NovelToon NovelToon
The Aftermath

The Aftermath

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.

Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.

Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.

Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.

Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.

Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.

_🌷_

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

Salju tipis mulai turun membasahi jalanan berbatu di Manhattan, melapisi lampu-lampu kota New York yang berkilauan dari balik jendela kaca besar griya tawang berlantai dua milik dinasti Osborn.

Di luar, hawa sedingin es menusuk tulang, namun di dalam salah satu kamar utama di lantai atas, atmosfer terasa pekat, panas, dan memabukkan.

Aroma sampanye mahal dan wangi mawar merah sisa dekorasi pesta pernikahan masih menguar kuat di udara.

Adiba Abbey berbaring di atas hamparan seprai sutra abu-abu, napasnya memburu berantakan. Jantungnya bertalu hebat di dalam rongga dada, mengirimkan gelombang panas yang membakar setiap jengkal kulitnya.

Di atasnya, siluet seorang pria bergerak dengan dominasi yang mutlak. Kamar itu sengaja dibiarkan remang, hanya diterangi oleh bias cahaya kota New York yang menembus tirai tipis.

Dalam keremangan itu, Adiba kehilangan seluruh akal sehatnya. Dia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam sentuhan-sentuhan intens yang diberikan sang pria.

Malam ini adalah malam pertamanya, malam yang seharusnya menjadi pembuka lembaran baru setelah beberapa jam lalu dia mengucapkan sumpah setia di altar pernikahan yang megah.

Pria di atasnya begitu menuntut, menjamah tubuhnya dengan keliaran yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, namun rasa cinta yang membuncah membuat Adiba menyerahkan seluruh kendali dirinya.

Sentuhan itu kian memanas, menuntut penyatuan yang lebih dalam. Ketika gesekan kulit mereka mencapai puncaknya, rasa nikmat yang intens menghantam mereka berdua.

Adiba mengerang pelan, kedua tangannya bergerak naik, mencengkeram punggung kokoh pria itu dengan kuat.

Kuku-kukunya sedikit menekan kulit punggung sang pria, menyalurkan sensasi perih yang justru membakar gairah. Tidak hanya itu, dalam puncak gelora yang tak tertahankan, Adiba melingkarkan kedua kakinya erat-erat di pinggang pria itu, mengunci tubuh mereka dalam penyatuan yang begitu sinkron dan organik.

Desahan demi desahan bersahut-sahutan di dalam keheningan kamar yang mewah. Pria itu bergerak semakin cepat, membawa mereka berdua menuju tepi jurang pelepasan.

Adiba bisa merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang di dadanya, mencium aroma tubuhnya yang maskulin, hingga akhirnya erangan panjang lolos dari bibir sang pria saat pelepasan itu terjadi secara absolut.

"Ah... Adiba..."

Deg!

Suara itu. Suara berat yang serak dan rendah itu bergaung di ceruk leher Adiba.

Tubuh Adiba seketika membeku di atas ranjang. Detak jantungnya yang tadi berpacu karena gairah, mendadak berhenti seolah pasokan oksigen di dalam kamar itu diisap habis.

Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar yang gelap. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin mendadak bercucuran dari pelipisnya.

Itu bukan suara Raynazh Leon Osborn. Itu bukan suara suaminya yang beberapa jam lalu berbisik lembut di telinganya saat mereka berdansa di bawah guyuran konfeti.

Suara pria yang baru saja menidurinya, pria yang suaranya bergetar hebat menahan kepuasan di atas tubuhnya ini, memiliki intonasi yang berbeda. Lebih dalam, lebih dingin, dan... sangat familier dengan cara yang mengerikan.

Dengan tangan yang gemetar menahan getaran hebat di dadanya, Adiba mendorong bahu pria di atasnya dengan paksa. Dia meraih sakelar lampu tidur di atas nakas, menyalakannya dengan sekali sentak.

Cahaya kuning temaram seketika menerangi ranjang yang berantakan itu.

Adiba menoleh, dan dunianya runtuh berkeping-keping saat itu juga.

Pria yang kini sedang berusaha mengatur napasnya yang tersengal, dengan peluh yang membasahi dada bidangnya, bukanlah Raynazh. Pria dengan rahang tegas dan sepasang mata elang berwarna abu-abu yang kini menatapnya dengan tatapan campur aduk antara gairah dan keterkejutan itu adalah Louis Enver Osborn.

