NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Lalu Yang Rumit.

Mata Eun Dam membelalak ketika pria itu mencengkeram kerah bajunya.

"Apa kubilang? Mau sejauh apa pun kau menghindar dariku, aku pasti akan menemukanmu."

Suara berat itu terdengar mengancam.

"Kau akan selamanya menjadi kaki tanganku. Ingat orang tuamu dan wanita yang kau cintai itu. Jika kau tidak ingin mereka celaka, turuti semua perintahku."

Pria yang dikenal dengan nama Seok Byung Rul itu melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang lebih menyerupai ancaman daripada keramahan.

Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan pergi bersama anak buahnya.

Meninggalkan Eun Dam seorang diri.

Lelaki itu terduduk lemas di lantai gudang yang dingin. Tubuhnya terasa berat, seolah seluruh tenaga dalam dirinya telah direnggut paksa.

Ia menundukkan kepala.

Apa lagi yang bisa ia lakukan selain menuruti perintah pria itu?

Tidak ada.

Karena untuk saat ini, hanya itulah satu-satunya cara agar orang tuanya dan Seolhwa tetap selamat.

Eun Dam memejamkan mata.

Dadanya terasa sesak.

Ia telah membohongi Seolhwa.

Selama ini ia mengaku memiliki bisnis penyewaan tempat sparring. Padahal semua itu hanyalah kebohongan yang ia ciptakan agar terlihat layak berada di dekat gadis itu.

Bagaimana mungkin seorang atlet taekwondo nasional yang berasal dari keluarga sederhana bisa berdiri sejajar dengan Seolhwa yang lahir dari keluarga terpandang?

Namun satu hal yang tidak pernah menjadi kebohongan adalah perasaannya.

Ia benar-benar mencintai Seolhwa.

Sangat mencintainya.

Tiga tahun lalu...

Hari itu menjadi hari yang terus menghantuinya hingga sekarang.

Hari pertama ia diperintahkan melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.

Membunuh.

Atau lebih tepatnya...

Mencelakai seseorang atas perintah tuan Seok.

Saat itu Eun Dam mengendarai sebuah truk besar di jalan menuju Busan.

Tangannya gemetar memegang kemudi.

Keringat dingin membasahi pelipisnya meski cuaca tidak panas.

Di kejauhan, sebuah mobil sedan hitam melaju dengan tenang.

Targetnya.

Di dalam mobil itu terdapat sepasang suami istri yang sedang melakukan perjalanan bisnis.

Mereka tidak tahu bahwa maut sedang mendekat.

"Tabrak mereka."

Perintah tuan Seok masih terngiang jelas di telinganya.

Eun Dam menggertakkan gigi.

Air mata hampir jatuh saat ia menginjak pedal gas lebih dalam.

Brakkk!

Suara benturan keras menggema di udara.

Truk yang dikendarainya menghantam bagian depan mobil tersebut dengan kekuatan penuh.

Mobil itu kehilangan kendali.

Berputar.

Lalu menghantam pembatas jalan.

Dalam hitungan detik, kendaraan itu terbalik dan jatuh ke sungai yang berada tepat di bawah jembatan.

Tubuh Eun Dam terpental ke depan.

Kepalanya membentur kemudi.

Darah mengalir dari pelipisnya.

Namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang baru saja ia lakukan.

Dengan langkah limbung, ia keluar dari truk.

Berdiri di tepi jembatan.

Menatap mobil yang perlahan tenggelam ke dasar sungai.

Tangisnya pecah.

Ia ingin melompat.

Ia ingin menolong mereka.

Ia ingin mengubah semuanya.

Namun ketakutan menahannya.

Jika ia tidak menjalankan perintah tuan Seok, maka orang tuanyalah yang akan menjadi korban berikutnya.

Maka ia memilih pergi.

Pergi dengan hati yang telah hancur.

Pergi sambil membawa dosa yang akan terus mengikutinya hingga akhir hidup.

Setelah kejadian itu, Eun Dam berusaha memutus hubungan dengan tuan Seok.

Namun pria itu tidak pernah membiarkannya pergi.

"Kabur saja kalau berani."

Kalimat itu masih ia ingat.

"Kalau kau kabur, aku akan menyerahkan semua bukti ke polisi. Kau yang akan masuk penjara."

Ancaman itu berhasil menghancurkan keberaniannya.

Jika ia dipenjara, bagaimana dengan orang tuanya?

Bagaimana masa depan mereka?

Sekali lagi, Eun Dam kalah.

Beberapa bulan kemudian, polisi menutup kasus tersebut.

Mereka menyimpulkan bahwa kecelakaan itu terjadi karena kelalaian pengemudi.

Tidak ada CCTV.

Tidak ada saksi.

Tidak ada bukti lain yang mengarah pada tindakan kriminal.

Kasus itu pun berakhir begitu saja.

Namun bagi Eun Dam, mimpi buruknya baru dimulai.

Karena suatu hari ia mengetahui identitas pasangan suami istri yang meninggal dalam kecelakaan itu.

