Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Kode dari Masa Lalu
Kabut tebal yang menyelimuti hutan pinus di lereng tebing itu seolah-olah ikut membekukan waktu. Suara gesekan sepatu bot pasukan taktis musuh yang merayap menuruni tebing terdengar kian dekat, berpadu dengan desis uap panas dari radiator SUV lapis baja yang ringsek di balik batu besar. Namun, di bawah bayang-bayang pohon pinus yang tumbang, perhatian Arsen Valentino teralih sepenuhnya oleh cahaya pendar layar ponsel satelit kecil di genggaman Arunika.
Wajah gadis itu tampak seputih pualam di bawah temaramnya cahaya digital. Jemarinya bergetar begitu hebat hingga ponsel itu nyaris lolos dari pegangannya. Sepasang mata elang Arsen menyipit, menatap deretan karakter acak yang berkedip di layar. Bagi orang awam, teks itu hanyalah sampah digital—kombinasi angka, tanda baca, dan huruf yang tidak membentuk kata apa pun. Namun bagi Arunika, deretan karakter itu adalah hantu dari masa lalu yang melompati kuburannya.
"Siapa?" desis Arsen, suaranya sangat rendah, nyaris menyatu dengan desau angin malam yang menggerakkan dedaunan pinus. Tangannya yang kokoh masih menggenggam senapan serbu, namun tubuhnya condong ke arah Arunika, menuntut jawaban instan.
Arunika menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti menelan pasir. "Ini... ini kode *Atbash* kuno yang dipadukan dengan koordinat petak sawah di belakang rumah masa kecil kami," bisik Arunika, suaranya nyaris habis. "Hanya ada dua orang di dunia ini yang tahu cara menyusun urutan angka ini dengan pola terbalik. Aku... dan Valeria."
Arsen menatap gadis itu dengan tatapan yang tajam, mencoba membaca apakah ini taktik lain untuk mengulurnya. "Kakakmu? Bukankah beberapa menit lalu kita mendengar rekaman suaranya yang menyatakan bahwa dia sedang berada di pesawat menuju Paris untuk menjual asetku pada faksi Volkov?"
"Ya," jawab Arunika, matanya masih terpaku pada baris teks rahasia tersebut. "Tapi pesan ini baru saja dikirim satu menit yang lalu. Dan orang yang mengirimkannya tahu kode darurat yang kami buat saat kami berumur sepuluh tahun—sebuah kode yang artinya: *'Jangan percaya pada apa yang kau dengar, umpan sesungguhnya sedang berjalan menuju jebakan.'*"
Marco, yang sedang menekan bahu kirinya yang cedera ke batang pohon, ikut melirik dengan napas memburu. "Nona, apakah ini berarti rekaman suara yang kami temukan di saku Rangga tadi hanyalah sandiwara ganda untuk mengecoh kita semua?"
Sebelum Arunika sempat menjabarkan lebih jauh, suara ranting patah yang nyaring terdengar dari jarak kurang dari sepuluh meter di depan mereka. Dua siluet hitam berpakaian taktis lengkap dengan senapan serbu terkokang muncul dari balik tirai kabut.
*Blar! Blar!*
Arsen tidak memberikan kesempatan bagi musuh untuk membidik. Dengan kecepatan refleks seorang predator tertinggi, dia menegakkan tubuhnya sedikit dan melepaskan dua tembakan beruntun tepat ke arah dada kedua siluet tersebut. Tubuh mereka terpelanting ke belakang, menghantam tanah berbatu dengan suara deburan yang berat.
"Kita tidak bisa bertahan di sini lebih lama lagi," ucap Arsen dingin. Dia merenggut lengan Arunika, memaksanya berdiri, sementara Marco bergerak di sisi lain untuk menjaga area belakang mereka. "Bawa ponsel itu. Sambil kita bergerak menuju bunker darurat di sektor timur hutan ini, kau harus memecahkan sisa pesan itu di dalam kepalamu. Aku butuh tahu ke mana arah bidikan kakakmu yang sebenarnya."
Mereka mulai berlari menembus kegelapan hutan yang kian pekat. Tanah yang licin oleh embun dan rimbunnya semak berduri menyayat pakaian taktis yang mereka kenakan. Di belakang mereka, suara letusan senjata api sesekali terdengar memecah malam, disusul oleh lolongan anjing pelacak yang tampaknya mulai dilepaskan oleh pasukan taktis Volkov untuk memburu jejak darah dari pelipis Arsen.
