NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#4

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Dua jam pertama di kelas barunya berjalan dengan ketenangan yang di luar ekspektasi Issabelle.

Gadis itu ditempatkan di Kelas 10-C, sebuah ruangan berukuran luas dengan fasilitas teknologi mutlak: papan tulis layar sentuh interaktif, pengondisian udara yang senyap, dan deretan meja kursi ergonomis yang tertata rapi.

Sejak bel masuk berbunyi, Issabelle benar-benar merasa lega.

Ekspektasinya tentang high school Amerika yang dipenuhi murid-murid berisik, pelemparan bola kertas, atau candaan kasar antar siswa sama sekali tidak terbukti di ruangan ini.

Tampaknya, kelasnya ini memang berisi anak-anak dari kalangan atas sejati—mereka yang sejak kecil telah dididik dengan etiket ketat untuk menjaga martabat keluarga mereka di ruang publik.

Tidak ada atmosfer kelas yang ribut atau kegaduhan yang tidak perlu.

Sepanjang pelajaran sejarah kuno dan kalkulus berlangsung, satu-satunya interaksi yang memecah kesunyian adalah sahutan adu argumen yang cerdas antara siswa dan guru.

Mereka berdebat tentang teori ekonomi makro dan kebijakan politik masa lalu dengan artikulasi yang tertata, menggunakan kosakata tingkat tinggi yang mencerminkan latar belakang pendidikan privat mereka sebelum menginjakkan kaki di Oakridge High School.

Issabelle duduk di baris kedua dari belakang, dekat dinding. Ia mendengarkan semua perdebatan itu dengan dagu bertumpu pada sebelah tangannya, mempertahankan ekspresi wajah yang datar dan patuh.

Di dalam hati, ia sedikit memuji sistem penyaringan sekolah ini.

Setidaknya, ia tidak perlu membuang energi mentalnya untuk mengabaikan gangguan-gangguan bodoh dari remaja labil.

Materi pelajaran yang diberikan bahkan terasa terlalu mendasar baginya yang sudah menyelesaikan kurikulum tingkat lanjut di bawah bimbingan para tutor pribadi terbaik klan Reichenbach di Frankfurt.

Namun, ketenangan itu hanyalah fase pembuka sebelum badai yang sesungguhnya datang.

KRIIIING!

Bel tanda jam istirahat bergema di seluruh koridor, memutus konsentrasi para murid.

Dalam sekejap, keheningan Kelas 10-C mencair saat para siswa mulai merapikan buku mereka dan keluar berkelompok menuju area rekreatif sekolah.

Perut Issabelle mengeluarkan bunyi rendah. Ia melewatkan sarapan paginya di rumah keluarga Wadde’ karena muak melihat pemandangan domestik ibunya, dan kini rasa lapar yang nyata mulai menyerang.

Mengikuti arus murid lainnya, ia berjalan menyusuri koridor megah yang dindingnya dipenuhi piala berlapis emas, menuju ke arah kantin utama.

Kantin Oakridge High School lebih cocok disebut sebagai restoran mewah bintang empat.

Alih-alih jajaran bangku kayu panjang yang murah, tempat itu dipenuhi oleh meja-meja bundar berpermukaan kaca tempered dan kursi-kursi berlapis beludru nyaman.

Di sudut-sudut ruangan, terdapat konter makanan yang menyajikan berbagai menu internasional, mulai dari sushi segar, steik daging Angus, hingga pasta artisan yang dimasak langsung oleh koki profesional.

Issabelle mengantre di konter standar, menggunakan kartu akses beasiswanya untuk mengambil satu porsi makaroni panggang dan segelas air mineral.

Setelah membawa nampannya, mata abu-abunya memindai ruangan yang mulai padat itu untuk mencari tempat yang tenang.

Pandangannya mendarat pada sebuah meja persegi panjang yang terletak di sudut kanan kantin.

Meja itu tampak sangat mencolok karena posisinya yang agak terisolasi, dikelilingi oleh ruang kosong yang cukup lebar, dan permukaannya terbuat dari kayu ek hitam yang terlihat berbeda dari meja-meja bundar lainnya di kantin tersebut.

