Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Kembali ke Jakarta
Pesawat jet pribadi milik keluarga besar Adhyastha akhirnya mendarat dengan mulus di landasan pacu bandara Jakarta.
Setelah menempuh perjalanan panjang dari Maldives, Reno dan Aura akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah air. Perjalanan tersebut memang melelahkan, tetapi senyum yang terus menghiasi wajah keduanya membuat rasa lelah itu seolah tidak berarti.
Begitu turun dari pesawat, Reno tidak langsung mengarahkan kendaraan menuju kediaman pribadi mereka.
Ada satu tempat yang ingin mereka datangi terlebih dahulu.
Rumah Nenek.
"Masih mau ke rumah Nenek, kan?" tanya Aura ketika mereka telah berada di dalam mobil.
Reno menoleh sebentar, kemudian menggenggam tangan istrinya yang berada di atas pangkuan.
"Tentu."
Senyum tipis terukir di wajahnya.
"Kita belum mengucapkan terima kasih secara langsung."
Aura mengangguk.
Ia juga memiliki keinginan yang sama.
Restu Nenek adalah salah satu hal yang membuat perjalanan cinta mereka akhirnya menemukan jalan. Karena itu, rasanya kurang lengkap jika mereka pulang tanpa terlebih dahulu menemui wanita sepuh yang selama ini menjadi tempat Reno dan keluarganya bersandar.
Mobil pun melaju membelah jalanan Jakarta.
Kedatangan mereka di rumah Nenek disambut aroma masakan rumahan yang begitu menggugah selera.
Begitu pintu utama terbuka, suasana hangat langsung menyelimuti keduanya.
Nenek yang sedang duduk di kursi goyang kesayangannya segera mengangkat wajah.
Senyumnya langsung mengembang begitu melihat Reno dan Aura berdiri di ambang pintu.
"Alhamdulillah... akhirnya cucu-cucu Nenek pulang juga."
Aura dan Reno segera menghampiri.
Keduanya berlutut di hadapan Nenek secara bergantian, mencium punggung tangan wanita sepuh itu dengan penuh hormat.
Nenek mengusap kepala Aura dengan penuh kasih, kemudian berpindah mengusap kepala Reno.
"Sehat semua?"
"Sehat, Nek," jawab Aura sambil tersenyum.
"Perjalanannya bagaimana?"
"Indah sekali," jawab Aura tulus. "Maldives benar-benar luar biasa."
Nenek tertawa kecil.
"Yang Nenek tanyakan bukan cuma tempatnya."
Wanita sepuh itu menatap mereka bergantian dengan tatapan penuh makna.
"Hubungan kalian bagaimana?"
Aura langsung tersipu.
Reno justru tersenyum tipis.
"Baik, Nek."
"Baik bagaimana?"
Nenek sengaja menggoda.
Reno melirik Aura yang wajahnya mulai memerah.
"Sangat baik."
Nenek terkekeh puas.
"Nah, begitu dong."
Tangannya kemudian menggenggam tangan Aura dan Reno yang tanpa sadar sudah saling bertaut.
"Nenek cuma ingin kalian bahagia. Tidak perlu sempurna. Cukup saling menjaga dan jangan mudah menyerah satu sama lain."
Aura mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Nek."
Reno ikut mengangguk.
"Terima kasih untuk semuanya, Nek."
Nenek menatap cucu laki-lakinya itu dengan penuh haru.
"Untuk apa?"
"Untuk restu Nenek. Untuk doa Nenek. Dan karena Nenek selalu percaya bahwa Aura adalah orang yang tepat untuk saya."
Nenek tersenyum lebar.
"Memang dari awal Nenek sudah tahu."
Aura tertawa kecil.
"Nenek tahu dari mana?"
"Insting orang tua."
Suasana ruang keluarga langsung dipenuhi tawa.
Sore itu berlalu dengan begitu hangat.
Mereka berbincang panjang, menikmati hidangan rumahan yang telah disiapkan Nenek, serta mendengarkan berbagai cerita keluarga yang membuat Aura merasa semakin diterima sebagai bagian dari keluarga Adhyastha.
