NovelToon NovelToon
Menggembala CEO Pemalas

Menggembala CEO Pemalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!

Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.

Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Tak Diundang

Aroma harum bawang putih yang ditumis dengan mentega, berpadu dengan wangi bumbu herba Italia, menguar memenuhi seluruh sudut penthouse mewah di kawasan Senopati malam itu.

Aulia Putri berdiri di depan konter dapur bersih, mengenakan celemek linen berwarna abu-abu muda di atas kaus rajut putih dan celana jins santainya.

Tangannya dengan cekatan mengaduk saus creamy carbonara yang meletup-letup lembut di dalam wajan datar.

Rambut cokelat panjangnya yang biasanya disanggul kencang di kantor, kini dikuncir kuda asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tampak merona kemerahan karena hawa hangat kompor.

Di dekat meja makan marmer, Khatyr Ali Fatih sedang duduk di atas kursi tinggi, menopang dagunya dengan kedua tangan.

Pandangan matanya sama sekali tidak beralih dari sosok Aulia.

Ia tidak sedang memegang ponsel, tablet, atau konsol game-nya.

Baginya malam ini, pemandangan seorang wanita mandiri yang sedang memasak dengan penuh perhatian di dapurnya jauh lebih menarik daripada peluncuran game tercanggih mana pun di dunia.

"Khatyr, tolong ambilkan piring saji di lemari atas sebelah kananmu," pinta Aulia tanpa menoleh, konsentrasinya masih terfokus pada kematangan pasta.

Khatyr langsung bangkit berdiri dengan langkah ringan sekali lagi, sangat tidak mencerminkan pembawaannya yang malas lalu mengambil piring keramik putih berdesain elegan dari lemari atas.

Bukannya langsung meletakkan piring itu di meja, Khatyr justru berjalan mendekat hingga berdiri tepat di belakang Aulia.

Ia meletakkan piring itu di konter, lalu perlahan-lahan mendekatkan tubuh tegapnya hingga Aulia bisa merasakan embusan napas hangat Khatyr di tengkuknya.

"Sausnya harum sekali, Partner," bisik Khatyr lembut, suaranya terdengar begitu serak dan dalam di dekat telinga Aulia.

"Aku tidak tahu sekretaris pribadiku yang galak ini ternyata juga merangkap sebagai koki bintang lima."

Aulia tersentak kecil, merasakan debaran jantungnya mendadak berpacu kencang akibat jarak mereka yang terlalu intim.

Ia mencoba mempertahankan ketenangannya, meskipun tangannya yang memegang sudit kayu sedikit gemetar.

"Pak Khatyr... maksudku, Khatyr," koreksi Aulia cepat dengan nada mendesis pelan.

"Mundur satu langkah. Aku sedang memegang wajan panas, dan aku tidak bertanggung jawab jika saus krim ini tidak sengaja tumpah ke kaus putih mahalmu."

Khatyr terkekeh renyah, sebuah tawa lepas yang terdengar sangat merdu dan hangat.

Bukannya mundur, kedua tangan kokohnya justru bergerak perlahan dari belakang, melingkar lembut di pinggang ramping Aulia, menarik tubuh mungil wanita itu dengan kehangatan protektif yang menenangkan ke dalam dekapannya.

Khatyr menyandarkan dagunya dengan manja di atas bahu Aulia, membiarkan aroma wangi vanila dari tubuh Aulia menenangkan seluruh syaraf otaknya yang lelah setelah seharian bertempur di kantor.

"Biarkan seperti ini dulu selama satu menit, Aulia," bisik Khatyr tulus, memejamkan sepasang matanya dengan kedamaian murni yang mengalir masuk ke dalam hatinya.

"Hari ini di kantor benar-benar melelahkan karena harus berpura-pura tidak mengenalmu dengan dekat di depan Pak Haryo. Aku merindukanmu sepanjang hari."

Aulia tertegun diam di dalam dekapan hangat Khatyr.

Seluruh otot tubuhnya yang semula tegang perlahan-lahan rileks kembali. Kehangatan dari tubuh tegap pria itu seolah merembes masuk melewati serat kardigannya, mengusir seluruh rasa lelah dan kecemasan profesional yang sempat membayangi kepalanya sejak pagi.

Perlahan, Aulia mematikan kompor, lalu meletakkan sudit kayunya di atas tatakan.

Ia menyandarkan kepalanya dengan lembut di dada bidang Khatyr, mendengarkan detak jantung pria itu yang berdegup kencang dengan ritme yang sama persis dengan detak jantungnya sendiri.

"Aku juga merindukanmu, Khatyr," bisik Aulia sangat lirih, hampir seperti embusan angin malam, namun terdengar begitu jelas di telinga Khatyr.

"Tapi sekarang, lepaskan pelukanmu dulu. Pastanya sudah matang dan harus segera disajikan sebelum sausnya mengering."

Khatyr melonggarkan dekapannya dengan ogah-ogahan, mengecup sekilas bahu Aulia dengan lembut sebelum akhirnya melangkah mundur dengan senyum tampannya yang paling menawan.

"Baiklah, Gembalaku. Perintah Anda adalah titah mutlak bagiku."

Mereka berdua memindahkan pasta carbonara hangat dan salad segar ke atas meja makan.