Yang paling penting bagi Issabelle, area di sekitar meja itu sangat sepi.

Tidak ada satu pun murid yang duduk di sana atau bahkan berjalan mendekat dalam radius tiga meter.

Tanpa berpikir panjang, Issabelle melangkah ke sana. Ia menarik salah satu kursi kayu hitam, mendudukkan dirinya dengan anggun, dan meletakkan nampan makanannya di atas meja.

Ia mulai makan dengan lahap. Makaroni itu masih hangat, dan rasa lapar yang membakar perutnya membuat Issabelle fokus sepenuhnya pada makanannya.

Namun, baru beberapa suap makanan berpindah ke mulutnya, instingnya yang terlatih mendeteksi perubahan atmosfer di sekelilingnya secara drastis.

Keheningan yang janggal merayap di dalam kantin yang tadinya bising oleh ratusan suara manusia.

Suara denting garpu dan tawa para murid perlahan-lahan meredup, menyisakan kesunyian yang mencekam.

Issabelle tidak perlu mendongak untuk mengetahui apa yang terjadi.

Melalui sudut matanya, ia sadar betul bahwa sejak ia menundukkan dirinya di kursi ini, tatapan mata dari hampir seluruh penghuni kantin telah tertuju sepenuhnya pada dirinya.

Orang-orang di meja seberang saling berbisik dengan raut wajah terkejut, beberapa siswi populer menutupi mulut mereka sambil menatapnya seolah-olah ia adalah orang mati yang sedang berjalan, dan beberapa siswa lainnya memandang dengan tatapan kasihan bercampur antisipasi.

Namun, bukan Issabelle namanya kalau dia memedulikan tatapan-tatapan dari sampah-sampah tidak berguna itu.

Selama tidak ada yang secara fisik mengganggu ruang pribadinya atau menghalangi tujuannya, ia memilih untuk menganggap ratusan pasang mata itu tidak lebih dari sekadar dekorasi dinding yang mengganggu. Ia tetap mengunyah makanannya dengan tenang, memotong makaroninya dengan gerakan tangan yang stabil dan presisi.

BRAAAK!

Sebuah hantaman keras pada permukaan meja kayu ek hitam membuat nampan makanan Issabelle bergetar hebat.

Air mineralnya bergoyang, hampir tumpah.

"Bangun!"

Sebuah suara menggelegar memecah keheningan kantin. Suara pria dengan nada bariton yang sarat akan arogansi dan kemarahan, menggema di antara langit-langit kantin yang tinggi.

Issabelle menghentikan gerakan garpunya. Ia tidak tersentak, tidak juga menunjukkan keterkejutan.

Dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang, ia mendongak, mengarahkan pandangan mata abu-abunya yang dingin langsung kepada sosok yang berdiri di depan mejanya.

Pria itu adalah pria tadi pagi yang menindas orang lemah di area parkir.

George Clooney, batin Issabelle, memanggil kembali memori dari informasi yang diberikan Claire beberapa jam yang lalu.

George berdiri dengan kedua telapak tangan bertumpu di atas meja, menunduk untuk mengintimidasi Issabelle dengan wajah yang mengeras.

Namun, George tidak sendiri.

Ada tiga pria lainnya yang berdiri di belakangnya, membentuk barisan penutup yang seolah memutus jalan keluar bagi Issabelle.

Dua di antaranya memiliki postur tubuh tegap layaknya atlet olahraga dengan jaket tim sekolah yang mahal, memandang Issabelle dengan senyum meremehkan yang khas.

Dan satu orang pria lagi... berdiri paling menonjol di tengah-tengah mereka.

Issabelle mengalihkan fokus pandangannya pada pria yang berada di tengah itu.

Pria itu mengenakan seragam sekolah Oakridge dengan sangat rapi—kemejanya disetrika sempurna tanpa satu pun kerutan, dan lambang emas sekolah di dadanya berkilau bersih.

Namun, penampilannya yang rapi itu kontras dengan rambut hitamnya yang ditata acak-acakan dan urakan, seolah-olah ia baru saja bangun tidur atau sengaja mengabaikan aturan kerapian rambut sekolah.

