Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: DENDAM YANG TERSEMBUNYI
...BAB 33...
...DENDAM YANG TERSEMBUNYI...
Setelah kepergian Alina, Raka masih berdiri mematung di tempatnya. Dadanya naik turun menahan emosi yang bercampur rasa takut. Teman-temannya yang melihat sikapnya yang tiba-tiba berubah menjadi diam hanya saling pandang, tidak berani bertanya lebih jauh. Perlahan, bayangan wajah Alina yang penuh ketegasan tadi memudar, digantikan oleh ingatan-ingatan lama yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
Masa dua tahun silam terputar kembali jelas di kepalanya—saat nama keluarga Aditya masih bersinar terang, saat toko dan jaringan usahanya berkembang pesat, dan saat seluruh kota mengenalinya sebagai pengusaha jujur yang sukses. Di saat itulah, ayahnya, Bapak Haris, yang juga bergerak di bidang perdagangan, mulai merasa terancam dan iri hati.
“Kesuksesan Aditya itu bukan karena keberuntungan, tapi karena ia licik mengambil peluang yang seharusnya menjadi milik kita,” begitu kata Bapak Haris setiap malam, dengan nada penuh kebencian. “Selama ia masih berdiri tegak, kita tidak akan pernah menjadi yang teratas. Kau harus mendekati putrinya, Raka. Jadikan dia jalan masuk kita untuk menghancurkan kerajaan yang ia bangun.”
Sejak saat itu, Raka mendekati Alina bukan karena rasa suka atau ketertarikan yang tulus. Semua senyum, perhatian, dan usaha yang ia tunjukkan hanyalah sebuah sandiwara yang dirancang rapi. Ia harus mendekati gadis itu, memenangkan hatinya, agar nantinya bisa mengorek informasi dan menemukan celah untuk menjatuhkan Bapak Aditya.
Awalnya, Alina memang bersikap dingin dan menjaga jarak. Sifatnya yang mandiri dan tidak mudah percaya pada orang baru membuat Raka harus bekerja lebih keras. Namun, ia tidak menyerah. Ia terus berusaha, datang ke sekolahnya, menunggu di depan gerbang duluan setelah bel pulang berbunyi, dan berusaha menunjukkan sisi terbaiknya. Lama-kelamaan, hati Alina yang dingin dan keras mulai melembut dan luluh. Ia mulai membalas sapaannya, menerima kehadirannya, dan perlahan menumbuhkan rasa percaya.
Namun sandiwara itu tidak berlangsung lama. Suatu hari, Bapak Aditya mengetahui identitas asli Raka. Ia langsung terkejut dan marah besar. Sebagai sesama pebisnis, ia sudah lama mengenal Bapak Haris—pria yang dikenal licik, sering memakai cara kotor untuk menjatuhkan pesaing, dan tidak segan merugikan orang lain demi keuntungan sendiri.
“Jangan pernah lagi mendekati putriku!” bentak Bapak Aditya saat bertemu Raka secara langsung. “Aku tahu siapa ayahmu dan apa tujuannya. Jangan harap kau bisa memanfaatkan Alina untuk urusan kotor kalian. Selama aku masih hidup, kau tidak akan pernah mendekatinya lagi.”
Sejak saat itu, Alina diawasi ketat. Di mana pun ia pergi, selalu ada pengawal yang mengikuti. Raka dilarang keras melangkah masuk ke area sekitar rumah atau sekolahnya. Bahkan, ia pernah diperlakukan kasar dan diusir paksa saat mencoba mendekat, disertai kata-kata yang merendahkan harga dirinya.
“Anak dari pria licik, tidak pantas berada di dekat keluarga kami,” begitu kata pengawal yang mengusirnya saat itu.
Peristiwa itu melukai harga diri Raka sedalam-dalamnya. Rasa iri yang diajarkan ayahnya kini berubah menjadi dendam yang membara. Ia merasa dipermalukan, dihina, dan dianggap rendah hanya karena latar belakang keluarganya. Dendam itu tidak hanya tertuju pada Bapak Aditya, tapi juga pada seluruh keluarga itu. Ia menunggu kesempatan yang tepat untuk membalas semua rasa sakit itu.
