( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )
Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Main palace battle
Sang Pangeran Datang
Suara dentuman dari kejauhan terus mengguncang tanah di sekitar istana Nightdoom.
Langit yang biasanya tenang kini dipenuhi bayangan-bayangan besar yang bergerak di kejauhan, sementara debu dan getaran setiap hantaman batu membuat udara terasa berat, seolah dunia sendiri sedang menahan napasnya.
Para pasukan berdiri dalam formasi darurat, wajah mereka dipenuhi campuran antara ketakutan, kelelahan, dan ketidakpercayaan terhadap apa yang sedang mereka hadapi.
Di tengah kekacauan itu, seseorang tiba-tiba muncul di garis depan.
Seorang pemuda dengan zirah kerajaan.
Leoric Nightvale.
Beberapa detik pertama, tidak ada yang bereaksi.
Seakan otak para prajurit menolak untuk menerima kenyataan bahwa putra mahkota mereka berdiri langsung di medan seperti ini.
Hingga akhirnya Gideon berlari.
Langkahnya cepat, namun penuh tekanan.
Ia berhenti tepat di depan Leoric, napasnya masih tersengal.
“Pangeran… apa yang Anda lakukan di sini?”
Matanya bergerak cepat, memastikan tidak ada celah bahaya di sekitar Leoric.
“Ini bukan tempat untuk Anda berdiri.”
Leoric hanya menatap ke depan.
Jauh di sana, monster-monster raksasa itu masih bergerak, tubuh mereka seperti gunung hidup yang perlahan menggeser dunia di bawahnya.
Tanpa menoleh, Leoric menarik napas pelan.
“Aku?” jawabnya ringan.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Tentu saja untuk ikut mengalahkan monster jelek yang mengganggu itu.”
Ia mengangkat pedangnya sedikit.
Cahaya gelap di bilahnya memantulkan langit yang retak.
Gideon langsung panik.
“Pangeran, mohon kembali ke dalam istana! Ini perintah darurat—”
Leoric menoleh sedikit.
Tatapannya tajam.
“Hoo… jadi kau memerintahku?”
Seketika Gideon membeku.
Bukan karena marah…
Tapi karena sadar siapa yang sedang ia hadapi.
Ia menunduk cepat.
“Ti-tidak, Pangeran… saya hanya…”
Suaranya melemah.
“…khawatir.”
Di belakang mereka, suara teriakan memecah udara.
“Bersiap! Mereka akan melempar lagi!”
Leopard berdiri di tengah barisan, tangannya menunjuk ke arah langit yang dipenuhi pergerakan monster.
Dalam hitungan detik, para pasukan bergerak seperti mesin yang dipaksa hidup kembali.
Ballista ditarik.
Ketapel raksasa disiapkan.
Batu-batu besar diangkat dengan tenaga yang tersisa.
Gideon kembali menatap Leoric.
Wajahnya kali ini lebih keras.
“Pangeran… situasi ini sudah di luar kendali.”
Ia menghela napas.
“Bahkan jika kami kalah… setidaknya kami bisa menahan mereka sampai rapat kerajaan selesai.”
Leoric mengernyit kecil.
“Rapat itu tidak akan mengubah apa pun.”
Ia melangkah satu kali ke depan.
“Satu-satunya cara adalah mengalahkan mereka.”
BOOOOM!
Sebuah batu raksasa jatuh dari langit.
Menabrak menara penjaga istana.
Suara patahan batu dan kayu bercampur menjadi satu, lalu bangunan itu runtuh perlahan seperti tubuh yang kehilangan tulangnya.
Debu naik tinggi, menutup sebagian pandangan.
Gideon mengepalkan tangan.
Kali ini, suaranya tidak lagi memohon.
“Tuan Leoric…”
Ia menatap lurus.
“Saya siap kehilangan jabatan saya… jika itu demi memastikan Anda tetap hidup.”
Hening sejenak.
Leoric tidak langsung menjawab.
Angin bertiup di antara mereka, membawa debu dan suara jauh dari kehancuran yang terus berlangsung.
Lalu Leoric tersenyum kecil.
“Huft…”
Ia menurunkan pedangnya sedikit.
“Aku suka ketegasanmu.”
Ia berbalik.
“Baiklah. Aku akan kembali ke dalam.”
Gideon langsung menghela napas lega.
“Terima kasih, Pangeran.”
Leoric berlari menuju gerbang istana.
Sementara itu, Gideon kembali ke posisinya.
“Siapkan ketapel! Targetkan kepala mereka!”
Dalam beberapa detik, peluncuran dimulai.
WHOOSH!
Batu-batu besar melesat ke udara, membentuk lengkungan seperti hujan yang dibalik arah.
Beberapa menghantam tubuh monster.
Tapi hasilnya… jauh dari cukup.
Hanya goresan kecil.
Sedikit debu.
