NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4 pertemuan di bawah naungan daun berdarah

Kabut pagi masih menggantung tebal menyelimuti Desa Kabut Berbisik saat Yan Xinghe melangkah keluar dari gubuknya. Udara dingin menggigit permukaan kulitnya, embun beku menempel di ujung-ujung dedaunan. Ia mengenakan pakaian perburuan tua milik ayahnya—sebuah jubah kulit serigala abu-abu yang kebesaran, menyembunyikan tubuh kurusnya yang penuh perban. Di punggungnya terikat sebilah pedang besi berkarat, senjata paling layak yang bisa ditemukan Qingshan dari tumpukan barang rongsokan.

Langkah Xinghe tenang, membelah kesunyian fajar tanpa menoleh ke belakang. Ia tahu ibu dan adiknya diam-diam menatap kepergiannya dari balik jendela kayu. Keberangkatannya adalah pertaruhan hidup dan mati. Jika ia tidak kembali membawa inti guntur sebelum senja berganti tiga kali, keluarga Gongsun pasti akan meratakan gubuk mereka menjadi abu.

Tujuannya berbaring gagah di batas cakrawala utara: Hutan Binatang Buas.

Tempat itu bukan sekadar kumpulan pohon belantara. Hutan tersebut merupakan sisa-sisa dari medan pertempuran kuno di Benua Tanah Spiritual, tempat di mana energi spiritual alam mengendap menjadi sangat liar dan buas. Pepohonan purba menjulang setinggi seratus meter menghalangi sinar matahari, menciptakan dunia bawah kanopi yang abadi dalam keremangan. Semakin dalam seseorang melangkah, semakin pekat konsentrasi energinya, dan semakin mengerikan monster yang mendiaminya.

Bagi penduduk desa, zona terluar hutan sudah cukup untuk membunuh pemburu berpengalaman. Xinghe bermaksud menembus masuk hingga perbatasan zona tengah.

Dua jam perjalanan dihabiskan untuk mendaki lereng berbatu sebelum akhirnya Xinghe berdiri di depan garis pepohonan hitam raksasa. Bau tanah basah, daun busuk, dan samar-samar aroma darah kering langsung menyergap indra penciumannya.

Xinghe memejamkan mata sejenak. Ia tidak mencoba menyerap energi spiritual—meridiannya masih terputus. Sebaliknya, ia menyebarkan indra persepsinya yang telah ditempa ribuan tahun, mencoba merasakan fluktuasi elemen di udara. Seorang Kaisar Ilahi mengenali napas alam semesta layaknya membaca garis telapak tangannya sendiri.

"Timur laut. Ada pergolakan elemen petir yang gelisah. Jaraknya sekitar tujuh mil," gumam Xinghe.

Tanpa ragu, ia melangkah masuk menembus tabir bayangan Hutan Binatang Buas.

Perjalanannya jauh dari kata mulus. Hutan ini penuh dengan predator tersembunyi. Laba-laba Sutra Beracun seukuran anjing bergelantungan di dahan gelap. Ular Sisik Besi bersembunyi di balik tumpukan daun mati. Mengandalkan tubuh fisiknya yang baru menyentuh batas Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Pertama, satu gigitan kecil saja sudah cukup untuk mengakhiri perjalanannya.

Kecerdasan menutupi kelemahan otot. Setiap kali Xinghe melangkah, rutenya terlihat zig-zag dan tidak beraturan. Ia menggunakan sisa-sisa bubuk obat penolak serangga racikannya, mengusapkannya ke pohon-pohon tertentu untuk mengacaukan penciuman monster. Ia memanfaatkan pola aliran angin untuk menyembunyikan suara detak jantungnya. Ini adalah *Jejak Hantu Tanpa Suara*, sebuah teknik dasar penyembunyian diri yang efektif memanipulasi lingkungan sekitar.

