NovelToon NovelToon
Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.

Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.

Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Ucapan itu membuat wajah kakak iparnya berubah. "Aku..."

Karin memotong sambil tersenyum mengejek. "Aku yakin, di hadapan Nadia, Mbak sama jahatnya dengan aku. Bedanya cuma satu."

"Apa?"

"Mbak sekarang menyesal, sedangkan aku nggak."

Ruangan mendadak sunyi. Kakak iparnya menundukkan kepala sesaat. Ia tak bisa langsung membantah. Memang benar, dulu ia ikut jahat membiarkan Nadia menghadapi semuanya sendirian. Ia tidak pernah membela, bahkan beberapa kali ikut menyalahkan Nadia. Setelah beberapa saat, ia berkata lirih, "Mungkin kamu benar. Aku memang pernah menyakiti Nadia."

Karin tersenyum puas.

"Tapi ada satu hal yang berbeda," lanjut kakak iparnya sambil menatap Karin mantap. "Aku mengakui kesalahanku dan menyesalinya. Sedangkan kamu masih menganggap apa yang terjadi adalah sesuatu yang wajar."

Senyum di bibir Karin perlahan memudar.

"Menyesal memang tidak bisa menghapus luka yang pernah kubuat," kata kakak iparnya. "Tapi setidaknya aku tidak ingin menambah luka itu dengan terus merendahkan orang yang sudah berusaha bangkit."

Karin memalingkan wajah sambil mendecakkan lidah. Meski enggan mengakuinya, ucapan kakak iparnya terasa jauh lebih berat daripada ejekan yang baru saja ia lontarkan. Tetapi Karin tak peduli, yang terpenting ia sudah mendapatkan Reno dan kini mereka sudah punya seorang Putri.

***

Ucapan kakak iparnya terus terngiang di kepala Karin. Ia sadar, sejak nama Nadia kembali dikenal publik, pandangan orang-orang terhadap dirinya ikut berubah. Ke mana pun ia pergi bersama Reno, selalu ada tatapan yang membuatnya tidak nyaman.

"Aku nggak boleh kalah," gumamnya. Diam-diam, Karin mulai menyusun strategi. Ia berpikir, jika publik melihat rumah tangganya dengan Reno terlihat harmonis dan penuh kasih, lambat laun penilaian orang akan berubah. Ia juga menampilkan putri kecilnya sebagai tameng, biasanya orang-orang akan luluh dengan anak kecil.

Sebelum ia muncul, Karin bagi-bagi duit dulu pada netizen. Menurut Karin, orang-orang di media sosial mudah tertarik pada konten yang memberikan hadiah. "Kalau aku sering bagi-bagi uang, lama-lama mereka juga bakal lupa sama masa lalu."

Keesokan harinya, ia mulai menyusun rencana. Ia membuat desain sederhana bertuliskan, "Giveaway Spesial! Sepuluh pemenang masing-masing mendapatkan Rp100.000. Caranya mudah, ikuti akun ini, bagikan unggahan, lalu tulis alasan kenapa kalian ingin menang."

Unggahan itu langsung menarik perhatian banyak orang. Jumlah penonton meningkat drastis. Ribuan akun mulai berdatangan.

Melihat jumlah pengikutnya bertambah, Karin tersenyum puas. "Nah, benar kan? Mereka mulai datang." Ia memilih fokus pada angka pengikut yang terus naik, meski komentar-komentar pedas masih jauh lebih banyak daripada pujian.

Dalam benaknya, ini baru langkah pertama. Ia yakin, jika terus membuat konten yang menarik perhatian publik, perlahan orang akan mulai membicarakan dirinya karena aktivitasnya di media sosial, bukan semata karena masa lalunya. Namun, ia belum menyadari bahwa perhatian publik tidak selalu berarti penerimaan, dan jumlah pengikut tidak otomatis mengubah penilaian orang terhadap seseorang.

Suatu sore, ketika Reno sedang duduk membaca berita di ruang keluarga, Karin mengaktifkan kamera ponselnya secara diam-diam. Ia merekam saat dirinya menyuguhkan secangkir kopi, lalu duduk di samping Reno sambil merangkul lengannya. Reno yang tidak menyadari sedang direkam hanya tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih.

Beberapa potongan video lain juga ia ambil pada hari-hari berikutnya. Ada saat mereka makan bersama, berjalan di taman, hingga tertawa karena obrolan ringan. Semuanya kemudian dirangkai menjadi sebuah video singkat dengan musik yang romantis.

Karin mengunggahnya ke media sosial disertai keterangan, "Rumah tangga bukan tentang masa lalu, tetapi tentang saling menjaga hari ini."

Beberapa menit pertama, jumlah penonton terus bertambah. Lalu kolom komentar mulai dipenuhi tanggapan.

