NovelToon NovelToon
Sangkar Merah

Sangkar Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Target—1

Aroma espreso mengudara dalam suasana cafetaria kampus yang riuh siang itu, parfum desainer ternama yang saling bertabrakan di indra penciuman orang berlalu-lalang dan gemerincing tawa renyah yang terdengar dipaksakan langsung menyambut siapa saja yang melangkah ke kantin lantai dua Universitas Pelita Bangsa. Kampus ini bukan sekadar tempat mencari ilmu; ini adalah panggung peragaan busana bagi anak-anak konglomerat Jakarta. Di sudut paling strategis—dekat dinding kaca besar yang menghadap langsung ke area parkir mobil-mobil sport mewah—sebuah meja bundar telah dikuasai oleh empat mahasiswi yang penampilannya sanggup membuat dahi para dosen berkerut, sekaligus membuat sisa mahasiswi lainnya menatap iri.

Aletha menyandarkan punggungnya di kursi, jemari lentiknya yang dihiasi nail art bernuansa maroon sibuk memutar-mutar sedotan di dalam gelas iced matcha latte-nya. Di balik kacamata hitam Celine yang bertengger di hidung mancungnya, sepasang mata Aletha sebenarnya sedang menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya masih tertinggal pada kejadian semalam.

"Gila, Tha! Lo beneran ninggalin si Adrian gitu aja di hotel?" suara cempreng Chelsea memecah lamunan Aletha. Chelsea, yang siang itu mengenakan crop top Chanel bermotif garis, sibuk memoles ulang lip gloss merah mudanya yang sudah sedikit memudar di bibirnya. "Maksud gue, dia itu pengusaha muda yang lagi naik daun, kan? Saham perusahaannya aja lagi hijau semua di berita pagi ini."

Aletha hanya menyunggingkan senyum tipis, jenis senyum misterius yang selalu berhasil membuat orang lain penasaran. Ia menurunkan sedikit kacamatanya, menatap Chelsea dengan tatapan meremehkan yang elegan.

"Adrian itu gampang diprediksi, Chel," jawab Aletha santai, dengan suaranya terdengar malas. "Dia pikir dengan beliin gue tas Hermes limited edition semalam, dia bisa ngatur jadwal gue hari ini? Please. Permainan sama dia udah selesai begitu gue dapetin apa yang gue mau. Lagian, dia terlalu banyak omong di ranjang. Bosen gue jadinya."

"Hahaha! alasan klasik Aletha!" Angelina menimpali sambil terbahak, nyaris tersedak es kopi hitamnya. Angelina, si rambut pirang hasil bleaching salon terkenal di derah Senopati, membetulkan posisi duduknya agar tas bottega miliknya terpajang jelas di atas meja. "Tapi bener sih, cowok-cowok tipe Adrian itu kalau udah dapet yang mereka mau, langsung ngerasa kayak raja yang seolah bisa ngatur kita kapan aja. Padahal mereka nggak tahu aja kalau dompet mereka udah kita kuras setengah."

"Ngomongin soal nguras dompet," Electra, yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba membalikkan layar gawai tersebut ke arah ketiga temannya. Matanya berbinar penuh gairah yang dangkal. "Lihat deh. Ini Brandon, anak pemilik maskapai swasta. Dia baru aja nge-DM gue, nanya malam ini mau ditemenin ke club mana. Dia bilang, dia siap bayar apapun yang gue mau, asal gue mau pakai baju yang dia beliin."

Chelsea langsung condong ke depan, matanya berbinar melihat foto profil cowok di ponsel Electra. "Wah, ganteng sih! Badannya boleh juga. Oke aja, El! Lumayan kan, dapet hiburan, dapet duit belanja tambahan lagi. Minggu lalu gue juga baru bayar si Kevin—anak selebgram itu—dua puluh juta cuma buat nemenin gue keliling mall seharian dan megangin belanjaan gue. Plus, bonus servis malamnya, if you know what I mean."

Ketiganya tertawa bersama, suara mereka bersahut-sahutan memenuhi sudut kantin tanpa rasa malu sedikit pun. Bagi Angelina, Chelsea, dan Electra, hidup ini sangat sederhana. Dunia mereka hanya berputar di sekitar uang orang tua yang tidak akan habis tujuh turunan, hiburan malam, baju-baju branded, dan deretan cowok-cowok tampan—baik dari kalangan sesama orang kaya maupun cowok bayaran—yang bisa mereka panggil kapan saja hanya dengan menjentikkan jari atau mentransfer sejumlah uang. Hubungan asmara bagi mereka tak lebih dari sekadar transaksi bisnis yang menyenangkan.

