NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Kembali ke Jakarta

Pesawat jet pribadi mewah milik keluarga besar Adhyastha akhirnya mendarat dengan sangat mulus di landasan pacu bandara Jakarta. Usai menempuh perjalanan udara yang panjang dan melelahkan namun penuh kenangan manis dari kepulauan Maldives, tujuan pertama Reno dan Aura bukanlah langsung menuju kediaman pribadi mereka. Kendaraan mewah yang menjemput mereka segera melaju membelah jalanan ibu kota menuju rumah Nenek. Mereka berdua sepakat ingin memberikan sungkem hormat dan menyampaikan rasa terima kasih secara langsung atas restu, doa, serta kebahagiaan sejati yang kini menyelimuti pernikahan mereka.

Kedatangan pasangan suami istri baru itu langsung disapa hangat oleh harum semerbak aroma masakan rumahan favorit yang sengaja disiapkan di kediaman Nenek. Begitu melangkah masuk ke dalam ruang keluarga yang kental dengan nuansa klasik dan hangat, Nenek yang sedang duduk santai di kursi goyang kesayangannya langsung menyambut mereka dengan senyuman lebar dan sepasang mata yang berbinar-binar penuh kebahagiaan.

Aura dan Reno melangkah mendekat lalu berlutut pelan di hadapan wanita sepuh tersebut. Mereka mencium punggung tangan Nenek dengan penuh takzim dan rasa hormat secara bergantian, menunjukkan rasa bakti yang mendalam.

"Alhamdulillah... cucu-cucu Nenek yang paling rupawan sudah pulang ke rumah dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun," bisik Nenek lembut seraya mengusap sayang kepala Aura dan Reno bergantian dengan tangannya yang mulai keriput namun terasa sangat teduh. "Bagaimana perjalanan bulan madu kalian di Maldives? Nenek harap kalian senang dan betah di sana."

"Sangat senang, Nek. Keindahan di sana luar biasa sekali. Terima kasih banyak untuk segalanya, untuk semua perhatian dan kasih sayang Nenek kepada kami," ucap Aura tulus dengan sudut mata yang sedikit berbingkai rasa haru yang hangat.

Reno mengulas senyum tipis, lalu bergerak merangkul pundak sang istri seraya menatap lurus ke arah Nenek. "Aura sangat bahagia di sana, Nek. Terima kasih karena Nenek sudah selalu menjadi orang pertama yang mendukung dan menyatukan kami berdua."

Nenek terkekeh gembira mendengar pengakuan dari cucu laki-lakinya yang biasanya terkenal irit bicara dan berhati dingin itu. Nenek menggenggam erat jemari Aura dan Reno yang saling bertautan erat di atas pangkuannya. Sore yang indah itu dihabiskan dengan perbincangan yang sangat hangat, diselingi canda tawa keluarga dan jamuan makan malam bersama yang nikmat, sebelum akhirnya waktu beranjak malam dan Reno serta Aura pamit pulang ke Penthouse mereka sendiri untuk beristirahat.

Suasana malam di dalam penthouse pribadi Reno dan Aura terasa begitu tenang, damai, dan privat. Setelah membersihkan diri dari sisa-sisa penat perjalanan jauh, atmosfer di dalam kamar utama mereka yang luas seketika berubah menjadi sangat hangat dan romantis. Kamar tidur itu dipenuhi wewangian aromaterapi yang menenangkan, dipadukan dengan pancaran temaram lampu tidur yang redup. Aura yang malam ini sudah melepas hijabnya di dalam area kamar privat, tampak begitu menawan mengenakan piyama satin tipis berwarna putih tulang. Rambut hitam panjangnya yang halus terurai bebas di atas bahunya yang mulus, menciptakan kontras yang sangat indah.

Reno mematikan laptop di atas meja kerja nya lalu melangkah keluar dari ruang kerjanya menuju kamar tidur utama. Pria tegap itu kini hanya mengenakan celana pendek santai tanpa atasan, memamerkan bentuk dada bidangnya yang kokoh dan perutnya yang proporsional. Melihat Aura sedang duduk di tepi ranjang sambil menyisir rambutnya, Reno berjalan pelan lalu mengambil alih sisir dari tangan lentik istrinya. Dengan penuh ketelatenan dan kelembutan ekstra, Reno mulai menyisir helai demi helai rambut Aura, sebuah perlakuan manis yang seketika membuat jantung Aura berdegup kencang dan tubuhnya meremang halus.

"Lelah, hm?" bisik Reno dengan suara baritonnya yang rendah dan serak, terdengar begitu seksi di keheningan malam. Dari belakang, Reno meletakkan sisir itu ke nakas, lalu melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang Aura, menarik tubuh mungil sang istri hingga bersandar rapat pada dadanya yang telanjang.

Aura mendongakkan kepalanya sedikit, menatap rahang tegas suaminya yang sangat dekat dari posisinya bersandar. "Sedikit lelah, Mas... tapi rasa bahagiaku jauh lebih besar karena malam ini kita sudah resmi menempati rumah kita sendiri sebagai suami istri."

