Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Dia Lelaki kan?
"Tante?" ucap pria itu dengan sedikit terkejut menyambut kehadiran mereka.
Namun, ibu Lova hanya bisa tersenyum bingung menggaruk pelipisnya. Sementara Lova memilih diam menundukkan kepala.
"Maaf, Dok. Apakah kita pernah bertemu?" tanya sang ibu.
Pria yang mengenakan jas berwarna putih itu tersenyum tipis dan sedikit menghela napas. Wajar saja wanita itu tak mengenalnya lagi. Saat kuliah di luar negeri, ia memang merombak beberapa bagian di wajahnya. Dengan memasang senyum profesional, ia menyilakan kedua pasien tersebut untuk duduk.
"Ada yang perlu saya bantu?" tanyanya setelah memastikan kedua tamu terlihat duduk dengan nyaman.
"Begini, Dok ... Ini putri saya ..."
Di tangan sang psikiater ini, terlihat beberapa dokumen tentang wanita muda yang ada di samping sang ibu. "Zarish Allova ... Zarisha?" tebaknya.
Nama itu langsung menarik ingatannya pada malam hujan dua puluh tahun lalu. Gadis kecil yang pingsan dalam pelukannya. Dengan panik ia menggendong gadis kecil itu ke sebuah rumah sakit terdekat. Dan suara panik kedua orang tuanya yang terus memanggil:
“Zarisha!”
Wanita muda itu tersentak mendengar sebuah nama yang berusaha ia kubur. Kedua tangannya, tergenggam erat di atas pangkuan.
"Lova, Dok ... Kami memanggilnya dengan Lova," terang sang ibu mewakilkan Lova yang terus bungkam.
Sejenak, kening pria itu mengerut. Ia menekan tombol pada telepon yang ada di hadapannya.
"Iya, Dok?" ucap yang di seberang.
"Tolong ke sini sebentar," ucap sang dokter.
Pintu putih itu terbuka. "Ya Dokter Arnold, ada yang bisa saya bantu?"
"Sebentar," ucap Dokter yang ternyata bernama Arnold itu.
"Tant, eh maksud saya Bu ... Ibu mau menyembuhkan putri Ibu kan?"
Wanita paruh baya itu mengangguk dengan cepat.
"Kalau begitu, saya minta izin untuk meninggalkan kami berdua saja," permintaan sekaligus perintah dari pria yang bekerja sebagai ahli kejiwaan ini.
"Tapi, anak saya takut dengan pria, Dok," ucap sang ibu turut merasa khawatir.
Arnold melihat ke arah Lova yang masih tertunduk. "Oh, begitu ..." Ia mengangguk tipis. "Justru karena itu saya minta Ibu untuk meninggalkan kami. Karena, pengobatan ini akan lebih mudah jika kami hanya berdua."
Sang ibu mengangguk dan bersiap bangkit. Namun, dengan cepat tangan Lova menahan sang ibu dan kepalanya menggeleng beberapa kali.
"Mbak jangan khawatir. Dokter Arnold akan membantu mengatasi masalah, Mbak," ucap sang perawat yang telah berada di sisi ibunya.
"Ma," bisik Lova.
"Ayolah ... Kamu pasti bisa, Lova. Mama akan menunggumu di luar." Sang ibu bangkit dan melepaskan genggaman tangan putrinya dan segera keluar bersama sang perawat.
Lova mematung. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia merasa terjebak, di sebuah ruangan tertutup bersama pria asing.
"Adik kecil, anggap aku ini adalah kakak kamu!" ucap Arnold dengan suara ringan, persis seperti pertama kali masuk ke ruang ini.
Kepala Lova setengah terangkat, mencoba memastikan siapa yang baru saja berbicara. Meski ia tak berani melihat wajahnya langsung. Ia hanya melihat name tag pada jas putih yang dikenakan. Terlihat sebuah nama: dr. Arnoldy Darmawan, MD, Psychiatrist.
"Ibumu bilang, kamu takut pada pria. Hmmm, kamu pasti capek ya, hidup penuh ketakutan selama itu?" ucapnya bersandar santai pada kursi kerja.