Namun, di tengah keriuhan tawa ketiga sahabatnya, Aletha justru kembali menaikkan kacamata hitamnya. Sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan sinis. Baginya, apa yang dilakukan Angelina, Chelsea, dan Electra sudah berada di level yang cukup tinggi. Meminta uang belanja dari pengusaha kelas dua? Itu terlalu mudah bagi mereka. Aletha menyukai tantangan yang jauh lebih besar. Ia menyukai adrenalin saat berhasil menaklukkan pria yang dicap 'mustahil' oleh kebanyakan orang.

Dan saat ini, ia sudah menentukan mangsa barunya.

"Eh, bentar deh, Tha," Angelina tiba-tiba berhenti tertawa, menyadari kediaman sahabatnya itu. Ia mengetukkan kuku panjangnya ke permukaan meja. "Lo dari tadi diem aja setelah ngomongin Adrian. Tumben. Biasanya lo yang paling semangat kalau kita lagi bahas target baru. Jangan bilang lo lagi nggak punya gebetan sekarang?"

"Nggak mungkin Aletha kosong," Electra menyahut sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Pasti ada cowok malang lain yang lagi masuk perangkap dia. Siapa lagi sekarang, Tha? Anak menteri? Atau aktor yang kemarin baru menang penghargaan itu?"

Aletha meletakkan gelas minumannya yang sudah kosong. Ia menegakkan tubuhnya, menatap ketiga temannya satu per satu dengan pandangan yang membuat atmosfir di meja itu mendadak berubah menjadi serius.

"Bukan mereka semua," ujar Aletha lirih, penuh penekanan.

"Terus siapa dong? Jangan bikin penasaran deh!" Chelsea tersedak, hampir menumpahkan cangkir kopinya sendiri.

Aletha memajukan wajahnya ke tengah meja, memberi isyarat agar ketiga temannya mendekat. Dengan suara setengah berbisik, ia mengucapkan satu nama yang seketika membuat ekspresi tawa di wajah Angelina, Chelsea, dan Electra membeku.

"Danny Atonio"

Hening sejenak melanda meja mereka. Suara bising dari meja-meja lain di kantin seolah memudar, digantikan oleh tatapan tidak percaya dari ketiga sahabat Aletha.

"Lo... lo gila ya, Tha?" Angelina adalah yang pertama kali bersuara, nadanya penuh dengan nada horor sekaligus tawa tak percaya. "Danny Antonio? CEO dari Dirgantara Group? Konglomerat nomor satu di kota ini?"

"Iya, Danny yang itu. Emangnya ada Danny yang lain di Jakarta?" jawab Aletha santai, sembari bersedekap.

"Tha, dengerin gue," Chelsea mengambil alih pembicaraan, wajahnya tampak sangat cemas seolah-olah Aletha baru saja mengumumkan bahwa dia ingin melompat dari gedung lantai lima puluh. "Gue tahu lo itu punya ambisi besar buat hal semacam ini. Kita semua akuin itu. Tapi Danny Atonio itu beda level. Dia itu bukan cuma kaya, dia itu... monster di dunia bisnis. Dan yang paling penting, semua orang di lingkaran atas tahu kalau dia itu susah di deketin cewek."

"Bukan susah, Chel. Dia cuma belum ketemu perempuan yang tepat aja," sahut Aletha dengan nada meremehkan.

"Nggak, Aletha! Ini bukan soal 'belum ketemu yang tepat'!" Electra ikut menyela dengan berapi-api. "Tahun lalu, sepupu gue yang model internasional—lo tahu kan si Valerie yang cakepnya kebangetan?—dia sengaja dateng ke acara amal cuma buat nyamperin Danny. Valerie sengaja numpahin wine ke jasnya Danny biar bisa punya alasan buat kenalan. Lo tahu apa yang terjadi?"

Aletha mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"

"Danny bahkan nggak ngeliat muka Valerie sama sekali! Dia cuma nyuruh pengawalnya buat ngusir Valerie dari ruangan itu, dan besoknya, agensi model sepupu gue langsung kehilangan kontrak kerja sama dengan anak perusahaan Dirgantara Group. Cowok itu agak anjing banget nemang, Tha. Kayak si paling berkuasa. Dia nggak punya perasaan, nggak pernah kelihatan pacaran sama siapapun, dan desas-desusnya... dia itu aseksual atau bahkan benci sentuhan fisik dari perempuan!" Angelina menjelaskan panjang lebar, matanya melebar untuk meyakinkan Aletha betapa bahayanya target yang sedang dibicarakan.

"Banyak yang bilang dia trauma, ada juga yang bilang dia emang menganggap cewek itu cuma parasit yang mau duitnya doang," tambah Chelsea sambil bergidik ngeri. "Jadi, jangankan buat lo mainin kayak Adrian semalam, Tha. Buat ada di radius satu meter dari dia tanpa diusir sama bodyguard-nya aja itu udah keajaiban."

1
azrinasarah
LANJUTT PLUSSS😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!