Dua jam menyusuri kedalaman hutan tanpa memicu satu pertarungan pun. Xinghe tiba di sebuah dataran rendah yang dipenuhi bebatuan hangus. Udara di tempat ini terasa kering dan menyengat. Bulu roma di lengannya merinding. Ini adalah area berburu makhluk berelemen guntur.

Tepat saat ia berniat memanjat pohon beringin raksasa untuk memantau situasi, suara dentuman keras mengguncang tanah di bawah kakinya.

*BUM! KRAAAK!*

Sebatang pohon purba berdiameter tiga pelukan orang dewasa tumbang berhamburan, patah menjadi dua akibat hantaman energi yang mengerikan. Kilatan cahaya ungu terang membelah keremangan hutan, disusul oleh raungan buas yang memekakkan telinga.

Ada pertarungan tingkat tinggi yang sedang berlangsung tidak jauh dari posisinya.

Xinghe mempercepat langkahnya, melompat ringan dari satu akar ke akar lain tanpa menimbulkan suara, hingga ia mencapai tepian sebuah tebing kecil yang menghadap ke area terbuka. Matanya menyipit mengamati kekacauan di bawah sana.

Seekor monster berbentuk macan kumbang raksasa dengan dua ekor menyerupai cambuk berduri tengah mengamuk. Tubuhnya diselimuti percikan petir ungu yang berderak ganas. Ini adalah Macan Tutul Guntur Bayangan, monster spiritual yang kekuatannya setara dengan manusia di Alam Pembukaan Meridian Tingkat Ketiga! Monster tingkat ini seharusnya tidak berada sedekat ini dengan zona luar.

Lebih mengejutkan lagi, makhluk buas itu sedang dikepung oleh sekelompok manusia.

Kondisi kelompok tersebut sangat mengenaskan. Lima orang pria berpakaian pelindung kulit tebal telah terkapar bersimbah darah, tubuh mereka hangus tersambar petir. Kini, hanya tersisa dua orang yang masih berdiri bertahan menahan gempuran sang monster. Keduanya adalah wanita.

Wanita pertama berdiri di garis depan, memegang sepasang pedang pendek melengkung. Usianya sekitar pertengahan dua puluhan, mengenakan zirah ringan berwarna perak yang telah robek di beberapa bagian. Rambut cokelatnya diikat tinggi, wajahnya tegas dipenuhi peluh dan noda darah. Energi elemen tanah berwarna kuning tanah memancar dari tubuhnya, membentuk perisai transparan untuk menahan cakar petir si macan tutul. Dia berada di Puncak Alam Penyempurnaan Tubuh Tingkat Kesembilan.

"Nona Lin, mundurlah! Monster ini sudah bermutasi! Kultivasinya menembus batas pembukaan meridian, formasi kita tidak akan sanggup menahannya lebih lama!" teriak wanita itu, suaranya serak menahan rasa sakit.

Wanita kedua, yang dipanggil Nona Lin, berada beberapa langkah di belakang. Usianya sepantaran dengan Qingshan, sekitar delapan belas tahun. Penampilannya sangat kontras dengan lingkungan hutan yang kotor. Ia mengenakan gaun panjang berwarna biru es yang dirancang khusus untuk pertarungan. Wajahnya luar biasa cantik, sedingin pahatan es abadi, memancarkan aura aristokrat yang sangat kental. Di tangannya tergenggam sebuah pedang tipis bermata lentur yang memancarkan hawa dingin menusuk.

"Kita tidak bisa mundur, Saudari Hua! Bunga Teratai Darah yang dijaga monster ini adalah satu-satunya obat penawar untuk mengobati penyakit ayahku. Paviliun Awan Putih tidak akan menyerah pada seekor binatang buas!" Nona Lin menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia memusatkan energi spiritualnya, menciptakan puluhan jarum es di udara, lalu menembakkannya secara serempak ke arah Macan Tutul Guntur Bayangan.

*Trang! Trang! Trang!*

Jarum-jarum es itu hancur berkeping-keping begitu menyentuh lapisan aura petir di sekitar tubuh monster tersebut. Perbedaan tingkat kekuatan antara Alam Penyempurnaan Tubuh dan Alam Pembukaan Meridian bagaikan jurang pemisah antara langit dan bumi. Energi fana tidak bisa menembus perisai energi spiritual murni.