Garis rahangnya tegas, penampilannya memancarkan aura bahaya yang pekat, dan sepasang mata gelapnya menatap Issabelle dengan pandangan yang sangat dingin, seolah-olah gadis di depannya ini hanyalah seonggok debu yang mengotori pemandangan indahnya.

Issabelle mencatat dalam hatinya: ia baru pertama kali menemukan seorang pria dengan kombinasi gaya sekontras itu—seragam yang aristokratik namun dengan aura pembangkang yang kuat.

Sesuai dengan deskripsi Claire, pria di tengah ini pastilah pusat dari pusaran bahaya di sekolah ini.

"Ini meja kami," ucap salah satu pria tegap di sebelah George, melipat tangannya di dada dengan nada suara yang menuntut.

Issabelle menatap pria yang berbicara itu, lalu pandangannya beralih ke permukaan meja kayu ek hitam yang luas, yang sebenarnya bisa menampung hingga delapan orang.

Wajahnya tetap tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.

"Meja kami?" kata Issabelle mengulang kalimat itu dengan nada datar, tanpa intonasi emosi. Ia menjeda sejenak sebelum menyambung kalimatnya dengan ketenangan yang menantang, "Tapi ini kantin."

Sebuah jawaban yang singkat, logis, namun merupakan penghinaan instan bagi hierarki tak tertulis yang berlaku di Oakridge High School.

Mendengar jawaban itu, George Clooney melepaskan kekehan sinis yang terdengar nyaring di keheningan kantin.

Ia menegakkan tubuhnya, menatap teman-temannya seolah-olah baru saja mendengar lelucon paling konyol tahun ini.

"Kau anak baru?" tanya George, melangkah satu kali ke samping untuk mengikis jarak.

"Kau belum tahu aturan di high school ini, hah?! Kau tidak mengenal kami?!"

George berbicara sambil mengarahkan ibu jempolnya dengan kasar ke arah dada sendiri, lalu mengayunkannya ke arah tiga orang pria di belakangnya, menuntut pengakuan mutlak atas kekuasaan mereka.

Siswa-siswi di sekitar kantin menahan napas. Mereka tahu betul apa yang terjadi pada orang terakhir yang berani menjawab perkataan kelompok ini: siswa itu berakhir dengan tulang hidung patah dan dikeluarkan dari sekolah dalam waktu 24 jam.

Issabelle tetap diam, matanya tidak berkedip saat menatap George. Ia bisa saja menghancurkan artikulasi lutut pria ini dalam tiga gerakan cepat menggunakan garpu di tangannya jika ini adalah medan pertempuran di Jerman. Namun, sebelum tangannya bergerak, sebuah suara lain terdengar.

"Menyedihkan."

Suara itu rendah, dalam, dan memiliki getaran bariton yang seksi namun dipenuhi oleh racun yang mematikan.

Suara itu milik pria berambut urakan yang sejak tadi hanya berdiri diam mengamati—pria yang menjadi pusat dari seluruh kelompok ini.

Pria itu melangkah maju, melewati George yang langsung mundur setapak untuk memberinya jalan dengan penuh rasa hormat.

Ia berdiri tepat di depan meja Issabelle, menundukkan kepalanya sedikit untuk menatap seragam sekolah yang dikenakan gadis itu.

Pandangannya tertuju pada detail kemeja putih Issabelle yang tidak memiliki sulaman benang perak khusus di bagian kerah—sebuah detail kecil yang membedakan seragam siswa reguler dengan siswa jalur beasiswa.

Di Oakridge, dari pakaian yang melekat di tubuh seseorang saja, kasta sosialnya sudah bisa terbaca dengan jelas.

Dan seragam Issabelle dengan gamblang menyatakan bahwa dia berada di kasta terendah: seorang murid beasiswa miskin yang masuk ke wilayah para elite.

"Murid beasiswa yang tersesat," lanjut pria itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dingin dan menghina.

"Keluar dari kursiku sebelum aku kehilangan minat untuk bersikap sopan."

Kata-kata pria itu seperti vonis mati. Seluruh kantin menjadi begitu senyap hingga suara tetesan air pun bisa terdengar.

