NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Penjelajah Dua Alam

Enam hari berlalu dengan sangat cepat di kediaman Gunung Cemara. Setiap pagi, tepat pada waktu fajar menyingsing, pelataran rumah kayu itu tidak pernah sepi dari kedatangan para warga. Mereka berbondong-bondong datang untuk mencari kesembuhan, menciptakan antrean panjang yang teratur sejak pagi buta.

Setidaknya ada tiga puluh orang atau lebih, pasien yang harus dilayani oleh Zhao Fei setiap harinya. Ada yang menderita penyakit biasa seperti demam, luka akibat bekerja di ladang, hingga penyakit kronis yang telah bersarang bertahun-tahun di dalam tubuh. Pemuda itu melayani mereka semua dengan penuh kesabaran, menggunakan larutan serbuk dari Pil Jawaban Seratus Penyakit miliknya.

Persediaan obat dari Alam Dewa itu sebenarnya masih sangat berlimpah di dalam ruang penyimpanan spasialnya. Dia sama sekali tidak merasa khawatir akan kehabisan stok logistik medis itu. Kendati demikian, permasalahan utama yang mulai mengusik ketenangannya adalah jumlah manusia yang datang berkunjung semakin hari semakin membubung tinggi, dengan jenis keluhan yang terkadang semakin aneh.

Pada hari terakhir masa penjagaannya, seorang pria paruh baya berpakaian jubah sutra mewah melangkah masuk ke dalam ruangan. Di bagian dada jubah pria itu, terdapat sebuah bordiran lambang kriya emas yang menandakan identitas dari Klan Chen. Wajah pria itu sendiri tampak sangat pucat, dengan helaan napas yang pendek serta berat akibat gangguan kesehatan yang parah. Zhao Fei segera melakukan pemeriksaan dan mendiagnosis adanya penyakit hati kronis yang telah lama diderita oleh sang tamu. Meski Zhao Fei tidak tahu pastinya juga, tapi yang dia tahu penyakit orang itu pasti akan sembuh setelah mengkonsumsi ramuan miliknya.

Benar saja, hanya dengan menggunakan sejumput kecil serbuk obat dewa yang dilarutkan ke dalam cawan, pria kaya itu berhasil mendapatkan kesembuhannya kembali dalam waktu yang sangat singkat. Seluruh rasa sesak dan nyeri di dadanya lenyap tanpa bekas.

Sepasang mata pria bangsawan itu seketika memancarkan sinar yang sangat cerah, tidak hanya karena kegembiraan atas kesembuhan fisiknya, melainkan karena dia melihat sebuah peluang emas di depan mata.

"Kau adalah seorang tabib muda yang benar-benar memiliki kemampuan luar biasa," puji pria itu dengan penuh wibawa. "Namaku adalah Chen Wei, salah satu pemimpin dari Klan Chen yang memiliki pengaruh politik sangat kuat di tiga kota besar wilayah ini. Sebagai bentuk rasa terima kasihku yang terdalam, aku memiliki keinginan untuk menjodohkan dirimu dengan putri kandungku."

Zhao Fei seketika terdiam mendengarkan tawaran mendadak itu, membiarkan benaknya melayang mengingat memori masa lalunya.

Pada masa kejayaannya di Alam Dewa dahulu, memiliki ratusan wanita cantik sebagai selir di dalam istana adalah sebuah hal yang teramat lumrah bagi dirinya. Namun, situasi saat ini telah berubah total. Di dalam wadah tubuh baru yang masih lemah ini, serta dalam posisi sosialnya saat ini, mengurus satu orang wanita saja dirasa akan sangat merepotkan dan menyita banyak waktu. Lagipula, takdir perjalanan yang dia pilih saat ini tidak ditujukan untuk menjadi seorang tabib yang sibuk mengumpulkan pasien, melainkan jalan hidup seorang pendekar tangguh yang mendaki menuju puncak kekuatan murni guna menuntut balas dendam pada murid pengkhianat, Li Tianming.

Dia memikirkan hal itu dalam hati untuk durasi waktu yang cukup lama.

"Bagaimana, anak muda? Apakah kau telah memikirkan keputusan terbaik atas tawaran yang kuberikan?" tanya Chen Wei, mengaburkan ketenangan.

