Katarina terjebak dalam raga seorang gadis malang yang tinggal di panti asuhan, Karina Putri.
Namun sebuah takdir mempertemukannya dengan seorang wanita kaya raya yang tiba-tiba mengangkat Karina sebagai putri angkatnya.
Tetapi bukan itu masalahnya, melainkan tiga kakak angkat Karina yang ternyata adalah tokoh utama dalam novel yang pernah dibacanya. Lalu takdir ketiga kakak angkatnya tidaklah baik, mereka akan mati ditangan tokoh utama wanita.
Namun, Karina tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan mengubah takdir ketiga kakak angkatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
“Kalian bisa pulang duluan, jemputanku sebentar lagi sampai,” kata Karina kepada kedua temannya yang masih menemaninya menunggu mobil jemputan.
“Tapi ini sudah malam, apa kamu berani sendirian di sini? Kita akan menemanimu,” Bening tetap diposisi, sehingga Winar kembali duduk.
“Aku berani, lagipula masih banyak orang di sini. Kalian pasti dicariin kalau pulang terlalu malam,” ucap Karina yang ada benarnya juga.
Bening berdiri dari duduknya, “Kalau begitu hubungi aku kalau ada sesuatu, beri kabar juga kalau sudah sampai rumah!”
Karina menganggukkan kepalanya, sebelum memeluk kedua temannya sebagai salam perpisahan.
“Hati-hati bawa mobilnya, Bening!” Pesan Karina kepada Bening yang kini mengangkat satu jempolnya sebagai jawaban.
Setelah mobil Bening meninggalkan area Cafe, sebuah mobil berwarna putih yang sudah Karina kenali akhirnya tiba juga.
Gadis itu bergegas membuka pintu mobil kakak ketiganya, lalu masuk ke dalam.
Jevan memang menelepon, karena disuruh Lesa untuk menjemput Karina yang sedang bermain di Cafe bersama teman-temannya. Sebab sopir pribadi Adhitama sedang mengantar Lesa, jadi tidak bisa menjemput Karina.
“Menunggu lama?” Tanya Jevan, sebelum menjalankan mobilnya.
Karina menggeleng pelan. “Aku juga baru selesai,” bohong gadis itu.
Sebenarnya Karina sudah menunggu Jevan hampir satu jam, tetapi ia tidak mau mengatakannya dengan jujur.
“Kamu sudah makan malam?” Tanya Jevan yang sebenarnya belum makan malam, karena baru pulang dari kantor.
“Sudah, tapi sedikit. Kak Jevan sudah makan malam? Apa mau aku masakin?” Tanya balik gadis itu.
“Belum. Kita ke apartemen Kakak, kamu bisa masak di sana!” Jevan memutar arah tujuan.
“Kenapa bukan di Mansion?” Bingung Karina yang baru pertama kali akan mengunjungi apartemen kakak ketiganya.
Padahal di dalam novel, keluarga Adhitama saja tidak pernah diizinkan masuk ke dalam apartemen Jevan. Bahkan Marcel juga hanya bisa menunggu di lobi, tetapi Karina diajak ke sana? Rasanya sedikit aneh.
“Nanti ada pengganggu,” jawab Jevan yang sama sekali tidak dimengerti oleh adik angkatnya.
Penganggu yang dimaksud Jevan adalah kedua saudara kembarnya, karena mereka pasti akan ikut makan masakan Karina. Jadi, Jevan tidak mau berbagi dengan kedua kakak kembarnya. Sehingga apartemen adalah pilihan terbaik, di sana juga sudah lengkap bahan-bahannya… Jevan sudah menyuruh orang kepercayaannya untuk belanja.
“Kamu jangan banyak tanya, kepala Kakak sangat pusing!” Kata Jevan yang membuat Karina kembali mengatup bibirnya yang hendak mengucapkan sesuatu.
Gadis itu benar-benar diam, tidak mengatakan apapun agar Jevan tidak semakin pusing. Meskipun Karina masih belum puas dengan jawaban sang kakak.
...***...
“Mandi dulu, kamu bisa pakai pakaian Kakak di lemari!” Kata Jevan saat mereka memasuki unit apartemen pria itu.
Karina menganggukkan kepalanya, ia memang merasa tidak nyaman dengan seragam yang sudah dipakainya hampir seharian.
“Aku mandi di mana?” Tanya gadis itu yang menghentikan langkah Jevan.
“Kamat utama, Kakak akan mandi di kamar satunya!” Jevan menunjuk pintu berwarna cokelat.