Sambil terus berlari dengan napas yang memburu, otak Arunika bekerja dengan kecepatan maksimal, membolak-balik memori masa kecilnya yang ternyata penuh dengan kepalsuan. Jika seluruh hidupnya adalah kebohongan yang dirancang oleh Baskoro, mengapa Valeria harus repot-repot mengirimkan kode darurat ini kepadanya? Jika Valeria benar-benar menganggapnya sebagai sampah yang tidak berguna seperti yang ada di dalam rekaman suara tadi, pesan ini tidak seharusnya ada.
Arunika menatap ponsel di tangannya yang sesekali bergetar menerima deretan karakter baru. Karakter-karakter itu mulai membentuk potongan teka-teki kecil di dalam benaknya.
*“4-1-9... Menara... Bukan Paris... Jangan biarkan dia melihat halaman belakang...”*
"4-1-9," ucap Arunika terengah-engah di sela langkah larinya, mencoba menyamakan kecepatan dengan langkah lebar Arsen. "Itu bukan kode penerbangan ke Paris. Itu adalah tanggal kematian ibu... maksudku, Katarina Vane! Sembilan April!"
Arsen mendadak menghentikan langkahnya di depan sebuah celah dinding batu yang tertutup oleh jalinan akar pohon tua. Dia berbalik, mencengkeram kedua bahu Arunika dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga gadis itu terpaksa menatap matanya yang berkilat di kegelapan. "Apa katamu? Sembilan April?"
"Ya," Arunika mengangguk cepat, air matanya nyaris keluar karena ketakutan dan kebingungan yang campur aduk. "Sembilan April adalah hari di mana mansion lamamu dibakar sepuluh tahun yang lalu, kan? Kak Valeria mengirimkan angka itu. Dia ingin mengatakan bahwa... target serangan malam ini bukan pelabuhan utara atau mansion utama Valentino. Targetnya adalah tempat di mana semua ini dimulai."
Arsen tertegun, sepasang matanya melebar sesaat sebelum berubah menjadi kilatan amarah yang luar biasa pekat. "Mansion lama... makam ibuku."
Marco yang baru saja sampai di belakang mereka dengan wajah pucat akibat kehilangan darah, menatap tuannya dengan pandangan tidak percaya. "Tuan... jika Alexei Volkov sengaja memancing kita ke sini dan membiarkan faksi barat mengacaukan mansion utama, itu artinya mereka hanya ingin mengosongkan area makam keluarga di sayap selatan kota?"
"Tepat sekali," sebuah suara wanita yang sangat familier tiba-tiba menyahut dari arah atas tebing batu di atas kepala mereka.
Arsen, Marco, dan Arunika secara serentak mendongak.
Berdiri di atas batu besar di tengah kabut yang mulai menipis, sesosok wanita dengan pakaian taktis serba hitam menatap mereka ke bawah. Di tangannya, sebuah senapan runduk (*sniper rifle*) laras panjang tersampir di bahu dengan santai. Dan ketika angin malam menggerakkan rambut panjangnya yang hitam, cahaya lampu darurat dari kejauhan menyinari bahu kirinya yang terekspos.
Tanda bulan sabit merah yang terpotong.
Wanita itu perlahan membuka penutup wajahnya, menampilkan wajah yang sangat cantik, dengan garis rahang yang tegas dan sepasang mata yang memancarkan kecerdikan luar biasa yang mematikan.
Itu bukan Katarina Vane yang mereka lihat di bunker pelabuhan tadi. Wajah wanita ini jauh lebih muda. Wajah yang selama dua puluh dua tahun ini selalu berada di samping Arunika sebagai pelindung sekaligus saudara perempuannya.
"Valeria..." bisik Arunika, dunianya seolah kembali berputar jungkir balik untuk kesekian kalinya.
Valeria Baskoro menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan kemenangan, menatap adiknya—atau umpan palsunya—dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia menurunkan senapannya, mengarahkannya tepat ke arah dada Arsen Valentino yang sudah bersiap menarik pelatuk senapan serbunya sendiri.
"Jangan bergerak, Arsen," ucap Valeria, suaranya terdengar begitu anggun namun dingin menembus kabut malam. "Jika kau menarik pelatukmu, anak buah Alexei di atas sana akan meledakkan ruang isolasi bawah tanah tempat Baskoro berada sekarang. Kau mungkin tidak peduli pada nyawa tua bangka itu, tapi adikku... atau siapa pun dia... sepertinya masih memiliki sedikit hati untuk pria yang telah membesarkannya."
