Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
"Sedang apa pelayan sepertimu berkeliaran di sini jam segini? Ingin mencuri sesuatu?"
Suara berat itu memotong sunyi malam, dingin dan setajam silet. Aira berjengit, nyaris menjatuhkan botol air mineral di tangannya. Di bawah temaram lampu taman dan rintik hujan yang mulai membasahi bumi, ia melihat siluet tegap itu. Alvaro bersandar pada pilar marmer, kepalanya mendongak menatap langit kelam. Ujung rokok di sela jarinya menyala kemerahan, mengirimkan asap tipis yang segera hilang disapu angin malam.
Aira merapatkan jaket tipisnya yang sudah mulai lembap. Telapak tangannya yang dibalut perban seadanya terasa berdenyut nyeri—sisa "hadiah" dari pecahan gelas di ruang makan tadi.
"Aku... aku cuma butuh udara segar," cicit Aira, matanya tertuju pada sepatu kulit Alvaro yang mengkilap, menghindari tatapan elang pria itu.
Alvaro mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya. Ia mematikan rokoknya di asbak kristal yang tersedia di meja taman, lalu melangkah mendekat. Setiap derap langkahnya terasa seperti detak jam menuju eksekusi bagi Aira.
"Udara segar? Atau sedang mencari perhatian?" Alvaro berhenti tepat di depan Aira. Aroma tembakau mahal dan parfum maskulin yang kuat mengepung indra penciuman Aira. "Setelah drama jatuh di depan meja makan tadi, sekarang kamu muncul di sini. Kamu pikir cara-cara murahan ini akan berhasil?"
Aira mendongak, matanya yang sembab karena tangis kini berkilat oleh emosi yang tertahan. "Kamu pikir aku sengaja menjatuhkan diri di atas pecahan kaca demi menarik perhatianmu? Kamu pikir lukaku ini palsu?"
Alvaro terdiam sejenak, matanya turun menatap perban di telapak tangan Aira yang mulai merembes darah. Ada kilatan aneh di matanya—mungkin rasa bersalah, atau mungkin gangguan ingatan yang kembali menyerang. Namun, ia segera mengeraskan rahangnya.
"Aku tidak peduli," ucap Alvaro datar. "Tapi satu hal yang harus kamu tahu; berhenti menatapku dengan mata seperti itu. Mata yang seolah-olah mengenalku lebih dari siapa pun. Itu menjijikkan."
Aira tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyedihkan di tengah rintik hujan. "Menjijikkan? Padahal dulu, ada seorang anak laki-laki yang bilang kalau mataku adalah satu-satunya tempat dia merasa aman."
Tubuh Alvaro menegang. Matanya menyipit tajam. "Apa katamu?"
"Varo..." Aira menyebut nama itu dengan nada yang sangat pelan, namun bergetar hebat. "Ingatkah kamu tentang Gudang Tua? Di belakang rumah ini, di antara tumpukan kayu lapuk dan bau debu yang menyesakkan? Tempat di mana atapnya bocor setiap kali hujan seperti ini, dan kita akan duduk berimpitan di bawah satu payung rusak hanya untuk menggambar pola baju di atas tanah?"
Rintik hujan kini berubah menjadi deras, membasahi wajah keduanya. Alvaro terpaku. Ingatan tentang sebuah tempat yang gelap, lembap, namun hangat tiba-tiba menghantam kepalanya. Gudang Tua. Airin tidak pernah menyebutkan Gudang Tua. Airin selalu bercerita tentang pesta kebun dan sisa kue mahal di ruang tamu.
"Bagaimana kamu bisa tahu tentang tempat itu?" Alvaro mencengkeram bahu Aira dengan keras, suaranya naik satu oktav. "Siapa yang memberitahumu? Airin? Apa kamu memata-matai pembicaraan kami?"
Aira meringis kesakitan, namun ia tidak mundur. "Tidak ada yang memberitahuku, Varo! Karena aku ada di sana! Aku yang memegang payung itu! Aku yang menjahit luka di lututmu saat kamu jatuh di depan pintu gudang itu, bukan dia!"
"Cukup!" bentak Alvaro, suaranya menggelegar mengalahkan suara hujan.
Ia mendorong bahu Aira hingga gadis itu terhuyung ke belakang, hampir terjatuh di atas tanah yang becek. Wajah Alvaro kini dipenuhi kemarahan yang meluap-luap—kemarahan seseorang yang dunianya mulai goyah dan ia terlalu takut untuk mengakuinya.
"Jangan berani-berani mengarang cerita picin hanya karena kamu haus akan harta keluargaku!" Alvaro menunjuk wajah Aira dengan jari gemetar. "Airin sudah memberikan buktinya! Dia punya sapu tangannya! Dia punya kenangannya! Sedangkan kamu? Kamu hanyalah pelayan ceroboh dengan imajinasi liar yang memuakkan!"
Aira tersedu, air matanya kini bercampur dengan air hujan yang mengalir deras di pipinya. "Buka matamu, Varo... tolong..."
"Tutup mulutmu!" Alvaro membentak lagi, kali ini lebih keras hingga urat di lehernya menonjol. "Dengar ini baik-baik, Aira. Jangan pernah sok tahu tentang masa laluku hanya karena kamu ingin mendekatiku! Kamu hanyalah benalu yang beruntung bisa tinggal di sini. Kamu tidak akan pernah bisa menyamai Airin, bahkan dalam seribu tahun sekalipun!"
Alvaro berbalik, melangkah masuk ke dalam rumah megah itu tanpa menoleh lagi, meninggalkan Aira yang tersungkur di bawah guyuran hujan yang dingin. Di tengah kegelapan taman, Aira hanya bisa memeluk dirinya sendiri, merasakan hatinya yang hancur berkeping-keping, jauh lebih hancur daripada saat tubuhnya menghantam pecahan kaca di meja makan.