NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

(Flashback H-42 sebelumnya)

Mobil keluarga Roux berhenti tepat di depan restoran yang berdiri megah di ujung jalan itu. Dari dalam mobil, aku memandang bangunan tersebut beberapa detik sebelum akhirnya pintu dibukakan oleh sopir pribadi mereka. Di langit yang terbentang luas di atas sana, malam tampak sudah turun sepenuhnya.

Lampu-lampu restoran bersinar hangat di tengah udara malam yang dingin. Cahaya kuning lembut memantul di kaca jendela-jendela besar, membuat tempat itu tampak seperti lukisan yang hidup. Orang-orang berlalu lalang dengan pakaian rapi, sementara musik piano samar terdengar dari dalam.

Aku turun dari mobil dengan langkah hati-hati. Tanganku tanpa sadar menggenggam kecil ujung gaun yang kupakai. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri.

Seorang pelayan segera mendekat dan menyambutku dengan sopan. “Selamat malam, Nona. Apakah Anda memiliki reservasi?”

Aku menarik napas pelan sebelum menjawab. “Hazel Frost. Saya seharusnya bertemu seseorang.”

Pelayan itu langsung tersenyum ramah, seolah sudah memahami. “Silakan ikut saya.”

Aku mengangguk kecil lalu mengikutinya masuk ke dalam restoran. Suasana di dalam terasa hangat dan tenang. Lampu gantung kristal menggantung indah di langit-langit tinggi. Meja-meja tertata rapi dengan lilin kecil yang menyala pelan.

Kami berjalan melewati beberapa meja makan. Dan kemudian, aku melihatnya. Mason Roux duduk sendirian di sebuah meja dekat jendela besar. Ia mengenakan setelan gelap yang membuat sosoknya tampak semakin tegas dan berwibawa. Tubuhnya tegap, dan sikapnya tenang. Seolah seluruh ruangan mengetahui bahwa pria itu berada di sana. Bahkan dari jauh, aku bisa merasakan aura yang mengelilinginya.

Aku berhenti sejenak. Ada sesuatu pada dirinya yang selalu membuatku gugup tanpa alasan yang jelas. Namun aku tetap melangkah mendekat. “Mason.”, sapaku.

Ia pun sontak mengangkat kepalanya. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ekspresi wajahnya benar-benar menunjukkan keterkejutan. Ia langsung berdiri dari kursinya. “Mengapa kau di sini?”

Aku mengerutkan kening bingung. “Kau yang mengajakku makan malam.”

Mason tampak semakin bingung.“Aku tidak pernah—” Ia berhenti di tengah kalimatnya. Seolah tiba-tiba memahami sesuatu. Lalu, ia menghela napas panjang, lalu menutup matanya sebentar. “Ini pasti ulah Ibu.”

Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa. Dan perlahan-lahan aku mulai mengerti. Jadi, ini bukan rencananya.

Mason kembali menatapku dengan ekspresi serius. “Aku harus berkata jujur kalau makan malam ini bukan rencanaku.”

Aku masih berdiri di samping meja, mencoba mencerna kata-katanya. “Ibuku pasti yang mengatur semuanya.” lanjutnya.

Hening pun menyergap selama beberapa detik. Lampu lilin di atas meja berkedip kecil di antara kami. “Aku minta maaf,” katanya akhirnya.

Aku menatapnya bingung. “Mengapa meminta maaf?”

Ia menjawab tanpa ragu. “Karena ini tidak seharusnya terjadi.”

Ada sesuatu dalam cara ia mengatakannya yang membuat dadaku terasa sedikit sesak. Namun kalimat berikutnya terasa seperti pukulan yang lebih keras. “Hazel, aku tidak pernah menyetujui ide perjodohan ini.”

Kata-kata itu jatuh di antara kami seperti benda berat yang tidak bisa diabaikan. Aku menatapnya dalam diam. Lalu, Mason melanjutkan dengan nada yang sama datarnya. “Kau seharusnya jug menolak rencana ini.”

Aku tidak menjawab. "Sebab, ini adalah ide yang konyol.” jelasnya.

Ia menatapku dengan serius, seolah benar-benar ingin aku memahami maksudnya. “Kau bahkan tidak mengenalku.”

Lalu suaranya sedikit lebih pelan. “Dan aku yakin, kau pasti sudah memiliki pilihanmu sendiri.”

Untuk beberapa detik aku hanya berdiri di sana. Anehnya, kata-kata itu tidak membuatku ingin pergi. Juga tidak membuatku ingin menyerah. Justru sebaliknya, ada sesuatu dalam diriku yang tiba-tiba menjadi semakin keras kepala.

Aku pun menatapnya dengan tenang. “Aku tidak pernah menolak ide perjodohan ini. Karena, aku percaya pada pilihan ayahku.”

Mason tampak sedikit terkejut.

“Jika ayahku memilihmu…” lanjutku pelan, “berarti ada alasan kuat di baliknya.”

Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang berubah dalam ekspresi Mason. Memang tidak banyak, hanya sebuah celah kecil di wajah tenangnya.

Aku kemudian melakukan sesuatu yang bahkan membuat diriku sendiri sedikit gugup. Aku menarik kursi di depannya dan duduk. “Makan malam ini sudah diatur ibumu,” kataku santai.

