Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Ke Yogya
Gue akhirnya mutusin buat nggak serius sama siapa pun dulu. Tekanan dari Sinta makin hari makin bikin kepala gue mumet. Hampir tiap hari dia ngomongin nikah, tanggung jawab, masa depan anak yang lagi dia kandung. Sementara gue sendiri masih belum bisa nerima semua keadaan itu sepenuhnya.
Beberapa kali gue nyoba cari jalan tengah. Yang penting semuanya aman tanpa harus bikin hidup gue makin ribet.
Sempat kepikiran soal kawin kontrak. Nikah resmi, tapi ada perjanjian hitam di atas putih soal harta, hak asuh, dan batas waktu. Kedengarannya simpel. Tapi makin dipikir malah makin bikin pusing.
Risikonya kebanyakan.
Akhirnya gue ngomong terus terang ke Sinta.
“Udah, lah. Fokus lahirin dulu aja. Nanti kita cari solusi pelan-pelan. Cari cowok yang memang siap nikahin lu dan ngakuin anak itu. Gue nggak mau buru-buru ambil keputusan.
Sinta langsung nangis.
Tapi kali ini gue udah terlalu capek buat debat panjang.
Jujur aja, belakangan tiap ngobrol sama dia rasanya kayak lagi diinterogasi. Gue jadi makin males pulang, makin males angkat telepon.
Untungnya beberapa hari kemudian kantor ngasih gue tugas ke Yogya. Cabang sana katanya lagi kacau. Ada masalah manajemen dan perlu evaluasi langsung dari pusat.
Tanpa pikir panjang gue ambil tugas itu.
Lumayan buat kabur sebentar dari semua tekanan di Jakarta.
Malam itu gue naik kereta dari Gambir. Gerbong lumayan penuh. Orang lalu-lalang sambil bawa koper, suara anak kecil nangis, aroma kopi instan bercampur AC dingin khas kereta malam.
Gue akhirnya duduk sesuai nomor kursi.
Baru aja naro tas, gue langsung bengong.
“Lah… lu?”
Cewek di sebelah gue noleh terus ketawa kecil.
“Eh, seriusan lu?”
Poppy.
Temennya Nina yang dulu pernah beberapa kali nongkrong bareng.
Rambutnya sekarang lebih pendek sebahu, tapi mukanya masih sama. Manis dan rame.
“Ke Yogya juga?” tanyanya.
“Iya. Tugas kantor.”
“Wah cocok. Gue pulang juga.”
Sepanjang perjalanan gue hampir nggak tidur. Bukan karena kursinya sempit, tapi karena Poppy cerewetnya nggak ada obat.
Dia cerita soal hidupnya sekarang. Ternyata dia udah jadi janda hampir dua tahun. Tinggal di Kaliurang sama ibunya dan anak perempuannya yang namanya Pipit.
“Capek juga hidup sendiri,” katanya sambil nyender santai. “Tapi ya udah dijalanin aja.”
Gue cuma ketawa kecil sambil dengerin.
Anehnya, ngobrol sama Poppy tuh nyaman. Nggak bikin kepala berat kayak tiap ngobrol sama Sinta.
Pas kereta mulai masuk Yogya, dia tiba-tiba nanya, “Lu nginep mana?”
“Belum tau. Paling cari hotel deket kantor.”
“Ngapain hotel? Di rumah gue aja.”
“Hah?”
“Serius. Di belakang rumah ada kamar buat kos harian. Kosong kok. Daripada lu ribet.”
Gue sempat mikir bentar.
Tapi karena emang males cari hotel, akhirnya gue iyain.
Dari Stasiun Tugu kami naik taksi ke Kaliurang. Udara Yogya pagi itu adem banget. Beda jauh sama Jakarta yang sumpek.
Rumah Poppy lumayan gede. Rumah lama model joglo sederhana dengan halaman luas. Di belakang ada beberapa kamar tambahan buat disewain harian.
Begitu masuk, gue langsung disambut anak kecil lari nyamperin.