Hingga pagi itu, hari kejadian kecelakaan. Ia melihat Bapak Aditya sedang sibuk menurunkan barang di depan tokonya, lengah dan tidak sadar akan lingkungan sekitar. Di saat itulah, keinginan untuk membalas dendam muncul begitu saja. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, berniat langsung menabrak pria itu agar ia merasakan penderitaan yang sama.
Namun, takdir berkata lain. Di detik terakhir, Bu Kirana muncul dari arah samping, mendorong tubuh Aditya menjauh, dan justru dirinya yang terhantam keras. Raka sempat terkejut, namun ketakutan tertangkap membuatnya tidak berhenti. Ia melarikan diri secepat mungkin, berharap tidak ada yang mengenalinya.
Dan sekarang, Alina sudah mulai mencurigainya. Ia tahu gadis itu tidak akan berhenti begitu saja. Jika ada bukti yang mengarah padanya, maka rencananya bisa hancur, dan ia bisa terjerat hukum.
Setelah memastikan tidak ada orang yang mengikutinya, Raka melajukan motornya menuju rumah besar milik keluarganya yang terletak di kawasan elit kota. Begitu sampai di halaman luas yang dipenuhi mobil dan kendaraan mewah lainnya, ia langsung turun dengan langkah cepat dan tegas.
Seorang pelayan segera menyambutnya dengan sopan. “Tuan Raka, ada yang bisa saya bantu?”
“Panggilkan dua orang tukang ke kebun belakang sekarang juga,” perintah Raka dengan nada dingin dan tegas.
Tanpa menunggu lama, dua orang pekerja datang menghadap. Raka menunjuk motor besar berwarna hitam yang baru saja ia kendarai itu.
“Ambil motor ini, bawa ke tempat pembuangan sampah di ujung kebun. Bakar sampai tidak tersisa bagian apa pun yang bisa dikenali. Jangan sampai ada bekas atau serpihan yang tertinggal,” perintahnya tanpa ragu sedikit pun.
Mendengar perintah itu, kedua pekerja itu terkejut, namun tidak berani membantah. “Baik, Tuan. Kami akan melakukannya segera.”
Raka tersenyum tipis, merasa lega. Ia tidak merasa rugi sedikit pun. Di garasi rumahnya saja, masih tersimpan lebih dari sepuluh kendaraan mewah lainnya, termasuk motor-motor besar dengan berbagai jenis dan merek. Membakar satu kendaraan hanyalah hal sepele baginya, dibandingkan dengan risiko jika motor itu menjadi bukti yang menjeratnya.
“Kalau sudah selesai, bersihkan sisa abunya sampai tidak terlihat. Jangan biarkan siapa pun tahu apa yang terjadi,” tambahnya lagi.
Setelah memastikan perintahnya akan dilaksanakan, Raka berjalan masuk ke dalam rumah. Ia duduk di ruang tengah yang luas dan mewah, lalu menuangkan segelas minuman dingin untuk menenangkan sarafnya yang tegang.
“Selama tidak ada bukti yang nyata, mereka tidak bisa membuktikan apa pun,” batinnya sambil memegang gelas itu erat. “Bu Kirana terbaring tak sadarkan diri, dan Alina hanya menduga-duga saja. Selama aku menghilangkan jejak, rencana ini tetap aman. Dan suatu saat nanti, dendam ini akan terus aku balas sampai Papamu, Aditya Mahendra benar-benar merasakan kehancuran yang sesungguhnya. Ha ha ha ... Alina Alina, kasian sekali kau!”
Namun, di balik rasa percaya dirinya itu, ada sedikit kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia tahu Alina bukan lagi gadis lemah yang mudah diatur seperti dulu. Perubahan sikapnya, keberaniannya, dan ketegasannya membuat Raka sadar—perjuangan ini belum berakhir. Justru baru saja dimulai.
Bersambung...
nanti Alina juga perlahan luluh