Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 Rencana
Amanda kembali ke apartemennya, menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan telentang.
"Pada akhirnya mereka sudah menyadari siapa aku sebenarnya. Aku tidak takut sama sekali dengan ancaman yang mereka berikan dan meski mereka berempat dan aku sendiri, tetapi aku punya cara dan rencana yang jauh lebih licik dibandingkan mereka,"
"Amanda kamu harus hati-hati dengan mereka, bagaimanapun kamu tidak boleh lengah, ingat kamu tidak memiliki kesempatan yang banyak untuk menyelesaikan semua ini. Kamu harus bisa membalaskan semua dendam kamu, memberi pelajaran kepada mereka untuk saling menyakiti satu sama lain," ucap Amanda dengan suaranya yang penuh dengan penekanan dan tatapan matanya dipenuhi dengan dendam.
****
Sementara di sisi lain Maya, Maudy, Sisil, dan Reno, tampak menikmati makan malam bersama.
"Tidak, menyangka jika wanita obesitas itu bisa kembali dan kembali dengan merubah dirinya, sudah pasti ada maksud di belakangnya dan hal ini tidak boleh membuat kita lengah," ucap Maya mulai berhati-hati.
"Mama benar, aku juga sudah mencuriganya sejak awal bertemu dengannya, aku tidak akan memberikan celah sedikitpun kepadanya, termasuk ikut campur dalam perusahaan, aku harus meminta Egar untuk memberhentikannya menjadi model produk terbaru yang akan dikeluarkan perusahaan," ucap Maudy.
"Apa maksud Kakak? wanita itu terlibat dalam perusahaan?" tanya Sisil memastikan.
"Ya, itu merupakan suatu kelengahan karena tidak mengetahui terlebih dahulu siapa dia, tetapi jangan khawatir Egar akan menyelesaikan semuanya dan wanita itu tidak akan mendapat kesempatan apapun, apapun yang direncanakan saat ini tidak akan berpengaruh untuk kita semua," sahut Maudy dengan sangat yakin.
"Kamu benar, intinya kita semua sudah mengetahui siapa wanita itu, kita semua tidak bodoh dan pasti tahu ada sesuatu di balik semua itu, jadi yang terpenting bagaimana semuanya harus hati-hati dan tidak akan memberi dia kesempatan untuk mengambil semua yang sudah menjadi milik kita!" tegas Maya.
Ibu dan kedua anaknya tampak mengangguk-anggukkan kepala, ternyata kehadiran Amanda tidak membuat mereka takut.
Sisil menoleh ke arah sang suami yang sejak tadi hanya makan tanpa merespon obrolan mereka.
"Sayang, kenapa kamu sejak tadi diam saja? Apa kamu tidak ingin mendukung kita untuk menyelesaikan Amanda?" tanya Reno.
"Atau jangan-jangan karena sekarang mantan istri kamu sudah berubah menjadi lebih cantik dan kamu tertarik padanya," sahut Maya dengan celetukannya sembarangan membuat Sisil mengerutkan dahi.
"Kamu tertarik pada Amanda?" Sisil tampak begitu khawatir ingin memastikan secara langsung pada suaminya membuat makan Reno sudah tidak nafsu lagi dan meletakkan sendok tersebut di atas piringnya.
"Apa-apaan sih, kenapa kamu asal menuduh begitu?" tanya Reno tampak tersinggung dengan perkataan istrinya.
"Jika apa yang dikatakan Mama tidak benar dan seharusnya kamu merespon obrolan kita berdua dan juga harus berhati-hati atau paling tidak memberi masukan dengan kepulangan Amanda, bukan hanya diam saja seperti ini yang membuat spekulasi buruk dalam pikiranku," ucap Sisil.
Reno menarik nafas dan membuang perlahan ke depan.
"Sisil, aku sama sekali tidak memikirkan apapun dan bahkan aku hanya makan dengan tenang, kamu bisa tidak jangan berpikiran buruk kepadaku sekali saja. Aku capek juga harus bertengkar terus dengan kamu!" tegas Reno berdiri dari tempat duduknya dengan menggeser kursi dan kemudian langsung meninggalkan meja makan.
