NovelToon NovelToon
Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.

Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.

Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Rahasia Keluarga

Alarm jantung berbunyi keras, mengganggu kesibukan pagi di ruang operasi RS Bunda. Rara, yang tengah menyiapkan peralatan untuk operasi rutin, tiba-tiba menoleh ke arah suara tersebut.

"Pasien mengalami bradikardia! " seru salah satu perawat.

Di tengah ruangan, di atas meja bedah, seorang wanita berusia sekitar 50 tahun tiba-tiba bergetar sebelum monitor menampilkan garis datar yang menakutkan.

"Code blue! " teriak Rara sambil segera bersiap melakukan CPR.

"Sudah satu menit! " teriak perawat lainnya sambil memeriksa jam.

"Tak ada respon! "

"Siapkan defibrillator! " Rara memerintah sambil terus melakukan kompresi dada.

Di tengah keributan itu, pintu ruang operasi terbuka mendadak dan dr. Arkan memasuki ruangan dengan cepat.

"Apa yang terjadi? " tanyanya sembari segera mengambil alih situasi.

"Pasien mengalami henti jantung saat persiapan operasi," Rara menjelaskan singkat sambil terus melakukan CPR.

"Berikan epinefrin," perintah Arkan sambil meninjau monitor. "Dan bersiaplah untuk defibrilasi. "

Tim bergerak sigap mengikuti arahan Arkan. Dalam beberapa menit, mereka berhasil memulihkan detak jantung pasien. Ruang operasi menjadi lebih tenang meski ketegangan masih terasa.

"Bagus," Arkan mengangguk puas menatap layar yang sudah menunjukkan ritme stabil. "Namun kita perlu menunda tindakan ini. Arahkan pasien ke ICU untuk pengamatan. "

Perawat-perawat segera mengikuti perintahnya. Saat ruangan hampir kosong, hanya Rara dan Arkan yang tertinggal.

"Kamu responsif sekali," Arkan mengucapkan tanpa menatapnya.

"Latihan," Rara menjawab singkat. "Kamu juga. "

"Kita perlu berbicara," Arkan akhirnya memandangnya.

"Belum saatnya," Rara menolak. "Kita masih ada pasien lain yang harus disiapkan. "

"Rara—"

"Aku tidak ingin mendiskusikannya di sini," Rara memotong. "Tempat ini tidak tepat. "

"Kalau begitu di mana? " Arkan bertanya dengan nada yang lebih tinggi dari yang sebenarnya dia inginkan. "Dan kapan? "

"Entahlah! " Rara akhirnya marah. "Aku butuh waktu! "

"Kita tidak bisa terus menghindar, Rara," Arkan berusaha menenangkannya. "Aku tahu tentang ayahmu. Dan aku memahami hubungan itu dengan ayahku. "

Ekspresi terkejut terlihat di wajah Rara. "Kamu. . . tahu? "

"Dr. Santoso memberitahuku," Arkan mengangguk. "Dan aku mengerti mengapa kamu tidak bisa menerima kehadiranku. "

"Aku. . . " Rara mencoba berkata tetapi suaranya terhenti.

"Aku tidak ingin memberatkan mu," Arkan melanjutkan. "Tapi aku juga tidak mau kita terus hidup dalam kebohongan ini."

"Ini bukan hanya tentangmu," Rara akhirnya bisa berbicara. "Ini tentang diriku yang tidak bisa memaafkan. "

"Memaafkan siapa? " Arkan bertanya. "Ayahku? Atau. . . dirimu sendiri? "

Pertanyaan itu terasa menyakitkan bagi Rara. "Apa yang kamu maksud? "

"Aku melihat bagaimana kamu melihat foto ayahmu," Arkan menjelaskan. "Kamu tidak hanya marah kepada ayahku. Kamu juga marah kepada dirimu sendiri karena merasa tidak bisa melindunginya. "

"Diam! " Rara mengepal tangannya. "Kamu tidak tahu apa-apa! "

"Aku mengerti karena aku merasakan hal yang sama," Arkan berbicara lembut. "Setiap hari aku hidup dengan rasa bersalah karena tidak dapat menyelamatkan ayahku. "

Rara terdiam. Dia tidak pernah melihat sisi rentan Arkan seperti ini.

