NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 - Anak Tunggal Keluarga Velencia

Malam di mansion keluarga de Arther terasa jauh lebih hidup dari biasanya.

Ruang makan besar sudah disiapkan.

Lampu kristal memantulkan cahaya hangat ke meja makan panjang bernuansa hitam elegan.

Beberapa pelayan bergerak tenang menyiapkan makan malam.

Namun suasana sebenarnya jauh dari tenang.

Karena Evelyn de Arther benar-benar menunggu dengan antusias.

“Sudah berapa menit?” tanyanya lagi.

Arthur langsung menghela napas pelan. “Ibu baru menanyakan itu dua menit lalu.”

“Karena kamu terlalu santai.” Sebastian terkekeh kecil sambil menyeruput teh.

Sementara itu Leon berdiri dekat jendela ruang makan dengan ekspresi datar.

Sebenarnya pikirannya jauh dari tenang dan jujur saja, ia masih tidak percaya Rachael benar-benar setuju datang. Itu membuatnya sedikit khawatir.

Karena Leon tahu mansion keluarga de Arther bukan tempat yang nyaman bagi kebanyakan orang. Apalagi bagi seseorang seperti Rachael.

Axel yang duduk santai di kursi malah terlihat lebih gugup dibanding Leon. “Kalau dia kabur pas lihat mansion ini gimana?”

“Dia nggak akan kabur,” jawab Leon pelan.

“Tapi bisa aja shock.”

Leon tidak membalas. Karena itu memang mungkin saja terjadi.

Tepat saat suasana kembali hening, suara mobil berhenti terdengar dari luar mansion.

Evelyn langsung tersenyum lebar. “Oh?”

Axel langsung berdiri refleks. Sementara Leon tanpa sadar ikut menoleh cepat ke arah pintu utama.

Beberapa detik kemudian, pintu mansion terbuka perlahan.

Rachael masuk bersama salah satu pelayan.

Suasana langsung terasa sedikit berbeda.

Gadis itu datang dengan penampilan sederhana seperti biasa. Celana baggy hitam panjang, kemeja gelap longgar, jaket coach hitam oversized.

Tidak ada penampilan berlebihan. Tapi tidak juga terlihat seperti seseorang yang berasal dari keluarga misterius sama sekali.

Justru itu yang membuat tatapan semua orang langsung tertuju padanya.

Rambut panjangnya tergerai indah, tidak menggunakan make up. Ekspresinya tenang. Tapi matanya jelas memperhatikan seluruh ruangan dengan cepat, itu refleks alaminya.

Leon langsung menyadari Rachael sedang membaca situasi. Memperhatikan posisi orang, suasana ruangan dan semuanya dilakukan hanya dalam beberapa detik.

Arthur juga menyadarinya. Tatapannya langsung sedikit berubah. Karena itu jelas kebiasaan seseorang yang dilatih waspada sejak kecil.

Rachael akhirnya berhenti beberapa langkah dari meja makan. Lalu sedikit membungkukkan badan sopan. “Selamat malam. Terimakasih sudah mengundang saya datang untuk makan malam di Mansion ini.” Nada suaranya tenang, ia tidak gugup.

Evelyn langsung tersenyum hangat. “Jadi kamu Rachael.”

Rachael mengangguk kecil. “Iya. Nama ku Rachael Velencia.” jelas Rachael menjaga sopan santunnya, dan juga ia sangat hati-hati.

Tatapan Evelyn perlahan melembut memperhatikan gadis di depannya. Dan jujur saja ia langsung mengerti satu hal. Rachael memang punya aura berbeda. Namun seperti selalu siap menjaga jarak.

Sebastian memperhatikan Rachael cukup lama sebelum akhirnya tersenyum samar. “Kamu mirip seseorang.”

Rachael sedikit mengernyit bingung. “Siapa yang anda maksud?.”

Arthur tetap diam memperhatikan.

Sementara Leon tatapannya tanpa sadar langsung turun ke tangan kanan Rachael.

Plester pink itu sudah tidak ada. Lukanya mulai mengering. Namun bekas merah di kuku jarinya masih terlihat jelas. Hal kecil itu langsung membuat rahang Leon sedikit menegang lagi.

Rachael menyadari tatapan itu lalu refleks memasukkan tangannya ke saku jaket. Leon tetap melihatnya.

Axel yang menyadari suasana mulai canggung langsung buru-buru menyela. “Oke jadi...” Ia tertawa kecil canggung. “Ini lebih formal dari yang gua bayangin.”

