Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. : 4
Matahari mulai terbenam, menggantikan langit biru dengan warna ungu keemasan yang indah. Di dalam kamar Lisa, seseorang mengetuk pintu pelan.
“Ktok… ktok…”
“Lisa, sayang? Sudah siap belum? Ayo makan malam ya,” suara lembut Nyonya Rafaela terdengar dari balik pintu.
Lisa yang sedang duduk di tepi ranjang segera mengangguk, meski tak terlihat. Ia berdiri dengan postur yang tetap tegap dan anggun, layaknya seorang putri sejati.
Pintu terbuka, dan Rafaela masuk dengan senyum lebar. Di tangannya, ada sebuah gaun baru yang sangat cantik. Warnanya lembut, berwarna putih bersih dengan aksen biru muda yang berkilau halus, persis seperti warna kesukaannya.
“bibi membawa sebuah gaun yang cantik ayok pelayan akan bantu ganti baju . Hari ini kita makan malam spesial,” kata Rafaela ramah.
Lisa membiarkan dirinya dibantu. Saat mengenakan gaun itu, rasanya sangat nyaman dan halus di kulit.
“Wah, cantiknya anak Bibi…” Rafaela membelai rambut panjang putih perak keemasan lisa. “Sudah yuk, ayo turun.”
Mereka berjalan menuju ruang makan. Ruangan itu besar dan hangat, diterangi cahaya lampu kristal yang berkedip lembut. Di meja makan yang panjang, sudah tersedia berbagai macam makanan yang menggiurkan—roti hangat, sup krim, sayuran, dan daging panggang. Aromanya sangat wangi, membuat perut Lisa berbunyi pelan kruukk… 🤭
Tuan Cedric sudah duduk di kepala meja, dan di sebelahnya ada Floyen yang sudah tidak sabar. Begitu melihat Lisa datang, mata Floyen langsung berbinar.
“Kakak Lisa!! Cantik banget!!” seru Floyen bertepuk tangan kecil.
Lisa tersenyum malu-malu, pipinya memerah sedikit. Ia duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Rafaela. Namun, saat melihat peralatan makan di depannya—sendok, garpu, dan pisau—Lisa terdiam.
Ia menatap benda-benda itu dengan bingung. Di kerajaannya dulu, para pelayan selalu menyuapinya dengan makanan yang sudah disiapkan atau ia makan dengan tangan yang dibersihkan dengan sihir. Ia tidak pernah memegang benda logam seperti ini.
“Apa ini… tongkat sihir kecil?” batinnya bertanya-tanya sambil memegang gagang sendok dengan hati-hati.
Melihat Lisa yang hanya diam dan menatap sendok garpu itu, Rafaela segera mengerti.
“Oh, sayang… belum pernah pakai ini ya?” tanyanya lembut.
Lisa mengangguk jujur.
Cedric tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Nak. Pelan-pelan saja belajarnya.”
Rafaela pun mendekat, lalu dengan sabar menunjukkan cara memegang garpu dan sendok. Lisa mengamati setiap gerakan tangan Bibi Rafaela dengan sangat teliti, seperti sedang mempelajari mantra baru. Ia mencoba menirunya.
Cklek.
Tangannya yang kecil mencoba menusuk sepotong kecil roti. Awalnya agak goyang dan sedikit kikuk, hampir jatuh, tapi karena Lisa adalah anak yang cerdas dan tangkas, ia segera menyeimbangkannya.
“Nah, gitu bagus…” puji Cedric.
Floyen yang melihat kakaknya belajar jadi ikutan heboh. “Ayo Kakak! Floyen bantu! Ini enak loh supnya!”
Floyen bahkan ingin mengambilkan makanan untuk kakaknya, tapi tangannya terlalu kecil sehingga tumpah sedikit, membuat mereka semua tertawa kecil. Suasana ruang makan jadi sangat hidup dan riuh.
