Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara Jus Wortel...
Usai dari mall, ketiganya pulang membawa barang-barang untuk mereka selama seminggu ke depan. Jika Tavian banyak membeli ciki-ciki dan minuman bersoda, maka Varren lebih banyak membeli barang seperti sayur dan buah. Dan Sylas hanya ikut saja.
"Njir kita nggak beli rinso." ujar Varren kepada teman-temannya saat memasuki kamar asrama mereka kaget.
"Wey iya haha. Tapi di koperasi kalo nggak salah sih ada Ren." ujar Tavian kepada Varren.
"Lagikan kita laundry cok. Jadi santuy lah." ujarnya dengan malas pada Varren.
Varren meliriknya dan berdehem. "Gue biasanya cuma laundry pakaian. Buat pakaian dalem nggak wey." ujarnya kepada Tavian meringis. "Gue cuci sendiri." lanjutnya.
Tavian mendengarnya menatap Varren melongo. "Emang kalian laundry juga itu?" tanya Varren kepada Sylas dan Tavian. Tavian menggaruk tengkuk tak gatal dan Sylas melirik Tavian malas.
"Dia tu yang kelewat malas." ujarnya.
"Dibanding loe, setiap minggu beli kolor." ujar Tavian kepada Sylas. Varren di sana malah terbahak mendengarnya. Segera menaruh barang yang ia bawa ke dapur.
"Woy udah pulang! Mana makanan buat gue?" tanya Reja keluar dari kamar semangat melihat teman-temannya pulang.
Tavian melirik Sylas dan Sylas hanya diam. Saat Reja hendak nyeletuk kembali, Varren kembali membawa beberapa makanan. "Ini pesenan loe. Gue nggak lupa kok." ujarnya memberikan bungkusan makanan yang diplastik.
"Wih makasih yah Ren." ujar Reja pada Varren semangat.
Varren mengangguk menatap luka Reja yang terlihat berair. "Itu kita ganti dulu. Kelihatannya jelek banget, nanti ada bakterinya." ujar Varren. Reja melirik Tavian dan Sylas yang diam menatap Varren sangat perhatian.
"Tapi Ren jangan pakek obat kemaren yah." ujarnya memelas.
Varren berdehem mengangguk. "Iya. Yaudah yuk ke kamar loe aja." ujar Varren.
"Kenapa harus di kamar?" tanya Sylas nyeletuk bersamaan dengan Tavian.
Varren dan Reja menatap mereka aneh. "Nggak maksudnya gini. Kalian di kamar gitu berasa aneh." ujar Tavian memotong Sylas bicara.
"Ya kali. Kalian pikir kita mau ngapain di kamar." ujar Varren menggeleng. "Yaudah yuk di sana aja kalo gitu. Gue ambil obatnya dulu, tadi gue juga beli kain kasa baru soalnya yang lama udah jelek dan buluk." ujar Varren memapah Reja duduk di sofa.
"Tapi gue mau makan burger." ujar Reja merengek.
Varren mengangguk. "Yaudah makan aja dulu. Nanti aja, gue juga mau beresin semua barang." jawab Varren mengangguk.
Reja tersenyum lebar mendengarnya. "Varren the best." ujarnya dengan tepuk tangan.
Varren menggeleng saja melihatnya.
"Ren loe jangan terlalu baik. Soalnya orang bisa salah paham." ujar Sylas kepada Varren pelan lalu menjauh.
Varren mendengarnya menatap Sylas yang sudah pergi bingung. Tavian di sana melirik Varren yang menatap Sylas heran menggeleng pelan. "Maksudnya takutnya orang salah kaprah gitu Ren. Loe terlalu baik kalo dari siklus pertemanan cowo." ujar Tavian menyahut dan menduduki diri di sofa.
"Kalo cowo mah biasanya kalo luka nggak harus dilembutkan, malah digeplak. Loe bisa masak, loe ngomongnya adem. Gue berasa main sama cewek kadang." ujar Tavian kepada Varren jujur.
"Oh maksud loe gue mirip bencong gitu? Gemulai atau mele hoy?" tanya Varren melotot.
"Nggak gitu wey. Kenapa malah jadi bencong?" tanyanya melotot tak suka.
"Kata loe gue kayak cewek. Yah kalo cowo mirip cewek itu namanya bencong. Gue normal. Mau lihat punya gue?" tanya Varren menantang.
Tavian mendelik. "Boleh sih..!!!"