Issabelle menatap mata gelap pria itu.

Di dalam kepalanya, peringatan Claire tadi pagi kembali berdengung hebat: Navarro Von-Riccardo. Pria itu yang harus aku hindari agar bisa bersekolah dengan tenang disini.

Dan yang lebih penting dari peringatan Claire adalah suara bariton ayahnya yang menggema dari malam berdarah di Frankfurt: Jangan terlihat menonjol. Ingat pesan Daddy: kau harus bisa mengendalikan dirimu, apa pun yang terjadi.

Menghancurkan kelompok berandalan sekolah ini sekarang akan memuaskan ego sesaatnya, namun itu juga akan langsung meledakkan topeng penyamarannya.

Jika namanya sampai masuk ke dalam laporan kepolisian lokal atau menarik perhatian media sebagai "murid beasiswa yang menghajar putra elit Los Angeles", maka musuh-musuh klan Reichenbach di Eropa akan dengan mudah melacak keberadaannya di Amerika dalam hitungan jam.

Dan itu berarti kegagalan total dari rencana pelariannya.

Issabelle menarik napas pendek melalui hidung, menekan seluruh insting membunuhnya jauh-jauh ke dasar kesadarannya. Ia mengendalikan ekspresi wajahnya dengan sempurna, mengubah kilatan dingin di matanya menjadi kekosongan yang tampak seperti kepatuhan seorang gadis tak berdaya.

Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Issabelle meletakkan garpunya. Ia menggeser kursinya ke belakang secara perlahan, menciptakan suara decitan pelan di atas lantai marmer.

Dengan gerakan yang sengaja dibuat sedikit ragu-ragu agar terlihat seperti remaja yang ketakutan, ia meraih nampan makanannya yang baru termakan setengah.

Ia berdiri, mengangkat nampan itu dengan kedua tangannya, dan melangkah mundur dari meja kayu ek hitam tersebut.

George Clooney mendengus puas melihat pemandangan itu, menyilangkan dadanya dengan senyum kemenangan.

Sementara pria berambut urakan yang diduga kuat sebagai Navarro Von-Riccardo itu tidak lagi melihat ke arah Issabelle.

Bagi pria itu, begitu Issabelle menundukkan kepala dan mengangkat nampannya, eksistensi gadis itu sudah dianggap hilang dari dunianya.

Navarro langsung menduduki kursi utama di meja tersebut dengan gaya yang sangat dominan, diikuti oleh ketiga temannya yang mulai mengklaim wilayah mereka kembali.

Issabelle berjalan menjauh dari sudut kanan kantin dengan langkah yang teratur.

Di belakangnya, suara bisikan dan tawa rendah dari para murid yang menyaksikan "penundukan" dirinya kembali terdengar, memenuhi udara dengan atmosfer kepuasan yang dangkal.

Mereka mengira mereka baru saja melihat seorang murid beasiswa miskin yang gemetar ketakutan di hadapan sang penguasa sekolah.

Mereka tidak pernah tahu, bahwa saat Issabelle berjalan menuju tempat pembuangan nampan, jemari gadis itu mencengkeram pinggiran plastik nampan dengan begitu kuat hingga ujung kuku-kukunya memutih.

Navarro Von-Riccardo, batin Issabelle, mengunci nama itu di dalam daftar hitam di otaknya dengan tinta permanen. Nikmati takhta kecilmu di sekolah ini untuk sekarang. Kau beruntung karena ayahku menginginkanku tetap hidup dalam bayangan.

Issabelle membuang sisa makanannya ke tempat sampah dengan gerakan sekali hentak, lalu melangkah keluar dari kantin menuju area taman yang sepi.

Topeng kepatuhannya telah terpasang dengan kuat, dan untuk dua tahun ke depan, ia akan memastikan bahwa setiap orang di Oakridge High School mengingatnya sebagai mangsa yang tidak berbahaya—hingga tiba saatnya bagi sang serigala sejati untuk merobek tenggorokan mereka semua.

1
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
Mia Camelia
visual nya sempurna banget 🥰🥰👍
Ros 🌷🦋: huhu ma'aciww kak 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
bucin akut nih navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!