Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Keesokan harinya, Azalea terlihat sudah sibuk di dapur bersama Bi Inah yang kini sudah sehat kembali. Setelah selesai menyiapkan dan meletakkan sarapan di atas meja, Azalea mendekati Bi Inah.
"Bi Inah lebih baik istirahat saja, takutnya nanti pusing lagi," ucap Azalea dengan nada khawatir.
"Tidak apa-apa, Non. Bibi sudah merasa sehat seperti sedia kala," jawab Bi Inah tersenyum.
"Baiklah, tapi kalau nanti terasa lelah, langsung istirahat saja ya. Jangan dipaksa terus bekerja kalau tubuhnya sudah tidak kuat," pesan Azalea.
"Iya, Non," jawab Bi Inah mengangguk lembut.
"Kalau begitu, Azalea mau membersihkan kolam renang dulu ya. Tadi pagi terlihat banyak daun-daun yang jatuh di permukaannya," kata Azalea, lalu segera berjalan menuju halaman belakang.
"Hati-hati, Non! Jangan sampai terpeleset licin!" seru Bi Inah mengingatkan dari belakang.
Azalea mengangguk mendengar pesan Bi Inah, lalu melangkah menuju halaman belakang. Di sana terlihat kolam renang yang airnya mulai agak keruh karena tertutup banyak daun kering dan ranting yang jatuh semalaman.
Ia mengambil jaring pembersih yang tergantung di dinding dekat kolam, lalu mulai menyapu permukaan air dengan hati-hati. Sesekali ia menunduk untuk mengambil daun yang tersangkut di tepian kolam, bergerak perlahan agar tidak terpeleset seperti yang diingatkan Bi Inah.
Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gerbang rumah. Pintu gerbang terbuka, dan satu orang pria turun dari dalamnya. ia adalah Aldric Xavier, sahabat dekat sekaligus tangan kanan terpercaya Daxon Ardhan Ravenzo. Perawakannya tegap, sorot matanya tajam penuh kewaspadaan, dan setiap gerakannya menunjukkan dia bukan orang sembarangan. Di belakangnya ada seorang pengawal.
Aldric pun berjalan masuk ke dalam mansion. Rosa dan Selvina sudah menunggu di ruang tamu, lalu menyambut kedatangan Aldric Xavier dengan sikap sopan. Selvina bahkan terlihat tertarik pada pria itu. ia dengan sengaja merapikan rambutnya dan memperbaiki duduknya, berharap mendapat perhatian dari Aldric.
Setelah duduk di sofa ruang tamu, Rosa berpura-pura teringat sesuatu, lalu berjalan menuju halaman belakang tempat Azalea berada.
"Azalea, cepat siapkan minuman untuk tamu yang baru datang!" perintah Rosa dengan nada bicara yang terdengar sinis.
Dengan patuh, Azalea berhenti bekerja dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan pesanan itu. Sementara itu, Rosa kembali masuk ke ruang tamu dan duduk di sebelah Selvina.
Aldric menatap kedua wanita di hadapannya dengan tatapan dingin dan tajam. "Apakah wanita ini yang akan ikut bersama kami?" Tanyanya.
Wajah Selvina berubah seketika. Ia segera tersenyum paksa sambil menggeleng cepat. "Bu—bukan. Saya punya adik perempuan, dialah yang akan diserahkan kepada kalian." Jawab Selvina.
Aldric hanya mendengus pelan, "Hem..."
Di sampingnya, Selvina menyandarkan mulutnya ke telinga Rosa dan berbisik pelan, namun cukup jelas terdengar. "Bu, seandainya tuannya orang seperti dia, aku pasti rela diserahkan. Bukan pria tua yang hanya butuh wanita untuk melahirkan keturunan, padahal usianya sudah sepuh." Bisik Selvina.
"Syut! Diamlah!" bisik Rosa tegas, menyuruh anaknya berhenti berbicara sembarangan.
Namun, bisikan Selvina itu ternyata terdengar jelas di telinga Aldric. Sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum miring yang sinis, lalu ia menggeleng pelan dalam hati mendengar ucapan gadis itu.
"Seandainya Daxon ada di sini, mungkin peluru pistol sudah melayang ke arah kepalanya karena bicara sembarangan," batin Aldric dengan dingin.
Beberapa menit kemudian, terlihat Azalea berjalan membawa nampan berisi gelas-gelas berisi kopi. Begitu melihatnya, Rosa tersenyum lebar dan segera berdiri menyambutnya.
"Ya ampun, Sayang. Kenapa kamu yang membuat jus? Kan itu tugas Bi Inah," ucap Rosa dengan nada yang terdengar manis, padahal terdengar dibuat-buat.
Azalea sedikit bingung melihat perubahan sikap ibu tirinya yang tiba-tiba begitu ramah. "Bukannya Nyo—"
"Sudahlah, tidak apa-apa. Biar Ibu saja yang meletakkannya. Kamu duduk saja di sini," potong Rosa cepat.
