Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Baru tiga hari sejak Clara meninggalkan rumah ayahnya. Baru tiga hari tinggal di kontrakan kecil yang bahkan kamar mandinya terasa sempit baginya. Namun uang sepuluh juta yang diberikan ayahnya sebelum pergi sudah habis tanpa sisa berarti.
Clara duduk di atas kasur tipis kontrakannya sambil menatap layar ponsel dengan wajah pucat. Pendingin ruangan tidak ada. Kipas angin di sudut kamar berputar pelan sambil mengeluarkan bunyi berdecit yang membuat kepalanya semakin sakit.
Dia membuka aplikasi mobile banking sekali lagi.
Saldo tersisa benar-benar membuat dadanya sesak.
Tidak sampai lima puluh ribu.
“Mana mungkin…” gumam Clara pelan.
Dia memijat pelipisnya sendiri. Baru sekarang Clara sadar kalau selama ini dia sama sekali tidak pernah menghitung pengeluaran. Selama hidupnya semua selalu tersedia. Makanan tinggal pesan. Mobil tinggal pakai. Kartu tinggal gesek.
Bahkan selama dua puluh lima tahun hidupnya, Clara tidak pernah benar-benar memikirkan harga air mineral.
Kini semuanya terasa menakutkan.
Dia membuka daftar kontak dan mulai menghubungi teman-teman nongkrongnya satu per satu.
Orang-orang yang dulu selalu mengelilinginya.
Orang-orang yang selalu tertawa bersamanya di kafe mahal.
Namun sekarang semuanya terasa berbeda.
“Nomor yang Anda tuju sedang sibuk.”
“Aku lagi meeting, nanti saja.”
“Maaf Clara, aku juga lagi banyak kebutuhan.”
Sebagian bahkan hanya membaca pesan tanpa membalas.
Clara menatap layar ponsel dengan mata mulai memerah.
“Apa susahnya membantu sedikit…” bisiknya kecewa.
Dia menggigit bibirnya sendiri lalu mencoba menghubungi nama terakhir yang masih tersisa.
Larasati.
Sahabatnya sejak kuliah.
Panggilan itu tersambung cukup cepat.
“Clara?” suara Larasati terdengar dari seberang sana.
Clara langsung menghela napas lega.
“Laras… akhirnya kamu angkat juga.”
“Kamu kenapa? Suaramu aneh.”
Clara berusaha tertawa kecil meski terdengar dipaksakan.
“Aku cuma sedang sedikit kesulitan.”
“Kesulitan bagaimana?”
Clara diam beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan.
“Aku kehabisan uang.”
Larasati langsung terdiam.
“Hah? Bukannya kamu anak orang kaya?”
“Jangan bahas itu sekarang.”
“Kamu serius?”
Clara memejamkan mata sebentar.
“Aku benar-benar tidak punya uang sekarang.”
Suara Larasati terdengar lebih lembut.
“Kamu di mana?”
“Di kontrakan.”
“Sendirian?”
“Iya.”
Larasati menghela napas panjang.
“Aku sedang di Malaysia sekarang buat urusan kerja. Kalau tidak, aku pasti datang.”
Clara menunduk pelan.
“Tidak apa-apa.”
“Tunggu sebentar. Aku transfer uang dulu.”
Mata Clara langsung membesar.
“Benarkah?”
“Iya. Kirim nomor rekeningmu.”
Wajah Clara akhirnya sedikit cerah.
“Terima kasih, Laras.”
“Kamu jangan menangis dulu seperti dunia mau kiamat.”
Clara tertawa kecil meski matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku benar-benar panik.”
“Sudah, kirim rekening sekarang.”
Clara buru-buru mengirim nomor rekeningnya. Setelah itu dia duduk gelisah sambil terus melihat layar ponsel.
Beberapa menit kemudian pesan masuk muncul.
Transfer masuk Rp30.000.000.
Clara langsung berdiri dari kasur.
“Tiga puluh juta…” gumamnya tidak percaya.
Dia hampir menangis lega.
“Laras aku sayang kamu…” katanya sambil mengetik cepat.
Larasati langsung membalas.
“Jangan berlebihan. Cepat makan yang benar.”
Clara tertawa kecil untuk pertama kalinya hari itu.
Namun masalah baru segera muncul.
Dia melihat saldo uang tunainya hampir habis dan tidak cukup untuk memesan mobil online. Bahkan memesan makanan pun harus dihitung berkali-kali.
Akhirnya Clara menatap aplikasi ojek online dengan ragu.
Selama dua puluh lima tahun hidupnya dia tidak pernah naik ojek online.
Biasanya dia selalu duduk nyaman di mobil mewah dengan sopir pribadi.
Kini hidup benar-benar sedang mempermainkannya tanpa rasa kasihan.