"Sayang, kamu mau ke mana? Aku belum selesai bicara, kamu selalu kebiasaan meninggalkan obrolan kita?" Amanda berteriak-teriak memanggil suaminya yang telah diabaikan Reno.
"Amanda, kamu semakin hari semakin tidak ada bedanya dengan Tarzan teriak-teriak tidak jelas di rumah ini," tegur Maya dengan gendang telinganya hampir saja pecah karena teriakan dari Sisil.
"Ini semua gara-gara Mama, kenapa coba tiba-tiba saja mengatakan hal seperti itu. Sudah tahu Mas, Reno belakangan ini sensitif dan Mama selalu saja mencari masalah," sahut Sisil.
"Jadi sekarang kamu menyalahkan Mama?"tanya Maya tampak tidak terima.
"Sisil, kalau suami kamu berubah menjadi orang yang sensitif belakangan ini dan seharusnya kamu mencoba intropeksi diri, mungkin ada sesuatu yang membuatnya marah dan kesal dan hati-hati biasanya laki-laki yang mudah tersinggung sudah pasti ada main di belakang," sahut Maudy.
"Maksud Kakak apa? Kakak menuduh suamiku memiliki wanita idaman lain di luar sana?" tanyanya juga tampak ikut tersinggung dengan apa yang dikatakan Maudy.
"Tidak menuduh, hanya memberi gambaran saja untuk lebih berhati-hati kepada suami yang memiliki sifat seperti itu," sahut Maudy.
"Tidak perlu mengurus diriku, Kakak urus saja diri Kakak sendiri," ucap Sisil tampak begitu kesal mendapat teguran yang membuatnya juga meninggalkan meja makan.
"Tidak istri tidak suami sama saja, kebiasaan meninggalkan meja makan memang tidak bisa diubah," umpat Maya terlihat begitu sangat kesal.
******
Amanda dan Gina berada di salah satu cafe langganan mereka, cafe tempat pertama kali mereka makan bersama dan ternyata itu menjadi tempat favorit mereka dengan keduanya duduk saling berhadapan dan makanan yang sudah dihidangkan oleh pelayan dan mulai dinikmati.
"Jika tidak berubah produk ini akan segera di launching dan kemungkinan bulan depan produk minuman segar keluaran baru perusahaan akan di launching," ucap Gina tidak lupa menyampaikan kabar tersebut kepada Amanda.
"Sebagai brand ambassador dari produk yang dikeluarkan oleh perusahaan kamu, sudah pasti aku turut senang mendengarnya," sahut Amanda sembari mengunyah makanannya.
"Hmmmm, dan iya Amanda, mengingat tentang iklan yang kamu bicarakan kemarin, aku dan pak Egar sudah membicarakan iklan tersebut dan kemungkinan minggu depan kita sudah mulai memproduksi iklannya, semoga saja syutingnya tidak berbentrokan dengan jadwal kamu," ucap Gina.
"Kamu berikan saja jadwalnya kepadaku dan kemungkinan aku bisa mengatur jadwal agar tidak bentrokan," jawab Amanda dengan santai.
"Baiklah, tetapi kita harus melakukan shooting di Jepang," ucap Gina.
"Syuting di Luar Negeri?" tanya Amanda kembali memastikan.
"Benar, iklan produk minuman sangat tepat jika dilakukan syuting di tempat yang cocok dan Jepang sudah menjadi pilihan pak Egar, kami sudah menentukan tempat hotel dan juga hal-hal yang lainnya, jadi aku sangat berharap jadwalnya memang benar-benar cocok dengan jadwal kamu," ucap Gina memberi sedikit penjelasan.
"Kira-kira berapa hari kita akan melakukan shooting di Jepang?" tanya Amanda.
"Memungkinkan bisa sampai 1 minggu, tetapi jangan khawatir aku akan berusaha membicarakan semua ini dengan kru agar semuanya berjalan dengan cepat, aku tahu Amanda kamu memiliki kesibukan," sahut Gina.
"Kamu jangan terlalu berlebihan memperlakukanku, aku sudah mengambil pekerjaan ini dan secara profesional akan menjalankannya sesuai dengan aturan perusahaan. Jadi tidak masalah bagiku yang terpenting sama-sama memberikan keuntungan dari pihak masing-masing," sahut Amanda dengan sangat bijak membuat Gina menghela nafas.
Bersambung.....