Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Nadira
Hujan turun perlahan di luar apartemen mewah itu, cahaya kota memantul di kaca besar ruang tamu, menciptakan bayangan panjang yang terasa dingin dan sepi.
Nadira berdiri membeku di depan meja, tangannya gemetar. Di layar tablet, terbuka satu foto lama yang baru saja dikirim seseorang tanpa nama.
Foto Leonardo Valerio.
Tersenyum tipis dengan mata dingin yang tak pernah benar-benar bisa ia lupakan. Di bawah foto itu hanya ada satu kalimat.
"Darah Valerio tidak pernah mati."
Napas Nadira tercekat, sudah bertahun-tahun ia mencoba mengubur semua itu. Membuang nama Valerio, menghapus jejak Leonardo, dan melarikan Alessandro dari dunia berdarah itu.
Tapi sekarang, masa lalu kembali mengetuk pintu. Dan Nadira tahu, dunia gelap tidak pernah benar-benar melepaskan korbannya.
Suara langkah kaki membuatnya tersentak, Alessandro muncul dari lorong apartemen, dengan jas hitam yang masih rapi setelah pertemuan bisnisnya.
Wajahnya tenang, persis seperti Leonardo dulu.
"Kenapa belum tidur, Ma? Ini sudah malam," tanya Alessandro pelan.
Nadira buru-buru mematikan layar tabletnya, "Mama hanya belum ngantuk."
Alessandro menatap ibunya beberapa detik, tatapannya tajam, seolah bisa membaca kebohongan dengan mudah.
"Apa sudah terjadi sesuatu?"
"Tidak ada, Nak. Semuanya baik-baik saja, mama hanya lelah."
Alessandro mendekat perlahan, aroma parfum dingin memenuhi ruangan. Semakin hari, aura pria itu semakin sulit dibedakan dari ayahnya.
Dan itu membuat Nadira takut, bahkan sangat takut. Alessandro mengambil gelas air di meja, lalu meminumnya perlahan.
"Apa mama menangis?"
Pertanyaan itu membuat pertahanan Nadira runtuh, "Tidak, Mama tidak menangis."
"Mama tidak bisa bohong padaku."
Nada suara Alessandro rendah, tenang, tapi memiliki tekanan aneh yang membuat Nadira menatap putranya lama.
Untuk pertama kalinya, setelah beberapa tahun, ia melihat Leonardo hidup kembali di depan matanya. Bukan wajahnya, bukan suaranya, tapi cara Alessandro mengendalikan suasana.
Cara ia memandang orang, cara emosinya tersembunyi di balik ketenangan. Dan itu menghancurkan Nadira secara perlahan.
"Alessandro."
"Hmm?"
"Kalau suatu hari nanti, masa lalu datang lagi..."
Alessandro menatapnya tanpa berkedip, "Maksud Mama?"
Nadira terlihat ragu, ia ingin mengatakan semuanya. Tentang ancaman, tentang foto Leonardo, dan tentang nama Valerio yang mulai muncul kembali.
Tapi ketakutan lebih besar daripada keberaniannya, ia takut juka Alessandro tahu siapa dirinya sebenarnya, maka dunia mafia akan menariknya kembali.
"Mama cuma ingin kamu berjanji," bisik Nadira lirih.
"Janji apa, Ma?"
"Jangan pernah menjadi seperti ayahmu."
Seketika suasana menjadi hening, hanya ada suara hujan. Tatapan Alessandro berubah dingin, seolah nama itu mengusik sesuatu dalam dirinya.
"Aku bahkan tidak mengenalnya," jawab Alessandro pelan.
"Kamu memang tidak mengenalnya, tapi darahnya ada dalam dirimu."
Kalimat itu keluar begitu saja, dan Nadira langsung menyesalinya. Alessandro tersenyum tipis, Senyum kecil yang terasa begitu asing.
"Jadi... Mama percaya, bahwa darah menentukan siapa seseorang?"
Nadira membeku, "Mama tidak bilang begitu, Nak."