Hingga malam mulai turun, Reno dan Aura akhirnya berpamitan.
Sebelum mereka pergi, Nenek memeluk Aura cukup lama.
"Jaga Reno."
Aura tersenyum.
"Insyaallah, Nek."
Kemudian Nenek memandang Reno.
"Dan kamu, jangan lupa... jaga Aura lebih baik lagi."
Reno tersenyum.
"Selalu."
Malam semakin larut ketika Reno dan Aura akhirnya tiba di penthouse mereka.
Untuk pertama kalinya setelah perjalanan panjang, keduanya benar-benar bisa menikmati suasana rumah tanpa perlu memikirkan jadwal atau perjalanan berikutnya.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Aura kembali ke kamar utama.
Ia sudah melepas hijabnya, rambut hitam panjangnya terurai lembut di bahu, sementara piyama satin berwarna pink pastel membuat penampilannya terlihat sederhana sekaligus anggun.
Aura duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya perlahan.
Tak lama kemudian, pintu ruang kerja terbuka.
Reno keluar setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan terakhir di laptop.
Ia berhenti sejenak ketika melihat Aura.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
"Belum tidur?"
Aura menggeleng.
"Rambutku masih belum selesai."
Reno berjalan mendekat.
Tanpa banyak bicara, ia mengambil sisir dari tangan Aura.
"Biar Mas bantu."
Aura menoleh.
"Mas?"
"Iya."
Reno berdiri di belakangnya, lalu mulai menyisir rambut Aura dengan gerakan perlahan.
Tidak terburu-buru.
Setiap tarikan sisir dilakukan dengan hati-hati agar tidak membuat rambut istrinya kusut atau tertarik.
Aura menatap pantulan mereka di cermin.
"Mas..."
"Hm?"
"Kamu tahu tidak?"
"Apa?"
"Aku tidak pernah membayangkan suatu hari nanti kamu akan menyisir rambutku."
Reno tersenyum kecil.
"Saya juga tidak pernah membayangkan akan melakukannya."
"Terus kenapa sekarang mau?"
Reno berhenti sebentar.
"Karena sekarang saya punya istri."
Aura tersenyum.
"Jawabanmu sederhana sekali."
"Yang penting benar."
Setelah rambut Aura selesai disisir, Reno meletakkan sisir di atas meja.
Aura berdiri.
Namun sebelum sempat melangkah, Reno meraih tangannya.
"Kamu lelah?"
"Sedikit."
Reno menarik Aura ke dalam pelukannya.
"Tapi?"
Aura tersenyum di dadanya.
"Tapi bahagia."
Reno mengusap rambutnya.
"Bagus."
Aura mendongak.
"Rasanya berbeda ya."
"Apa?"
"Pulang ke rumah setelah tahu ada seseorang yang menunggu."
Tatapan Reno berubah lembut.
"Mulai sekarang, kamu tidak akan pulang sendirian lagi."
Kalimat itu membuat dada Aura terasa hangat.
Ia memeluk Reno lebih erat.
"Terima kasih."
Reno menunduk dan mengecup keningnya.
Kemudian pipinya.
Lalu ujung hidungnya.
Aura terkekeh.
"Mas..."
"Hm?"
"Kenapa banyak sekali?"
"Saya sedang bersyukur."
"Atas apa?"
"Atas istri saya."
Aura tersipu.
Reno kemudian menatap matanya.
Keduanya terdiam beberapa saat.
Tatapan yang penuh kasih itu perlahan berubah menjadi lebih dalam.
Reno mendekat.
Aura tidak menjauh.
Sebuah kecupan lembut mendarat di bibirnya.
Singkat.
Hangat.
Namun cukup untuk membuat keduanya tersenyum setelahnya.
Reno kembali mengecup kening Aura.
"Malam ini istirahat."
Aura mengangguk.
"Iya."
Mereka kemudian berjalan bersama menuju ranjang.
Malam itu berlalu dalam suasana penuh kehangatan, percakapan kecil, pelukan, dan rasa syukur karena akhirnya memiliki tempat yang benar-benar mereka sebut rumah.