Macan tutul itu mengaum marah. Mata ungunya yang bengis mengunci sosok Nona Lin. Dengan satu tolakan kaki belakangnya yang kuat, monster itu melesat melampaui kecepatan suara, meninggalkan bayangan kabur di udara.

"Tidakkk!" Hua Qingying menjerit panik. Ia memaksakan diri melompat ke depan lintasan monster itu, menyilangkan kedua pedang pendeknya untuk membentuk perisai pertahanan absolut.

*BENTURAN KERAS!*

Cakar macan tutul yang dialiri petir ungu menghantam pedang silang Hua Qingying. Baja berkualitas tinggi itu hancur berkeping-keping. Tubuh Hua Qingying terlempar ke udara layaknya boneka kain putus benang, memuntahkan darah segar sebelum menabrak batang pohon dengan keras. Ia jatuh terkulai tak sadarkan diri.

"Saudari Hua!" Jeritan pilu lolos dari bibir Lin Muxue. Pertahanan terakhirnya hancur.

Monster itu tidak berhenti. Berpijak pada tanah yang retak, ia kembali menerjang ke arah Lin Muxue, membuka rahang besarnya yang dipenuhi taring beracun. Hawa kematian menyelimuti gadis pewaris Paviliun Awan Putih tersebut. Ia menutup matanya, menanti maut menjemput, menyadari bahwa arogansinya membawa rombongan kecil ke tempat ini berujung pada kebinasaan.

*Syuuut!*

Sebuah suara siulan tajam membelah udara. Bukan berasal dari arah sang monster, melainkan dari atas tebing bayangan.

Sebiji batu kerikil meluncur dengan kecepatan mengerikan, memutar udara di sekelilingnya membentuk bor mini yang tak kasat mata. Batu itu tidak diarahkan pada kepala atau jantung monster—batu biasa akan hancur menjadi debu jika membentur perisai petir tersebut. Sasaran batu itu adalah persendian lutut kaki belakang kanan si macan tutul, sepersekian detik sebelum kakinya menapak tanah untuk memberikan tolakan akhir.

*Krak!*

Titik keseimbangan adalah kelemahan mutlak setiap makhluk hidup. Kerikil itu menghantam tepat di urat simpul saraf saat otot berada dalam ketegangan maksimal. Macan Tutul Guntur Bayangan melolong kesakitan. Kakinya terlipat secara tidak wajar. Momentum terjangannya hancur berantakan. Tubuh raksasanya terhuyung keras ke samping, cakar mautnya menyapu angin hanya beberapa inci dari wajah Lin Muxue, menghancurkan bebatuan di sebelah gadis itu.

Lin Muxue membuka matanya dengan napas memburu. Kematian baru saja melewatinya. Sebelum ia sempat memproses apa yang terjadi, sebuah suara datar dan dingin bergema dari atas tebing, menembus derak suara petir.

"Serang tiga inci di bawah pangkal telinga kirinya! Tembus sisik terbaliknya saat ia menghela napas panjang!"

Insting bertahan hidup Lin Muxue mengambil alih pikirannya. Ia tidak tahu siapa yang memberinya perintah, keakuratannya tidak bisa dipertanyakan. Macan tutul itu sedang berusaha bangkit, kepalanya miring ke kanan menahan sakit di kakinya, mengekspos leher bagian kirinya. Monster itu mengambil napas panjang untuk melepaskan auman kemarahan.

Saat dada monster itu mengembang, sebuah celah kecil seukuran koin muncul di antara sisik pelindungnya tepat di bawah telinga.

"Seni Pedang Awan Putih: Kilatan Embun Beku!"