"Tapi mama sangat takut jika aku menjadi monster."
Nada suaranya tetap tenang, justru itu yang membuat Nadira semakin gelisah. Karena Leonardo juga selalu bicara setenang itu, sebelum menghancurkan seseorang.
"Ale..."
"Aku bukan dia, Ma," potongnya cepat. "Tapi semua orang terus melihatnya dalam diriku."
Tatapan Alessandro menusuk langsung ke mata Nadira, beberapa detik kemudian, Alessandro mengambil jasnya kembali.
"Aku harus keluar sekarang."
"Malam-malam begini, kamu mau kemana?"
"Aku ada urusan sebentar."
Nadira langsung memegang lengannya, sentuhan itu membuat Alessandro berhenti.
"Mama mohon, jangan pergi malam ini."
Alessandro menatap tangan ibunya yang gemetar, "Kenapa, Ma? Kenapa aku nggak boleh pergi?"
"Karena mama takut kehilanganmu, seperti mama kehilangan ayahmu."
"Karena mama takut dunia itu akan menemukanmu."
"Karena mama takut, kalau kamu mulai menikmati kegelapan itu."
Tapi Nadira tidak mampu mengatakannya, kalimat itu tertahan di dalam kepalanya.
"Karena mama merasa, ada sesuatu yang buruk akan terjadi."
Alessandro terdiam sesaat, lalu melepas tangan Nadira. "Tidak akan ada apa-apa, Ma. Percaya padaku."
"Kamu tidak tahu dunia seperti apa yang sedang mendekat padamu."
Kalimat itu membuat Alessandro berhenti melangkah, ia menoleh perlahan. Dan untuk sesaat, mata dingin itu terlihat sangat mirip dengan Leonardo, hingga membuat napas Nadira nyaris berhenti.
"Apa mama tahu sesuatu?"
Nadira merasa panik, "Ti-tidak, mama tidak tahu apa pun."
"Mama pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku."
"Tidak, Nak. Mama hanya takut."
Alessandro mengernyit heran, "Takut pada siapa?"
Nadira tidak menjawab, dan Alessandro mendekat perlahan, sampai hanya beberapa langkah darinya.
"Aku sudah tumbuh dewasa, Ma."
"Ya, mama tahu itu."
"Kalau ada ancaman, aku bisa mengatasinya sendiri. Jadi mama jangan khawatir."
Nadira menggigit bibirnya kuat, Alessandro tidak sadar, ia mulai bicara seperti seorang Valerio.
Bukan lagi anak kecil yang dulu ia lindungi, pria yang berada di depannya sekarang memiliki aura berbahaya yang perlahan mulai tumbuh.
Dan dunia pasti bisa mencium itu. Tiba-tiba ponsel Alessandro bergetar, nama tak dikenal muncul di layar ponselnya.
Alessandro mengangkat telepon tanpa ada rasa curiga.
...📞...
"Hallo?"
Beberapa detik hening, lalu wajahnya mulai berubah.
"Siapa ini?"
Suara di seberang sana terdengar samar, tapi cukup membuat raut wajah Alessandro mengeras.
"Ayahmu pasti bangga melihatmu yang sekarang."
Tubuh Nadira langsung lemas, Alessandro menyipitkan matanya.
^^^"Apa maksudmu?"^^^
"Selamat malam, Tuan Muda Valerio."
Telepon terputus.
Nadira menatap Alessandro dengan napas tidak beraturan, sementara Alessandro berdiri diam menatap layar ponselnya.
Perlahan Alessandro mengangkat wajahnya, "Mama."
Suara itu terdengar berbeda, lebih dingin dan lebih berat.
"Siapa sebenarnya ayahku?"
Air mata Nadira jatuh, pertanyaan yang selama ini ia hindari akhirnya datang juga.
Dan ia tahu, setelah malam ini, semuanya tidak akan pernah sama lagi.
Hujan di luar semakin deras, seolah kota itu sedang bersiap untuk menyambut kembalinya nama yang telah lama dikubur Valerio.