"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
"Kalau ada kaca, aku tidak perlu merepotkan mu Galen," celetuk Jenny.
"Aku tidak merasa kerepotan, aku malah senang bisa dekat dengan mu seperti ini."
Ceklek
"Permisi, kami mau ijin untuk mengambil tas kami. Karena kami harus ikut rapat dadakan yang di adakan oleh pihak sekolah." Dua orang perawat yang tadi ijin pergi ke kantin nampak kembali memasuki ruang unit kesehatan sekolah. Ke duanya ijin mau mengambil tas mereka.
"Iya silahkan!" Galen terlihat mempersilahkan.
"Wah kalian romantis sekali! Apakah kalian berdua itu pacaran?" tanya salah satu perawat sembari memasukkan beberapa barang yang ada di atas mejanya ke dalam tasnya.
"Apa? Bu - bukan," sahut Jenny dengan suara terbata bata.
"Iya, kami berdua sudah pacaran," sahut Galen.
Jenny nampak menatap ke dua bola mata Galen dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Jadi ingat masa muda!" sindir salah satu perawat.
Jenny hanya bisa memalingkan pandangannya ke arah lain, guna meredakan rasa malu yang sekarang ini benar benar menguasai dirinya.
Tak berselang lama, ke dua suster itu terlihat meninggalkan unit kesehatan sekolah, meninggalkan Galen dan juga Jenny berduaan di sana.
"Jenny, seperti nya bagian pipi mu yang itu belum terkena salep!"
"Iya kah?"
"Biar aku kasih salep," kata Galen sembari mendekatkan wajahnya ke arah wajah Jenny.
Jika terlihat dari jauh, seolah olah Galen sedang mencium Jenny. Padahal Galen hanya membantu Jenny untuk mengoleskan salep ke bagian titik terkecil.
Brakk
Galen dan Jenny sama sama kalut dengan pikirannya masing masing. Jadi tidak memperdulikan orang yang masuk ke dalam ruang unit kesehatan sekolah. Bukankah ruang unit kesehatan sekolah itu ruangan umum?
"Dimana harga dirimu? Kenapa kau itu jadi gampangan sekarang ini?" teriak Nathan.
Jenny lantas menoleh ke arah sumber suara.
"Tu-tuan?" gumam Jenny dengan suara yang terdengar pelan, matanya tak lepas dari tatapan Nathan yang tampak murka. Tak bisa ia mengerti mengapa tuannya menunjukkan kemarahan sebesar itu pada dirinya.
"Apakah ada yang salah denganku? Atau aku lupa melakukan sesuatu yang penting? Apakah ini mengenai ciuman setiap satu jam itu?" pikir Jenny, panik.
"Ada apa, Jenny? Kenapa wajahmu itu terlihat ketakutan?" tanya Galen dengan suara khawatir. Ia menoleh dan melihat Nathan yang sedang memandang Jenny dengan wajah penuh amarah.
"Apakah dia yang menyebabkan Jenny ketakutan?" batin Galen sambil menolehkan wajahnya, berusaha mencari petunjuk.
"Nathan! Ternyata suara orang marah tadi itu elo, gue kira ada orang lain yang terluka dan baru masuk ke dalam ruangan ini," kata Galen dengan wajah bingung. Ia terkejut saat mendengar suara Nathan yang berubah drastis.
"Kenapa suaranya berubah seperti ini? Apakah dia sedang menghadapi sesuatu yang membuatnya marah?" pikir Galen bingung, mengenai perubahan sikap dan juga suara milik murid terbodoh yang ada di SMA Taruna ini.
Sementara itu, Nathan yang biasanya berbicara dengan logat culun kini terdengar tegas dan sangat berbeda.
Jenny pun semakin gelisah, hatinya merasa tidak tenang, mencari tahu apa yang membuat tuannya marah. "Apa yang harus kulakukan? Kenapa wajahnya terlihat marah?" pikir Jenny, takut menghadapi kemungkinan yang buruk. Ia benar benar takut jika sampai berbuat kesalahan, karena pasti ibunyalah yang akan menanggung akibatnya.
Nathan benar benar tidak bisa mengendalikan emosinya sekarang ini. Ia berjalan ke arah brangkar dimana Jenny terbaring di sana.
"Apa yang kalian berdua lakukan di sini? Kenapa kalian berciuman di dalam ruang unit kesehatan sekolah ini?" tanya Nathan sembari menggertakkan gigi giginya.
"Ti - tidak, anda salah paham!" timpal Jenny.
"Haha, elo melihatnya Nathan si Culun. Apa elo itu lupa? Jika Jenny itu milik gue, jadi gue berhak lah melakukan apapun padanya!" ucap Galen dengan suara meninggi, bahkan seulas senyum kemenangan nampak tercetak jelas dari ke dua pipinya.
Ucapan Galen sungguh membuat Jenny ketakutan, bahkan ia terlihat terus menggeleng gelengkan kepalanya. Ia juga terlihat menatap Tuannya itu dengan tatapan takut.
"Tolong jangan percaya dengan apa yang Galen katakan!" gumam Jenny dalam hatinya, ia menatap Nathan dengan tatapan memohon.
Jenny mati matian menahan degub jantungnya yang sekarang ini berdetak sangat cepat, ia berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada tuannya.
Suara langkah kaki yang terdengar seperti banyak orang terlihat mendekat ke arah ruangan itu.
"Boss, ada hal penting. Ayo ikut kami sekarang!" Richard datang bersama dengan gerombolan murid yang ada di belakangnya.
"Nanti saja, gue mau antar Jenny pulang ke rumahnya!"
"Boss lihat lah keadaan Jenny, ia kesakitan. Apakah boss lupa jika hari berangkat ke sekolah naik motor sport? Gak mungkin lah boss itu mengantar Jenny pulang dengan naik motor. Dengan keadaan seperti ini, biar Jenny diantar oleh supirnya. Ayo ikut kami! Ada sesuatu yang sangat penting, dan kamu juga sudah mengurung Kamila dan Tiara di gudang belakang. Bahkan kami semua sudah bermain main dengan nya!"
"Jenny, aku pamit dulu ya! Maaf aku gak bisa mengantarmu. Ada urusan mendesak, semoga kamu cepat sembuh!" Galen terlihat mencium punggung tangan Jenny di depan Nathan.
Membuat kobaran api amarah Nathan semakin meledak.
Air mata mulai berjatuhan dan juga luruh dari ke dua kelopak mata Jenny. Kala menatap kepergian Galen.
"AYO SEKARANG PULANG! AKU HARUS MEMBERIKAN PELAJARAN PADAMU!" Nathan marah, bahkan ia terlihat melepaskan kaca matanya sembari menjatuhkan kaca mata itu. Lalu ia terlihat menginjak kaca mata itu sampai hancur berkeping keping.
Nathan langsung menarik pergelangan tangan Jenny yang masih perih, amarah yang memuncak membuat dirinya tidak sadar. Jika di tangan Jenny banyak sekali terdapat ruam merah.
Nathan menarik pergelangan tangan Jenny dengan kasar, bahkan memaksa kaki Jenny yang tidak beralaskan apapun untuk berjalan cepat di lantai koridor maupun di halaman sekolah.
Nathan terus mengumpati Jenny dengan kata kata kasar. Area sekolah SMA Taruna sekarang ini sangat lah sepi. Karena bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak beberapa jam yang lalu.
Nathan terus menarik tanpa memperdulikan rintihan Jenny yang kaki lecet , bahkan ia terlihat mendorong keras tubuh Jenny untuk masuk ke dalam mobil.
kalo berkenan mampir juga ya😉