Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.
Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.
Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.
Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Setelah kepergian Bapak Wijaya dan rombongannya, suasana Pesantren Al-Falah kembali tenang dan damai seperti sedia kala. Namun bagi Reno, ketenangan kali ini terasa jauh berbeda dan jauh lebih dalam. Ujian berat menolak kemewahan dunia yang baru saja ia lewati bukanlah akhir dari segalanya, melainkan gerbang yang membawanya masuk ke tingkatan pendewasaan yang baru. Ia sadar, sisa waktu lima bulan yang tersisa itu bukanlah waktu yang singkat, melainkan masa emas untuk benar-benar mematangkan diri, memoles jiwanya sehalus mungkin, dan menanamkan nilai-nilai luhur ini sampai ke akar-akar yang paling dalam, supaya tak akan pernah rontok meski diterpa badai sebesar apa pun nanti saat ia kembali ke dunia luar.
Hari-hari Reno kini dijalani dengan ritme yang semakin tertib, semakin sederhana, dan semakin penuh kesadaran. Ia bangun paling awal, tidur paling akhir, dan melibatkan diri dalam setiap kegiatan mulai dari yang paling remeh hingga yang paling berat. Ia sadar, kesempurnaan karakter tidak dibangun dalam sehari dua hari, melainkan ditempa lewat pengulangan-pengulangan tindakan baik yang dilakukan dengan ikhlas dan sabar. Dan kunci utama yang sedang ia pelajari dan tekuni saat ini adalah satu hal: Kesabaran.
Kyai Ahmad memang sering berpesan: “Segala sesuatu di dunia ini ada ukurannya, ada takarannya, dan ada waktunya. Tidak ada yang bisa dipaksakan. Tanam butuh waktu untuk tumbuh, janin butuh waktu untuk lahir, besi butuh waktu untuk ditempa jadi baja. Dan manusia butuh kesabaran untuk menjadi sempurna akhlaknya.”
Pagi itu, tugas yang diberikan Kyai Ahmad kepada Reno dan kelompoknya adalah tugas yang paling membosankan, paling berulang, dan tak terlihat hasilnya secara instan: memilah biji-bijian kering hasil panen, memisahkan yang baik, yang sedang, dan yang kosong, serta membersihkannya dari debu dan kotoran halus. Bagi orang awam, pekerjaan ini terlihat remeh, pekerjaan orang tua atau anak kecil, bukan pekerjaan pemuda yang kuat dan tangguh. Bahkan dulu, Reno pasti akan menolak, menganggap ini penghinaan, atau mengerjakannya asal jadi saja supaya cepat selesai.
Namun hari ini, Reno duduk bersila di atas tikar anyaman di beranda gudang, mengelilingi tumpukan besar gabah dan jagung kering dengan hati yang tenang dan senyum yang damai. Di sebelahnya ada Dani dan beberapa teman santri lainnya yang mulai tampak bosan, wajahnya masam karena duduk diam berjam-jam hanya memungut butiran demi butiran kecil.
“Duh, Mas Reno… capek sekali duduk begini terus. Punggung pegal, mata jadi perih, dan lihat tumpukannya seolah tidak berkurang sama sekali. Kita disuruh apa sih sebenarnya? Bukankah ini bisa dibeli saja atau pakai mesin? Kenapa harus pakai tangan begini?” keluh Dani sambil mengusap punggung pinggangnya yang kaku.
Reno berhenti sejenak, menatap Dani dengan tatapan lembut dan mengerti. Ia sendiri pun sebenarnya merasakan hal yang sama; bosan, pegal, dan ingin segera bergerak aktif seperti biasa. Tapi ia ingat pesan Zahrana, ia ingat pesan Kyai Ahmad, dan ia ingat tujuan besarnya.
“Dani, coba lihat tanganku ini,” kata Reno pelan, mengangkat tangannya yang kasar dan penuh kapalan itu. “Dulu tanganku ini cuma bisa memegang pena mahal, memegang setir mobil, atau menerima uang. Lemah, manja, dan tak tahan beban. Lalu aku latih memikul beban berat, sampai luka dan lecet, jadi kuat fisiknya. Tapi ternyata kekuatan fisik saja belum cukup. Tangan ini juga harus dilatih untuk sabar, untuk teliti, untuk hal-hal kecil dan lambat. Kalau kita cuma terbiasa hal besar dan cepat, nanti jiwa kita akan rusak kalau menghadapi hal yang pelan dan kecil. Nah, ini gunanya tugas kita hari ini. Bukan cuma memilah gabah, tapi memilah jiwa kita supaya sabar dan teliti.”
