Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Dek..." Ganda berbisik lirih, masih enggan melepaskan dekapannya.
Namun kali ini, keajaiban itu datang. Diaz tidak lagi menarik diri atau bersikap dingin.
Kedua lengan wanita itu perlahan terangkat, melingkar di pinggang tegap Ganda, dan memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.
Tangis yang sejak tadi ditahannya kini pecah di dada Ganda.
"Maaf, aku egois. Maaf, Mas..." isak Diaz, menumpahkan seluruh beban dan ketakutan yang menggunung di hatinya.
Ganda tertegun. Jantungnya berdesir hebat, dan seulas senyum tulus perlahan terukir di wajahnya yang lelah. Ini adalah pertama kalinya Diaz memanggilnya dengan sebutan 'Mas'—sebuah pengakuan manis yang selama ini ia dambakan dalam pernikahan mereka.
Ganda melonggarkan pelukan, lalu membingkai wajah pucat Diaz dengan kedua tangannya.
"Kamu tidak egois, Dek. Sama sekali tidak. Mas yang salah karena kurang tegas menjagamu."
Ganda mengusap air mata di pipi Diaz dengan ibu jarinya.
"Mas sudah menyelesaikan semuanya di pondok. Mas sudah menjatuhkan talak tiga kepada Laura. Dan bukan hanya itu, Abah juga sudah menjatuhkan talak tiga kepada Umi Maryam hari ini juga."
Diaz terbelalak, menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya sekaligus cemas.
"Mas... nanti... nanti mereka pasti akan menyalahkan a-aku lagi atas hancurnya keluarga ndalem..."
"Tidak akan, Dek. Tidak akan ada yang bisa menyalahkanmu," potong Ganda dengan nada tegas dan meyakinkan.
"Mas mempunyai rekaman CCTV saat mereka menyusun fitnah dan menertawakan penderitaanmu. Buktinya sangat nyata, dan semua orang di pondok kini tahu bahwa ini murni kejahatan mereka, bukan kesalahanmu."
Ganda menjeda kalimatnya, menatap lekat-lekat manik mata Diaz dengan binar penuh harapan dan ketulusan.
"Jadi, sekarang kita mulai semuanya dari nol lagi untuk pernikahan kita. Kita bangun lembaran baru tanpa bayang-bayang mereka. Apakah kamu mau, Dek?"
Diaz terdiam sejenak, menatap ketulusan yang begitu besar di mata suaminya.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang manis.
"Jawabannya, nanti setelah kita makan malam, Mas."
Tok!
Tok!
Tok!
Tepat di saat suasana mencair, pintu kamar losmen diketuk dari luar.
Suara ramah ibu pemilik losmen terdengar, "Permisi, Mbak, Mas... ini nasi goreng dan teh hangatnya sudah siap."
Diaz perlahan melepas pelukannya dan membuka pintu.
Ibu losmen melangkah masuk membawa nampan berisi dua piring nasi goreng yang masih ngebul dan dua gelas teh manis hangat yang aromanya begitu menenangkan.
Saat makanan diletakkan di atas meja, Ganda bergegas merogoh saku pakaian keringnya.
Ia mengeluarkan dompetnya dan menyodorkan sebuah kartu identitas.
"Bu, maaf... ini KTP saya. Saya suami sahnya. Mohon maaf tadi sempat membuat Ibu khawatir karena kedatangan kami yang mendadak," ucap Ganda sopan, ingin memastikan agar pemilik losmen tidak salah paham.
Ibu pemilik losmen itu tertawa kecil, melambaikan tangannya dengan ramah menolak memeriksa KTP tersebut.
"Oalah, Mas... tidak usah. Saya percaya kok sama jenengan. Kelihatan sekali dari cara Mas mengkhawatirkan mbaknya tadi."
Beliau kemudian tersenyum teduh kepada sepasang suami istri itu.
"Sekarang makan dan tehnya dinikmati dulu selagi hangat, terus langsung istirahat, nggih. Semoga mbaknya cepat sembuh."
Setelah pemilik losmen pamit dan menutup pintu, kehangatan kini benar-benar menyelimuti kamar kecil itu.
Aroma nasi goreng dan teh panas seolah menjadi saksi awal mula babak baru kehidupan Ganda dan Diaz yang siap mereka tata kembali.
Ganda menarik kursi plastik ke dekat ranjang, meletakkan sepiring nasi goreng hangat di pangkuannya.
Dengan telaten, ia menyendok sedikit nasi, meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas, lalu mengarahkannya ke mulut Diaz.
"Ayo, Dik. Makan yang banyak supaya badannya cepat pulih," ucap Ganda lembut.
Diaz menerima suapan itu dengan senyuman manis yang menghangatkan hati Ganda.
Setelah mengunyah dan menelannya, Diaz berganti mengambil sendok dari tangan Ganda.
Ia menyendok nasi goreng itu dan mengarahkannya balik ke bibir suaminya.
"Mas juga harus makan. Wajah Mas juga kelihatan capek sekali gara-gara mencariku," balas Diaz.