"Anak dajjal..!!!" Tavian terbahak melihat wajah masam Varren. Sangat lucu di matanya.
---
Libur hari minggu sudah lewat, dan hari Senin sudah mulai menggerayangi siswa-siswi di sekolah. Varren seperti biasa, menyiapkan makanan di asramanya. Hari ini ia masak simple, hanya masak nasi goreng dengan telur ceplok, ada buah semangka yang sudah ia potong-potong.
"Gila kalo gini uang jajan gue bisa ditabung." ujar Tavian semangat melihat Varren yang sering masak.
Varren berdehem pelan. "Nggak sih. Soalnya buat minggu depan loe yang harus beli bahan makanan. Minggu ini kan Sylas, jadi bagian loe minggu depan. Nggak ada yang gratis yah." jelas Varren mendesis pada Tavian yang datang-datang langsung menyendok nasi.
Tavian menatap Varren dengan tatapan tak suka. "Kalo ada bos kenapa harus gue?" tanyanya.
Varren menggeleng. "Sorry bre. Kalo nggak mau minggu depan gue bikin palang. Tavian dilarang makan karena tidak membeli bahan makanan pokok." ujar Varren. Tavian tersedak nasi dibuatnya membuat Varren terbahak melihat Tavian yang tersedak.
Sylas tiba-tiba sudah datang dan duduk di sisi Varren. Varren melihat Sylas yang duduk segera memberikan jus wortel yang dicampur dengan tomat dan apel. "Ini buat mas bro." ujar Varren kepadanya dengan tenang.
"Ini apa?" tanya Sylas mendelik menerimanya penasaran.
"Itu jus wortel dan apel, bagus buat mata dan enak." ujar Varren dengan tersenyum.
Sylas menaikkan satu alisnya menatap jus itu memicing. "Loe tau dari mana kalo mata gue minus?" tanyanya tenang pada Varren. Padahal dirinya tidak pernah cerita jika dirinya minus dua. Yah matanya minus.
Varren menatap Sylas dengan mengerjap pelan. "Lah gue sering lihat loe baca buku pakek kacamata. Terus loe biasanya pakek kotak lensa kan? Jadi gue buat jus itu bagus buat mata loe. Mulai hari ini gue bakal buat jus itu buat loe." jelas Varren. Sylas tertegun mendengarnya. Itu artinya Varren suka memperhatikannya.
Mengapa rasanya sedikit aneh.
"Kenapa cuma Sylas? Gue juga mau loh." ujar Reja di sana diangguki oleh Tavian.
"Mata kalian nggak minus, jadi kalian pagi minum susu aja yang simple. Atau kalo mau jus yang di kulkas sudah jadi aja." jelas Varren santai memakan nasi gorengnya.
"Varren. Loe tau nggak? Apa yang loe lakuin ke kita itu jahat." ujar Reja kepada Varren miris.
Bisa-bisanya mereka dibeda-bedakan. Varren menatap mereka mengejek. "Yah salah sendiri kenapa nggak minus." ujar Varren mencibir.
"Ya kali Ren. Loe doain mata kita minus." ujar Tavian melempar Varren dengan kulit semangka. Varren terbahak mendengarnya dan ikut melempar kulit yang tadi dibuang Tavian padanya.
"Gue berasa anak kecil minimum susu terus dibuat Varren. Mana susunya susu coklat lagi." gumamnya Tavian pada Reja.
Reja di sana malah terkekeh. "Justru enakan susu coklat ketimbang putih. Kalo putih rasanya eneg. Hambar." jelasnya di sana mengernyit tak suka.
"Tapi gemuk." ujar Tavian.
Reja tidak setuju menggeleng. "Hambar." Terjadilah perdebatan keduanya.
Varren hanya sebagai pendengar sesekali tertawa mendengar perdebatan mereka.
Sedangkan Sylas tersenyum tipis melihat jus yang diberi Varren. Pelan-pelan dirinya meminumnya. Enak rasanya manis, bahkan tidak terasa seperti jus wortel yang sering dibuat ibunya. Ini terkesan manis dan juga lezat. Sylas melihat Varren yang tertawa di sebelahnya.
Diam-diam Varren tersenyum miring melihat Sylas dan juga kedua temannya. Varren harus menaruh kepercayaan mereka terhadap dirinya di sini. Varren tidak bisa tinggal di kandang lawan tanpa bulu domba.
Bersambung...