Lantas Zhao Fei memperlihatkan wajah yang sedikit bingung sebelum akhirnya memutuskan untuk melayangkan penolakan secara halus.

"Aku sangat menghargai niat baik dan kehormatan yang Tuan Chen berikan kepadaku," jawabnya. "Akan tetapi, aku merasa bahwa diriku tidak tepat dan tidak sepadan untuk bersanding dengan putri dari klan yang terhormat seperti milik Tuan."

Pria bangsawan itu menarik tubuhnya ke belakang, lalu membungkuk sedikit tanpa berniat untuk memaksakan kehendak pribadinya.

"Baiklah, aku tidak akan memaksakan keinginan ini kepadamu saat ini," ucap Chen Wei sembari mengeluarkan selembar kertas perkamen kecil dari balik lengan bajunya. "Ini adalah lembaran yang berisi nama serta alamat kediaman resmi keluarga kami. Jika saja di kemudian hari dirimu berubah pikiran, kau bisa datang berkunjung kapan saja ke rumah kami, dan aku secara pribadi akan menyiapkan pesta pernikahan yang paling megah."

Zhao Fei menerima lembaran kertas itu dengan sikap sopan. Kepala pemuda itu bergerak sedikit ke bawah, memberikan isyarat setuju disertai seulas senyuman tipis di wajahnya. Pria bangsawan itu pun berpamitan untuk segera melangkah pulang.

Kebetulan sekali, pria dari Klan Chen itu menjadi pasien terakhir yang dilayani pada sore hari itu. Dari arah kejauhan jalan setapak hutan, Zhao Fei melihat kedatangan seorang pria yang sedang menunggangi seekor harimau putih berukuran raksasa. Binatang itu tidak lain adalah BaoBao, hewan peliharaan setia milik pondok medis ini.

Di dalam genggaman tangan kanan Tabib Wen, tampak beberapa ekor ikan segar berukuran besar bergantungan pada seutas tali bambu.

Langsung saja Zhao Fei melambaikan tangan kanannya dari teras rumah untuk menyambut kedatangan sang pemilik pondok. Sebagai balasan, Tabib Wen mengangkat tinggi-renteng ikan tangkapannya ke udara dengan tawa orang tua yang terdengar dari jauh.

Hingga mereka berpindah ke area dalam ruangan tengah rumah kayu yang hangat. Zhao Fei bersama Tabib Wen saat ini sedang duduk berhadapan menikmati hidangan ikan bakar yang baru saja matang di atas tungku. Pemuda itu menikmati makanannya dengan sangat lahap karena rasa lapar yang mendera. Demikian pula dengan Tabib Wen yang juga ikut menyantap hidangan itu, tetapi bagian mulut pria tua itu bagaikan tidak pernah berhenti bergerak karena terus-menerus berbicara, alih-alih fokus mengunyah makanan.

Pria tua itu terus mengoceh panjang lebar mengenai banyak hal tanpa henti, menceritakan bagaimana perjuangannya yang melelahkan untuk mendapatkan ikan-ikan gemuk itu, letak aliran sungai di balik gunung yang memiliki populasi ikan terbaik, hingga teknik memancing khusus yang dia pelajari dari seorang nelayan misterius beberapa tahun lalu. Tidak ketinggalan, dia juga memaparkan kombinasi bumbu herbal apa saja yang paling ideal untuk membakar ikan jenis itu agar rasanya tetap gurih.

Namun, di tengah-tengah obrolan santai itu, Tabib Wen mendadak melontarkan sebuah pertanyaan yang mengubah atmosfer ruangan. "Bagaimana kondisi cincin kuno yang kuberikan kepadamu? Apakah benda itu dapat berfungsi dengan baik di jarimu?"

Zhao Fei seketika menghentikan aktivitas makannya secara mendadak setelah mendengar pertanyaan tersebut. Ikan bakar yang berada di dalam genggaman tangannya segera diletakkan kembali di atas piring tanah liat di depannya dan perlahan melepaskan cincin abu-abu gelap itu dari jari manisnya.

Pemuda itu memosisikan tubuhnya untuk membungkuk dengan khidmat. Kedua belah tangannya terulur ke arah depan, bermaksud untuk menyerahkan kembali benda magis itu kepada sang pemilik asli.

