NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Setelah urusan Raka selesai dengan "iming-iming" gadis Arab dari Abi, suasana kembali mendingin saat tatapan semua orang tertuju pada Sarah yang masih terduduk lemas di lantai aula. Tidak ada lagi tawa, yang ada hanyalah ketegasan hukum pesantren.

Zuhair berdiri, merapikan baju kokonya, lalu menatap Sarah dengan sorot mata yang sudah benar-benar "selesai". Tidak ada benci, tapi juga tidak ada lagi belas kasihan yang tersisa untuknya.

"Sarah," panggil Zuhair datar. "Sore ini juga, barang-barang kamu sudah harus keluar dari Ndalem. Saya tidak akan memperpanjang urusan ini ke jalur hukum atau melaporkan Malik ke polisi, asalkan kamu pergi dari sini tanpa membuat drama lagi."

Sarah mendongak, matanya sembap, mencoba mencari sisa-sisa kelembutan di wajah Ummi. "Ummi... tolong Sarah, Ummi... Sarah cuma takut masa depan Sarah hancur kalau orang tua Sarah tahu..."

Ummi memalingkan wajah, mengusap air matanya dengan tisu. "Kamu sendiri yang menghancurkannya, Sarah. Kamu memfitnah anak Ummi, membohongi Abi, dan membawa anak dari laki-laki lain ke dalam ikatan suci. Ummi nggak bisa bantu apa-apa lagi."

Abi kemudian memberikan titah terakhirnya. "Sopir pesantren sudah saya siapkan. Zuhair, kamu tidak perlu mengantar dia sampai rumah. Cukup pastikan dia keluar dari gerbang pesantren ini dengan aman. Biarkan keluarganya yang menjemput dia di titik yang sudah disepakati. Kita tidak ingin ada fitnah baru kalau kamu terlihat berduaan lagi sama dia."

Celina yang melihat itu hanya bisa melipat tangan di dada. Ada rasa puas, tapi juga ada rasa ngeri melihat bagaimana sebuah kebohongan bisa menghancurkan hidup seseorang sekejap mata.

"Gus," bisik Celina pelan sambil menyenggol lengan Zuhair. "Lo beneran nggak papa? Maksud gue... lo nggak ngerasa nyesel atau gimana gitu?"

Zuhair menoleh ke arah Celina, lalu tersenyum tipis—senyuman yang kali ini terlihat sangat tulus dan lega. "Penyesalan saya adalah kenapa saya tidak jujur dari awal pada kamu, Cel. Kalau soal dia... saya justru merasa baru saja lepas dari beban yang sangat berat."

Sarah akhirnya berdiri dengan langkah gontai. Dia berjalan keluar aula tanpa ada satu pun santri yang mau menatapnya. Kabar tentang rekamannya sudah menyebar lewat "radar" santri senior. Di depan gerbang Ndalem, dia melihat koper-kopernya sudah ditumpuk.

Saat Sarah melangkah keluar gerbang, Zuhair berdiri di depan pintu aula sambil menggandeng tangan Celina—sebuah gestur yang menunjukkan pada dunia (dan pada Sarah) bahwa mulai hari ini, posisi Celina sebagai istri sah tidak akan lagi terganggu oleh siapapun.

Setelah drama kolosal di aula selesai dan Sarah resmi keluarkan dari pesantren, suasana di kamar Ndalem terasa jauh lebih lega. Celina langsung masuk ke kamar, melepas tunik panjangnya yang bikin gerah, dan ganti ke "setelan rumah" andalannya yakni kaos oversized warna hitam dan celana pendek selutut.

Zuhair masuk ke kamar, sempat tertegun sebentar melihat penampilan Celina yang kembali ke setelan aslinya, tapi kali ini dia tidak berkomentar sinis. Dia menutup pintu, lalu duduk di tepi ranjang, sementara Celina asyik selonjoran di karpet bawah sambil menyandarkan punggungnya ke kasur.

"Gila ya, hari ini bener-bener plot twist abis," buka Celina sambil menguncir rambutnya asal-asalan. "Gue nggak nyangka lo diem-diem jadi detektif, Gus. Rekaman itu... bukti paling anjir banget sih."

Zuhair tersenyum tipis, dia melepas pecinya dan meletakkannya di nakas. "Saya cuma nggak mau hidup dalam kebohongan terus, Cel. Dan saya nggak mau kamu terus-terusan benci saya karena sesuatu yang nggak saya lakuin."

Celina terdiam sebentar, lalu mendongak menatap Zuhair yang posisinya lebih tinggi di atas ranjang. "Ngomong-ngomong... soal gue sama Raka. Lo beneran nggak papa? Gue maksudnya... lo tahu kan semalem itu bukan cuma 'nobar'?"

Zuhair menarik napas panjang, menatap balik mata Celina dengan teduh. "Kalau saya bilang nggak sakit, saya bohong. Tapi saya sadar, itu terjadi karena kesalahan saya juga. Saya yang membiarkan celah itu ada karena nggak tegas sama Sarah."

"Tapi lo hebat sih," gumam Celina. "Kalau cowok lain mungkin udah talak gue di depan umum tadi. Kenapa lo malah narik omongan lo dan bilang mau tetep bareng?"

Zuhair turun dari ranjang, ikut duduk di karpet di depan Celina, sejajar. "Karena saya mau kita mulai dari nol. Tanpa rahasia, tanpa dendam. Saya mau buktiin ke kamu kalau hidup di sini nggak seburuk yang kamu bayangin."

