NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Andara

Cinta Untuk Andara

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bareta

Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.



Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.



Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.



Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.




Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?



Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Tidak terasa hampir dua jam Andara menghabiskan waktu bersama Lily namun ia tidak lupa pada tujuan utamanya datang ke rumah sakit.

Setelah memastikan Lily tidak lagi sebentar-sebentar menangis bahkan bisa tidur lelap seperti bayi-bayi yang lain, barulah Andara meninggalkan NICU dan turun ke lantai satu.

Masih ada 5 orang pasien yang menunggu antrian di depan ruang praktek dokter Dita. Dengan sabar Andara menunggu meski perawat sempat menawarkan untuk menyela karena berpikir Andara akan membahas soal Lily, pasien dokter Dita yang sedang dirawat di NICU.

”Ara !”

Andara gelagapan saat bahunya ditepuk.

“Lap ilermu Ra,” ledek dokter Dita sambil terkekeh.

Dengan wajah tersipu Andara menyentuh kedua sudut bibirnya dengan ujung jari tapi nyatanya kering, tidak basah sama sekali.

“Bercanda Ra !” Tawa dokter Dita malah semakin keras. “Kita ngobrol sambil makan siang, perutku juga sudah keroncongan kayak kamu.”

Refleks Andara memegang perutnya sambil beranjak bangun. Dalam hati Andara bertanya-tanya apa mungkin dokter Dita sempat mendengar perutnya berbunyi saat ketiduran.

“Dokter sebetulnya tujuan saya datang kemari….”

Dokter Dita mengangkat telapak tangannya tanpa berhenti. “Kita cari makan dulu baru membahas urusanmu.”

Andara menurut, mengikuti dokter Dita masuk ke dalam salah satu cafe yang ada di lobi rumah sakit.

“Duduk Ra ! Pesan saja apa yang kamu suka, tidak usah pikirkan soal harga. Kamu butuh gizi tinggi untuk menyusui Lily.”

Andara mengerutkan dahi namun ia menunda untuk bertanya, mengikuti dokter Dita melihat-lihat buku menu yang baru saja dibawakan pelayan.

Ternyata harganya memang membuat Andara bingung memilih. Seumur hidupnya Andara belum pernah membeli makanan dengan harga di atas limapuluh ribu.

“Pesan sop buntut dan nasi putih dua porsi.”

Tanpa bertanya, dokter Dita langsung memesan makanan untuknya dan Andara.

“Mau minum apa Ra ?”

“Teh hangat saja dokter.”

“Pesannya sama si mas bukan ke saya,” canda dokter Dita yang membuat Andara kembali tersipu malu.

“Kamu lucu kalau lagi malu-malu gitu Ra,” tutur dokter Dita usai urusan pesanan makan siang beres

Andara hanya tersenyum dan mengeluarkan amplop dari dalam tas lalu diletakkan dekat dokter Dita.

“Tolong diterima dokter, saya mohon. Sisanya akan saya lunasi secepatnya.”

Dokter Dita menghela nafas. “Kamu nggak mendukung niatku untuk berbuat amal dan kebaikan ?”

“Bukan begitu dokter. Saya ingin menjalankan tugas dan tanggungjawab terakhir sebagai orangtua Fajar. Masalah uang yang dokter berikan untuk biaya pemakaman Fajar, saya terima sebagai ucapan dukacita.”

“Oke saya terima amplop ini.” Dokter Dita menggoyang-goyangkan amplop yang sudah ada di tangannya.

“Kamu boleh melunasinya tapi dengan satu syarat.”

“Syarat apa dokter ?” Andara menautkan kedua alisnya.

“Kamu harus mau jadi ibu susunya Lily bukan hanya di rumah sakit.” Dokter Dita mencondongkan tubuh ke arah Andara dan menurunkan volume suaranya.

“Kenapa saya ? Jadi dugaan ibu Mira benar kalau dokter sudah merencanakan semua ini ?”

“Tuduhanmu membuatku sedih Ara,” ujar dokter Dita sambil tertawa dan kembali bersandar pada kursi.

“Mungkin semua ini yang biasa disebut takdir : aku, kamu, Fanny dan Lily.”

“Fanny ?”

“Hhhmmm….::” dokter Dita mengangguk. “Fanny adalah ibunya Lily yang meninggal dunia.”

Tatapan dokter Dita menerawang, meski bola matanya seakan-akan tertuju pada Andara..

“Baskara, suami Fanny, sudah menentukan dokter Juned sebagai dokter anaknya dan menurut perkiraan dokter Wisnu, Lily baru lahir 3 minggu lagi.” Suara dokter Dita mendadak pelan sampai Andara harus merubah posisi duduknya, menempel pada meja.

“Bukankah hal semacam itu biasa terjadi dokter ?”