Adik iparnya sendiri. Adik kandung dari suaminya.

"L-Louis...?" Suara Adiba tercekat di tenggorokan, nyaris berupa bisikan yang menyedihkan.

Dia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang telanjang, memundurkan tubuhnya hingga membentur kepala ranjang dengan wajah yang memucat pasi bagai mayat.

Louis Enver Osborn berdiri dari ranjang, tidak memedulikan tubuhnya sendiri yang tanpa sehelai benang pun. Dia mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangannya, sama sekali tidak menyesal dengan kegilaan yang baru saja terjadi.

Didukung oleh Pengaruh alkohol dari pesta pernikahan kakaknya tadi, ditambah dengan kondisi kamar yang gelap dan aroma tubuh Adiba yang memabukkan, telah membuat akal sehatnya hilang sepenuhnya.

"Adiba, aku..." Louis mencoba melangkah mendekat, tangannya terulur, namun Adiba berteriak histeris tanpa suara, menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai tumpah deras membasahi pipinya.

"Pergi! Keluar dari sini, Louis! Keluar!" jerit Adiba dengan suara bergetar menahan tangis yang pecah.

Pernikahan yang baru berjalan beberapa jam itu hancur berantakan di atas ranjang yang sama tempat janji suci seharusnya ditunaikan.

Sumpah bersama di altar pernikahan New York sore tadi menguap, digantikan oleh aroma pengkhianatan terbesar dalam dinasti keluarga Osborn.

Di bawah pendar lampu Manhattan yang dingin, malam pertama Adiba Abbey berubah menjadi awal dari sebuah labirin kehancuran yang tak akan pernah bisa diperbaiki lagi.

Rasa pening akibat alkohol dan kelelahan yang luar biasa dari resepsi pernikahan megah di hotel berbintang Manhattan tadi membuat memori Adiba agak buram.

Dia hanya ingat, beberapa waktu lalu di lantai bawah griya tawang ini, Raynazh—suaminya—mengecup keningnya dengan lembut.

Pria itu menyuruhnya untuk naik ke kamar terlebih dahulu, bersiap-siap untuk malam pertama mereka, sementara Raynazh harus menyelesaikan beberapa urusan pernikahan dan menyapa beberapa kolega bisnis Osborn yang masih bertahan di ruang tamu.

Adiba menuruti perkataan suaminya. Dengan jantung yang berdebar manis, dia mandi dan mengenakan lingerie sutra tipis berwarna putih gading yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari.

Namun, rasa lelah yang teramat sangat setelah berdiri berjam-jam di atas sepatu hak tinggi membuatnya tak mampu mempertahankan kesadaran.

Begitu merebahkan diri di atas ranjang king size, Adiba langsung jatuh tertidur.

Dia terbangun ketika merasakan sebuah pelukan hangat dan aroma maskulin yang familier merengkuh tubuhnya dalam kegelapan.

Dalam kondisi setengah sadar dan mengantuk, Adiba mengira pria yang menyusup ke balik selimutnya adalah Raynazh yang akhirnya menyelesaikan urusannya.

Dia tidak curiga sedikit pun ketika pria itu mulai menciuminya dengan intensitas yang liar dan menuntut. Rasa cinta yang besar membuat Adiba membalas setiap sentuhan itu, hingga kegilaan malam itu terjadi sepenuhnya.

Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun.

Klek.

Suara pintu kamar yang terbuka perlahan seketika memotong histeria sunyi di antara Adiba dan Louis. Langkah kaki yang mantap terdengar mendekat, sebelum akhirnya berhenti total tepat di tepi ranjang.

Sosok tinggi tegap Raynazh Leon Osborn berdiri mematung. Di tangan kanannya, dia masih memegang segelas air putih yang dipersiapkannya untuk sang istri.

Namun, gelas kristal itu terlepas dari genggamannya, jatuh ke atas karpet tebal tanpa suara pecah, hanya menyisakan genangan air yang meresap cepat.

Keheningan yang mencekam dan mematikan seketika mengunci ruangan itu.

