Demi takhta tertinggi Klan Zhou, Zhou Yu dijebak oleh konspirasi kejam. Menggunakan ramalan palsu, para tetua mengasingkannya ke Pulau Sunyi—tempat para biksu tanpa kekuatan kultivasi, tempat di mana masa depannya sengaja dikubur hidup-hidup.
Enggan membiarkan takdirnya mati dalam kesunyian, Zhou Yu nekat melarikan diri ke Hutan Keramat yang tabu. Di sana, di balik kabut abadi, dia menemukan kerangka naga raksasa yang terantai.
Siapa sangka, setetes darah Zhou Yu justru menghancurkan segel kuno dan membangkitkan takdir yang sebenarnya: Garis Keturunan Iblis Kuno yang ditakuti langit dan bumi! Dengan tulang naga iblis di tubuhnya dan dendam yang membara di hatinya, Zhou Yu berjalan keluar dari pulau pengasingan.
"Kalian membuangku karena takut aku merebut takhta? Bersiaplah, karena sekarang aku kembali untuk meratakan seluruh klan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Masa Lalu
Gemuruh di Arena Elang Emas tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, justru semakin memanas saat wasit meneriakkan nama "Yu Ling" untuk pertandingan babak kedua blok barat.
Lawan Zhou Yu kali ini adalah seorang kultivator dari klan sekutu utama, seorang pemuda jangkung yang telah mantap di ranah Pendirian Fondasi Tingkat 1.
Di atas panggung batu, pemuda itu menarik tombak peraknya dengan putaran yang menimbulkan desing angin tajam. "Aku bukan sampah dari klan cabang seperti Zhou Tian! Di hadapan ranah Pendirian Fondasi, kekuatan fisik murnimu tidak—"
Wusss!
Kalimat itu terputus selamanya. Zhou Yu tidak memberi ruang bagi lawannya untuk menyelesaikan bualan. Langkah kakinya bergeser, menjelma menjadi seberkas bayangan hitam yang melesat membelah jarak belasan meter dalam satu kedipan mata.
Tombak perak itu baru saja hendak diayunkan ketika tangan kanan Zhou Yu bergerak maju. Bukan sebuah pukulan, melainkan hanya satu tepukan telapak tangan terbuka yang mendarat tepat di atas gagang tombak lawan.
Brak!
Kekuatan fisik murni dari Tulang Naga Iblis mengalir deras melalui getaran tersebut. Gagang tombak baja itu melengkung seketika, dan seluruh tubuh sang kultivator Pendirian Fondasi terlempar ke belakang layaknya layang-layang putus tali.
Dia menabrak pembatas arena dengan keras, memuntahkan seteguk darah segar, dan langsung jatuh pingsan sebelum sempat melepaskan satu pun teknik tombaknya.
"P-pemenang... Yu Ling!" teriak wasit dengan suara yang mulai gemetar.
Lautan penonton di tribun kelas bawah langsung meledak dalam sorakan riuh. Dua kemenangan beruntun, masing-masing dicapai dalam hitungan detik tanpa menggunakan senjata atau bahkan fluktuasi Qi yang mencolok.
Di antara kerumunan, julukan "Hantu Bertopeng" mulai bergaung, menandai lahirnya kuda hitam terbesar dalam turnamen ini.
Memanfaatkan jeda waktu istirahat yang panjang sebelum babak perempat final dimulai, Zhou Yu tidak kembali ke tribun penonton. Dia memilih untuk menyelinap masuk ke dalam lorong bagian dalam paviliun logistik yang terletak di belakang arena utama.
Ini adalah momen yang krusial untuk menjalankan misinya. Mengalirkan Abyssal Qi hitam keperakan di sekeliling tubuhnya, Zhou Yu menyamarkan hawa keberadaan dan langkah kakinya secara mutlak, menyatu sempurna dengan bayang-bayang dinding batu paviliun.
Dia bergerak lurus menuju ruang penyimpanan dokumen faksi luar klan. Dengan kecepatan eksekusi yang terlatih, Zhou Yu melumpuhkan seorang kurir logistik dalam keheningan tanpa suara, lalu merogoh kantong penyimpanan pria itu. Targetnya adalah sebuah dokumen manifes keamanan yang berisi cetak biru rute patroli malam dan jadwal pergantian penjaga kastil klan.
Zhou Yu mengeluarkan sebuah slip giok kosong dari balik jubahnya, menempelkannya pada dokumen tersebut, dan mengalirkan kesadaran jiwanya untuk menyalin seluruh data rute secara instan.