Lisa mencoba menyuapkan makanan ke mulutnya. Saat rasa hangat dan lezat itu masuk ke lidahnya, matanya yang tertutup seolah berbinar. Rasanya sangat nikmat! Beda dengan makanan roh atau buah-buahan ajaib di dunianya. Ini rasa… “rumah”.
Mereka makan sambil sesekali mengobrol. Walaupun Lisa belum bisa bicara bahasa mereka dengan lancar, ia hanya menjawab dengan anggukan, gelengan, atau senyuman manis. Tapi cukup bagi keluarga itu, kehadiran Lisa sudah membuat rumah terasa lebih lengkap.
Di tengah makan malam, tiba-tiba Lisa mengangkat tangannya pelan. Ia menunjuk ke arah perutnya sendiri, lalu ke arah Floyen, lalu tersenyum lebar.
“Enak…” bisiknya pelan, mencoba mengucapkan kata itu.
“WAH!! KAKAK BISA BICARA!!” Floyen langsung berteriak senang. “Enak! Enak!”
Rafaela dan Cedric saling pandang dengan hati yang penuh syukur. Perlahan tapi pasti, gadis kecil ini mulai membuka hatinya dan beradaptasi dengan dunia baru ini.
3 TAHUN KEMUDIAN...
Waktu berlalu begitu cepat. Tiga tahun sudah Lisa tinggal bersama keluarga barunya. Tidak ada lagi kesedihan, tidak ada lagi rasa takut. Rumah keluarga Cedric telah menjadi tempat ternyaman baginya, dan kasih sayang mereka telah menyembuhkan luka di hatinya sepenuhnya.
Kini, Lisa telah tumbuh menjadi gadis berusia 15 tahun.
Penampilannya berubah drastis. Ia memiliki rambut panjang yang berkilau indah, dan wajahnya yang cantik memancarkan aura anggun layaknya seorang putri sejati. Ia masih memakai penutup mata, namun itu justru menambah kesan misterius dan mempesona pada dirinya.
Namun, yang paling membuat semua orang takjub bukan hanya kecantikannya, melainkan kecerdasannya yang luar biasa.
SI JENIUS DUNIA PENYIHIR
Sejak kecil, bakat sihir Lisa memang sudah terlihat sangat menakjubkan. Tapi dalam tiga tahun ini, ia belajar dengan sangat cepat. Buku-buku tebal tentang mantra, sejarah sihir, hingga ramuan, ia hafal di luar kepala hanya dengan membacanya sekali.
Ia dijuluki sebagai "Jenius Muda" atau "Permata Langka" di kalangan para penyihir.
Bahkan para guru sihir yang mengajarinya privat di rumah sering kali menggelengkan kepala tak percaya.
"Lisa, ini mantra tingkat tinggi... bagaimana kau bisa melontarkannya semulus ini?" tanya salah satu guru dengan mata terbelalak.
Lisa hanya tersenyum lembut dan menunduk sopan. "Aku hanya mencoba merasakan aliran energinya, guru. Rasanya seperti bernapas saja."
Bagi orang lain, sihir adalah sesuatu yang sulit dan melelahkan. Tapi bagi Lisa, yang memiliki darah bangsawan tinggi dari dunianya dulu, menggunakan sihir terasa semudah berkedip. Ia bisa menciptakan sihir tingkat lanjut dengan mana yang sangat sedikit, dan hasilnya jauh lebih kuat dan indah dari penyihir dewasa sekalipun.
Ia tidak sombong, justru ia sangat baik hati dan penurut. Semua orang menyayanginya.
KEBERSAMAAN KELUARGA
Di ruang makan pagi itu, suasana terasa hangat seperti biasa.
"Kakak Lisa!! Ayo cepat habiskan sarapannya! Nanti telat loh pendaftarannya!" seru Floyen yang kini sudah lebih tinggi dan tampak lebih gagah sebagai seorang siswa akademi. Ia sudah menunggu dengan tidak sabar.
Lisa tertawa kecil mendengar semangat adiknya. "Iya, Floyen. Aku makan pelan-pelan saja, nanti juga sampai."