Lin Muxue tidak menyia-nyiakan kesempatan sepersekian detik itu. Ia mengerahkan seratus dua puluh persen energi terakhirnya. Pedang tipisnya melesat bagai sinar laser biru, menembus akurat ke dalam celah kecil tersebut. Pedang itu menembus lurus hingga memotong urat nadi utama dan mengoyak saraf pusat otak sang monster.

Macan Tutul Guntur Bayangan menegang kaku. Aumannya tertahan di tenggorokan. Cahaya ungu di tubuhnya berkedip liar sebelum akhirnya padam sepenuhnya. Makhluk mengerikan itu ambruk berdebum ke tanah, mati seketika.

Lin Muxue mencabut pedangnya dengan tangan gemetar. Lututnya lemas, ia jatuh terduduk di tanah bersimbah darah monster. Dadanya naik turun drastis, mencoba mencerna fakta bahwa ia masih bernapas.

"Kecepatan reaksimu lumayan, wawasan bertarungmu sampah. Menggunakan elemen es untuk menyerang langsung perisai petir adalah bunuh diri. Kau beruntung nyawamu masih utuh."

Kritikan tajam itu membuat Lin Muxue segera mendongak. Di atas bongkahan batu besar, berdiri sesosok pemuda kurus berbalut jubah kulit kebesaran. Pakaiannya lusuh, wajahnya pucat. Tidak ada fluktuasi energi spiritual kuat yang memancar dari tubuhnya. Di mata Lin Muxue, pemuda ini bahkan tidak terlihat seperti seorang kultivator, lebih mirip pengemis dari desa antah berantah.

Pemuda itu melompat turun dari batu besar. Kakinya mendarat dengan ringan nyaris tanpa suara. Xinghe berjalan santai mendekati bangkai macan tutul, sama sekali tidak mempedulikan kewaspadaan yang mulai muncul di mata gadis cantik tersebut.

"Siapa kau?!" seru Lin Muxue, menodongkan ujung pedangnya ke arah Xinghe. Rasa terima kasihnya tertahan oleh kecurigaan. Bagaimana mungkin seorang pemuda desa fana mampu membaca kelemahan monster tingkat meridian dengan begitu presisi?

Xinghe sama sekali tidak melirik pedang yang menodong hidungnya. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada perut bangkai macan tutul tersebut. "Simpan mainanmu itu, Nona. Tanganmu masih gemetar, kau bahkan tidak punya cukup tenaga untuk memotong tahu saat ini."

Ia mencabut pedang besi berkarat dari punggungnya. Dengan gerakan presisi ahli bedah, Xinghe menusukkan ujung pedangnya ke titik tengah perut monster, membelahnya dengan sayatan bersih tanpa merusak organ lain. Tangan kirinya masuk ke dalam rongga perut berdarah tersebut, menarik keluar sebuah kristal bundar seukuran telur angsa yang bersinar memancarkan kilatan petir liar.

Inti Monster Guntur Tingkat Ketiga. Harta karun utama yang menjadi incaran Xinghe.

"Berhenti!"

Sebuah suara serak menghentikan pergerakan Xinghe. Hua Qingying, yang baru saja tersadar dari pingsannya, memaksakan diri berdiri menahan rasa sakit di tulang rusuknya. Ia menodongkan sisa patahan pedang pendeknya ke arah Xinghe. Matanya menyala penuh ancaman.

"Letakkan inti monster itu, Bocah. Macan Tutul itu dibunuh oleh pedang Nona Lin. Bangkai dan segala isinya adalah milik Paviliun Awan Putih. Cobalah mencurinya, dan kau akan keluar dari hutan ini tanpa nyawa."

Xinghe perlahan membalikkan badannya. Ia menggenggam inti petir yang masih berdenyut panas di tangan kirinya. Matanya, yang gelap dan dalam bagai jurang tak berdasar, menatap langsung ke arah Hua Qingying.

Ada kedinginan mutlak dalam tatapan itu yang membuat Hua Qingying menelan ludah paksa. Sebagai seniman bela diri veteran, ia telah bertemu banyak pembunuh bayaran, orang ini terasa berbeda. Hawa yang dipancarkannya bukanlah niat membunuh liar, melainkan dominasi tirani yang menganggap nyawa makhluk lain tidak lebih dari debu di bawah sol sepatunya.