Celina tertawa kecil, "Iya sih, apalagi liat Raka tadi. Ngakak banget gue! Dia mau-mauan disuruh hafal Al-Baqarah demi dapet cewek Arab bohay. Emang dasar tuh anak, motivasi tobatnya beda dari yang lain."

"Tapi itu cara Abi," sahut Zuhair sambil terkekeh. "Abi tahu cara naklukin cowok kayak Raka. Kasih tantangan, kasih hadiah yang dia suka. Daripada dihukum bersihin WC malah makin benci pesantren, kan?"

"Bener juga sih," Celina mengangguk-angguk. "Terus sekarang gimana? Sarah udah pergi. Raka mau jadi santri teladan demi jodohnya. Kita?"

Zuhair terdiam sejenak, lalu perlahan dia memberanikan diri mengulurkan tangan, menyelipkan beberapa anak rambut Celina ke belakang telinga. "Kita? Kita coba jalanin ini pelan-pelan. Saya nggak bakal maksa kamu langsung jadi 'Ustadzah'. Kamu mau pake kaos begini di kamar, silakan. Kamu mau curhat apa aja ke saya, saya dengerin."

Celina ngerasa ada butterfly in her stomach yang udah lama nggak dia rasain. "Oke deal. Tapi jangan kaget ya kalau sewaktu-waktu 'mode Jakarta' gue kumat."

"Nggak masalah," jawab Zuhair mantap. "Asal 'mode Jakarta'-nya cuma buat saya, bukan buat santri lain."

"Hih, posesif lo!" sahut Celina sambil melempar bantal kecil ke wajah Zuhair, dan malam itu di Ndalem, untuk pertama kalinya, mereka berdua tertawa bersama tanpa ada beban rahasia di antara mereka.

Keesokan harinya, suasana Ndalem yang seharusnya sudah tenang kembali berubah tegang. Celina lari ke kamar mandi dengan wajah pucat, suara mualnya terdengar sampai ke telinga Zuhair yang sedang merapikan sorban.

Zuhair mengetuk pintu kamar mandi dengan cemas. "Cel? Kamu nggak apa-apa?"

Celina keluar dengan lemas, wajahnya sembap. Di tangannya, ia memegang sebuah benda kecil yang membuat jantungnya hampir copot. Dua garis merah.

"Gus... gimana ini?" bisik Celina dengan suara gemetar. "Gue... gue telat haid. Dan ini garisnya dua. Kalau... kalau ini anaknya Raka gimana?"

Zuhair terpaku. Bayangan malam itu kembali melintas, tapi ia mencoba tetap tenang demi Celina yang sudah mulai menangis sesenggukan. "Tenang dulu, Cel. Jangan panik. Garis dua belum tentu fix. Kita ke dokter sekarang juga buat mastiin semuanya."

Tanpa membuang waktu, Zuhair langsung menyiapkan mobil. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Celina hanya diam, meremas ujung kaosnya. Pikirannya kacau; ia takut kalau benar hamil anak Raka, rumah tangganya yang baru saja membaik akan hancur total.

Sampai di rumah sakit, Zuhair dengan setia menggandeng tangan Celina masuk ke ruangan dokter spesialis kandungan. Celina diminta melakukan pemeriksaan USG dan tes urin ulang yang lebih akurat.

Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, dokter tersenyum sambil melihat hasil monitor.

"Ibu Celina, tenang ya. Hasil USG menunjukkan rahim Ibu bersih. Tidak ada tanda-tanda kehamilan sama sekali," ucap Dokter dengan tenang.

Celina melongo. "Tapi Dok, tadi pagi saya tespek garis dua. Terus saya juga mual-mual dan telat datang bulan."

Dokter mengangguk paham. "Tespek itu alat buatan manusia, bisa saja ada faktor error atau kualitas alatnya yang kurang baik saat Ibu pakai. Soal mual dan telat haid, setelah saya cek, Ibu ini sedang mengalami stres berat dan asam lambungnya naik drastis. Sepertinya Ibu juga sering telat makan ya?"

Celina tertegun, lalu teringat beberapa hari ini dia memang tidak nafsu makan karena kepikiran urusan Sarah dan rasa bersalahnya pada Zuhair.

"Kondisi psikis yang tertekan bisa mengacaukan hormon, itulah yang bikin Ibu telat datang bulan dan merasa mual seperti gejala orang hamil," tambah Dokter.

Begitu keluar dari ruang dokter, Celina langsung lemas dan hampir jatuh kalau tidak segera ditangkap oleh Zuhair. Rasa lega yang luar biasa menyapu seluruh tubuhnya.

"Gus... gue nggak hamil," bisik Celina, air mata leganya tumpah di dada Zuhair.

Zuhair mengusap punggung Celina dengan lembut, ia sendiri mengembuskan napas panjang seolah beban seberat gunung baru saja diangkat dari pundaknya. "Alhamdulillah... Allah masih kasih kita kesempatan buat memperbaiki semuanya dari awal tanpa ada beban masa lalu."

Zuhair menangkup wajah Celina, menatapnya dengan penuh kasih. "Sekarang, tugas kamu cuma satu: jangan stres lagi, dan harus makan yang teratur. Saya nggak mau istri saya sakit gara-gara telat makan, bukan gara-gara telat haid."

Celina tertawa kecil di balik tangisnya, memukul pelan dada Zuhair. "Bisa banget ya lo bercandanya! Tapi serius, makasih ya udah nggak ninggalin gue pas gue panik tadi."

"Sama-sama. Ayo pulang, kita mampir beli makanan enak dulu biar asam lambung kamu aman," ajak Zuhair sambil merangkul erat bahu Celina menuju parkiran.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!