"Dasar Floyen, lihat kakakmu itu santai sekali. Belajar dong dari Lisa," tegur Rafaela sambil menuangkan susu ke gelas Lisa.
Cedric yang duduk di ujung meja menatap putrinya dengan mata bangga. "Hari ini adalah hari pertamamu di Akademi Sihir Terbaik, Lisa. Ayah yakin kau akan bersinar di sana. Tapi ingat, jangan terlalu memaksakan diri, ya. Jika ada yang berani mengganggumu, bilang saja pada kami."
Lisa mengangguk, hatinya terasa hangat. Dalam tiga tahun ini, panggilan 'Paman' dan 'Bibi' perlahan berubah menjadi rasa yang jauh lebih dalam. Bagi mereka, Lisa adalah putri kandung mereka sendiri.
"Jangan khawatir, Paman. Aku akan berhati-hati. Dan aku akan belajar keras agar bisa melindungi diri sendiri, dan juga melindungi kalian semua," jawab Lisa dengan suara lembut namun tegas. Bahasanya kini sudah sangat lancar dan indah.
PERJALANAN KE AKADEMI
Setelah selesai bersiap, Lisa mengenakan seragam akademi yang baru. Warna hitam dan emas yang sangat cocok dengan kulit putihnya. Ia membawa tas sihirnya, dan berjalan keluar rumah dengan langkah tegap.
Floyen sudah menunggu di depan kereta kuda sihir mereka.
"Ayo Kak! Nanti kita lihat apakah kakak bisa mengalahkan aku murid yang paling hebat! Ini " tantang Floyen sambil tersenyum lebar.
Lisa tersenyum manis, sedikit menggoda. "Tentu, Kakak kelas harus memberi contoh yang baik dong, Floyen~"
"Hahaha! Awas ya kalau nilaimu ngelebihin aku!"
Mereka pun berangkat. Menuju Akademi Sihir Imperial, tempat di mana para penyihir berbakat berkumpul.
Lisa tahu, di sana ia akan bertemu banyak orang baru. Mungkin ada yang menyukainya, mungkin juga ada yang iri atau mencoba menjatuhkannya karena ia terlalu jenius.
Tapi Lisa tidak takut.
Karena ia bukan lagi gadis kecil yang kesepian dulu. Ia adalah Lisa, sang jenius muda, dan ia memiliki keluarga yang mencintainya sepenuh hati.
Hari ini, sebuah bintang baru akan mulai bersinar terang di langit akademi! ✨🌟
Suasana di Lapangan Utama Akademi sangat ramai dan hiruk pikuk. Ratusan calon siswa berbaris rapi, menunggu giliran mereka untuk melakukan tes kemampuan dasar. Salah satu tes paling penting adalah Pengukuran Kristal Mana, untuk melihat seberapa besar kapasitas sihir dan kelancaran aliran energi dalam tubuh seseorang.
Satu per satu siswa maju ke depan. Ada yang membuat kristal bersinar terang, ada yang biasa saja, dan ada yang redup.
Giliran Lisa pun tiba.
Floyen berdiri di pinggir lapangan menatapnya dengan penuh semangat. "Ayo Kakak! Tunjukkan kemampuanmu!" bisiknya dalam hati.
Namun, Lisa tahu betul. Jika ia mengeluarkan kekuatan aslinya, kristal itu mungkin akan pecah atau bersinar menyilaukan seluruh ruangan. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian, tidak ingin orang lain merasa terancam, dan yang paling penting... ia ingin belajar dengan tenang.
'Tenang, Lisa. Kurangi alirannya... hanya keluarkan 10% saja. Cukup untuk lulus, tidak perlu yang istimewa,' batinnya berpesan.
Lisa perlahan mengulurkan tangan putihnya ke arah bola kristal besar yang mengambang di atas altar. Ia menutup matanya di balik penutup mata, lalu dengan sangat ahli, ia menekan dan membelokkan aliran sihirnya agar hanya sedikit yang keluar.
Bzzzt...