Mereka adalah...

orang tua Seolhwa.

Saat mendengar fakta tersebut, dunia Eun Dam seakan runtuh.

Tubuhnya membeku.

Napasnya tercekat.

Perempuan yang ia cintai ternyata adalah anak dari korban yang telah ia bunuh.

Meskipun ia melakukannya di bawah ancaman, fakta itu tetap tidak berubah.

Tangannya tetap berlumuran darah.

Sejak saat itu, tuan Seok melarangnya mendekati Seolhwa.

Jika ia membangkang, pria itu akan menyakiti gadis tersebut.

Eun Dam tidak punya pilihan selain menjauh.

Diam-diam.

Menahan rasa sakit sendirian.

Alasan tuan Seok menyingkirkan orang tua Seolhwa sebenarnya sederhana.

Keserakahan.

Mereka adalah saingan bisnis terbesarnya saat itu.

Karena tidak mampu mengalahkan mereka secara sehat, ia memilih jalan paling kotor.

Menghabisi mereka.

Namun hidup memiliki caranya sendiri untuk memberi balasan.

Setelah kematian pasangan itu, bisnis fashion milik tuan Seok ustru mengalami kehancuran.

Perusahaannya bangkrut.

Reputasinya hancur.

Bukan kesuksesan yang ia dapatkan, melainkan kehancuran.

Tetapi bukannya menyesali perbuatannya, pria itu justru semakin dipenuhi kebencian.

Ia menyalahkan semua orang.

Terutama keluarga Seolhwa.

Terutama Hwi Sol.

Baginya, semua kegagalannya adalah akibat orang lain.

Bukan akibat dosanya sendiri.

Karena itulah ia terus memata-matai Seolhwa.

Mengirim pesan ancaman.

Mengawasi pergerakannya.

Mencari kelemahan keluarga itu.

Dan kelemahan terbesar yang ia temukan adalah satu nama.

Seolhwa.

Gadis yang dicintai oleh Hwi Sol.

Gadis yang dicintai oleh Eun Dam.

Malam itu Eun Dam berbaring di atas ranjang.

Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap.

Rasa bersalah kembali menghantamnya.

Seperti ribuan jarum yang menusuk tanpa ampun.

Pikirannya dipenuhi wajah Seolhwa.

Senyumnya.

Tawanya.

Tatapan matanya.

Ia sangat mencintai gadis itu.

Namun takdir seolah tidak pernah berpihak pada mereka.

"Jika kau tahu aku adalah penyebab kematian orang tuamu..."

Suaranya bergetar.

"...kau pasti akan membenciku, Seolhwa."

Air mata kembali jatuh.

"Aku pembunuh..."

"Aku pria yang jahat."

Tangisnya pecah.

Untuk kesekian kalinya.

Hingga tiba-tiba suara dering ponsel memecah keheningan.

Nama "Eomma" muncul di layar.

Eun Dam segera menghapus air matanya sebelum mengangkat panggilan itu.

"Sayang, apa kimchi buatan Eomma sudah kamu makan?" tanya sang ibu dengan suara hangat.

Eun Dam tersenyum pahit.

"Sudah, Eomma. Terima kasih. Kimchi buatan Eomma selalu enak."

"Kalau begitu Eomma senang. Oh iya, kapan kamu pulang? Eomma dan Appa sangat merindukanmu."

Dada Eun Dam kembali terasa sesak.

"Iya, Eomma. Kalau pekerjaanku sudah tidak sibuk, aku pasti datang."

Padahal itu bohong.

Ia tidak sedang sibuk.

Ia hanya tidak ingin orang tuanya melihat dirinya yang hancur.

"Sekarang aku harus latihan dulu, ya."

"Baiklah. Jaga kesehatanmu."

"Pasti."

Telepon terputus.

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Orang tuanya masih belum tahu bahwa ia telah berhenti sementara dari dunia taekwondo akibat cedera kaki yang dideritanya.

Cedera yang ia alami setelah kecelakaan motor beberapa waktu lalu.

Eun Dam tertawa kecil.

Tawa yang terasa begitu pahit.

Baginya, semua ini adalah hukuman.

Tiga tahun lalu ia merenggut nyawa orang tua Seolhwa.

Dan kini ketika ia ingin mendekati gadis itu...

justru hidupnya sendiri yang berantakan.

Tidak ada yang kebetulan.

Setidaknya begitulah yang ia yakini.

Semua adalah cara Tuhan mengingatkannya akan dosa yang belum tertebus.

Dengan tangan gemetar, ia membuka media sosial Seolhwa.

Sebuah foto gadis itu memenuhi layar ponselnya.

Cantik.

Hangat.

Dan begitu jauh untuk ia raih.

Eun Dam menatap foto itu lama sekali.

Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

"Aku akan menebus semua kesalahanku."

Suaranya nyaris berupa bisikan.

"Aku akan melindungimu dengan seluruh hidupku, Seolhwa."

Meskipun pada akhirnya...

aku harus mengorbankan nyawaku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!