Evelyn malah tertawa kecil. “Kamu santai saja, Rachael.”

Rachael justru menjawab jujur, “Aku memang sedang berusaha santai.”

Jawaban polos itu langsung membuat Sebastian tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu.

Bahkan sudut bibir Leon ikut naik samar lagi tanpa sadar.

...----------------...

Suasana ruang makan mansion de Arther terasa terlalu besar dan terlalu rapi bagi Rachael.

Lampu kristal di atas meja panjang memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan.

Pelayan berdiri diam di beberapa sudut.

Sementara keluarga de Arther memperhatikannya dengan cara yang membuat siapa pun pasti merasa tertekan.

Namun anehnya Rachael justru terlihat cukup tenang atau setidaknya terlihat tenang dari luar.

Ia berdiri beberapa langkah dari meja makan sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaket hitamnya.

Tatapannya bergerak pelan ke arah Evelyn dan Sebastian. Lalu akhirnya Rachael langsung bertanya tanpa basa-basi. “Jadi... sebenarnya ada apa?”

Axel langsung refleks menutup wajah pelan. “Wah langsung to the point.”

Evelyn justru terlihat semakin tertarik. Karena gadis itu benar-benar berbeda dari yang ia bayangkan.

Tidak banyak basa-basi, tidak terlihat berusaha mencari perhatian, dan jelas tidak takut bicara langsung.

Evelyn tersenyum kecil. “Kita bicara sambil makan malam saja.”

Rachael sedikit mengernyit. “Makan malam bersama?”

“Iya.” Sebastian mengangguk santai. “Duduklah.”

Rachael langsung diam beberapa detik. Tatapannya bergerak ke meja makan besar itu, lalu ke kursi-kursi yang tersusun rapi.

Leon langsung menyadari sesuatu. Bahunya sedikit menegang. Dan tatapannya berubah lebih hati-hati.

Rachael pelan-pelan membuka mulut. “...Aku nggak biasa makan malam begini.”

Suasana langsung sedikit hening.

Arthur memperhatikan Rachael tanpa bicara.

Sementara Evelyn mengernyit kecil. “Begini?”

Rachael mengangguk kecil. “Makan bersama keluarga.” Jawaban itu keluar terlalu jujur.

Dan justru itu yang membuat suasana berubah lebih pelan. Karena cara Rachael mengatakannya terdengar bukan seperti keluhan. Melainkan fakta biasa yang sudah lama ia terima.

Axel yang tadi santai perlahan diam.

Leon sendiri langsung menatap Rachael lebih lama.

Entah kenapa tiba-tiba ia membayangkan satu hal:

Rachael mungkin memang tidak pernah benar-benar punya tempat tetap untuk pulang.

Sebastian akhirnya bicara pelan. “Keluargamu sering pergi?”

Rachael terdiam sebentar sebelum menjawab, “Kami jarang ada di tempat yang sama lama-lama. Ayah dan Ibu sibuk bekerja.” Nada suaranya tetap tenang.

Namun sekarang semuanya mulai masuk akal. Kenapa Rachael terlihat seperti seseorang yang tidak pernah terlalu terikat pada apa pun.

Kenapa ia selalu terlihat siap pergi kapan saja.

Evelyn memperhatikan gadis itu beberapa detik cukup lama, lalu akhirnya tersenyum lembut. “Kalau begitu kamu harus coba.”

Rachael sedikit bingung.

“Makan malam bersama.” Evelyn menepuk pelan kursi kosong di dekatnya. “Satu malam tidak akan membunuhmu.”

Axel langsung berbisik kecil ke Leon, “Kalimat nenek agak serem kalau keluar di keluarga mafia.”

Leon tidak menjawab tapi tatapannya tetap ke arah Rachael.

Sementara Rachael sendiri terlihat berpikir beberapa detik. Jujur saja situasi ini terasa asing baginya.

Justru itu membuatnya sedikit bingung harus bereaksi bagaimana.

Akhirnya Rachael berjalan pelan menuju kursi kosong itu. Langkahnya tenang. Ia duduk perlahan sambil memperhatikan meja makan besar di depannya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rachael merasakan sesuatu yang aneh. Karena suasana seperti ini... terasa asing sekaligus nyaman di waktu yang bersamaan.

Suasana meja makan keluarga de Arther terasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Suara alat makan terdengar pelan di ruangan besar bernuansa hangat itu.

Rachael duduk cukup tenang di dekat Evelyn. Punggungnya tegak, gerakannya rapi.

