat. "Mbak..."
Namun sebelum Arga sempat berdiri di hadapannya, Winarsih buru-buru menaikkan kembali keranjang kosong ke atas sepedanya.
"Maaf, Dok..." Suaranya lirih. "Saya... saya harus kembali ke pabrik."
Belum sempat Arga mengatakan apa pun. Winarsih langsung mengayuh sepedanya. Sepeda itu melaju meninggalkan warung.
Arga spontan berhenti melangkah. "Mbak Winarsih!"
Namun Winarsih tidak menoleh, ia terus mengayuh sepedanya lebih cepat. Dari kejauhan, Arga hanya bisa memandangi punggung wanita itu yang semakin menjauh.
Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang, keningnya berkerut. "Ada apa dengannya?"
Pagi tadi Winarsih masih mau berbicara dengannya. Bahkan mempercayakan harapannya agar ia membantu mencari nomor Benni. Namun sekarang, wanita itu justru menghindarinya.
Arga berdiri beberapa saat di tepi jalan. "Apa aku melakukan kesalahan?" Ia benar-benar tidak mengerti.
Sementara itu, Winarsih terus mengayuh sepedanya tanpa berani menoleh ke belakang, air matanya kembali mengalir.
"Maafkan saya, Dokter Arga..." bisiknya dalam hati. "Saya tidak ingin Nona Clarissa melakukan sesuatu kepada Dokter."
Tanpa disadarinya, dari dalam sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tidak jauh dari warung itu, sepasang mata sedang memperhatikan kejadian tersebut.
Pria di balik kemudi mengambil ponselnya, lalu mengirim sebuah pesan singkat. Dokter Arga sempat menghampiri Winarsih. Namun Winarsih memilih pergi dan menghindarinya.
Tak sampai satu menit, balasan pun masuk.
Terus awasi mereka. Laporkan setiap perkembangan.
Pria itu kembali menyimpan ponselnya.
Sementara Arga masih berdiri di depan warung dengan tatapan penuh tanda tanya, sama sekali tidak mengetahui bahwa pertemuan singkat itu telah diatur oleh keadaan... dan diam-diam disaksikan oleh seseorang.