“Kalau ayah melihat ini pasti beliau senang,” gumam Clara kesal.
Dia akhirnya memesan ojek.
Beberapa menit kemudian seorang pengendara berhenti di depan kontrakan.
“Dengan Mbak Clara?” tanya pria itu ramah.
Clara tampak canggung.
“Iya…”
“Helmnya dipakai ya, Mbak.”
Clara menerima helm itu dengan wajah bingung. Dia bahkan kesulitan memasangnya.
Pengendara itu menahan senyum.
“Mbak belum pernah naik motor online ya?”
Clara langsung salah tingkah.
“Sudah pernah… cuma sudah lama.”
Padahal jelas bohong. Cara duduknya saja kaku seperti sedang dipaksa naik wahana ekstrem.
Perjalanan menuju ATM terasa membuat Clara tidak nyaman. Angin menerpa wajahnya sementara dia sibuk menahan keseimbangan sambil memegangi belakang motor pelan-pelan.
Begitu sampai di ATM, Clara langsung turun dengan cepat.
“Kaki saya hampir mati rasanya…” gumamnya pelan.
Dia masuk ke dalam ATM dengan wajah penuh harapan.
Tangannya bergerak cepat memasukkan kartu.
Saldo muncul.
Rp30.021.000.
Clara langsung tersenyum lebar.
“Akhirnya…”
Dia buru-buru mencoba menarik uang.
Namun layar ATM justru menampilkan tulisan transaksi gagal.
Kening Clara berkerut.
Dia mencoba lagi.
Gagal.
Sekali lagi.
Tetap gagal.
“Apa mesin ini rusak?” gumamnya kesal.
Dia mencoba mengecek saldo lagi.
Dan detik berikutnya wajah Clara langsung pucat.
Saldo rekeningnya kembali menjadi dua puluh satu ribu rupiah.
“Hah?”
Dia menatap layar ATM tanpa berkedip.
Tangannya mulai gemetar.
“Tidak… tidak mungkin…”
Dia buru-buru keluar ATM lalu menelepon Larasati.
Panggilan itu langsung diangkat.
“Kenapa?”
“Laras uangnya hilang!”
“Hilang bagaimana?”
“Tadi masuk tiga puluh juta terus sekarang lenyap!”
“Apa?”
Clara mulai panik.
“Kamu membatalkan transfernya?”
“Aku tidak mungkin membatalkan transfer!”
“Tapi uangnya hilang!”
Larasati terdengar bingung.
“Tunggu sebentar.”
Beberapa detik kemudian Larasati kembali bicara dengan nada tidak percaya.
“Clara…”
“Apa?”
“Uangnya kembali ke rekeningku.”
Clara langsung terdiam.
“Kembali?”
“Iya. Barusan ada notifikasi dana masuk lagi.”
Mata Clara mulai berkaca-kaca.
“Maksudnya apa ini…”
“Aku juga tidak mengerti.”
Clara bersandar lemah di dinding ATM.
Lalu perlahan satu pikiran mulai muncul di kepalanya.
Ayahnya.
Hanya ada satu orang yang mungkin melakukan hal seperti ini.
Dia teringat perkataan ayahnya sebelum pergi.
“Kalau kamu ingin hidup sendiri, maka hiduplah dengan kemampuanmu sendiri.”
Saat itu Clara menganggap ayahnya hanya marah sesaat.
Namun sekarang dia sadar.
Ayahnya benar-benar memutus semua jalur bantuan untuknya.
Rekening bank yang dipakainya kemungkinan sudah diatur hanya bisa menerima uang dari rekening ayahnya.
Artinya Clara tidak bisa meminta bantuan siapa pun.
Dadanya langsung terasa sesak.
Larasati masih bicara di telepon.
“Clara, kamu tidak apa-apa?”
Clara tertawa kecil pahit.
“Ayahku benar-benar keterlaluan.”
“Hah?”
“Beliau membuatku tidak bisa menerima transfer dari orang lain.”
“Apa?”
“Aku bahkan tidak bisa meminta tolong sekarang.”
Larasati terdiam cukup lama.
“Ayahmu serius sekali…”
Clara menunduk.
“Iya.”
“Kamu mau aku carikan cara lain?”
Namun Clara sudah terlalu lelah.
“Sudahlah.”
“Clara…”
“Aku tidak apa-apa.”
Padahal jelas dia tidak baik-baik saja.
Setelah panggilan berakhir Clara hanya berdiri diam di depan ATM.
Dia melihat orang-orang lalu lalang di jalan.
Semua terlihat sibuk dengan hidup masing-masing.
Sedangkan dirinya…
Bahkan untuk membeli air minum saja sekarang tidak bisa.
Dia membuka dompet perlahan.
Hanya ada beberapa lembar uang kecil.
Tidak cukup untuk bertahan lama.