Lova mengernyitkan kening heran mendengar obrolan dari sang dokter. Anehnya, kali ini jantungnya masih berdetak seperti biasa tanpa rasa berat.
Setelah sekian menit menunggu jawaban, tetapi tak kunjung terdengar suara dari pasiennya. Pipinya menggembung dan bibirnya sedikit tertaut.
"Jawab dong, masa aku didiemin kayak gini? Aku ini bukan patung loh ..." Kali ini, dokter itu menumpukan dagu pada tangan kirinya. Jemari tangan yang lain mengetuk meja pelan.
Lova mengangguk pelan, tetapi kepalanya semakin tertunduk.
"Loh? Angkat dong wajahnya! Kamu kan bukan tersangka ataupun narapidana. Jadi, coba lihat aku dulu deh. Aku kan tak semenakutkan itu ..." ucapnya dengan suara ringan, tanpa tekanan.
Lova mulai merasa ragu. Jempol di kedua tangannya saling beradu. Memang, dari cara sang dokter berbicara, ia merasa sedikit lebih santai. Bibirnya mulai bergerak.
"Sini lihat aku dulu, aku bukan monster kan?"
Perlahan, Lova mengangkat wajahnya. Ia langsung menangkap rupa seorang pria yang memiliki kulit glowing, dengan wajah rapi, bersih dari segala rambut khas pria yang biasa berada di sekitar hidung dan dagu.
"Ci ... Luk ... Ba ...," ucap Arnold dan terkekeh mencoba mencairkan suasana di antara mereka
Lova terbatuk melihat kelakuan pria yang terlihat begitu berkilauan ini. 'Apa benar, ada laki-laki seperti ini juga?' batinnya, menutup mulutnya menahan rasa geli.
"Nah, gitu dong. Kalau kamu tertawa, tertawa aja, gih! Biar perasaanmu bisa jadi lebih ringan."
Lova mengatupkan bibirnya rapat, tetapi pikirannya justru semakin berisik.
Bibir merah dokter itu terlihat terlalu bagus untuk ukuran laki-laki. Belum lagi alis rapi dan kulit terawat yang bahkan terasa lebih mulus dibanding miliknya sendiri.
‘Dia beneran lelaki kan?’ batinnya.
"Eit? Kamu bilang apa?" sela Arnold dengan wajah mendelit.
Lova tersentak. Ia tak mengatakan apa pun di bibirnya.
"Ayo ngaku!" Arnold mencabik melipatkan kedua tangannya di dada layaknya wanita yang sedang merajuk.
"Nga-ngaku apa, Dok?" tanya Lova gugup.
"Ayo ngaku! Kamu lagi gosipin aku di dalam hati kamu kan?"
Mendengar tuduhan absurd itu, tawa kecil lolos begitu saja dari bibir Lova sebelum cepat-cepat ia tutup dengan tangannya sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tertawa di hadapan seorang pria.
Melihat perkembangan pasiennya, Arnold tersenyum puas sambil mengangguk kecil.
“Hmmm, aku boleh nanya enggak sih? Sebenarnya alasan kamu ke sini tuh buat apa?”
Kali ini nada suaranya terdengar lebih lembut. Tidak lagi bercanda sepenuhnya.
“Ekhem ... sebenarnya ... Mama yang maksa,” jawab Lova pelan.
“Ohhh, jadi kamu pasien paksa ya?” gumam Arnold sambil menopang dagu. "Hari gini, masih suka dipaksa-paksa?"
Lova menggigit jarinya. "Soalnya Mama udah stress dengan keadaanku ini. Sudah enam kali pria datang ingin melamarku, tapi aku ...."
Ucapannya kembali terhenti. Kedua matanya terpicing dan hendak menunduk lagi. Namun, sebelum kepala itu turun ...
"Eit, tunggu ... Tunggu ... Aku nggak mau ya, kamu melihat ke bawah terus. Kamu lihat aku dong!" ucapnya dengan cepat.
Lova yang hampir tenggelam, segera membuka mata. "Eh, iya, Dok."
"Nah, ayo ikut aku ...." Arnold bangkit dan berdiri di sisi Lova.
"Ke-kemana, Dok?" tanya Lova merasa tegang.
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