"Paviliun Awan Putih?" Xinghe mengulang nama itu dengan nada mendengus pelan, mengingat Tabib Lu Chen juga menyebutkan nama pesaingnya ini tempo hari. "Kau mengklaim bangkai ini karena pedang nonamu yang memberikan pukulan terakhir. Bagus. Jika begitu, mari kita ulangi situasinya. Taruh kembali inti ini ke dalam perutnya, aku akan menarik kembali batu yang menghancurkan persendiannya, dan kita lihat apakah kalian berdua bisa bertahan hidup lebih dari sepuluh tarikan napas."

Kata-kata itu membungkam Hua Qingying. Wajahnya memerah menahan amarah dan rasa malu. Kesombongannya hancur oleh logika absolut tersebut. Memang benar, tanpa intervensi pemuda misterius ini, mereka semua sudah menjadi santapan monster itu.

Lin Muxue menekan bahu Hua Qingying, menyuruh pelindungnya itu menurunkan senjata. Gadis itu menatap Xinghe dengan pandangan kompleks. Rasa angkuh sebagai putri bangsawan pedagang obat berbenturan dengan fakta bahwa ia berhutang nyawa pada pemuda dekil ini.

"Saudari Hua, turunkan senjatamu. Dia benar," ucap Lin Muxue pelan. Ia lalu menoleh pada Xinghe, memperbaiki postur berdirinya untuk menjaga martabat. "Aku Lin Muxue, pewaris Paviliun Awan Putih dari Kota Awan Mengambang. Kami datang ke zona ini murni untuk mencari Bunga Teratai Darah yang tumbuh di balik batu itu. Inti monster itu memiliki harga ribuan koin emas, nilai yang sangat besar. Jika kau mengambilnya, anggap itu sebagai pembayaran atas utang nyawa kami. Transaksi selesai."

"Pilihan yang cerdas, Nona Lin," sahut Xinghe santai. Ia membersihkan sisa darah dari inti guntur itu menggunakan ujung jubahnya, lalu menyimpannya ke dalam kantong kulit di pinggangnya. "Kalian boleh mengambil kulit, taring, dan tulang macan tutul ini. Nilainya di pasar gelap cukup untuk menutupi biaya pemakaman pengawal kalian yang tewas."

Sikap dingin dan perhitungan matematis Xinghe membuat Lin Muxue merasa tidak nyaman. "Kau... tidak menginginkan hadiah lain? Jika kau ikut kami kembali ke Kota Awan Mengambang, aku bisa merekrutmu sebagai ahli taktik di paviliunku. Gajinya cukup untuk membuat keluargamu hidup mewah seumur hidup."

Mata Xinghe melirik sekilas ke arah Lin Muxue. Bagi pemuda biasa, tawaran ini adalah tangga emas menuju surga. Berada di dekat gadis cantik, mendapat kekayaan, dan perlindungan faksi kuat. Sayangnya, orang yang berdiri di hadapannya adalah mantan Kaisar Pedang. Surga fana tidak memiliki arti di matanya.

"Kau terlalu memandang tinggi dirimu dan paviliunmu, Nona. Jalan yang ku tempuh tidak bisa diwadahi oleh sekte atau keluarga pedagang mana pun di benua sempit ini. Ambil bunga terataimu dan cepatlah tinggalkan tempat ini. Bau darah monster tingkat tiga akan segera memancing predator yang jauh lebih menakutkan," ucap Xinghe, membalikkan badannya bersiap pergi.

Tepat saat ia mengambil langkah pertama, suara tepuk tangan pelan namun menggema terdengar dari balik rimbunnya pepohonan di sisi barat tebing.

"Luar biasa. Pertunjukan yang sangat menghibur. Tidak kusangka putri kebanggaan Paviliun Awan Putih harus diselamatkan oleh seorang pengemis jalanan."