Aku menatapnya. “Jadi sebaiknya kita menyelesaikannya dengan benar.”

Mason benar-benar terlihat tidak menyangka reaksi itu. Ia berdiri beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya menghela napas pelan dan kembali duduk di kursinya. Tak lama kemudian seorang pelayan datang membawa menu. Dan kami pun memesan makanan.

Suasana di antara kami sempat terasa canggung. Namun aku tidak ingin membiarkan malam ini berlalu dalam keheningan. “Boleh aku bertanya sesuatu?” kataku akhirnya.

Mason mengangguk singkat.

“Mengapa kau begitu menolak perjodohan ini?” tanyaku.

Ia menatapku beberapa detik sebelum menjawab. “Karena aku tidak mengerti konsepnya.”

Aku menunggu ia melanjutkan jawabannya. “Bagaimana seseorang bisa menikah dengan orang yang bahkan tidak dikenalnya?” tanyanya.

Aku tersenyum kecil. Lalu aku mengulurkan tanganku ke arahnya. “Halo,” kataku ringan. “Namaku Hazel Frost.”

Mason terdiam menatap tanganku. Lalu, aku melanjutkan dengan nada yang sama santainya. “Jika itu masalahnya, maka kita bisa mulai mengenal satu sama lain dari sekarang.”

Namun ia tidak bergerak. Tanganku tetap menggantung di udara selama beberapa detik. Aku akhirnya menariknya kembali. Lalu aku tersenyum kecil, dan sedikit menantang. “Kalau begitu aku yang akan memaksa.”

Mason hanya menatapku tanpa berkomentar. Dan, aku pun mulai melemparkan pertanyaan demi pertanyaan padanya.

“Jadi, Mason, apa hal favoritmu?” tanyaku.

Ia menatapku sebentar, lalu kembali menatap makanan di depannya. “Tidak ada.”, jawabnya singkat.

“Hobi?”

“Bekerja.”

Aku mendesah pelan. “Kau pria yang sangat sulit.”

“Aku sudah memperingatkanmu.”, sahutnya.

Namun entah bagaimana percakapan itu perlahan berubah menjadi lebih ringan. Aku terus bertanya. Kadang ia menjawab dengan satu kata, kadang ia hanya mengangguk. Namun ia tidak lagi menyuruhku pergi. Dan entah mengapa itu sudah cukup bagiku malam itu. Semakin ia mencoba menjaga jarak, semakin aku ingin mengenalnya.

Waktu pun berlalu tanpa terasa. Hingga akhirnya, kami sudah menghabiskan makan malam kami. Setelah itu, pelayan datang untuk membereskan meja. Dan Mason akhirnya berkata, “Aku akan mengantarmu pulang.”

Aku tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Ia yang mengemudi mobilnya sendiri malam ini, seperti siang itu. Aku duduk di kursi penumpang sementara lampu-lampu kota melintas di luar jendela. Di dalam mobil pun, aku masih belum berhenti bertanya. “Apa makanan favoritmu?”

“Tidak ada. Aku menyukai semuanya.”

Aku tertawa kecil. “Kau benar-benar tidak memberi celah.”

Ia akhirnya berkata pelan tanpa menoleh. “Kurasa kau harus berhenti.”

Aku memiringkan kepala. “Mengapa?”

“Ini tidak akan berhasil.”, jawabnya datar.

Aku menatapnya selama beberapa detik. Namun aku hanya tersenyum. “Selalu ada jalan selama ada kemauan.”

Ia tidak menjawab lagi setelah itu. Dan mobil yang kami tumpangi pun terus melaju dalam keheningan sampai akhirnya berhenti di depan rumahku. Lampu teras rumah masih menyala terang. Aku membuka pintu mobil, namun sebelum turun aku menoleh kembali padanya. “Boleh aku meminjam ponselmu?”

Mason tampak sedikit heran. Namun ia tetap menyerahkannya. Aku mengambil ponsel itu dan cepat memasukkan nomorku. Beberapa detik kemudian ponselku sendiri berdering.

Aku tersenyum. “Sekarang kita sudah memiliki nomer masing-masing. Bukankah ini langkah yang lebih baik untuk bisa lebih saling mengenal?”

Mason terlihat sedikit terkejut. Namun seperti biasa, ia memilih diam. Lalu aku mengembalikan ponselnya. “Terima kasih untuk makan malamnya, Mason. Dan terima kasih juga karena sudah mengantarku pulang.”

Mason hanya mengangguk pelan, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Hingga akhirnya, aku turun dari mobil dan berjalan menuju rumah. Begitu masuk, aku langsung naik ke lantai atas dan menuju kamarku. Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur dan menatap langit-langit kamar.

Saat ini, pikiranku dipenuhi oleh satu sosok, yaitu Mason Roux. Pria itu mungkin menolak perjodohan ini sekarang. Namun aku tersenyum kecil dalam gelap. Aku sudah bertekad untuk tidak akan menyerah.

Aku memejamkan mata. 'Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, Mason. Cepat atau lambat.' , batinku.

Dan untuk pertama kalinya, entah bagaimana aku merasa benar-benar yakin.

1
Dew666
👄
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!