Dengan paksa namun halus, Rosa menuntun Azalea untuk duduk di sofa. Setelah meletakkan nampan di meja, Rosa duduk tepat di samping Azalea.
"Nak, perkenalkan. Ini Tuan Aldric," ucap Rosa sambil menunjuk ke arah pria itu.
Azalea menoleh dan menatap Aldric sekilas, namun tatapan dingin dan tajam pria itu membuatnya secara refleks menunduk. "Siapa sebenarnya dia? Dan kenapa sikap Ibu tiba-tiba berubah begitu? " batin Azalea merasa curiga.
Napas Rosa terasa berat sebelum ia mulai bicara lagi. "Azalea, Ibu harus jujur. Perusahaan peninggalan Ayahmu terancam bangkrut karena ada karyawan yang mengkorupsi dana besar. Karena tidak ada jalan lain, kami dengan sangat terpaksa harus menyerahkanmu kepada kelompok yang dipimpin oleh Tuan Daxon. Mereka membutuhkan seorang gadis muda." ucap Rosa dan tersenyum.
Mendengar ucapan itu, Azalea langsung berdiri tegak dengan wajah memucat namun tegas. "Aku tidak mau pergi dari rumah peninggalan Ayahku! Kenapa Ibu tega menyerahkanku kepada orang asing? Kenapa tidak Serahkan saja Selvina, putri kandung Ibu sendiri?" bantah Azalea dengan suara lantang.
Aldric yang sedari tadi diam akhirnya bersuara dengan nada dingin dan datar, "Aku tidak punya banyak waktu di sini. Aku tidak mau menyaksikan pertengkaran kalian." ucap Aldric.
"Diam kamu!" bentak Azalea tanpa sadar menoleh ke arah Aldric.
Seketika itu suasana menjadi hening. Aldric terdiam sesaat, terkejut sekaligus terkesan — ini pertama kalinya ada seorang wanita yang berani membentaknya tanpa rasa takut sedikit pun.
Azalea segera membuang pandangannya kembali ke arah Rosa dan Selvina, matanya berkaca-kaca namun tetap memancarkan amarah. "Kalian sudah mengambil seluruh hak dan harta peninggalan Ayahku. Tapi sekarang, saat perusahaan terancam bangkrut, kalian seenaknya saja ingin menyerahkanku kepada seorang mafia demi menyelamatkan diri kalian sendiri!" gertak Azalea dengan suara bergetar menahan amarah dan kekecewaan.
Wajah Rosa seketika berubah merah padam menahan marah. Ia tidak menyangka Azalea berani berbicara setegas itu di hadapan tamu.
"Kurang ajar! Apa maksudmu bicara begitu? Kami ini keluargamu!" bentak Rosa sambil menunjuk wajah Azalea.
"Keluarga?" Azalea tertawa kecil, namun tawanya terdengar pahit. "Sejak kapan kalian menganggapku keluarga? Selama ini aku hanya dianggap sebagai pembantu di rumah ini. Kalau benar keluarga, kenapa harus aku yang dikorbankan?" Tanya Azalea.
Selvina yang sejak tadi diam kini ikut membuka suara dengan nada sinis, "Dasar gadis tidak tahu berterima kasih! Ibu sudah memberimu tempat tinggal dan makan, sekarang saatnya kamu membalas kebaikan itu!" Bentak Selvina sambil menunjuk Azalea.
"Kebaikan?" Azalea menatap Selvina tajam. "Semua ini sebenarnya milik ayahku. Kalianlah yang hidup mewah dengan harta peninggalannya, bukan aku. Aku hanya mendapat kamar sempit dan pekerjaan berat setiap hari." Bentak Azalea kepada Selvina.
Aldric yang menjadi saksi semua pertengkaran itu menyilangkan tangan di dada. Senyum miring kembali terukir di bibirnya, bukan lagi sinis seperti sebelumnya, melainkan ada rasa tertarik yang samar. Selama ini ia terbiasa melihat orang-orang gemetar ketakutan hanya dengan melihatnya, apalagi berani membentak atau menentang. Namun gadis di hadapannya ini berbeda — meski matanya berkaca-kaca, ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Sudah cukup," suara Aldric tiba-tiba terdengar rendah namun berwibawa, membuat Rosa dan Selvina seketika bungkam.
Ia kemudian menoleh ke arah Rosa, tatapannya kembali menjadi dingin dan tajam. "Tuan Daxon hanya meminta satu orang. Kalau gadis ini menolak, maka perjanjian kita batal. Uang yang dijanjikan pun tidak akan pernah diterima." ucap Aldric.
Mendengar itu, wajah Rosa menjadi pucat pasi. Ia segera mendekati Azalea dan berusaha meraih lengannya, namun dihindari oleh gadis itu.
"Azalea, dengarkan Ibu. Kalau perusahaan bangkrut, kita semua akan menderita. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan kita," bujuk Rosa dengan nada yang dibuat sedih.
"Aku tidak mau pergi. Kalau kalian ingin uang, jual saja barang-barang mewah milik kalian." ucap Azalea tetap menolak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