seorang anak yang harus menjadi korban perceraian orang tua nya,hidup dengan nenek dan kakek dengan begitu banyak cemoohan dari orang orang maupun teman-teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena merpati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
"Terserah yang pasti aku akan ke kantor pengadilan agama dan soal Aira aku yang akan memenangkan gak asuh nya,Aira akan ikut aku".
"Tidak bisa begitu,kita tanya Aira saja ia ingin ikut aku atau dengan mu".
"Baiklah"
Setelah perdebatan itu Eka pun menemui Aira yang sedang bermain di depan rumah
"Aira , Aira sudah tau kan kalau ibu dan ayah akan berpisah jadi Aira ingin ikut ibu atau ayah"
Sakit jelas sakit hati Aira saat di tanya seperti itu,hilang sudah harapan Aira yang menginginkan bahwa kedua orang tua ny bisa bersatu kembali.
Dengan berat hati dan menahan tangis Aira menjawab pertanyaan ibunya.
"Eka akan ikut ibu saja"
"Baiklah Aira ikut ibu"
Saat menanyakan itu Rudi pun mendengar jawaban putri nya,hatinya pun ikut sakit tetapi ia harus terlihat kuat demi sang putri tercinta.
"Kau dengar sendiri kan mas,Aira ingin ikut dengan ku"
"Baiklah"
"Aku harap kamu segera pergi dari rumah ini,dan untuk rumah ini kita bagi dua saja"
"Terserah,aku pergi jaga Aira dengan baik dan aku akan kembali mengambil apa yang harus nya jadi milikku".
Setelah perbincangan yang begitu menyakitkan bagi Aira ,ia langsung pergi ke kamar dan menangis tanpa suara karna ia tak ingin orang di rumah tau bahwa ia menangis.
Aira hanya ingin terlihat baik-baik saja di depan keluarganya dan terlihat kuat seolah tidak tau apa-apa,meskipun pada kenyataan ia tak sanggup melihat orang tua nya yang selama ini memberikan kasih sayang kepadanya harus berpisah ,dan mungkin hari-hari selanjutnya bagi Aira akan sangat menyeramkan.
Beberapa bulan setelah Eka mengajukan gugatan cerai , dan hari ini adalah hari dimana eka akan mengambil akta cerai dan ia sudah benar-benar bercerai dengan Rudi.
Dan setelah beberapa hari tiba-tiba Rudi datang ke rumah dan berkata ingin mengambil rumah yang harusnya menjadi bagiannya juga.
Untuk yang bertanya kenapa Rudi ingin mengambil rumah yang jadi bagianya ,karena memang rumah orang tua Aira ini masih dari kayu ya jadi bisa di bongkar pasang,hehe
Oke lanjut ke cerita ya
"Apa maksudmu mas,kenapa tidak mengatakan jauh-jauh hari,kenapa harus mendadak seperti ini,kami juga belum ada persiapan untuk memindahkan barang kami"
"Aku tidak perduli,yang pasti hari ini juga aku akan mengambil rumah ini".
"Baiklah terserah kau saja"
Setelah perdebatan itu akhirnya keluarga Eka hanya diam saja saat rudi akan mengambil bagian nya,dan saat itupula Aira pulang sekolah kaget saat melihat rumah nya sudah di bongkar ia pun langsung berlari mencari ibunya.
"Ibu kenapa rumah kita di bongkar"
"Ayahmu akan mengambil rumah nya Aira,karna memang ini rumah ayah mu"
"Lalu kita akan tinggal di mana bu"
"Hemm,sayang untuk sementara kita tinggal di dapur ini ya"
Aira terdiam,karna memang dapur Aira ini ada satu tempat kosong yang biasanya untuk sholat,jadi jika ia dan ibunya tidur di sana lalu kakek dan neneknya akan tidur di mana ia memikirkan itu.
Setelah mengambil rumah nya rudipun langsung ikut pulang bersama truk yang mengangkut semua kerangka rumah nya tanpa menemui Aira sama sekali.
Dan saat itupula saat sore hari hujan deras disertai angin yang kencang,hingga keluarga Aira yang meneduh di dapur pun kelabakan karena memang banyak atap yang bocor di mana-mana,hingga saat air mulai masuk ke dalam dapur Aira pun dengan idenya mengambil alat apapun dan membuang air yang akan masuk ke dalam,hingga saat itu kakak dari ibunya Aira yang kebetulan memang berada di sana menangis karena melihat Aira yang harus menjalani semua nya.
Aira yang harusnya bisa nyaman tinggal di rumah dan dengan kasih sayang kedua orang tua nya kini malah kehilangan kasih sayang itu,dan sekarang ia pun malah tidak punya tempat tinggal dan harus hujan-hujanan membuang air agar tidak masuk ke dalam dapur.
Hari-hari Aira jalani tanpa mengeluh sedikitpun pada sang ibu,meskipun ia sering di ejek oleh temannya saat berada di sekolah tapi ia hanya menanggapi dengan senyuman saja tanpa membalas apalagi dendam. Meskipun di dalam hati kecilnya ia ingin sekali menangis dan mengungkapkan semua isi hatinya tetapi ia tahan karena tidak ingin membuat repot orang sekitarnya .
Setelah satu bulan keluarga Aira memutuskan membangun rumah di bantu kakek dan nenek nya Aira ,agar Aira nyaman tinggal di rumah meskipun tidak sebagus rumah yang dulu tetapi Aira tetap bersyukur setidaknya ia tidak kepanasan dan saat hujan ia tidak lagi kedinginan.