Dokter Dita mengangguk sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Lalu dimana letak takdir yang dokter maksud ?”

“Ceritanya panjang Ra,” gumam dokter Dita dengan tatapan menerawang.

“Apapun ceritanya, mohon maaf saya tidak bisa memenuhi permintaan dokter.”

Mata Dita membola dan kembali fokus menatap Andara.

“Ra, aku minta tolong. Melihat caramu menangani Lily, aku yakin kamu bisa menjadi ibu yang baik…. Maaf maksudku ibu susu sekaligus pengasuh Lily.”

Kepala Andara menggeleng. “Saya benar-benar minta maaf Dokter, saya tidak bisa dan tidak mau.”

“Karena sikap bu Mira tadi ?”

“Salah satunya,” sahut Andara dengan jujur.

“Saya akan membuatnya yakin kalau kamu bisa merawat Lily dengan baik.”

Kepala Andara kembali menggeleng, senyumannya terlihat getir.

“Menjaga anak sendiri saja saya tidak becus apalagi anak orang.”

“Andara, aku benar-benar mohon padamu.” Dokter Dita sampai menggenggam jemari Andara.

“Saya hanya bisa memenuhi permintaan dokter selama Lily di rumah sakit.”

Dokter Dita menghela nafas, wajahnya kelihatan kecewa namun ia tidak lanjut membujuk Andara karena pesanan mereka sudah datang

***

Tubuh Mira bergetar, isak tangisnya belum juga berhenti apalagi saat peti yang berisi tubuh putrinya perlahan diturunkan ke dalam liang lahat.

Baskara, suami Fanny, berdiri agak jauh. Sejak mendapat kabar tentang kematian istrinya, pria itu tidak menunjukkan rasa sedih sedikit pun apalagi sampai meneteskan air mata.

Bukan itu saja, Baskara juga tidak peduli pada Daisy, putri sulungnya yang berumur 6 tahun. Sejak tadi gadis kecil itu menangis dalam gendongan baby sitternya dan Baskara tidak tergerak sedikit pun untuk menenangkan putrinya.

“Baskara.”

Pria yang baru saja berbalik badan berputar lagi. Tanpa melepas kacamata hitamnya, ia berdiri di hadapan Mira.

“Terima kasih karena sudah memberikan pemakaman yang sangat baik untuk Fanny.”

Baskara tidak menjawab dan Mira pun tidak protes apalagi memarahi menantunya yang bersikap kurang sopan.

“Apa boleh Daisy dan Lily tinggal di rumah mama untuk sementara waktu ?”

“Ya.”

“Terima kasih Bas tapi soal Lily, apa mama bisa minta tolong padamu untuk menjemputnya ?”

“Rio akan mengurusnya dan mengantar langsung ke rumah mama.”

“Sepertinya harus kamu sendiri yang ke rumah sakit, Bas. Dokter ingn bertemu denganmu secara pribadi untuk membahas soal kondisi Lily tidak terlalu baik. Mungkin karena Fanny pergi sebelum sempat memeluknya jadi…..”

“Rio akan membereskan semuanya, mama tidak usah khawatir,” potong Baskara dengan suara dingjn.

“Tapi Bas…”

Tidak peduli mertuanya masih berbixara, Baskara malah pergi meninggalkan pemakaman tanpa berpamitan lagi.

Rasanya hati Mira sakit luar biasa padahal bukan baru pertama Baskara bersikap kasar dan acuh, seakan-akan Mira bukan menantunya.

Suara tangis Daisy memecah lamunan Mira. Ia pun menghela nafas panjang lalu mendekati putrinya.

“Stop nangisnya ya sayang.” Mata Mira berkaca-kaca lagi saat mengusap kepala cucu pertamanya.

“Mama sudah naik ke surga,” hibur Mira.

“Sisy mau ikut sama mama aja ke surga.” Suara Daisy tersendat-sendat karena masih menangis.

“Sisy nggak mau pulang ! Sisy nggak mau tinggal sama papa !” pekikan Daisy semakin tinggi membuat beberapa pelayat yang masih berada di situ menatap iba dan terenyuh.

“Iya Sisy nggak pulang ke rumah papa. Sisy nginap di rumah oma dulu ya ?”

Sambil mengusap wajahnya yang basah dengan punggung tangannya, kepala Daisy mengangguk.

“Tapi nggak mau sama dedek. Biar dedek sama papa aja. Sisy benci sama dedek. Gara-gara ada dedek, mama malah pergi.”

Mira terperangah mendengar celoteh Daisy. Bagaimana mungkin gadis kecil ini punya pikiran seperti itu ?

1
Baretta
Terima kasih Kak Evi Lusiana 😊😊
Evi Lusiana
mampur thor,awal yg menyedihkan smoga andara sgra mnemukan kebahagiaan,semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!