Dari balik bayangan, muncul sekelompok pria berpakaian serba hitam dengan corak tengkorak perak di bagian dada. Pemimpin mereka adalah seorang pria paruh baya dengan wajah pucat menyerupai mayat, memegang kipas lipat terbuat dari bulu gagak. Auranya sangat gelap dan menekan, menandakan ia berada di tahap awal Alam Pembukaan Meridian!

Melihat lambang di dada pria itu, wajah Lin Muxue dan Hua Qingying berubah menjadi seputih kertas.

"Sekte Bayangan Tengkorak!" desis Hua Qingying, keputusasaan kembali menyelimuti hatinya. "Mo Jue... apa yang dilakukan Tetua Sekte aliran sesat di Hutan Binatang Buas?"

Pria bernama Mo Jue itu tersenyum tipis, memperlihatkan gigi-giginya yang kekuningan. "Tentu saja untuk mengikuti rombonganmu, keponakan Lin. Ayahmu menolak menjual resep pil perpanjangan umur pada sekte kami. Kematian tragis putri satu-satunya di rahang monster Hutan Binatang Buas pasti akan membuatnya mengubah pikiran, bukan begitu?"

Mo Jue melirik sekilas ke arah bangkai macan tutul, lalu menatap tajam ke arah Xinghe. "Rencana awalku adalah membiarkan monster ini membereskan kalian, lalu memungut barang-barang berharga setelahnya. Kehadiran tikus kecil ini merusak skenarioku. Serahkan inti monster itu padaku, potong lidahmu sendiri, dan aku akan mempertimbangkan membiarkan mayatmu tetap utuh."

Suasana seketika membeku. Ancaman kematian kembali mencengkeram area berdarah tersebut. Lin Muxue menggenggam erat gagang pedangnya, mempersiapkan diri untuk pertarungan terakhir. Jika tertangkap oleh sekte aliran sesat, nasibnya akan jauh lebih buruk daripada sekadar dicabik monster.

"Kau pemuda yang di sana," panggil Lin Muxue pada Xinghe, nadanya penuh urgensi. "Lari! Kembalilah ke desamu. Mo Jue adalah kultivator Alam Meridian. Trik melempar batumu tidak akan bekerja padanya. Biar aku dan Saudari Hua menahannya sebentar."

Tawaran heroik dari seorang gadis fana yang rela mengorbankan nyawa demi orang asing membuat Xinghe menghela napas panjang. Ia menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya kembali menghadap para pendatang baru tersebut. Tangannya perlahan meraba kantong kulit yang berisi inti guntur.

"Lari?" Xinghe mengulang kata itu perlahan. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Mo Jue. Aura dominasi yang sedari tadi disembunyikannya tiba-tiba meledak keluar bagai letusan gunung berapi tak kasat mata. Bukan ledakan energi spiritual, melainkan ledakan *Niat Pedang* murni.

Udara di sekitar Xinghe seketika menjadi sangat dingin dan tajam. Daun-daun kering yang berjatuhan di dekatnya terbelah menjadi dua di udara sebelum menyentuh tanah.

Mo Jue menghentikan tawa meremehkannya. Firasat buruk mendadak mencengkeram lehernya. Ia tidak bisa merasakan energi kultivasi dari pemuda itu, getaran jiwa yang memancar darinya membuat Mo Jue merasa sedang ditatap oleh dewa kematian kuno.

"Aku sedang terburu-buru untuk menyambung meridianku. Aku tidak punya waktu bermain-main dengan cecunguk sekte rendahan," suara Xinghe menggema, datar dan membawa ketegasan mutlak.

Ia tidak mencabut pedang karatan di punggungnya. Sebagai gantinya, Xinghe mengambil langkah mantap mendekati Mo Jue. Setiap langkahnya terdengar seirama dengan detak jantung bumi, menekan mental lawan.