“Mamaaa!”
Poppy ketawa.
“Nih, kenalin. Ini Pipit.”
Anaknya langsung natap gue penasaran.
“Om siapa?”
“Temen Mama.”
Pipit malah langsung nyodorin tangan kecilnya buat salaman.
Lucu banget.
Ibunya Poppy juga ramah. Meski udah tua, mukanya masih keliatan hangat.
“Silakan anggap rumah sendiri ya, Mas,” katanya.
Hari pertama di Yogya rasanya tenang banget.
Nggak ada telepon dari Sinta.
Nggak ada drama.
Nggak ada tuntutan.
Malamnya gue duduk di teras sama Poppy sambil minum teh panas. Pipit udah tidur duluan.
Angin Kaliurang dingin pelan-pelan.
“Lu keliatan capek,” kata Poppy tiba-tiba
“Muka gue separah itu?”
“Iya.”
Gue ketawa kecil.
Entah kenapa gue malah jadi cerita banyak malam itu. Soal kerjaan, soal Jakarta, soal hidup yang makin lama makin ribet.
Poppy cuma dengerin.
Kadang orang yang paling nyaman justru bukan yang paling dekat, tapi yang nggak banyak nuntut.
Besoknya kami pergi ke Malioboro sama Pipit. Anak kecil itu heboh sendiri lihat jalanan rame.
Dia gandeng tangan gue sambil loncat-loncat kecil.
“Om, beli es krim yuk!”
“Baru juga jalan lima menit.”
“Tapi Pipit haus.”
Poppy cuma ngakak lihat gue mulai kewalahan.
Anehnya, beberapa orang sempat ngira kami keluarga.
“Anaknya lucu ya, Pak.”
“Mirip Mamanya.”
Poppy langsung salah tingkah sambil senyum kecil.
Gue cuma pura-pura nggak denger.
Malamnya habis makan gudeg, Pipit ketiduran di pundak gue waktu perjalanan pulang.
“Biar gue aja,” kata Poppy.
“Nggak usah. Ringan ini.”
Gue gendong dia sampai rumah.
Momen kecil kayak gitu anehnya bikin hati gue hangat.
Udah lama gue nggak ngerasain suasana rumah yang tenang.
Setelah Pipit tidur, gue balik ke kamar kos belakang.
Beberapa menit kemudian pintu diketuk pelan.
Poppy masuk sambil bawa teh.
“Belum tidur?”
“Belum ngantuk.”
Dia duduk di samping gue.
Awalnya cuma ngobrol biasa. Tapi makin malam suasananya berubah jadi canggung.
Tatapan Poppy beda.
Lebih lembut.
Lebih lama.
Sampai akhirnya dia pelan-pelan nyender ke bahu gue.
“Gue kesepian,” bisiknya pelan.
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa kerasa berat.
Gue noleh, dan tanpa banyak ngomong kami akhirnya saling dekat malam itu.
Nggak ada permainan.
Nggak ada drama.
Cuma dua orang dewasa yang sama-sama capek sama hidup.
Pagi harinya gue kebangun gara-gara suara ketukan kecil di pintu.
“Om… bangun…”
Suara Pipit.
Gue buru-buru buka pintu sambil masih setengah sadar.
Anak kecil itu langsung nyengir.
“Kita jalan lagi yuk!”
“Pagi-pagi banget?”
“Iyaaa!”
Energinya nggak habis-habis.
Sejak hari itu Pipit jadi lengket banget sama gue. Tiap gue pulang kerja dia pasti lari nyamperin duluan.
Hari pertama masuk kantor Yogya juga ternyata jauh lebih santai dibanding Jakarta.
Kantornya nggak besar. Karyawannya cuma belasan orang.
Karena posisi kepala cabang kosong, otomatis semua koordinasi langsung ke gue.
Dan di situlah gue kenal Nada.
Sekretaris sekaligus admin kantor.
Cantik.
Tinggi.
Rapi.