Mata Raynazh beralih dari Louis yang bertelanjang dada, lalu turun ke atas seprai abu-abu yang berantakan.

Di sana, di atas kain sutra yang kusut, terdapat bercak darah merah segar yang masih baru. Bercak darah yang seharusnya menjadi bukti kesucian Adiba dan simbol kepemilikan mutlak Raynazh di malam pertama mereka, kini justru telah direnggut oleh darah dagingnya sendiri.

Raynazh melangkah maju, tubuhnya bergetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang.

Tatapannya beralih pada Adiba yang sedang menangis di sudut ranjang, mencoba menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Namun, selimut itu tidak mampu menutupi seluruhnya.

Raynazh bisa melihat dengan jelas bagaimana kulit putih istrinya kini dipenuhi oleh tanda-tanda merah—kissmark yang pekat dan bertebaran di sekitar leher, tulang selangka, dan bahu Adiba. Tanda kepemilikan yang ditinggalkan dengan kasar oleh pria lain.

Bruk.

Lutut Raynazh mendadak lemas. Pria berwibawa itu terduduk di atas lantai karpet, menatap adiknya sendiri dengan pandangan yang kosong sekaligus hancur.

Dadanya naik turun dengan napas yang memburu, menahan badai emosi yang siap meledak dan menghancurkan griya tawang ini.

Louis telah mengambil miliknya. Adik kandungnya sendiri telah menodai wanita yang paling dia hormati.

Pernikahan Raynazh dan Adiba memang berawal dari perjodohan bisnis yang diatur oleh dinasti Osborn dan keluarga Abbey.

Namun, selama masa pendekatan yang singkat, Raynazh telah jatuh cinta setengah mati pada keanggunan dan kebaikan hati Adiba. Dan beruntungnya, Adiba membalas perasaan itu dengan ketulusan yang sama.

Malam ini seharusnya menjadi puncak perayaan cinta mereka yang sah. Namun, dalam hitungan jam, semuanya berubah menjadi abu.

Raynazh ingin sekali bangkit. Dia ingin mengepalkan tangannya dan memberikan bogeman mentah yang sanggup mematahkan rahang Louis saat itu juga.

Dia ingin menghajar adiknya hingga tak bernyawa. Namun, seluruh sendi tubuhnya terasa lumpuh oleh rasa kecewa yang teramat dalam. Tangannya bergetar hebat di atas lantai, menahan amarah sekuat mungkin demi tidak membuat keributan yang akan didengar oleh pelayan di lantai bawah.

Di tengah kehancuran itu, Louis justru menunjukkan reaksi yang tidak masuk akal.

Tidak ada gurat ketakutan atau rasa bersalah di wajah elangnya. Sebaliknya, Louis menurunkan kakinya dari ranjang, berdiri dengan santai seolah apa yang baru saja dia lakukan hanyalah sebuah kesalahan kecil yang sepele.

Louis menatap kakaknya yang terduduk hancur, lalu melirik Adiba yang masih gemetar. Sebuah senyuman miring yang licik dan gila terukir di sudut bibirnya.

"Apa kau tetap menerima bekasku, Kak?" ucap Louis, memecah keheningan dengan kalimat yang begitu beracun.

Deg.

Adiba mematung. Tangisnya terhenti seketika, digantikan oleh rasa ngeri yang menjalar ke seluruh sumsum tulangnya. Kalimat Louis bukan sekadar pertanyaan, melainkan sebuah hinaan yang menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang wanita dan seorang istri.

Raynazh mendongak, matanya memerah menatap Louis dengan kilatan dendam yang membara. Namun, dia tetap tidak bersuara, mengunci seluruh makian di dalam dadanya yang sesak.

Dengan gerakan yang tenang dan tanpa beban, Louis mulai memungut satu per satu pakaiannya yang berserakan di atas lantai—kemeja penikahannya yang kusut dan celana kainnya. Dia memakainya kembali dengan perlahan, mengancingkan kemejanya tanpa melepaskan pandangan dari Adiba.

Sebelum melangkah menuju pintu keluar, Louis menghentikan langkahnya tepat di samping ranjang.

Dia menatap kakak iparnya yang kini menatapnya dengan pandangan penuh kebencian. Louis melempar senyum kepuasan yang teramat pekat, sebuah senyuman kemenangan yang sadis.