Dani tertegun mendengar penjelasan itu. Ia menatap Reno yang kembali menunduk tekun memungut biji-biji itu dengan gerakan yang perlahan, halus, dan teratur. Tak ada lagi tanda-tanda ketergesa-gesaan atau kekesalan di wajah Reno.
“Mas Reno… sekarang kok kamu jadi kayak orang tua bijak saja sih? Dulu yang paling emosi, sekarang yang paling tenang,” gumam Dani sambil tersenyum, ikut kembali menunduk dan mencoba meniru ketenangan Reno.
Jam berganti jam, matahari bergeser dari timur ke tengah langit, dan tumpukan biji-bijian itu perlahan namun pasti mulai terbagi rapi menjadi beberapa karung yang bersih dan teratur. Tubuh Reno memang terasa kaku dan pegal luar biasa, rasanya tulang-belulangnya seperti mau kaku karena diam terlalu lama. Namun di tengah rasa fisik yang tidak nyaman itu, hatinya justru terasa sangat lapang, sangat tenang, dan sangat luas. Ia belajar mengendalikan dirinya sendiri, belajar menahan keinginan cepat selesai, belajar menikmati proses yang pelan dan berulang.
Dan seperti biasa, di saat istirahat tengah hari, sosok yang selalu menjadi sumber semangatnya datang melangkah mendekat. Zahrana. Ia membawa nampan berisi makan siang yang sederhana namun menyehatkan, serta air minum segar.
Saat melihat Reno yang duduk di sana dengan wajah sedikit lelah namun mata yang bersinar damai, Zahrana tersenyum makin lebar. Ia tahu betul tugas apa yang sedang dikerjakan Reno hari ini, dan ia tahu betul seberapa berat ujian kesabaran itu bagi orang yang terbiasa dengan segala hal serba cepat dan instan.
“Selamat makan, Mas Reno. Wah, tumpukannya sudah rapi sekali. Pasti capek sekali duduk diam begini dari pagi ya?” sapa Zahrana lembut, meletakkan nampan di hadapan Reno.
Reno mengangkat wajah, menatap gadis itu dengan pandangan yang penuh kekaguman dan kelembutan. “Capek fisik ada, Zahra. Tapi capek hati tidak sama sekali. Justru rasanya hati ini jadi adem dan tenang sekali. Aku jadi paham kenapa Bapak Kyai menyuruh begini. Ternyata menahan diri supaya tidak buru-buru itu jauh lebih berat daripada memikul beban berat. Kalau memikul, tenaga otot yang dipakai. Kalau sabar begini, tenaga jiwa yang dipakai. Dan jiwaku rasanya makin kuat dan tebal.”
Zahrana duduk sejenak di sisi yang agak jauh, menatap Reno dengan pandangan bangga yang dalam.
“Mas Reno benar sekali. Di sini, orang tidak dilatih supaya jadi petani saja, tapi supaya jadi manusia yang utuh. Di luar sana, semua orang berlomba cepat, berlomba instan, berlomba selesai duluan. Akibatnya banyak yang terjatuh, banyak yang curang, banyak yang tidak teliti. Di sini kita belajar bahwa lambat tapi pasti, lambat tapi teliti, lambat tapi selamat, itu jauh lebih berharga. Dan Mas Reno, saya lihat kamu sekarang… kamu sudah jauh lebih sabar daripada orang-orang yang lahir dan besar di sini. Itu prestasi yang luar biasa.”
Pujian sederhana itu terasa lebih manis dan lebih memabukkan daripada pujian seribu orang penting sekalipun di masa lalu. Reno tersenyum, membuka bekalnya, dan makan dengan rasa syukur yang luar biasa. Setiap suapan yang ia telan, setiap detik yang ia jalani, kini terasa begitu bermakna dan penuh.
“Zahra… kalau boleh aku bertanya,” kata Reno pelan di sela-sela makannya, “Selama aku di sini, aku belajar banyak hal. Bertani, bangun rumah, mengolah makanan, sabar, rendah hati. Tapi aku takut, Zahra. Aku takut nanti saat kita sudah bersama, saat aku sudah pulang dan harus mengurus perusahaan Ayah, ilmu dan sifat ini hilang perlahan tertimpa kesibukan. Aku takut aku berubah lagi karena lingkungan. Bagaimana caranya supaya sifat ini melekat selamanya dan tidak hilang dibawa ke mana saja?”