"Aku merasa bahwa diriku tidak memiliki kelayakan yang cukup tinggi untuk menerima atau menyimpan sebuah artefak sehebat ini," ucap Zhao Fei dengan suara yang ditekan rendah dan sarat akan keseriusan. "Tujuan utamaku datang mencari keberadaan Tabib Wen seminggu yang lalu sebenarnya adalah untuk mengembalikan benda berharga ini ke tangan Anda."

Tabib Wen mendadak menghentikan kunyahannya, membiarkan matanya menatap lurus ke arah cincin yang berada di atas telapak tangan Zhao Fei.

Sesaat kemudian, pria tua itu mengeluarkan suara kekehan kecil dari tenggorokannya. Suara kekehan itu semakin lama semakin membesar, hingga akhirnya berubah menjadi sebuah tawa yang terpingkal-pingkal memenuhi seluruh ruangan kayu. Dia bahkan berkali-kali menepuk paha kanannya sendiri karena merasa ada sesuatu yang teramat lucu.

"Zhao Fei," kata Tabib Wen di sela-sela deru tawanya yang mulai mereda. "Kau benar-benar seorang Yang Mulia Petir Abadi yang teramat bodoh. Melihat pola pikirmu yang seperti ini, sekarang aku tidak merasa heran lagi mengapa di masa lalu kau bisa sampai tewas mengenaskan akibat dikhianati oleh murid kesayanganmu sendiri."

Zhao Fei terkejut setengah mati mendengar kalimat yang baru saja lolos dari bibir pria tua itu. Seluruh persendian di dalam tubuh barunya seketika membeku kaku.

Rahasia terdalam mengenai identitas aslinya ternyata telah diketahui dengan sangat jelas. "Tabib Wen... bagaimana mungkin kau bisa mengetahui perihal identitas masa laluku?" tanya Zhao Fei dengan tatapan mata yang memancarkan keterkejutan yang teramat sangat.

Pada waktu yang bersamaan dengan ketegangan yang memuncak itu, BaoBao masuk melewati celah pintu belakang pondok kayu yang terbuka sedikit. Harimau putih berukuran raksasa itu berjalan santai menghampiri wadah porsi ikan bakarnya yang telah dipersiapkan di sudut ruangan tengah. Mulut besarnya yang dipenuhi taring tajam mulai mengunyah daging ikan dengan sangat lahap, sama sekali tidak memedulikan atmosfer ketegangan pekat yang kini tengah menyelimuti dua orang manusia di dekatnya.

Adapun Tabib Wen tidak segera memberikan jawaban lisan untuk menanggapi pertanyaan dari pemuda di hadapannya. Dia bangkit berdiri dari kursi kayu, melangkah perlahan menuju jendela ruangan, lalu menutup daun kayunya hingga rapat. Langkahnya kemudian berlanjut menuju pintu utama depan, menutupnya dengan sangat rapat guna memastikan tidak ada celah sedikit pun bagi orang luar untuk mengintip atau mendengar pembicaraan mereka.

Pria tua itu berdehem perlahan, lalu mengembuskan napas panjang untuk menstabilkan aura di dalam ruangan pondok.

Setelah itu barulah dari balik lipatan jubah herbalnya yang longgar, dia mengeluarkan sebuah objek misterius. Benda itu berupa sebilah cincin yang memiliki wujud serta material yang sama persis dengan cincin yang saat ini tengah berada di genggaman tangan Zhao Fei. Kendati demikian, terdapat satu titik perbedaan kecil yang sangat krusial, yakni adanya sebuah ukiran garis-garis geometris kuno yang rumit pada permukaan cincin milik Tabib Wen, yang tidak dimiliki oleh cincin milik Zhao Fei.

"Menurut perkiraan dan analisismu, kira-kira berapakah usia murni dari raga tuaku ini?" tanya Tabib Wen sembari memutar cincin di jarinya.

Zhao Fei didera kebingungan yang cukup besar atas pertanyaan ganjil itu. Sepasang matanya bergerak mengamati setiap detail guratan keriput yang menghiasi wajah sang tabib, serta helai-helai rambut panjangnya yang telah memutih sempurna.

