Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Apa mas Rizal juga sering datang kesini?" Tanya Hanna dan sang ibu mengangguk
"Beberapa kali" Jawab Hanum "Maaf nak, tapi bagaimanapun juga Rizal berhak bersama putrinya terlepas seperti apa hubungan diantara kalian!"
Hanna terdiam "Ibu harap kalian tidak mengorbankan anak-anak ditengah polemik rumah tangga kalian" Ujar Hanum
"Jangan biarkan Fathan dan Elea kehilangan sosok Ayahnya! Karena mantan suami memang ada tapi tidak ada yang namanya mantan ayah"
Hanna merenungi ucapan sang ibu, ibunya benar, ia tidak bisa egois dengan menghilangkan sosok ayah bagi kedua buah hatinya
Terlebih Eleanor, bagaimanapun putrinya pasti menginginkan sosok seorang ayah. Dan Fathan, walaupun dia tidak bicara tetap saja bocah ini menginginkan ayahnya
"Aku mengerti Bu"
"Syukurlah! Bicarakan ini juga pada Rizal!" Hanna mengangguk lagi, namun entah bagaiman caranya ia bicara pada pria itu
Hanna seperti tidak ingin lagi melihat wajah menyebalkan Rizal yang pernah mencoba untuk menodainya
"Oh iya Bu, aku juga ingin bekerja" Ujar Hanna tiba-tiba
"Mbak mau kerja apa?" Tanya Hanin
"Mungkin jadi sekretaris, itukan sesuai sama background pendidikan aku. Mbak juga punya pengalaman kerja selama hampir satu tahun"
Sebelum menikah, Hanna memang bekerja sebagai seorang sekretaris. Lalu dirinya berhenti setelah hamil Fathan, dan sejak saat itu Hanna memutuskan untuk fokus mengurusi keluarga nya
"Aku setuju, lebih baik memang mbak Hanna menyibukkan diri dengan pekerjaan! Biar bisa secepatnya lupa sama baji___ itu!" Geram Hanin yang langsung mendapat teguran dari sang ibu
"Jangan bicara sembarangan Hanin! Disini ada anak-anak" Kesal Hanum
"Iya maaf Bu"
"Sudahlah!" Hanna menengahi
"Mbak udah ajuin lamaran?"
"Belum sih, mbak mau selesai kan masalah rumah tangga mbak dulu! Biar semuanya jelas!"
Tengah sibuk menikmati sarapan, suara seorang pria membuat mereka terkejut "Hay princess"
"Dokter Rama!" Seru Hanin yang langsung berdiri dari duduknya membuat Hanna menatap heran
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" Jawab semua orang yang ada disana
"Ayo dokter! Kita sarapan dulu!" Ajak Hanum dan pria tampan itu menurut
Dokter Rama duduk disamping Hanin yang tengah menyuapi Eleanor yang terus berceloteh
"Apa kabar princess nya om" Rama mengusap kepala putri Hanna itu
"Baik om dokter" Jawab Hanin sambil menirukan suara bayi, membuat keduanya terlihat bak keluarga bahagia
"Kalian keliatan cocok" Ucap Hanin tiba-tiba saja membuat dua orang dewasa itu salah tingkah
"Mbak salah, dokter Rama ini lagi naksir seseorang!" Ujar Hanin seraya menaik-turunkan alisnya menggoda dokter tampan itu "Iya kan dok?"
"Apaan sih? Kamu ini asal bicara" Rama menutupi kegugupannya dengan menikmati menu sarapan yang ada dihadapannya
"Oh iya, siapa anak ganteng ini?" Perhatian dokter Rama tertuju pada Fathan
"Dia Fathan, anak sulung ku" Jawab Hanna dan dokter Rama mengangguk tanda mengerti
"Hay Fathan, salam kenal yaa!"
Fathan menatap lekat pria yang duduk dihadapannya "Om ini siapa Mah?"
"Dia om dokter, dia temennya Mama sama Tante Hanin! Om dokter ini yang sudah membantu Mama"
"Makasih yaa om udah bantuin Mama aku" Ucapnya sopan
"Sama-sama nak"
Setelah sarapan, mereka bercengkrama sebentar lalu dokter Rama harus pergi kerumah sakit
Entah kenapa sejak mengenal keluarga Hanna yang hangat, Rama jadi betah bersama mereka
"Mbak anterin dokter Rama sebentar yaa! Aku ada telepon penting" Hanin menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan sebuah panggilan telepon
Akhirnya Hanna mengantar dokter Rama yang hendak keluar rumah, dokter Rama menggendong Eleanor yang terlihat akrab
"Aku pamit dulu!" Pamit Rama pada Hanna yang dibalas dengan senyuman ramah
Hanna hendak mengambil alih Eleanor yang berada digendongan Rama saat sebuah mobil berhenti didepan mereka
Seorang pria yang begitu Hanna kenal keluar dari mobilnya menghampiri mereka, Rizal terlihat tidak senang akan keberadaan Rama disana terlebih pria itu tengah menggendong putrinya
"Sedang apa dia disini?" Tanya Rizal dengan suara sinis
"Wati" Seru Hanna pada asisten rumah tangganya, dan seorang wanita paruh baya keluar
"Iya neng?"