Zahrana terdiam sejenak, menatap pohon-pohon besar di kejauhan yang rindang dan kokoh.
“Mas Reno, lihat pohon beringin besar itu. Dia tumbuh pelan sekali, puluhan tahun baru jadi besar dan kokoh. Tapi begitu akarnya sampai ke tanah yang dalam, badai sekuat apa pun tak akan bisa merobohkannya. Begitu juga sifat. Kalau sifat itu hanya di permukaan saja, karena ikut-ikutan atau karena suasana saja, nanti pasti hilang kalau pindah tempat. Tapi kalau sifat itu sudah sampai ke dasar hati, sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi pemahaman, dan sudah menjadi kesadaran… ia tak akan hilang kemana pun kamu pergi. Lingkungan bisa berubah, tapi kalau kamu yang dasarnya sudah kuat, kamulah yang akan mengubah lingkungan, bukan sebaliknya. Dan satu lagi… selama kamu mau terus belajar, mau terus mengingat, dan mau terus menjaga hati, insya Allah tak akan hilang.”
Penjelasan Zahrana seolah menjadi kunci jawaban yang menenteramkan kekhawatiran Reno. Ia sadar, kuncinya adalah: Jangan berhenti belajar dan jangan berhenti menjaga hati. Selama ia ingat prosesnya, selama ia ingat asalnya, selama ia ingat nilai-nilainya, selama ia ingat siapa yang mengajarkannya dan siapa yang menunggunya… ia akan tetap menjadi Reno yang sekarang, di mana pun ia berada.
Siang itu berlalu, sore pun tiba. Pekerjaan memilah biji-bijian akhirnya selesai sepenuhnya. Karung-karung berisi hasil yang bersih dan rapi berjejer rapi di sudut gudang. Melihat hasil kerja keras dan kesabaran mereka, rasa puas dan bangga mekar di dada Reno. Ia sadar, hal kecil yang dilakukan dengan hati dan kesabaran, hasilnya akan menjadi besar dan berharga pada waktunya nanti.
Sore itu, Kyai Ahmad datang meninjau hasil pekerjaan mereka. Beliau memeriksa satu per satu karung itu, melihat ketelitian dan kerapiannya, lalu wajahnya tersenyum lebar dan bersinar senang. Beliau lalu menoleh ke arah Reno yang sedang berdiri di barisan santri.
“Anakku Reno,” panggil Kyai Ahmad lembut namun lantang, terdengar oleh semua yang ada di sana. “Kyai lihat hasil kerjamu paling rapi, paling bersih, dan paling teliti dibanding yang lain. Dan yang paling Kyai lihat, bukan hasil gabahnya saja, tapi hasil hatimu. Kamu melakukannya dengan senang, dengan sabar, dan dengan ikhlas. Itu yang paling mahal. Ingatlah Nak, kesabaranmu hari ini adalah benih kesuksesanmu di masa depan. Baik untuk bisnismu, untuk kepemimpinanmu, maupun untuk rumah tanggamu nanti. Laki-laki yang sabar adalah laki-laki yang paling kuat dan paling bisa diandalkan.”
Reno menundukkan pandangannya dalam-dalam, merasa rendah diri namun penuh rasa syukur. “Terima kasih, Kyai. Semua ini karena bimbingan Bapak dan doa Ibu.”
Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah warna menjadi jingga kemerahan, Reno berjalan pulang ke kamarnya dengan langkah yang makin mantap dan makin berat bobot jiwanya. Ia sadar, sisa perjalanan lima bulan itu masih panjang, dan di bab-bab selanjutnya ia akan dipandu untuk belajar ilmu-ilmu yang lebih dalam lagi: tentang kepemimpinan, tentang mengelola perasaan, tentang memaafkan, tentang memberi, dan tentang ikhlas. Semuanya akan ditempa satu per satu, pelan-pelan, sampai waktunya genap satu tahun.
Dan Reno sudah siap sepenuh hati. Ia tak lagi menghitung hari dengan rasa ingin cepat selesai, tapi ia menghitung hari dengan rasa ingin mengambil sebanyak-banyaknya ilmu dan bekal. Ia ingin pulang nanti membawa jiwa yang utuh, penuh, dan matang sempurna.
Di malam hari, saat ia menatap bulan yang bersinar terang, pikirannya kembali pada Zahrana, yang menjadi pusat dunianya.