Keesokan paginya, babak baru dalam kehidupan profesional Aura resmi dimulai.
Stasiun televisi berita ternama di Jakarta yang kini berada di bawah kepemilikan Reno Adhyastha telah bersiap menyambut kedatangan pemilik barunya.
Sejak pagi, suasana di gedung utama tampak jauh lebih sibuk dari biasanya.
Kabar bahwa Reno akan datang bersama istrinya telah menyebar ke berbagai divisi.
Ketika mobil mereka memasuki area lobi utama, jajaran direksi dan staf senior telah berdiri menunggu.
Reno keluar lebih dahulu.
Ia mengenakan setelan jas hitam yang membuat penampilannya terlihat semakin berwibawa.
Setelah mengitari kendaraan, ia membukakan pintu untuk Aura.
Aura turun dengan anggun.
Hijabnya tertata rapi, dipadukan dengan blazer pastel yang membuat penampilannya terlihat profesional sekaligus elegan.
Reno mengulurkan tangannya.
Aura menyambutnya.
Jemari mereka bertaut.
Sederhana.
Namun cukup untuk membuat semua orang yang melihat memahami bahwa keduanya datang bukan hanya sebagai pemilik dan karyawan.
Mereka datang sebagai pasangan.
Beberapa karyawan berbisik pelan.
Aura menyadarinya.
Dulu, tatapan orang-orang di tempat ini pernah membuatnya merasa kecil.
Pernah ada bisikan yang menyudutkan.
Pernah ada rumor yang membuat namanya dipertanyakan.
Namun hari ini berbeda.
Aura tidak datang untuk membalas siapa pun.
Ia datang untuk bekerja.
Dan untuk membuktikan bahwa dirinya tetap mampu berdiri dengan kepala tegak.
Reno seolah memahami apa yang ada di pikirannya.
Ketika mereka hampir mencapai lift eksekutif, Reno menghentikan langkah.
Ia menggenggam kedua tangan Aura.
"Siap?"
Aura menarik napas.
"Siap."
Reno tersenyum.
"Jangan pikirkan apa yang orang lain katakan."
Tatapannya mantap.
"Kamu ada di sini karena kemampuanmu."
Aura menatap suaminya.
"Kalau aku gugup?"
"Saya ada di sini."
"Kalau aku takut?"
"Saya juga ada di sini."
Aura tersenyum.
"Kalau aku gagal?"
Reno menggeleng.
"Kalau kamu gagal, kita belajar. Kalau kamu berhasil, saya yang paling pertama bangga."
Mata Aura langsung menghangat.
"Kamu selalu tahu harus bilang apa."
"Karena saya mengenal kamu."
Reno kemudian sedikit menundukkan kepala.
"Selamat kembali ke panggungmu, Aura."
Aura tersenyum.
"Terima kasih, Mas."
"Jadilah dirimu sendiri."
Aura mengangguk mantap.
Keduanya kemudian memasuki lift.
Saat pintu lift tertutup, Aura menarik napas panjang.
Ia menatap bayangannya sendiri pada dinding kaca.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak melihat seorang wanita yang sedang berusaha membuktikan dirinya kepada dunia.
Ia melihat seorang perempuan yang tahu siapa dirinya.
Seorang istri.
Seorang jurnalis.
Seorang wanita yang pernah jatuh karena fitnah, tetapi memilih bangkit tanpa kehilangan harga dirinya.
Ketika pintu lift terbuka, Aura melangkah keluar dengan kepala tegak.
Langkahnya mantap menuju ruang rias redaksi.
Hari itu, ia akan kembali berdiri di depan kamera.
Bukan untuk membungkam siapa pun.
Bukan untuk membalas masa lalu.
Melainkan untuk melanjutkan hidup.
Dan di balik semua itu, ada Reno yang selalu berdiri di sisinya.
Bukan sebagai bayangan yang mengambil alih langkahnya.
Melainkan sebagai seseorang yang selalu mengingatkannya bahwa ia mampu berjalan dengan kakinya sendiri.
Aura tersenyum.
Babak baru telah dimulai.
Dan kali ini, ia tidak lagi menjalaninya sendirian.