"Kita tidak bisa hidup di bawah bayang-bayang masa lalu," Arkan melanjutkan. "Baik kamu maupun aku."

"Aku tak tahu cara memaafkan," Rara mengakui dengan suara lembut.

"Mungkin kita bisa belajar bersama," Arkan mengerling kecil. "Tidak sekarang. Tapi suatu saat nanti. "

Rara mengangguk pelan. "Aku akan memikirkan itu."

"Itu sudah cukup," Arkan menghela napas lega sebelum menunjuk ke arah pintu. "Kita punya pasien yang menunggu. "

"Ya," Rara mengikuti langkahnya. "Kita punya tugas. "

Ketika mereka keluar dari ruang operasi, tidak ada yang tahu bahwa ini adalah awal dari perubahan besar dalam hidup mereka. Mungkin suatu saat, mereka benar-benar bisa belajar memaafkan satu sama lain.

Suatu ketika, Rara mungkin dapat memandang foto ayahnya tanpa merasa sedih mengenang kecelakaan itu. Arkan mungkin juga bisa berbagi cerita tentang ayahnya tanpa menyimpan rasa bersalah di matanya. Di masa depan, mungkin mereka akan berdiri di atas makam ayah mereka. Mereka tidak akan lagi jadi musuh yang menyimpan dendam, tetapi menjadi dua orang yang telah berdamai. Tidak sekarang. Tidak dalam situasi ini.

Saat ini, mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi. Tangan mereka kadang bersentuhan, tetapi tidak ada yang menjauh. Hanya ada satu hal yang mereka inginkan: menjaga ikatan ini tetap ada.

Malam itu, Rara berdiri di depan rumah sakit tua yang tak terpakai. Tempat ini adalah lokasi di mana ayahnya terakhir kali bekerja sebelum tragedi itu terjadi. Selama bertahun-tahun, Rara menghindari tempat ini, namun malam ini ia merasa perlu untuk datang.

Angin malam bertiup kencang saat Rara mendorong pintu usang yang berderit. Di dalamnya gelap dan berdebu, tetapi ia sudah memegang senter.

"Ayah," Rara berbisik sambil melangkah pelan di koridor yang gelap. "Aku sudah tiba. "

Ia menuju ke ruang arsip tua, di mana ia yakin ayahnya sering bekerja lebih lama dari biasanya. Ketika pintu dibuka, debu bertebaran membuatnya terbatuk.

Rara menyoroti ruangan tersebut dengan senter. Rak-rak tua yang penuh berkas masih ada, meskipun beberapa terlihat mulai rusak. Pandangannya tertuju pada sebuah meja kecil di sudut—meja tempat ayahnya bekerja.

Dengan degup jantung yang kencang, Rara membuka laci meja tersebut. Meskipun berdebu, isinya masih lengkap. Di dalamnya tersimpan beberapa foto dan buku catatan kuno.

Tangannya bergetar saat memegang foto pertama. Di gambar itu, ayahnya bersama sekelompok dokter lainnya, termasuk dr. Reza Pratama—ayah Arkan. Mereka tampak sangat akrab, berpelukan bahu layaknya sahabat.

Dia membalik foto tersebut dan mendapati tulisan di bagian belakangnya: "Tim Bedah RS Bunda 2005—Santoso, Reza, dan aku. Hari-hari terbaik. "

Rara mengambil buku catatan berikutnya. Ini adalah diari pribadinya ayah. Dengan hati-hati, dia membuka halaman pertama dan mulai membaca:

"Hari ini aku dan Reza terlibat perdebatan tentang etika medis lagi. Seperti biasanya, dia kalah. Namun tentu saja, besok kami pasti akan rukun kembali. . . "

Halaman demi halaman, Rara menyimak bagaimana ayahnya dan dr. Reza memiliki persahabatan yang erat—bahkan seperti saudara. Mereka sering memiliki pandangan yang berbeda, tetapi selalu bisa berdamai. Sampai suatu ketika, entri diari itu berubah.

"Reza datang hari ini dengan ekspresi pucat. Dia belum tidur selama 3 hari karena jadwal kerjanya yang padat. Aku menawarkan diri untuk menolongnya, tetapi dia menolak. Aku merasa khawatir. . . "

Itu adalah entri terakhir sebelum kecelakaan terjadi.