Sedikit darah.
Raungan monster mengguncang udara.
Suara itu dalam, berat, seperti berasal dari bawah bumi.
Beberapa pasukan langsung kehilangan fokus.
Ada yang mundur setengah langkah.
Ada yang menelan ludah tanpa sadar.
Gideon mengangkat suaranya.
“Dengar!”
Ia berdiri di tengah mereka.
“Kalau kita mati, kita setidaknya mati sebagai orang yang melakukan sesuatu!”
Ia menunjuk ke arah monster.
“Bukan orang yang bersembunyi!”
Beberapa pasukan tertawa kecil, meski napas mereka berat.
“Tapi kalau mati… kita nggak bisa lihat wajah kita di buku sejarah…”
Gideon menyeringai tipis.
“Kalau begitu, jangan mati.”
“Angkat batu itu lagi!”
“Kalau kita kalah, kita tetap akan jadi cerita!”
“HOOOOO!!!”
Teriakan itu pecah seperti gelombang.
Semangat yang rapuh berubah menjadi tenaga yang dipaksakan.
Leopard mengangkat batu besar dengan seluruh kekuatannya.
Tangan dan kakinya gemetar.
Tapi ia tidak berhenti.
Ketapel kembali disiapkan.
Gideon mengangkat tangannya tinggi.
“FIRE!!!”
Langit Nightdoom berubah.
Bukan biru…
Tapi penuh proyektil.
Batu dan kayu melesat ke segala arah.
Ketika debu mulai turun…
Ada sesuatu yang berubah.
Monster itu terluka.
Bukan parah.
Tapi cukup untuk mengeluarkan darah.
Untuk pertama kalinya sejak serangan dimulai…
Para pasukan melihat hasil.
Dan itu cukup untuk membuat mereka tetap berdiri.
Gideon menghela napas.
“…akhirnya.”
Namun kemudian ia membeku.
Matanya melebar.
“Meriam…”
Ia menatap ke belakang.
“Aku bisa pakai meriam dari tembok…”
Tapi sebelum perintah itu sempat keluar—
Langit berubah lagi.
Monster-monster itu mengangkat tangan mereka.
Bukan batu besar seperti sebelumnya.
Tapi ribuan batu kecil.
Sejenak…
Dunia terasa diam.
Lalu—
SHHHHHHHRRRRRR!!!
Batu-batu itu melesat seperti hujan kematian.
Kecepatan mereka tidak masuk akal.
“MENUNDUK!!!” teriak Leopard.
Segalanya terjadi terlalu cepat.
Teriakan.
Benturan.
Jeritan.
Pasukan jatuh satu per satu.
Ada yang tidak sempat bereaksi.
Ada yang langsung tumbang.
Ada yang masih hidup… tapi tidak lagi lengkap.
Gideon berdiri terpaku sesaat.
Hanya satu detik.
Namun itu cukup untuk membuat dunia terasa runtuh.
“BERTAHAN!!!” teriaknya akhirnya.
Tapi suaranya tenggelam di tengah kekacauan.
Istana berubah menjadi medan neraka.
Dan itu belum selesai.
Di tengah kekacauan itu…
Suara langkah kuda terdengar.
Dari arah yang tidak seharusnya.
Sosok seseorang melesat keluar dari gerbang istana.
Menunggang kuda hitam.
Langsung menuju medan terbuka.
Menuju para monster.
“Wow… Anda benar-benar mengelabui semua orang.”
Kata Sarioth dalam wujud pedangnya.
Suara itu ringan.
Seolah ini bukan medan perang.
Gideon membeku saat melihatnya.
“…itu…”
“Leoric.”
Ia langsung berteriak.
“LEOPARD! IKUT AKU!”
Tanpa ragu, ia berlari menuju kandang kuda.
Sementara itu…
Leoric terus maju.
Angin menghantam wajahnya.
Debu perang menempel di pakaiannya.
“Aku takut…”
Suaranya pelan.
“Tapi bukan berarti aku berhenti.”
Pedang hitamnya terhunus.
Sarioth aktif.
Dalam satu gerakan cepat…
Leoric menebas.
CRASH!
Kaki monster raksasa itu terputus.
Monster lain berbalik.
Serangan datang.
Leoric bergerak di atas kuda.
Memutar tubuh.
Menangkis.
Membelah serangan.
Lalu melompat.
Menusuk.
Di kejauhan, Gideon dan Leopard akhirnya menunggang kuda.
Mengejar dengan panik.
“Ya Tuhan…”
“Lindungi pangeran itu…”
Ketika mereka tiba di sisi pandang terbuka…
Mereka melihatnya.
Leoric berdiri di tengah medan.
Membawa napas berat.
Dikelilingi oleh lima monster yang telah jatuh.
Dan untuk pertama kalinya hari itu…
Medan perang benar-benar diam.
semangat!
seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.