Cahaya biru lembut muncul dari dalam kristal. Warnanya cukup jelas, tapi tidak bersinar terang menyilaukan. Tingginya hanya mencapai garis tengah, tidak sampai ke atas.
Hasil: KAPASITAS SEDANG
Para penguji hanya mengangguk biasa. "Baik, tercatat. Kapasitas mana standar, lulus."
Lisa menarik tangannya dan tersenyum sopan, lalu mundur kembali ke barisan. Di matanya, hasil ini sudah cukup baginya.
Namun, di sudut lain lapangan, sekelompok gadis bangsawan yang melihat hasil tes itu langsung menyeringai sinis.
Salah satu gadis dengan rambut pirang digulung rapi dan wajah yang sombong—Lady Clarissa—menatap Lisa dari atas ke bawah dengan tatapan menghina. Ia tahu siapa Lisa, anak angkat keluarga Duke
"Hah, lihat tuh," celetuk Lady Clarissa dengan suara yang cukup keras agar didengar orang-orang di sekitarnya. "Gue kira anak angkat dari keluarga Duke sehebat apa, ternyata cuma dapat nilai sedang doang."
Teman-temannya langsung ikutan menertawakan.
"Iya nih, My Lady. Beneran menyedihkan. Mana lagi pakai penutup mata segala, sok misterius padahal kemampuannya pas-pasan."
"Mungkin dia cuma numpang nama keluarga doang ya? Soalnya kan dia cuma anak pungut, gak punya darah bangsawan asli. Wajar kalau sihirnya payah gitu."
"Dasar tidak berguna. Kasihan Duke Cedric dan Nyonya Rafaela, sudah baik hati mengangkatnya, eh yang diangkat malah beban."
"Lihat cara jalannya juga sok anggun, padahal mah kosong~" ujar yang lain sambil terkikik.
Kata-kata tajam itu melayang di udara, menusuk telinga siapa saja yang mendengar. Mereka berbicara seolah Lisa tidak ada di sana, seolah gadis itu adalah udara yang tidak berharga.
Lisa yang mendengar semua itu hanya diam. Ia tidak berhenti, tidak menoleh, dan wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi.
Bagi orang lain, mungkin ia terlihat lemah dan tidak berani melawan. Tapi sebenarnya... hati Lisa sama sekali tidak tergores.
'Hah... manusia memang selalu menilai dari luar,' batinnya berpikir dingin.
Lisa hanya melangkah pergi meninggalkan mereka, meninggalkan Lady Clarissa dan gengnya yang masih sibuk membusungkan dada merasa lebih hebat.
Namun, di kejauhan, Floyen yang mendengar ocehan itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Wajahnya memerah menahan amarah.
Belum sempat Lisa berjalan jauh, sebuah bayangan cepat sudah melesat melewati sisinya.
Wush!
Dalam sekejap, Floyen sudah berdiri tegap menghadang jalan Lady Clarissa dan gengnya. Wajah Floyen yang biasanya ceria dan ceria kini berubah total. Matanya tajam, alisnya terangkat marah, dan aura di sekitarnya terasa sangat dingin dan menekan.
Floyen kini dikenal sebagai Kesatria Pedang Wanita Termuda yang paling berbakat di akademi. Ia adalah fenomena langka yang mampu mengeluarkan Aura Pedang Murni berwarna seperti rambutnya putih perak sejak usia sangat muda—kemampuan yang biasanya hanya dimiliki oleh ksatria tingkat tinggi.
"HEH!!" bentak Floyen dengan suara lantang yang mengejutkan semua orang di sekitar.
Tangan kanannya mencengkeram erat gagang pedang di pinggangnya. Meskipun pedang itu masih terbungkus sarungnya, getaran energi yang keluar dari tubuh Floyen sudah membuat udara di sekitarnya terasa berat.
"Berani-beraninya kalian menghina Kakakku?!" mata Floyen menatap tajam ke arah Lady Clarissa. "Kalian pikir siapa kalian sampai berani bicara kotor seperti itu?! Kalian tidak tahu apa-apa, jadi tutup mulut kalian yang busuk itu!!"