"Tolong bawa Elea kedalam!" Titah Hanna dan wanita paruh baya itu mengangguk
Saat Eleanor sudah berada didalam rumah barulah Hanna menatap Rizal dengan tatapan permusuhan
Ia tahu akan ada kata-kata yang tidak pantas didengar oleh anak-anak walaupun Eleanor belum mengerti
"Mau apa lagi kamu kesini?" Tanya Hanna dengan nada kesal
"Kita bahkan belum resmi bercerai tapi kamu sudah membawa pria lain kerumah?" Hanna memutar matanya malas saat jawaban
"Lalu bagaimana dengan kamu?" Hanna tertawa sumbang "Kamu bahkan tidur dengan perempuan lain saat kamu memiliki istri yang sedang hamil!"
Skakmat!
Rizal terdiam bisu, kesalahannya memang begitu besar hingga tidak akan mudah untuk diperbaiki
"Tidak bisakah kita lupakan semuanya? Mas ingin memperbaiki pernikahan kita lagi!" Rizal memelas, melupakan amarahnya saat melihat kehadiran pria lain disamping istrinya
"Tidak ada yang bisa diperbaiki lagi mas! Sebaiknya kamu tidak mempersulit proses perceraian kita!" Ujar Hanna tegas
"Tidak! Mas tidak akan pernah menceraikan kamu!" Tegas Rizal membuat Hanna muak mendengarnya
"Cukup mas!" Teriak Hanna "Dengar! Aku tidak akan pernah menghalangi kamu bertemu anak-anak, tapi kita tidak akan pernah kembali bersama"
Rizal mengepal, terlihat jelas kemarahan dari wajahnya "Apa karena pria ini? Apa kamu juga sudah tidur bersama dia hingga menolak untuk memperbaiki semuanya?"
Plak
Hanna merasa terluka mendengar ucapan pria yang masih berstatus sebagai suaminya ini, hingga satu tamparan keras mendarat di pipi kirinya
"Aku bukan perempuan mura___ seperti kekasih gelap kamu itu" Ujar Hanna penuh kemarahan
"Saya pikir anda sangat mengenal Hanna, tapi sepertinya saya salah. Anda sama sekali tidak mengenal istri anda sendiri!" Rama terlihat kesal mendengar tuduhan itu
"Anda tidak perlu terlalu membela istri saya! Dia istri saya" Dokter tampan itu berdecih mendengar ucapan Rizal
Hanna muak mendengar semua ucapan Rizal, membuatnya mengusir pria itu
"Pergi dari sini!" Teriaknya yang tentu saja mengundang perhatian penghuni rumah lainnya
Hanin keluar bersama sang ibu setelah mendengar teriakan Hanna, tentu saja mereka terkejut saat melihat keberadaan Rizal disana
"Mau apa lagi baji___ ini disini?" Tanya Hanin dengan sinis
"Assalamualaikum Bu" Rizal mencium punggung tangan ibu mertuanya seolah tidak terjadi apapun
"Waalaikumsalam"
"Ngapain sih sok akrab sama ibu? Sebaiknya pergi dari sini!" Usir Hanin yang kesal
"Sebaiknya kamu pergi dari sini mas! Jangan membuat semuanya makin runyam" Hanna sebenarnya sudah muak bertemu dengan Rizal disini
"Aku pergi sekarang, tapi aku akan kembali lagi untuk menjemput kamu dan anak-anak"
Rizal berlalu, jika dirinya terus disini maka pertengkaran jelas akan terjadi. Sebelum pergi, ia melempar tatapan tajam kearah seorang pria yang sejak tadi hanya menyimak saja
"Maaf yaa Dok, harusnya dokter tidak melihat semua ini" Ucap Hanna penuh penyesalan, terlebih tadi Rizal menuduh dokter tampan itu yang tidak-tidak
"Tidak masalah, aku hanya tidak habis pikir ada pria seperti itu" Rama kemudian berpamitan lalu meninggalkan rumah Hanna
"Kamu gak apa-apa nak?" Tanya Hanum dengan raut wajah khawatir
Hanna menggeleng "Aku gak apa-apa Bu, hanya masih kesal saja"
"Sudahlah! Lebih baik kita masuk!"
ngapain juga ngurusin laki bgitu kl Aku mah bodo amat.
Aku dah ngrasain kok dan gk sebucin itu ma laki.
di khianati tambah sukses bukan mlh Gila Dan gk bisa move on plus plenger.