Suasana makan malam itu terasa sangat manis, dipenuhi oleh tawa kecil, obrolan ringan mengenai kelucuan Murni di lobi depan, dan pandangan mata yang sarat akan kasih sayang yang murni di antara mereka.

Namun, kedamaian manis di dalam penthouse mewah itu seketika hancur berkeping-keping ketika sebuah bunyi dengung tajam dari sistem interkom lift privat apartemen mendadak berdering nyaring di dinding ruang tamu.

Ting-tong. Ting-tong.

Aulia seketika membeku dengan garpu yang masih tertahan di udara.

Jantungnya berdegup liar karena kepanikan yang mendadak menyerang dadanya.

"Khatyr... ada tamu? Apakah supirmu kembali untuk mengantarkan dokumen?"

Khatyr mengerutkan dahinya dalam-dalam, menatap layar monitor interkom kecil di dekat pintu lift privatnya yang berkedip-kedip menampilkan kamera lobi bawah.

Detik berikutnya, wajah tampan Khatyr seketika memucat seolah-olah seluruh pasokan oksigen di parunya ditarik paksa keluar.

"Khatyr? Siapa yang datang?" tanya Aulia cemas, bangkit dari kursinya saat melihat ekspresi panik luar biasa di wajah bosnya.

"I-Ibu..." bisik Khatyr tercekat, suaranya terdengar sangat gemetar.

"Ibuku... dan Tiffany! Mereka berdua sedang berada di dalam lift privat menuju lantai ini sekarang juga!"

"Apa?!" Aulia membelalakkan matanya dengan bulat, seluruh tubuhnya mendadak terasa dingin dan kaku karena syok yang teramat sangat.

"Bagaimana bisa ibumu datang ke sini malam-malam tanpa memberi tahu?! Dan mengapa Tiffany juga ikut?!"

"Ibuku memegang kartu akses darurat master untuk lift privat ini karena apartemen ini berada di bawah pengelolaan Kalumperri Land!" jelas Khatyr panik, matanya berputar liar ke sekeliling ruangan mencari solusi.

"Aulia! Cepat, kamu harus bersembunyi!"

"Sembunyi? Di mana?!" tanya Aulia panik, melirik ke sekeliling ruang tamu luas yang didominasi oleh konsep terbuka tanpa sekat dinding pembatas yang berarti.

"Masuk ke kamarku! Lewat pintu lorong sebelah kanan, lalu kunci pintunya dari dalam!" perintah Khatyr cepat, mendorong bahu Aulia dengan gerakan tergesa-gesa.

Aulia tidak membuang waktu lagi.

Dengan kecepatan luar biasa, ia menyambar tas selempang kecilnya dari atas sofa, memungut sepatu flat santainya yang tergeletak di dekat pintu depan, lalu berlari cepat menyusuri lorong berlantai kayu menuju kamar tidur utama Khatyr.

Brak. Klik.

Aulia menutup pintu kamar tidur utama yang sangat luas itu rapat-rapat, lalu memutar kunci pintunya dari dalam dengan tangan yang bergetar hebat.

Ia berdiri bersandar di balik pintu kayu tebal tersebut, menekan dadanya yang naik-turun karena napas yang memburu, mencoba mendengarkan suara-suara dari ruang tamu luar.

Tepat tiga detik setelah Aulia mengunci pintu kamar, pintu lift privat di ruang tamu Khatyr berdenting nyaring dan terbuka lebar.

Denting.

Langkah kaki yang anggun dan berkelas dari Ibu Rahayu Fatih melangkah keluar, diikuti oleh langkah kaki manja yang berisik dari Tiffany Mahardika yang mengenakan gaun malam mini berwarna hitam dengan jaket bulu-bulu merah muda yang sangat glamor.

"Khatyr, Sayang," sapa Ibu Rahayu dengan nada suara merdunya yang sarat akan otoritas keibuan.

"Kenapa lampu ruang tamumu temaram sekali? Dan aroma apa ini... wangi masakan herba yang sangat harum?"

Khatyr berdiri di tengah ruangan dengan senyum manis terbaiknya yang dipaksakan sekuat tenaga, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih berdegup kencang karena ketakutan.

"Ibu... selamat malam. Tiffany... selamat malam. Ada apa Ibu datang malam-malam begini ke tempatku?"

Tiffany segera berlari manja mendekati Khatyr, bermaksud menggelayut di lengan pria itu seperti biasa, namun Khatyr dengan cekatan menghindar secara halus dengan berpura-pura merapikan letak celemek dapurnya yang masih terpasang di pinggang.

"Ih, Khatyr! Kamu masak sendiri?" tanya Tiffany cemberut, menatap konter dapur yang berantakan dengan pandangan tidak suka.

"Tante Rahayu bilang kamu tidak pernah mau memasak di rumah keluarga. Kenapa di apartemen ini kamu mendadak bertingkah seperti koki?"

Ibu Rahayu melangkah mendekati meja makan marmer, tatapan matanya yang sangat tajam, terlatih, dan jeli langsung menyapu sekeliling meja.

1
falea sezi
nyimak klo bagus q ksih hadiah thor🤭
Althea Shalmaira: semoga suka kak/Smile//Whimper/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!