Namun Leon memperhatikan satu hal sejak tadi, Rachael hampir tidak pernah memulai pembicaraan lebih dulu.

Ia hanya diam sambil makan pelan. Menjawab jika ditanya, lalu kembali diam. Seolah sudah terbiasa menjadi seseorang yang hanya hadir tanpa benar-benar ikut masuk ke dalam suasana.

Evelyn memperhatikan itu cukup lama sebelum akhirnya bertanya lembut, “Kamu anak pertama?”

Rachael menelan makanannya dulu sebelum menjawab pendek, “Anak tunggal.”

Sebastian mengangguk kecil. “Keluarga Velencia memang terkenal sedikit menjaga garis keluarga.”

Rachael hanya diam kecil mendengar itu.

Arthur masih memperhatikan tanpa banyak bicara.

Sementara Axel mulai sadar, Rachael ternyata jauh lebih pendiam di luar sekolah. Mungkin karena ia belum nyaman atau mungkin memang selalu seperti ini.

Evelyn kembali bertanya pelan, “Orang tuamu pasti sangat protektif.”

Dan untuk pertama kalinya, Rachael sedikit berhenti bergerak sejenak.

Leon langsung menyadarinya.

Tatapan Rachael perlahan berubah datar lagi. Lalu ia menjawab pelan, “Tidak juga.” Nada suaranya terlalu tenang.

Namun entah kenapa, suasana meja makan langsung terasa berbeda.

Sebastian memperhatikan Rachael lebih serius sekarang. “Kamu dekat dengan keluargamu?”

Hening.

Rachael memegang sendoknya pelan. Lalu menjawab tanpa ekspresi, “Kami jarang ketemu.”

Evelyn sedikit mengernyit kecil. “Mereka sering pergi?”

“Iya, Pergi bekerja dan semacamnya.”

“Kamu tidak ikut?”

“Aku lebih sering ditinggal di rumah.”

Jawaban itu membuat Axel perlahan berhenti makan.

Sementara Leon tetap diam memperhatikan Rachael.

Gadis itu mengatakannya terlalu tenang. Seolah hal seperti itu memang normal baginya.

“Aku biasanya sendiri,” lanjut Rachael pelan sambil menatap piringnya. “Orang tua cuma ninggalin uang sama barang yang mungkin aku butuhin.”

Ruangan mendadak jauh lebih sunyi.

Karena kalimat itu terdengar terlalu kosong.

Tidak ada marah.

Tidak ada sedih.

Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.

Arthur perlahan menyipitkan mata kecil.

Sementara Evelyn sekarang benar-benar terlihat berubah, tatapannya lebih melembut. “Sejak kecil?” tanyanya pelan.

Rachael mengangguk kecil. “Ya begitu, sudah biasa.”

Leon mengepalkan jemarinya di bawah meja.

Karena sekarang, ia mulai memahami kenapa Rachael terlihat seperti seseorang yang tidak pernah berharap terlalu banyak dari orang lain.

Kenapa ia selalu takut dianggap merepotkan.

Kenapa ia langsung meminta maaf bahkan untuk hal kecil.

Karena sejak awal... tidak pernah ada orang yang benar-benar tinggal untuknya.

Evelyn kembali bicara hati-hati, “Kalau kamu sakit?”

Rachael mengangkat bahu kecil. “Aku bisa urus sendiri.”

“Dan kalau stres? Atau kesulitan bagaimana?”

Pertanyaan itu membuat Rachael diam beberapa detik. Ia menjawab sambil tersenyum kecil samar.

“Biasanya dibilang cuma kecapekan.”

Leon langsung menatap Rachael. Namun gadis itu tetap terlihat biasa saja. Seolah semua itu bukan hal besar.

“Mereka pikir aku cuma terlalu sensitif.” lanjutnya pelan. “Atau cari perhatian.”

Kalimat terakhir itu langsung membuat suasana meja makan membeku.

Axel perlahan menunduk. Sebastian terdiam cukup lama. Bahkan Arthur yang biasanya dingin sekarang tidak langsung bicara.

Karena untuk keluarga seperti mereka, mereka tahu satu hal. Anak yang terus diabaikan terlalu lama akan belajar menyembunyikan semuanya sendiri.

Sekarang mereka mulai melihat hasilnya pada diri Rachael.

Tapi yang paling membuat Leon merasa sesak adalah satu hal lain. Cara Rachael menceritakan semuanya, tidak ada luka dalam suaranya, tidak ada keluhan, dan gadis itu sudah terlalu terbiasa sendirian sampai menganggap semua itu normal.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!