Rara menutup diari itu dengan perasaan berat. Dia merasa salah. Selama ini, dia mengira ayahnya dan dr. Reza adalah lawan. Padahal, mereka adalah sahabat sejati.

"Aku tidak paham," Rara berbisik sambil menahan air mata. "Mengapa kamu tidak pernah menceritakan ini? "

Tiba-tiba, suara langkah kaki membuatnya berbalik. Sebuah senter menerangi wajahnya dari arah pintu.

"Aku tahu kamu akan datang ke sini," suara Arkan terdengar pelan.

"Kamu mengikuti aku? " tanya Rara sambil cepat-cepat menghapus air matanya.

"Tidak," Arkan melangkah masuk. "Aku juga ingin menjelajahi tempat ini. Dr. Santoso menyebutkan bahwa ini adalah tempat terakhir ayahmu bertugas. "

"Kamu sudah bicara dengan Dr. Santoso lagi? "

Arkan mengangguk sambil mengamati sekeliling ruangan. "Dia bercerita tentang persahabatan ayah kita. "

"Aku baru menyadarinya," Rara menunjukkan diari itu. "Mereka seperti saudara. "

"Sedangkan kita seolah bermusuhan," Arkan tersenyum kecil.

"Aku tidak membencimu," Rara akhirnya mengakui. "Aku hanya. . . bingung. "

"Aku juga," Arkan mengambil tempat duduk di kursi tua di sisinya. "Tapi mungkin sekarang kita mulai memahami. "

"Apa yang kamu maksud? "

"Mereka tidak ingin kita saling membenci," Arkan menunjuk foto itu. "Lihat wajah mereka. Mereka tampak bahagia bersama. Apapun yang terjadi selanjutnya, mereka pasti tidak ingin kita terjebak dalam kebencian. "

Rara memandangi foto itu kembali. Ayahnya tersenyum lebar sambil merangkul bahu dr. Reza.

"Mereka pasti sangat menyayangi kita," Rara berbisik.

"Dan mereka tentu ingin kita bahagia," Arkan menambahkan. "Tanpa beban dari masa lalu. "

Rara menghela napas panjang. "Kamu benar. Namun. . . aku masih perlu waktu. "

"Aku mengerti," Arkan berdiri. "Tapi setidaknya sekarang kita tahu kebenarannya. "

"Ya," Rara juga bangkit sambil menyimpan diari itu dengan hati-hati. "Mereka adalah sahabat. Dan mungkin. . . suatu saat nanti. . . kita juga bisa seperti itu."

"Mungkin saja," Arkan tersenyum kecil sebelum melangkah menuju pintu. "Mari pulang. Besok kita masih memiliki shift pagi. "

"Ya," Rara mengikutinya. "Besok adalah hari yang baru. "

Ketika mereka meninggalkan rumah sakit tua itu, bulan purnama bersinar cerah di atas kepala mereka. Mungkin suatu saat, mereka benar-benar bisa memaafkan dan melupakan masa lalu—seperti yang diharapkan oleh para ayah mereka.

Mungkin suatu saat mereka akan tersenyum melihat anak-anak mereka bermain di kebun. Mereka ingin menjalani kehidupan tanpa menyimpan rasa sakit atau kenangan kelam dari masa kecil. Saat ini, mereka berdiri di bawah cahaya bulan. Arkan membantu Rara melewati puing-puing pintu yang runtuh. Jantung Rara berdegup kencang saat dia bersentuhan dengan tangan Arkan. Mereka menyadari bahwa hidup tidak akan pernah kembali seperti semula. Mereka telah terlalu banyak mengalami dan merasakan peristiwa yang serupa. Hanya waktu yang akan menjelaskan apakah ini merupakan awal yang indah atau penutup segalanya. Di bawah sinar bulan purnama, di tempat di mana ayah mereka dulunya menjalin persahabatan, mereka memilih untuk percaya bahwa ini adalah sebuah permulaan.

"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan tentang dia, Ayah? " tanya Rara pada foto tersebut. "Kenapa kamu tidak pernah mengungkap bahwa kalian bersahabat? "

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!