Clara akhirnya berjalan meninggalkan ATM.
Dia tidak lagi memesan ojek.
Uangnya terlalu sedikit.
Langkahnya pelan menyusuri trotoar sore yang mulai ramai.
Sepatu hak tinggi yang biasa terlihat indah kini terasa menyiksa.
Beberapa kali Clara hampir kehilangan keseimbangan.
Wajahnya terlihat lelah.
Rambut sedikit berantakan terkena angin.
Dia terus berjalan tanpa tujuan jelas.
Perutnya mulai terasa sakit karena lapar.
Tenggorokannya kering.
Namun Clara bahkan takut membeli minuman karena uangnya hampir habis.
“Kenapa hidup jadi seperti ini…” bisiknya lirih.
Kakinya mulai terasa nyeri luar biasa.
Akhirnya Clara melihat sebuah bangku di depan toko kecil.
Dia duduk pelan sambil menundukkan kepala.
Matanya mulai panas.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Clara merasa benar-benar sendirian.
Tidak ada mobil mewah.
Tidak ada kartu tanpa batas.
Tidak ada teman-teman yang dulu selalu memujinya.
Yang tersisa hanya dirinya sendiri.
Air mata akhirnya jatuh perlahan.
Dia buru-buru mengusapnya namun semakin lama semakin sulit ditahan.
Beberapa menit kemudian suara seorang wanita terdengar pelan.
“Nak, kamu tidak apa-apa?”
Clara mengangkat wajahnya perlahan.
Di depannya berdiri seorang ibu sederhana dengan wajah lembut. Di sampingnya ada seorang gadis muda sekitar dua puluh tahunan.
Clara langsung menghapus air matanya cepat-cepat.
“Saya tidak apa-apa.”
Namun jelas wajahnya mengatakan sebaliknya.
Ibu itu duduk di samping Clara.
“Kamu terlihat pucat.”
Gadis di sebelahnya ikut memandang khawatir.
“Kakak sakit?”
Clara berusaha tersenyum tipis.
“Tidak…”
Namun perutnya tiba-tiba berbunyi pelan.
Wajah Clara langsung memerah malu.
Ibu itu menatapnya penuh iba.
“Kamu belum makan?”
Clara menunduk.
Entah kenapa pertanyaan sederhana itu justru membuat pertahanannya runtuh.
Air mata kembali jatuh.
“Saya haus… dan lapar…”
Suara Clara terdengar kecil dan pecah.
Ibu itu langsung menoleh pada putrinya.
“Desti, tolong belikan air sama roti dulu.”
Gadis itu langsung mengangguk.
“Iya Bu.”
Desti segera berlari kecil menuju minimarket dekat sana.
Clara langsung panik.
“Tidak usah, Bu… saya tidak enak.”
Ibu itu tersenyum lembut.
“Tidak apa-apa.”
“Tapi…”
“Kamu sedang kesulitan kan?”
Kalimat itu membuat Clara kembali diam.
Sudah lama tidak ada orang yang berbicara padanya selembut itu tanpa mengharapkan sesuatu.
Beberapa menit kemudian Desti kembali membawa air mineral dan roti.
“Nih Kak.”
Clara menerima makanan itu dengan tangan gemetar.
“Terima kasih…”
Dia membuka air mineral lalu meminumnya cepat-cepat.
Rasa lega langsung memenuhi tubuhnya.
Desti memperhatikannya sambil tersenyum kecil.
“Kakak pasti lapar sekali.”
Clara menunduk malu.
“Iya…”
Dia mulai memakan roti itu perlahan. Mungkin bagi orang lain itu hanya roti biasa.
Namun bagi Clara saat ini, itu terasa jauh lebih berharga daripada makan malam mahal di restoran hotel.
Ibu itu kemudian tersenyum ramah.
“Nama kamu siapa?”
“Clara…”
“Saya Suci.”
Ibu itu menunjuk gadis di sebelahnya.
“Kalau ini anak saya, Desti.”
Desti melambaikan tangan kecil.
“Halo Kak Clara.”
Clara langsung menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih banyak…”
Bu Suci tersenyum hangat.
“Kamu tidak perlu terlalu sungkan.”
Clara menggenggam botol airnya pelan.
“Bahkan teman-teman saya tidak peduli.”
Bu Suci memandang Clara beberapa saat sebelum bicara lembut.
“Kadang orang yang baru dikenal justru lebih tulus membantu.”
Kalimat itu membuat Clara kembali terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, Clara merasa sedikit tenang.
Di tengah dunia yang terasa sedang menolaknya, ternyata masih ada orang asing yang mau berhenti dan bertanya apakah dirinya baik-baik saja.
Dan anehnya…
Justru bantuan sederhana itulah yang membuat Clara hampir menangis lagi.