"Terima kasih untuk malam ini, Kakak Ipar," bisik Louis dengan nada meremehkan yang sangat kentara.

Adiba mencengkeram selimutnya semakin erat, giginya berantakan menahan empasan rasa hina yang luar biasa. Tatapannya menembus langsung ke manik mata Louis yang dingin.

"Brengsek..." desis Adiba dengan suara serak, memuntahkan seluruh rasa muak dan benci yang kini memenuhi hatinya untuk adik iparnya sendiri.

_🌷🌷🌷_

1
Agus Hidayat
ya pada perang sendiri padahal bayinya udah ma daddynya🤣🤣🤣
nayla tsaqif
Semoga lekas sembuh,, 😊
Ros 🍂: ma'aciww ka🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
semoga lekas sembuh kak😍😍
Ros 🍂: ma'aciww kakak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Gaskennn,bang gio,, segera sah kan mbk adibanya,, biar louis ketar ketir anak yg di kira miliknya punya calon bpk,, 🤭
Ros 🍂: Ku kira anakku, ternyata bukan anakku😭🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya ketemuan juga gasken bang gio gercep sekali babang yg satu ini😍😍😍
Ros 🍂: Ahahaha 🤭
total 1 replies
Agus Hidayat
next😍😍😍
Ros 🍂: siap kak🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Plotwist yg sangat mengejoet kn,,?? Diatas si gila adiba masih ada yg lbh gila,, babang giogio,, 😌
Ros 🍂: Reader aman ? 🤭🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wauuu aku sungguh tergiorgio Giorgio ini ma sama kayak yg aku haluiin Thor kerennn pakai kebangetan thanks kak udah datengin makhluk yg sama GK warasnya kayak Adiba😍😍👍👍👍
Ros 🍂: Huhuhu Ma'aciww ya kak 🫶🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
😍😍😍😍😍
Ros 🍂: uhuhuyyy🥰🫶
total 1 replies
Debu Nakal
sungguh diluar nurul 😱😱😱
Ros 🍂: biar Author lanjutkan 🤭🤣
total 3 replies
Agus Hidayat
sorry kak typo othor maksudnya bukan tohir🙏🤣🤣🤣
Ros 🍂: santai kak hehehe😅
total 1 replies
Agus Hidayat
wauu sungguh plot twist yg sangat sangat😍👍 GK bisa berkata kata kerennnnn pakai banget suka semua karya Tohir semuanya best😍😍😍😍😍
Ros 🍂: iiiih thankyou kak🫶 sehat-sehat ya 🥰
total 1 replies
Agus Hidayat
next kak👍
Ros 🍂: siap kak
total 1 replies
Agus Hidayat
absen 😍😍😍😍
Ros 🍂: ya huuuuu Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aku mendukungmu 1000 persen Adiba jadilah perempuan yg tangguh dan Badas, bukan kamu yg tidak pantas tapi dia yg tak pantas untukmu💪😍😍😍
Ros 🍂: nah iya 🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
huh rasain jangan balikan lagi Thor kasih Adiba jodoh yg lain aja👍
Ros 🍂: okay kak🫶🥰
total 1 replies
Bellz
kapan up thor nungguin banget suka sama karhanya😍
Ros 🍂: Malam ini dua bab dulu ya kak🫶 besok Author Up banyak 🙏🏻🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Q rela louis nyumpah nyerampahin adiba,, tp q gk rela baby di kandungan adiba di hina bpknya sendiri sprti itu sakit bangettt itu,, plisss jangan balikan,, jd single mom aja adiba,,
Ros 🍂: siap sesuai Maunya reader 🥰 Maafkan author yaa 😭
total 1 replies
Bellz
semangat Thor, suka sama karyanya😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🥰 semoga tetap Singgah 🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
huuaaaaa nangis aku thor nyesek banget, tapi i am so happy akhirnya Adiba jadi waras jangan buat balikan sama Louis Thor nek banget sama cowok modelan gitu kasih jodoh yg lain baru kali ini baca novel othor spaneng Mulu aku jangan kasih bawang terus thor
Ros 🍂: huhu maafkan author 🙏🏻🤭🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!