Reno tersenyum menawan, tatapan mata elangnya mendadak meredup, pekat oleh kilat gairah dan rasa kepemilikan yang mendalam. Tanpa suara, Reno memutar tubuh Aura agar mereka saling berhadapan di atas ranjang king size yang empuk. Pria itu menangkup kedua rahang Aura dengan telapak tangannya yang hangat, lalu menundukkan wajahnya untuk mengunci bibir ranum Aura dalam sebuah ciuman malam yang dalam, intim, dan menuntut. Reno melumat lembut bibir istrinya, menghisapnya bergantian dengan penuh pemujaan seolah sedang menyesap madu yang paling manis.

Aura memejamkan matanya rapat-rapat, refleks mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Reno, membalas setiap sesapan suaminya dengan perasaan cinta yang membuncah hebat di dalam dadanya. Reno merayapkan tangannya ke balik piyama satin Aura, mengusap kulit punggung istrinya yang halus, memicu getaran intim yang membuat desah napas halus mulai terdengar memenuhi keheningan kamar. Malam itu, di dalam rumah mereka sendiri, Reno memanjatkan seluruh bara cintanya, menyatukan raga dan jiwa mereka dalam pertautan yang begitu sakral, sensual, dan penuh kehati-hatian yang memuliakan hingga malam kian menua.

Keesokan harinya, panggung baru dalam kehidupan profesional Aura resmi dimulai kembali. Suasana di stasiun TV berita ternama di Jakarta yang kini saham mayoritasnya telah resmi dibeli dan menjadi milik Reno Adhyastha mendadak gempar sejak pagi buta. Kabar mengenai kedatangan sang pemilik perusahaan baru bersama istri sahnya telah menyebar luas ke seluruh divisi kerja. Kedatangan mobil mewah berlogo eksklusif milik Reno di area lobi utama langsung disambut dengan jajaran direksi dan staf senior yang berdiri rapi penuh hormat.

Reno keluar terlebih dahulu dari balik kemudi dengan setelan jas formal eksklusif berwarna hitam yang membuatnya tampak sangat anggun dan berwibawa. Dengan langkah tegap, pria itu mengitari kap mobil untuk membukakan pintu penumpang bagi Aura. Sebelum Aura melangkah keluar dari mobil, ia memastikan hijabnya sudah terpasang dengan sangat rapi, menutupi kepala dan dadanya dengan elegan menggunakan gaya modern yang dipadukan dengan blazer kerja berwarna pastel yang memesona. Reno mengulurkan tangan tegapnya, menggandeng jemari lentik Aura dengan penuh kelembutan namun tetap memancarkan kewibawaan seorang pemimpin tertinggi di depan publik.

Para karyawan, jurnalis, dan tim redaksi berita yang berkumpul di area lobi langsung berbisik-bisik kagum sekaligus segan. Aura yang beberapa waktu lalu sempat disudutkan, difitnah, dan dikucilkan akibat rumor kejam, kini kembali menginjakkan kakinya di gedung tersebut bukan lagi sebagai news anchor biasa yang bisa direndahkan, melainkan kembali dengan status terhormat sebagai istri sah dari sang pemilik tunggal stasiun TV terbesar tersebut. Semua pandangan sinis di masa lalu kini berubah total menjadi tatapan penuh rasa hormat dan takjub.

Sebelum mereka berdua melangkah memasuki lift eksekutif khusus yang akan membawa mereka menuju ruang kerja CEO di lantai atas, Reno menghentikan langkahnya sejenak di area koridor yang sedikit sepi. Pria itu menggenggam kedua tangan Aura dengan erat, menatap lekat ke dalam sepasang manik mata jernih istrinya, memberikan suntikan rasa percaya diri yang luar biasa.

Reno menundukkan kepalanya sedikit, lalu berbisik dengan nada suara yang sangat lembut namun mantap tepat di telinga Aura, "Selamat kembali ke panggung utamamu, Sayang. Lakukan yang terbaik di siaran perdana siang hari ini tanpa perlu mengkhawatirkan hal apa pun lagi di dunia luar. Ingat selalu, ada Mas yang akan selalu berdiri di garis paling depan untuk memantau, menjaga, dan mendukungmu secara langsung dari layar monitor ruang CEO."

Mendengar penuturan manis yang sarat akan perlindungan posesif dari suaminya, kedua pipi Aura yang terbalut hijab seketika merona hangat dan hatinya membuncah riang. Ia menatap balik mata elang suaminya dengan penuh rasa cinta dan rasa syukur yang teramat mendalam karena telah dikirimkan pelindung sehebat Reno.

"Terima kasih banyak ya, Mas... atas semua ruang, kesempatan, dan cinta yang Mas berikan untukku," jawab Aura manis dengan suara yang bergetar penuh emosi kebahagiaan.

Dengan semangat baru yang menyala-nyala di dalam dadanya dan dukungan tanpa batas dari sang suami tercinta, Aura melangkah mantap dengan kepala tegak menuju ruang rias redaksi. Ia sudah sangat siap untuk memberikan penampilan jurnalistik terbaiknya dan membuktikan keprofesionalannya di depan layar kaca seluruh Indonesia, memulai babak kehidupan baru yang penuh berkah bersama Reno.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!