Karina mengangguk, sebelum bergegas masuk ke dalam kamar utama. Sedangkan Jevan masih duduk di sofa dan membalas beberapa pesan dari Marcel yang liburannya benar-benar dibuat kacau olehnya.
Setelah selesai, Jevan beranjak dari sofa dan bersiap untuk mandi untuk mengurangi rasa lelahnya. Namun ia belum mengambil pakaian ganti, jadi Jevan masuk ke kamar utama untuk mengambil pakaian ganti.
Ceklek!
Pria itu membeku, saat pintu kamar mandi terbuka dari dalam dan memperlihatkan sosok Karina yang memakai handuk untuk menutupi tubuhnya.
Karina juga terkejut, karena ia tidak tahu kalau Jevan akan masuk ke dalam. Gadis itu kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan jantung yang berdebar sangat kencang.
Karina lupa mengambil baju ganti, jadi ia kembali keluar untuk mengambilnya. Namun ternyata waktunya tidak tepat, Jevan juga sedang mengambil baju ganti.
“Kakak sudah selesai mengambil baju, keluarlah sebentar lagi!” Suara Jevan terdengar.
Karina memejamkan matanya, saat mendengar suara pintu yang tertutup. Gadis itu merutuki kebodohannya, karena tidak mengambil baju ganti terlebih dahulu.
Sedangkan Jevan, pria itu tidak langsung masuk ke dalam kamar mandi di kamar sebelah. Pikirannya terus berputar pada kejadian tadi, bahkan lekuk tubuh Karina tidak bisa hilang dari ingatannya.
“Ada apa denganku?” Bingung Jevan yang kini memukul kepalanya sendiri untuk menghilangkan bayangan Karina yang memakai handuk.
Mungkin dengan air dingin, pikiran Jevan bisa lebih tenang. Jadi, pria itu memutuskan untuk masuk ke dalam mandi dan mengguyur tubuh lelahnya dengan air yang begitu dingin.
Kembali pada Karina, gadis itu sudah memakai baju Jevan yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Ia juga memakai celana selutut milik Jevan yang ternyata juga terlihat kepanjangan di kakinya.
“Tenang Karina, anggap saja kejadian tadi tidak pernah ada!” Karina menyentuh dadanya yang masih berdebar sangat kencang.
Hidungnya bisa merasakan aroma Jevan yang melekat pada baju yang dipakainya, sehingga sangat sulit untuk melupakan kejadian memalukan tadi.
Namun Karina harus bergegas menyiapkan makan malam untuk kakak ketiganya, mungkin dengan makanan ia bisa semakin dekat dengan Jevan.
Gadis itu bergegas keluar dari kamar utama dan langsung menuju ke arah dapur yang tadi sempat dilihatnya. Ia membuka lemari es dan mengeluarkan daging ayam dan bahan-bahan yang lainnya.
“Wah, lengkap sekali!” Kagum gadis itu saat melihat lemari es dua pintu tersebut isinya begitu lengkap.
Sehingga, Karina tidak akan bingung untuk memasak apa. Meskipun masakannya sederhana, setidaknya bisa dimakan.
Jevan tidak mungkin makan di luar, karena ia adalah seorang artis dan keberadaannya pasti akan disadari oleh para penggemarnya.
Lalu Karina juga suka memasak, jadi gadis itu terlihat menikmati kegiatannya di dalam dapur sampai tidak menyadari sepasang mata tajam yang memperhatikannya dari jauh.
“Dia terlihat senang,” gumam Jevan yang masih diam di tempat, tidak ingin mengganggu kesenangan adik angkatnya.
Dari tempatnya, Jevan mulai mencium aroma lezat dari masakan yang dibuat Karina. Ternyata gadis itu tidak hanya bisa memasak nasi goreng saja.
“Kak Jevan sudah selesai? Bisa minta tolong untuk lihat nasinya sudah matang atau belum?”
Karina sedikit terkejut melihat sosok Jevan yang berdiri cukup jauh, tetapi gadis itu juga membutuhkan bantuan Jevan… karena tangannya sedang sibuk.
Pria itu tidak mengangguk, tetapi kakinya melangkah ke dapur. Karina mencoba fokus dengan masakannya, saat Jevan berdiri di sebelahnya untuk melihat nasi yang dimasaknya.
“Sudah matang,” kata pria itu yang membuat Karina tersentak kaget.
“Hati-hati! Kamu sangat ceroboh!” Geram Jevan saat mendengar ringisan pelan dari sang adik.
Pria itu menatap jemari Karina yang terlihat memerah, karena terkena cipratan minyak panas. Sedangkan Karina menahan napasnya, saat wajah sang kakak begitu dekat dengannya.
Bersambung!
semangat thor 💪💪