"Kau mencari mati!" Mo Jue meraung, mencoba mengusir rasa takut irasional yang menyergapnya. Ia mengibaskan kipas bulu gagaknya, melepaskan tiga bilah pisau bayangan yang terbuat dari energi spiritual gelap, melesat membidik titik vital Xinghe.

Xinghe tidak menghindar. Ia tahu fisiknya tidak akan cukup cepat. Tepat sebelum pisau bayangan itu menembus tubuhnya, Xinghe mengeluarkan sebuah koin tembaga berkarat dari sakunya. Ia menjentikkan koin itu ke udara dengan sudut lemparan yang sangat ganjil.

*Cling!*

Koin tembaga itu berbenturan dengan lintasan angin yang membawa pisau bayangan pertama. Benturan itu menghasilkan riak pusaran kecil yang membelokkan arah energi mematikan tersebut. Pisau pertama melenceng, menabrak pisau kedua, menciptakan reaksi berantai yang menghancurkan ketiga serangan mematikan Mo Jue sebelum menyentuh pakaian Xinghe.

Sebuah pemahaman hukum fisika dan aliran energi tingkat dewa, diaplikasikan murni menggunakan kekuatan mekanik sepeser koin.

Mata Mo Jue membelalak ngeri. Ini bukan sihir pelindung, ini adalah penguasaan absolut atas ruang dan lintasan. Sebelum ia bisa memanggil serangan berikutnya, Xinghe telah memangkas jarak hingga tersisa lima langkah.

Dengan gerakan mengalir seperti air, Xinghe merendahkan postur tubuhnya, mencabut pedang karatan dari punggungnya, dan melancarkan tebasan horizontal.

Tidak ada kilatan energi cahaya. Tidak ada suara ledakan yang menggelegar. Hanya ada satu ayunan pedang besi yang tumpul.

Akan tetapi, tebasan itu mengandung *Puncak Niat Pemutus Batas*. Fokus tebasan itu bukanlah memotong daging, melainkan memotong simpul energi spiritual yang mengikat formasi pertahanan di tubuh Mo Jue.

*Traas!*

Suara robekan kain yang pelan terdengar. Mo Jue berdiri mematung. Angin hutan bertiup, menerbangkan ujung rambutnya. Kipas bulu gagak di tangannya terbelah menjadi dua bagian. Perlahan, garis merah tipis muncul membelah dada hingga perut pria paruh baya itu. Perisai energi spiritual Alam Meridiannya robek layaknya selembar kertas basah, tak mampu menahan ketajaman konsep ruang yang diayunkan Xinghe.

Darah menyembur deras. Mo Jue jatuh berlutut, wajahnya dipenuhi kengerian dan kebingungan tak terbatas, sebelum akhirnya tubuhnya roboh ke tanah tak bernyawa. Satu tebasan tanpa tenaga spiritual membunuh seorang master sekte.

Keempat pengikut Mo Jue menjerit histeris. Nyali mereka pecah berkeping-keping. Mereka membuang senjata dan lari terbirit-birit ke dalam hutan, meratap layaknya babi yang disembelih.

Xinghe mengibaskan darah dari pedang karatannya, lalu memasukkannya kembali ke sarungnya dengan satu gerakan mulus. Ia menoleh sedikit ke arah Lin Muxue dan Hua Qingying yang mematung layaknya patung batu, otak mereka gagal memproses mukjizat yang baru saja terpampang di depan mata.

"Area ini akan segera dibanjiri monster pemakan bangkai. Jika kalian masih menyayangi nyawa, pungut bunga itu dan lari ke arah tenggara mengikuti aliran sungai dangkal. Jalur itu bebas dari monster tingkat dua," instruksi Xinghe memecah keheningan.

Tanpa menunggu balasan, Xinghe melompat masuk ke dalam rimbunnya hutan di arah utara, menghilang ditelan bayangan pepohonan raksasa. Ia harus menemukan gua tertutup untuk memulai proses asimilasi yang menyiksa. Inti Guntur telah di tangan, waktunya membangun ulang fondasi menuju puncak takhta abadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!