Dan senyumnya manis banget.
“Selamat pagi, Pak. Saya Nada.”
Cara ngomongnya sopan, tapi santai.
Hari pertama aja dia udah banyak bantu gue beresin data cabang yang berantakan.
“Kalau ada yang kurang tinggal bilang aja, Pak,” katanya sambil senyum.
Gue mulai sadar satu hal.
Yogya ini terlalu nyaman.
Setiap pulang kerja ada Pipit yang nyambut.
Ada Poppy yang nemenin ngobrol.
Di kantor ada Nada yang selalu bikin suasana adem.
Sementara Jakarta cuma penuh tekanan.
Malam itu habis makan malam, Pipit duduk di pangkuan gue sambil nonton kartun.
Tiba-tiba dia ngomong polos.
“Om…”
“Hm?”
“Om nikahin Mama aja.”
Gue hampir keselek minum.
Poppy yang lagi di dapur langsung diem.
“Pipit!” katanya malu.
“Tapi Pipit pengen punya Ayah…”
Anak kecil itu natap gue serius banget.
“Om baik.”
Ruangan langsung hening beberapa detik.
Ibunya Poppy cuma senyum kecil sambil pura-pura sibuk sendiri.
Gue akhirnya ngusap kepala Pipit pelan.
“Nanti kita pikirin ya.”
“Janji?”
“Nggak boleh maksa.”
Pipit manyun.
Malamnya, waktu suasana udah sepi, Poppy masuk lagi ke kamar gue.
Kali ini dia keliatan beda.
Lebih berani.
Lebih terbuka.
Dia duduk di samping gue sambil narik napas panjang.
“Maaf ya soal Pipit.”
“Nggak apa-apa.”
“Dia emang gampang sayang sama orang.”
Gue diem.
Karena jujur aja, gue juga mulai nyaman sama mereka.
Dan itu justru yang bikin bahaya.
“Lu serius nggak sama gue?” tanya Poppy akhirnya.
Pertanyaan itu bikin gue langsung pusing lagi.
Bayangan Sinta muncul.
Kerjaan muncul.
Semua masalah muncul lagi.
Gue ngusap muka pelan.
“Gue belum bisa jawab sekarang.”
Poppy tersenyum tipis meski jelas ada kecewa di matanya.
“Setidaknya lu jujur.”
Malam itu dia tidur di samping gue sampai subuh sebelum balik ke kamar utama.
Hari ketiga di Yogya, hubungan gue sama Nada di kantor juga makin cair.
Kami sering ngobrol sambil lembur berdua.
Dia pintar, cepat nangkep kerjaan, dan enak diajak diskusi.
“Kalau Bapak jadi pindah ke Yogya, kantor bakal lebih stabil,” katanya sore itu.
“Lu yakin?”
“Minimal saya nggak stres sendirian lagi.”
Kami ketawa bareng.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama, gue ngerasa hidup gue agak ringan.
Tapi masalahnya, makin nyaman gue di Yogya, makin banyak juga hal yang mulai narik gue ke arah berbeda.
Ada Sinta di Jakarta yang terus nuntut kepastian.
Ada Poppy yang diam-diam berharap gue jadi bagian keluarganya.
Ada Pipit yang polos banget sampai bikin gue nggak tega.
Dan sekarang ada Nada… yang entah kenapa mulai sering muncul di pikiran gue.
Sore itu waktu gue pulang, Pipit langsung meluk kaki gue erat.
“Om jangan balik Jakarta ya.”
Gue jongkok depan dia.
“Kenapa?”
“Karena rumah jadi rame kalau Om ada.”
Kalimat sederhana dari anak kecil itu malah bikin dada gue sesak.
Poppy berdiri di belakang sambil ngeliatin gue pelan.
Tatapannya hangat.
Tapi penuh harap.
Dan gue?
Gue masih sama.
Masih bingung.
Masih takut.
Masih belum mau serius sama siapa pun.
Setidaknya… buat sekarang.
btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