Arunika menatap kakaknya dengan pandangan kosong penuh luka. "Kenapa, Kak? Kenapa kau melakukan ini padaku? Rekaman suara itu... apakah kau benar-benar menganggapku hanya sebagai perisai darah untukmu?"
Valeria melirik ke arah Arunika, kilatan penyesalan melintas sangat cepat di matanya sebelum kembali terkubur oleh topeng dinginnya. "Dunia ini terlalu kejam untuk orang baik sepertimu, Aruni. Jika Ayah tidak membuat tanda lahir palsu itu di bahumu, faksi Volkov sudah membunuh kita berdua sejak kita masih bayi.
Aku harus pergi ke Paris, tapi bukan untuk menjual teknologi Arsen. Aku pergi untuk mengambil satu-satunya benda yang bisa menghentikan perang sepuluh tahun ini—benda yang ditinggalkan oleh ibu kita, Katarina Vane, di dalam brankas bank internasional."
Valeria kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Arsen. "Alexei Volkov mengira dia memanfaatkanku untuk menghancurkanmu, Arsen. Tapi dia tidak tahu bahwa aku sengaja memancingnya keluar dari persembunyiannya di Rusia dengan menggunakan nama ibuku. Dan sekarang, panggung yang sesungguhnya sudah siap di makam ibumu. Jika kau ingin tahu siapa yang sebenarnya menarik pelatuk senjata yang membunuh ibumu sepuluh tahun lalu... ikut aku sekarang. Atau tetap di sini dan mati dikepung oleh pasukan taktis yang tidak tahu apa-apa ini."
Valeria melempar sebuah granat asap hitam ke bawah kakinya sendiri, dan dalam sekejap, sosoknya kembali lenyap ditelan oleh kepulan asap tebal yang pekat.
Di saat yang sama, suara lolongan anjing pelacak musuh terdengar tepat berada di atas bukit batu tempat mereka berdiri. Pasukan taktis faksi Volkov telah mengepung area celah batu tersebut dari tiga arah, menyisakan satu-satunya jalur sempit yang menurun menuju ke arah jurang sedalam ratusan meter di bawah tebing.
Arsen Valentino menatap kepulan asap tempat Valeria menghilang, lalu beralih menatap Arunika yang memegang ponsel satelit dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh tekad kegelapan yang baru. Teka-teki ini kian rumit, pecahan cermin identitasnya kian tajam, dan kebenaran seolah-olah sengaja disembunyikan di balik timbunan tanah makam yang berdarah.
Arsen mencengkeram tangan Arunika sekali lagi, menariknya menuju ke tepi jalur jurang yang curam. "Kita ambil jalur bawah. Jika kakakmu ingin berdansa di atas makam ibuku, maka aku akan memastikan malam ini menjadi pemakaman massal untuk seluruh faksi yang terlibat."
Namun, tepat ketika kaki Arunika menginjak batuan lepas di tepi jurang untuk melompat turun mengikuti Arsen, ponsel satelit di saku celananya kembali bergetar pendek. Kali ini, bukan pesan teks yang masuk, melainkan sebuah panggilan suara langsung dengan nomor satelit internasional yang tidak terdaftar.
Arunika menekan tombol terima dengan tangan gemetar, menempelkan perangkat kecil itu ke telinganya di tengah deru angin jurang yang kencang.
Dari seberang saluran telepon, tidak ada suara Valeria, tidak ada suara Arsen, dan bukan pula suara Alexei Volkov. Melainkan suara helaan napas yang sangat berat dari seorang wanita paruh baya yang suaranya terdengar begitu parau, lelah, namun memiliki otoritas purba yang sanggup menghentikan seluruh detak jantung Arunika seketika.
*“Arunika... putri kecilku yang malang... jangan ikuti Valeria ke makam itu. Apa yang dia katakan adalah jebakan ganda. Dialah... dialah yang sebenarnya memegang kendali atas senjata yang membunuh ibu Arsen sepuluh tahun lalu.”*
_____________________________
**Bersambung ke Bab 12...**
*Siapakah sebenarnya wanita paruh baya misterius yang menelepon Arunika dan mengaku sebagai ibu kandungnya yang asli? Jika Valeria adalah anak kandung Katarina Vane, lalu siapakah identitas asli Arunika yang sebenarnya di dalam rantai konspirasi berdarah ini? Dan rahasia mengerikan apa yang menanti mereka di makam keluarga Valentino saat panggung sandiwara ini mencapai babak akhirnya? Tunggu kelanjutan kisahnya yang semakin memuncak dan penuh intrik di bab berikutnya!*