Pria yang selama ini mereka remehkan adalah Dewa Perang yang mampu menghancurkan kerajaan dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dua pembunuh lainnya membelalakkan mata mereka ngeri melihat kecepatan tidak masuk akal tersebut.
Sret!
Salah satu dari mereka mencoba menebas leher Devan dari arah belakang secara membabi buta.
Devan hanya memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindari tebasan mematikan itu dengan gerakan yang sangat elegan.
Lalu tangannya melesat secepat kilat mencengkeram wajah pembunuh tersebut dan membantingnya ke aspal dengan tenaga penuh.
Brak!
Jalanan aspal itu sampai sedikit retak akibat benturan keras kepala si pembunuh.
Clarissa yang menonton pertarungan itu dari balik kaca mobil tidak bisa mempercayai penglihatannya sendiri.
Suaminya yang selalu terlihat santai dan suka bercanda itu kini bertarung layaknya dewa kematian yang tidak punya ampun.
"Tembak dia! Tembak bajingan itu sekarang!" teriak pemimpin Gagak Hitam dengan suara panik yang luar biasa.
Dor! Dor! Dor!
Tiga peluru melesat tajam membelah hujan mengarah lurus ke dada dan kepala Devan.
Namun berkat insting dewa perang dan segel kekuatan yang terbuka dua puluh lima persen, dunia di mata Devan bergerak sangat lambat.
Devan memutar tubuhnya dengan sangat lincah menghindari arah lintasan peluru tersebut.
Satu peluru menyambar ujung kerah kemejanya, tapi tidak ada satu pun yang berhasil menembus kulitnya.
Wush!
Devan langsung melesat maju memangkas jarak antara dirinya dan para penembak itu dalam hitungan detik.
Dia merampas pistol dari tangan salah satu pembunuh lalu menghantamkan gagang pistol itu ke rahang lawannya.
Krak!
Rahang pembunuh itu bergeser dan dia langsung jatuh pingsan di tempat.
Hanya butuh waktu kurang dari tiga menit bagi Devan untuk menumbangkan tujuh anggota elit Gagak Hitam yang ditakuti itu.
Kini hanya tersisa sang pemimpin yang berdiri gemetar dengan pistol kosong di tangannya.
Pria bertopeng gagak itu mundur ketakutan hingga punggungnya menabrak kap mobil SUV miliknya sendiri.
"Monster... kamu ini monster apa?" rintih pemimpin pembunuh itu dengan suara putus asa.
Devan berjalan perlahan mendekatinya dengan tatapan mata hitam kelam yang sedingin es abadi.
Pria itu mencengkeram leher sang pemimpin dan mengangkat tubuh besarnya dari tanah hanya dengan satu tangan.
"Katakan pada majikan tuamu itu," bisik Devan dengan suara bariton mematikan tepat di telinga musuhnya.
"Kalau dia berani mengirim sampah seperti ini lagi untuk mengganggu istriku, aku sendiri yang akan meratakan rumahnya dengan tanah."
Bugh!
Devan melepaskan cengkeramannya dan memberikan satu pukulan keras ke pelipis pemimpin itu hingga ia jatuh pingsan.
Pertarungan berdarah di bawah guyuran hujan malam itu akhirnya selesai dengan kemenangan mutlak sang Dewa Perang.
Devan menghela napas pelan lalu merapikan kemejanya yang sedikit basah.
Dia berjalan santai kembali ke arah mobil sport merah yang masih menyala lampunya.
Ceklek.
Devan membuka pintu dan masuk ke dalam mobil seolah tidak pernah terjadi pembantaian mengerikan barusan.
Clarissa masih mematung menatap suaminya dengan mata membulat sempurna dan napas tertahan.
"Maaf Nyonya Bos, sepertinya kita harus menelepon asuransi dan derek mobil sekarang," ucap Devan tersenyum tanpa dosa.
"Lain kali tolong potong gajiku kalau kinerjaku mengecewakan ya."
Clarissa tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan langsung memeluk erat tubuh Devan yang sedikit basah karena hujan.
Wanita itu menangis tersedu-sedu bukan karena takut, melainkan karena rasa lega yang luar biasa.
Devan sempat terkejut sesaat sebelum akhirnya dia membalas pelukan istrinya dengan senyuman hangat yang tulus.
Malam ini, hati dingin sang CEO wanita tercantik itu akhirnya benar-benar takluk di tangan pria yang dulu selalu dihina orang bodoh.