"Sulit melupakan bagaimana hubungan ini dimulai."

"Bukannya ini pasangan yang dulu bikin rumah tangga orang lain hancur?"

"Kasihan Nadia. Sekarang dia memilih bangkit, sementara mantan suaminya malah dijadikan konten."

"Cap pelakor itu bukan muncul tanpa alasan."

"Kalau mau dihormati, tunjukkan perubahan lewat tindakan, bukan pencitraan."

"Dih, pelakor nggak tahu malu!"

"Semoga suamimu diambil perempuan lain seperti kamu mengambil suami Nadia!"

Semakin lama, komentar bernada pedas semakin mendominasi. Sebagian warganet bahkan membandingkan video Karin dengan foto-foto Nadia dan Kian yang baru dimuat di majalah.

"Yang satu menunjukkan kasih sayang secara alami, yang satu terasa seperti sedang membuktikan sesuatu."

"Publik bisa membedakan mana yang spontan dan mana yang dibuat untuk kamera."

Membaca komentar demi komentar, wajah Karin memerah. Tangannya gemetar menggenggam ponsel. "Kenapa..." bisiknya pelan. "Kenapa mereka tetap membenciku?"

Alih-alih mendapatkan simpati, unggahan itu justru mengingatkan banyak orang pada masa lalu yang selama ini melekat pada dirinya. Label sebagai perebut pasangan orang lain kembali bermunculan di kolom komentar, membuat upaya Karin membangun citra baru berakhir tidak sesuai dengan harapannya.

***

Beberapa hari setelah giveaway pertama selesai, Karin kembali membuat unggahan baru. Kali ini hadiahnya lebih besar.

"Kalau kemarin sepuluh orang, sekarang dua puluh orang," gumamnya sambil mengetik keterangan unggahan. "Semakin sering bagi-bagi uang, semakin banyak yang akan mendukungku." Di benaknya, strategi itu terasa masuk akal. "Orang yang menerima uang pasti akan berterima kasih. Lama-lama mereka akan membelaku."

Sejak saat itu, giveaway menjadi rutinitas. Hampir setiap beberapa hari, Karin mengadakan pembagian hadiah dengan syarat mengikuti akun, menyukai unggahan, dan meninggalkan komentar.

Jumlah pengikutnya memang meningkat cukup cepat. Setiap unggahan dipenuhi ribuan komentar.

"Semoga aku menang."

"Mbak Karin sehat selalu."

"Terima kasih sudah sering berbagi rezeki."

Melihat komentar-komentar seperti itu, Karin tersenyum puas. "Nah, mulai berubah." Namun, di sela-sela komentar para peserta giveaway, tetap muncul komentar lain.

"Semoga giveaway-nya lancar, tapi jangan saling menghina di kolom komentar."

"Berbagi itu baik. Semoga niatnya memang tulus."

"Pengikut bertambah belum tentu berarti semua orang berubah pikiran."

Karin memilih mengabaikan komentar-komentar tersebut. Yang ia lihat hanyalah angka pengikut yang terus naik dan banyaknya orang yang kini memenuhi setiap unggahannya. Dalam hati ia berkata, "Kalau semakin banyak orang yang berharap menang dariku, pasti akan semakin banyak juga yang membelaku."

Ia mulai membayangkan bahwa suatu hari nanti, ketika ada yang mengungkit masa lalunya, akan ada banyak pengikut yang berdiri di pihaknya dan membalas komentar-komentar negatif itu. Keyakinan itulah yang membuat Karin semakin rajin menggelar giveaway, berharap popularitas yang dibangunnya perlahan dapat menggeser citra buruk yang selama ini melekat pada namanya. Namun, ia belum menyadari bahwa sebagian orang bisa saja menghargai aksi berbagi tanpa serta-merta mengubah penilaian mereka terhadap masa lalu atau karakter seseorang.

***

Di balik rutinitas giveaway yang terus ia lakukan, Karin menyimpan obsesi yang jauh lebih besar. Ia tidak hanya ingin memperbaiki citranya. Ia ingin menggantikan posisi Nadia di mata publik.

1
falea sezi
knp jd bertele tele thor😒 kayak ikan terbang🤣
falea sezi
kenapa Fachri jd goblokk🤣🤣 niat bantuin. g sih
Iffanaya 😽
kk aku ikutan mewek...pls Thor bikin kian balik ke ibunya trs bongkar kebusukan karin Thor gk tega liat kian tertekan 😭😭
Muji Lestari
lanjutt thorrr
falea sezi
lanjut
falea sezi
makanya jd istri jangan bego wkt jd istri nabung yg banyak kuras harta sembunyikan klo suami selingkuh qm cerai g susah 😒
Iffanaya 😽
ditunggu lanjutannya kk 🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!