Ganda pun menerima suapan dari istrinya dengan perasaan bahagia yang membuncah di dada.
Di tengah momen makan bersama yang hangat itu, Ganda mengedarkan pandangannya ke luar jendela kamar yang masih menyajikan deru suara hujan dan kabut tebal khas pegunungan.
"Tapi, Dek... dipikir-pikir benar juga kata orang. Udara di Gunung Kawi ini memang sangat sejuk dan bikin tenang," ujar Ganda, lalu menambahkan dengan nada sedikit bergurau, "Tapi tenang dalam artian suasana alamnya ya, bukan karena hal-hal yang berkaitan dengan pesugihannya."
Mendengar celetukan suaminya, Diaz seketika menatap Ganda dengan mata membelalak heran, lalu tertawa kecil sembari mencubit pelan lengan Ganda.
"Hus! Ngawur kamu, Mas!" sahut Diaz gemas.
"Gunung Kawi itu sebenarnya sama saja seperti gunung-gunung lainnya. Alamnya indah, hawanya dingin. Tidak seseram atau semistik seperti apa yang sering digosipkan orang-orang di luar sana."
Diaz meminum teh hangatnya sedikit, lalu menatap suaminya dengan penuh selidik.
"Memangnya, Mas Ganda sebelumnya belum pernah sama sekali main atau berkunjung ke Gunung Kawi?"
Ganda langsung menggelengkan kepalanya dengan jujur, sambil mengulas senyum canggung.
"Belum pernah sama sekali, Dik. Seumur hidup, baru pertama kali ini Mas menginjakkan kaki di Gunung Kawi. Itu pun karena Mas panik mencari istri Mas yang nekat kabur dari rumah sakit," goda Ganda balik, membuat pipi Diaz yang semula pucat kini merona merah karena malu sekaligus bahagia.
Setelah piring nasi goreng bersih tak tersisa dan gelas teh panas mereka sudah kosong, Ganda meletakkan nampan ke atas meja kayu.
Ia kembali duduk di tepi ranjang, lalu menatap Diaz dengan tatapan penuh arti, menuntut sebuah kepastian.
"Nah, sekarang makan malamnya sudah selesai, Dik. Mas mau menagih janji yang tadi," ucap Ganda sembari menaikkan kedua alisnya.
Diaz berpura-pura bingung, menyelimuti dirinya lebih rapat.
"Janji apa, Mas? Yang mana ya? Aku kok lupa..." godanya dengan senyum tertahan.
Ganda yang gemas melihat tingkah manja istrinya langsung meredam jarak.
Ia merengkuh tubuh ringkih Diaz, lalu menghujani pipi kanan dan kiri istrinya dengan ciuman bertubi-tubi hingga Diaz memekik kegelian.
"Ayo, jangan pura-pura lupa. Jawab sekarang, Dek," bisik Ganda di dekat telinga Diaz.
"Iya, iya, Mas... ampun!" seru Diaz sambil tertawa, mencoba menghalau wajah Ganda.
Setelah suasananya tenang kembali, Diaz menatap mata Ganda dengan sorot yang mendadak berubah serius.
"Aku mau kembali memulai dari nol dengan Mas... tapi..."
"Ada apa, Dik? Katakan saja," tanya Ganda lembut.
Diaz menunduk, memainkan ujung selimutnya dengan ragu.
"Mas, sudah melakukan itu dengan Laura?"
Ganda mengernyitkan dahi, bingung dengan arah pembicaraan istrinya.
"Maksud kamu? Melakukan apa?"
"Melakukannya... hubungan suami istri, Mas," cicit Diaz dengan suara lirih.
Ganda tertegun, lalu menatap wajah istrinya dengan tatapan yang teramat tulus.
Ia memegang kedua pundak Diaz. "Demi Allah, Sayang. Mas belum pernah menyentuh Laura sama sekali sejak kami menikah kedua kalinya."
Diaz mendongak, matanya berkaca-kaca menahan rasa penasaran yang selama ini menyiksanya.
"Tapi, waktu kita pulang dari mall ke rumah baru kita... malamnya aku minta Mas tidur di kamar Laura. Dan malam itu, aku mendengar suara desahan dari dalam kamarnya, Mas."
"Desahan?" Ganda mengulang kata itu dengan wajah terkejut, sebelum akhirnya ia tersenyum kecut menyadari kelicikan Laura.
"Astaghfirullah, Sayang. Malam itu Mas masuk ke kamar dan langsung tidur di sofa. Mas lelah sekali dan sama sekali tidak menyentuhnya. Kalau ada suara seperti itu, itu pasti akal-akalan Laura yang sengaja mendesah sendiri supaya kamu mendengarnya dan sakit hati."
Ganda mengangkat tangan kanannya, membentuk gestur sumpah.
"Sumpah demi Allah, Dek! Kalau kamu masih tidak percaya, Allah pasti akan menghukum Mas dengan memutuskan 'si Joni'!"
"Mas!!!"
Diaz seketika terbelalak kaget. Spontan, ia mengulurkan tangannya dan membekap mulut Ganda dengan telapak tangannya.