Lady Clarissa terkejut mundur selangkah, wajahnya sedikit pucat karena intimidasi Floyen. "K-Kau... Floyen Agres! Berani kau mengancam kami?! Kami adalah putri bangsawan tingkat tinggi!"
"Bangsawan apa?! Mulutmu saja yang tidak sopan!" Floyen semakin mengencangkan cengkeramannya. Urat-urat tangannya terlihat. Sreeek... sedikit saja ia menarik pedang itu keluar, aura putih perak yang menyilaukan pasti akan langsung terpancar dan membuat orang-orang ini gemetar.
Floyen sudah siap. Ia rela dikeluarkan dari akademi pun tak masalah, asalkan orang-orang ini meminta maaf pada kakaknya!
Tepat saat Floyen hendak mencabut pedangnya—
Sebuah tangan yang lembut namun memiliki kekuatan yang tak terlihat, dengan cepat menahan pergelangan tangan Floyen.
"Jangan, Floyen..."
Suara itu tenang, dingin, namun sangat tegas. Itu suara Lisa.
Lisa berdiri di samping adiknya, wajahnya tetap tenang di balik penutup mata. Ia menggeleng pelan.
"Jangan keluarkan pedangmu. Tidak perlu."
"Tapi Kak! Mereka menghinamu! Mereka bilang kau tidak berguna!" Floyen menoleh, matanya berkaca-kaca menahan amarah dan kesal. "Biarkan aku mengajari mereka sopan santun!"
Lisa tersenyum tipis, lalu perlahan menurunkan tangan Floyen agar melepaskan gagang pedang itu.
"Untuk apa? Bagi mereka, melihat apa yang ada di luar sudah cukup. Mereka tidak perlu tahu apa yang ada di dalam," bisik Lisa agar hanya mereka berdua yang mendengar. "Lagipula... kau adalah Senior di sini, Floyen. Kau adalah kebanggaan keluarga. Jika kau menyerang mereka hanya karena omong kosong ini, nama baikmu akan rusak dan kau bisa mendapat hukuman berat."
Lisa memegang bahu adiknya. "Aku tidak mau itu terjadi hanya karena sampah-sampah ini. Jangan kotori tanganmu dan pedang indahmu dengan mereka."
Kata-kata Lisa begitu menenangkan namun juga penuh wibawa. Amarah Floyen perlahan mereda, meski napasnya masih memburu. Ia tahu kakaknya benar. Jika ia mengeluarkan pedang di area tes seperti ini, masalahnya bisa besar.
Lisa lalu menatap ke arah Lady Clarissa dan teman-temannya yang kini tampak lega tapi masih sok angkuh.
Lisa tidak marah. Ia justru tersenyum sangat manis, sangat anggun, dan sangat sopan. Senyuman itu justru membuat hati Clarissa dan kawan-kawannya merasa tidak enak.
"Maafkan adikku, nona nona . Dia hanya terlalu protektif," ucap Lisa lembut.
"Tentang apa yang kalian katakan tadi... tidak apa-apa. Biarlah kalian berpikir begitu sekarang," Lisa berhenti sejenak, suaranya turun menjadi sedikit lebih rendah namun terdengar jelas.
"Karena... nilai di atas kertas dan ukuran kristal itu belum tentu menentukan segalanya. Bukankah begitu? Kita akan lihat nanti, siapa yang sebenarnya 'tidak berguna' dan siapa yang akan berdiri paling tinggi di akhir tahun ajaran ini."
Lisa menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat yang sangat formal dan dingin.
"Ayo kita pergi, Floyen."
Lisa menarik tangan Floyen, berbalik badan dan berjalan pergi dengan penuh gaya, meninggalkan Lady Clarissa yang terdiam terpaku, merasa seolah-olah baru saja dihancurkan oleh kata-kata yang jauh lebih tajam daripada pedang.
Bersambung..