Setelah selesai, dia mengembalikan dokumen itu ke posisi semula dan menyembunyikan tubuh sang kurir di balik tumpukan kotak kayu. Cetak biru ini akan menjadi kunci utama bagi pergerakan Kapten Yuan dan para pengawalnya untuk memblokir rute pelarian faksi Zhou Gung nanti.
Setelah menyelesaikan misinya tanpa memicu alarm sedikit pun, Zhou Yu berjalan kembali menuju area tribun penonton melewati jalur lorong taman batu beralas kerikil yang sunyi di bagian belakang paviliun. Taman ini sangat sepi karena hampir seluruh orang berada di area depan untuk menyaksikan pertandingan.
Namun, baru saja Zhou Yu membelok di sebuah sudut lorong yang sempit, langkah kakinya mendadak melambat.
Dari arah berlawanan, sesosok gadis berpakaian gaun sutra putih salju berjalan dengan langkah anggun yang perlahan. Rambut hitam panjangnya berkilau ditiup angin sepoi-sepoi, dan wajahnya yang secantik dewi es memancarkan rona jenuh.
Lin Xinyue.
Mantan tunangannya itu tampaknya sengaja keluar dari panggung VIP yang riuh untuk mencari udara segar, menjauh sejenak dari keangkuhan Zhou Feng yang terus-menerus membanggakan kultivasinya.
Keduanya kini berjalan saling mendekat di lorong batu yang sempit itu. Jarak di antara mereka perlahan mengikis hingga hanya menyisakan beberapa jengkal saat mereka berpapasan.
Zhou Yu tetap menjaga pandangannya lurus ke depan, wajahnya tersembunyi dengan sempurna di balik topeng perak setengah wajah dan tudung jubah hitamnya. Berkat Abyssal Qi yang kini mendominasi seluruh meridian dan dantiannya, hawa tubuh fana "Zhou Yu yang lemah" di masa lalu telah musnah total, digantikan oleh aura dingin, misterius, dan tajam yang sangat asing.
Lin Xinyue sama sekali tidak mencurigai bahwa pria di sampingnya adalah sosok yang dulu ia campakkan. Namun, tepat saat bahu mereka hampir bersentuhan, langkah kaki Lin Xinyue mendadak terhenti.
Secara tidak sadar, jantung gadis itu berdesir aneh. Alih-alih merasa terancam atau curiga, Lin Xinyue justru merasa terpaku oleh kehadiran pria bertopeng perak ini. Sifat acuh tak acuh yang mutlak, bentuk tubuh yang tegap dan kokoh, serta aura dominasi liar yang tersembunyi di balik ketenangannya memancarkan pesona karisma insting yang sangat kuat—sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan Zhou Feng yang selalu haus akan validasi dan pujian dari orang lain.
Lin Xinyue membalikkan tubuhnya, menatap punggung tegap Zhou Yu yang juga ikut menghentikan langkahnya demi kesopanan formal.
"Gerakanmu di arena sangat mengagumkan, Tuan Muda Yu Ling," ucap Lin Xinyue, suaranya yang sedingin es kini terdengar agak melembut dengan nada ketertarikan yang langka. Sepasang matanya yang indah menatap profil wajah Zhou Yu dari samping.
"Di Ibu Kota yang penuh dengan kepalsuan ini, jarang ada pria dengan ketenangan sepertimu. Kemampuan fisik murnimu... membuatku sangat terkesan."
Mendengar pujian dari wanita yang dulu mengkhianatinya demi mengejar status, Zhou Yu tidak merasakan kepuasan ataupun amarah yang meledak. Dia hanya merasa hal ini sangat ironis dan menggelikan. Wanita ini memujinya hanya karena dia tidak tahu siapa sosok di balik topeng ini sesungguhnya.
Zhou Yu tidak menoleh sepenuhnya. Dia hanya memberikan anggukan kecil yang sangat dingin dan formal dari balik tudungnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sikapnya yang tetap acuh tak acuh bahkan di hadapan sang putri suci Sekte Pedang Suci justru membuat karismanya terasa semakin pekat dan tak terjangkau. Zhou Yu kemudian melanjutkan langkah kakinya, berjalan perlahan melewati lorong taman dan menghilang di balik belokan.
Lin Xinyue tetap berdiri diam di tengah lorong sunyi itu selama beberapa saat. Tangannya yang memegang erat pedang pusaka perak perlahan mengendur, sementara sepasang matanya menatap kosong ke arah tempat Zhou Yu menghilang.
Jantungnya masih berdegup dengan ritme yang tidak biasa—sebuah perasaan terpikat dan penasaran yang mendalam terhadap seorang pria, sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya, bahkan tidak kepada Zhou Feng sekalipun.