Wajahnya memerah sempurna menahan malu mendengar sumpah suaminya yang luar biasa ekstrem itu.
"Aku percaya, Mas... aku percaya," ucap Diaz cepat-cepat, melepaskan bekapannya sembari memukul pelan dada tegap Ganda.
Ganda terkekeh melihat kepanikan istrinya yang menggemaskan.
"Bagus kalau kamu percaya, Sayang. Dan karena masalah sudah selesai, sekarang saatnya kita bulan madu di sini. Menikmati indahnya Gunung Kawi berdua."
"Besok ajak aku jalan-jalan di sekitar sini ya, Mas," ucap Diaz manis.
Ganda menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Tentu saja, Sayang. Apapun untukmu. Tapi sekarang, kita istirahat dulu. Ayo, Mas peluk, mumpung suasananya lagi hujan deras seperti ini."
Ganda langsung merebahkan tubuhnya di samping Diaz, menarik wanita itu ke dalam dekapan dadanya yang hangat.
"Ish, gombal..." cibir Diaz pelan, namun ia tetap menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Ganda.
Suasana kamar menjadi begitu tenang, hanya menyisakan suara ritmis rintik hujan di luar.
Ganda mengusap lembut rambut Diaz yang harum, mencoba mencairkan suasana dengan obrolan santai.
"Dek, olahraga apa sih yang paling kamu sukai?" tanya Ganda penasaran, mengingat Diaz adalah tipe wanita yang tomboi dan punya motor sport.
"Sepak bola, balap motor, dan..." Diaz menjawab dengan suara yang perlahan mulai memberat dan menjauh.
"Dan apa, Dek?" tanya Ganda lagi, menunduk untuk melihat wajah istrinya. "Dik...?"
Hening dan tidak ada jawaban lagi dari Diaz yang baru saja ia ajak bicara.
Ganda memperhatikan wajah Diaz yang kini sudah terpejam sempurna dengan napas yang teratur dan halus.
Rupanya, efek kelelahan pasca-sakit dan perjalanan jauh benar-benar membuat energinya habis.
Ganda tersenyum geli, mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang.
"Cepat sekali kamu tidurnya, Dek. Baru juga ditanya," bisiknya pelan.
Ia memajukan posisinya, mempererat pelukan hangatnya untuk melindungi Diaz dari dinginnya malam Gunung Kawi, lalu perlahan ikut memejamkan mata menyusul sang istri ke alam mimpi.
Baru satu jam Ganda memejamkan matanya dalam kehangatan pelukan Diaz, keheningan malam di kamar losmen itu terusik.
Ponsel Ganda yang diletakkan di atas nakas bergetar hebat disertai dering telepon yang nyaring.
Ganda mengerang pelan, berusaha bergerak sehalus mungkin agar tidak membangunkan Diaz yang sedang tertidur pulas.
Ia meraih ponselnya, dan sebaris nama di layar seketika membuat matanya yang mengantuk terbuka lebar: Papa Laura.
Ganda menghela napas berat. Ia mengusap wajahnya sejenak sebelum menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
Belum sempat Ganda mengucap salam, suara bentakan keras bernada amarah mendadak menggelegar dari seberang telepon.
"Maksud kamu apa, Ganda?!" semprot Papa Laura tanpa basa-basi. Suaranya terdengar sangat murka, mengikis ketenangan malam.
"Tega-teganya kamu menceraikan Laura demi gadis urakan itu! Di mana hati tenangkan kamu sebagai seorang ustaz?!"
Ganda memejamkan matanya sejenak, mencoba menahan emosi agar suaranya tetap rendah dan tidak mengganggu tidur Diaz di sampingnya.
"Pa, tolong, Diaz itu istri sah saya, jangan sebut dia seperti itu," ucap Ganda dengan nada bariton yang tenang namun tersirat ketegasan yang mutlak.
"Laura saya ceraikan bukan karena membela siapa pun, tapi karena dia sudah melakukan perbuatan keji yang tidak bisa saya maafkan lagi sebagai seorang suami."
"Halah! Alasan kamu saja! Anak saya tidak mungkin melakukan hal aneh-aneh!" potong Papa Laura, menolak menerima kenyataan bahwa putrinya telah berbuat zalim.
"Besok aku tunggu kamu di rumah. Kita selesaikan ini semua!"
Klik.
Papa Laura langsung mematikan sambungan ponselnya secara sepihak, meninggalkan bunyi tut panjang yang menyebalkan.
Ganda menurunkan ponselnya dari telinga, menatap layar yang sudah menggelap dengan helaan napas panjang.
Ia tahu badai dari pihak keluarga Laura baru saja dimulai, namun hatinya tidak gentar sedikit pun.
Kali ini, ia memiliki bukti rekaman CCTV yang kuat untuk membungkam semua tuntutan mereka besok.
Ganda meletakkan kembali ponselnya, lalu berbalik merapatkan tubuhnya pada Diaz, memeluk istrinya erat-erat seolah menegaskan bahwa tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