"Mungkin sekitar lima puluh? Atau mungkin enam puluh tahun?" tebak Zhao Fei, mencoba memberikan estimasi logis berdasarkan penampilan fisik luar.

Tabib Wen kembali meledak dalam tawa, meskipun durasinya kali ini terdengar jauh lebih pendek dibandingkan sebelumnya.

"Tebakanmu itu kurang tepat, anak muda," ujar Tabib Wen dengan mata yang mendadak berubah menjadi sangat tajam dan berwibawa. "Eksistensi ragaku ini telah berjalan dan hidup di dunia jauh lebih lama dibandingkan dengan durasi hidupmu di masa lalu, Yang Mulia."

Zhao Fei kembali membisu, tidak mampu menyela ucapan itu lantaran merasakan adanya sebuah tekanan spiritual yang sangat murni namun tersembunyi dengan rapi di dalam raga sang tabib.

"Usia hidupku saat ini telah melewati angka sepuluh ribu tahun lebih," lanjut Tabib Wen dengan santainya. "Bahkan mungkin angkanya telah mencapai dua kali lipat dari itu, aku sendiri sudah mulai melupakan hitungan pastinya karena waktu berjalan terlalu cepat."

Pria tua itu menatap lurus ke arah permukaan cincin kuno yang berada di dalam genggaman tangannya sendiri.

"Identitas sejatiku di dunia ini adalah seorang penjelajah dua alam. Aku memiliki kemampuan murni untuk melakukan perpindahan dimensi antara wilayah Alam Dewa dan dimensi Alam Bawah ini sesuka hatiku tanpa ada batasan dari hukum langit. Aktivitas penjelajahan ini telah aku lakukan selama ribuan tahun lamanya, bergerak secara sembunyi-sembunyi untuk mencari, meneliti, serta mengamati setiap fenomena besar yang terjadi di kedua dimensi tersebut."

Dia mengalihkan pandangan matanya, menatap lurus ke arah pusat jiwa Zhao Fei yang berada di dalam wadah tubuh barunya.

"Dan ketahuilah, aku telah melakukan pengamatan terhadap perjalanan hidupmu sejak durasi waktu yang sangat lama, Zhao Fei. Pengamatan itu telah dimulai sejak kau masih bertakhta dengan agung sebagai seorang Yang Mulia Petir Abadi di langit tertinggi, jauh sebelum peristiwa pengkhianatan berdarah itu menimpa dirimu."

Zhao Fei benar-benar kehilangan kemampuan kata-kata untuk memberikan respons lisan atas seluruh rentetan informasi yang teramat mencengangkan itu. Pikirannya mendadak menjadi sangat bising oleh berbagai pertanyaan baru mengenai konspirasi dunia yang melibatkan eksistensi sang tabib tua.

Sementara Tabib Wen kembali memosisikan tubuhnya untuk duduk di atas kursi kayu, lalu dengan santai kembali mengambil potongan ikan bakar miliknya yang sempat tertunda untuk dikunyah.

"Kita masih memiliki durasi waktu yang sangat berlimpah pada malam yang tenang ini untuk saling bertukar cerita dan membahas banyak hal," ucap Tabib Wen dengan sikap yang santai. "Mari selesaikan terlebih dahulu aktivitas makan kita. Hidangan ikan bakar ini memiliki cita rasa yang teramat lezat, dan aku sama sekali tidak menginginkan makanan ini menjadi dingin dan kehilangan kelezatannya."

BaoBao terdengar mengeluarkan suara dengkuran puas dari sudut ruangan, setelah berhasil menandaskan seluruh porsi ikan bakarnya tanpa menyisakan apa pun.

Sedangkan Zhao Fei masih tetap mempertahankan posisinya, memegang erat cincin abu-abu gelap itu di atas telapak tangan miliknya dalam posisi tubuh yang masih membungkuk kaku penuh keterkejutan. Kedua belah tangannya tampak bergetar sedikit akibat hantaman fakta psikologis yang baru saja diterimanya.

"Duduklah kembali," perintah Tabib Wen dengan lembut namun tidak menerima bantahan. "Simpan terlebih dahulu cincin itu di jarimu. Kita akan memulai pembicaraan serius mengenai masa depan setelah urusan perut ini selesai."

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!