"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penggalian
Sampai di kampung cadas sore hari, Kaelan langsung ke makam Maryani karena Jamal, Saidah, Rumi dan Abidin sudah menunggu di sana, Abidin bahkan sudah menyiapkan kain kafan baru yang dia bawa di balik pakaian yang dia pakai.
Banyak tatapan sinis di terima Kaelan, semua warga yang berpapasan dengannya tak ada yang bersikap ramah, mereka hanya mencibir dan menatap datar Kaelan juga Prawira. bahkan Narno juga mengikuti Kaelan ke makam Maryani karena dia khawatir Kaelan melakukan sesuatu yang akan membuat usahanya gagal.
"Kami memakamkan Maryani dengan adat kampung ini" ucap Narno
"Kenapa tidak menungguku? aku suaminya dan berhak memakamkan Istriku!" bentak Kaelan
"Jangan kurang ajar pada tetua kami!" bentak Beno
"Tetua itu harusnya bisa memberikan contoh yang baik, aku sudah bukan bagian dari kampung ini sejak tiga tahun lalu dan aku akan membawa istriku bersamaku!" jawab Kaelan membuat Prawira dan Abidin terkejut karena bukan Itu rencana mereka.
"Kak..."
"Kamu ingin membawa jasad istrimu! silahkan, tapi jangan salahkan aku kalau kalian akan menemukan kesialan karena sudah menggali kuburan di kuburan kampung cadas, Jamal! kamu tahu kan apa alasannya!" bentak Narno
"I.. iya Mbah" jawab Jamal yang tahu bahkan menyaksikan sendiri bagaimana orang orang yang hendak mencuri jasad di kampung cadas meninggal di tempat bahkan dalam keadaan mengenaskan.
Itu di sebabkan karena tanah yang ada di pemakaman itu adalah tanah milik dari makhluk bernama Jayandanu, sesosok kelabang raksasa yang merupakan sekutu Narno dan juga bawahan Malak.
"Iya nak, kita berdo'a saja untuk Maryani, jangan menantang Mbah Narno" bujuk Saidah
"Ayo nak, kita do'akan Maryani, Mbah sudah bawa banyak buah untuk penghuni tempat ini' bujuk Rumi menarik tangan Kaelan yang masih menatap tajam Narno.
Kaelan mengalah, dia berjalan menuju ke makam Maryani sambil sesekali berbalik memastikan Narno pergi dan ternyata berhasil, tipuan Kaelan yang mengatakan akan membawa jasad Maryani berhasil, karena Kaelan mengatakan itu supaya Narno marah dan mengancam Kaelan di depan warga, jadi jika jasad Maryani hilang warga tidak akan menuduh Kaelan karena Jamal dan Saidah ketakutan anaknya itu meninggal.
"Jadi itu rencana kamu?" tanya Abidin sudah hampir memarahi Kaelan
"Iya Mbah, itu supaya Narno percaya kalau Kaelan takut dan akan di cegah bapak juga ibu untuk tidak melakukan hal bodoh, dan lihat, dia tidak mengikuti Kaelan lagi sekarang" jawab Kaelan
Kaelan mengusap nisan Maryani, dia kembali menitikkan air matanya karena terlambat datang untuk menemani istrinya melahirkan, semua itu juga tidak di sangka Kaelan yang tahu Maryani akan melahirkan dua minggu lagi jadi Kaelan terus bekerja lembur di resort supaya bisa cuti lebih lama.
"Maryani, aku sudah membelikan kalung untuk kamu, aku hanya bisa memberikan cincin pernikahan biasa saja dulu, sekarang aku bawa kalung untuk kamu, tapi kamu malah pergi" ungkap Kaelan
"Lihat, aku bawa gelang kaki untuk anak kita, dalam mimpiku dia perempuan, dia pasti cantik kalau memakai gelang kaki ini, bahkan pak Sagara memberikan hadiah anting juga untuk anak kita tapi... mungkin tidak akan bisa di pakai"
"Maryani rambutku sudah semakin panjang, ayo kamu bangun dan usap rambutku seperti saat kita bersama dulu, aku tidur di pangkuanmu dan kamu mengusap rambutku sampai aku tertidur"
Air mata Kaelan terus mengucur deras di depan pusara Maryani, Saidah dan Jamal bahkan ikut menangis tak terkecuali Rumi, Abidin dan Prawira, tapi mereka tidak bisa melakukan apapun.
"Eeaaa....."
"Pak, apa kalian mendengar sesuatu?" tanya Kaelan karena merasa mendengar suara samar.
"Tidak nak, suara apa?" tanya Jamal
"Tidak tahu pak, tapi ada suara... pelan tapi masih terdengar..."
Kaelan melihat sekeliling karena dia khawatir ada orang yang memantau mereka, tapi tidak ada siapapun dan Kaelan tahu kalau warga kampung itu tidak akan keluar rumah setelah pukul lima sore, dan saat itu sudah masuk pukul lima lebih lima belas menit.
"Mungkin itu suara Jayandanu" ucap Prawira
"Sudah masuk waktu suruf, sekarang saatnya" ucap Rumi
"Baik Mbah" jawab Kaelan dan Prawira
Keduanya berdo'a terlebih dahulu, Abidin memagari tempat itu dengan pagar gaib supaya orang orang mengira mereka sudah pulang dan tidak terlihat di sana, Jamal dan Saidah tetap di dalam pagar itu untuk mengurus jenazah Maryani.
Srak. Srak.
Kaelan dan Prawira mulai menggali tanah makam Maryani, mereka memastikan menggalinya dengan hati hati karena makam di sana tidak di lengkapi dengan bambu sebagai penghalang tanah dengan jasad, jasad manusia di kubur di sana sama layaknya dengan bangkai yang sudah mati.
"Eeaaa... Prawira, kamu dengar kan?" tanya Kaelan
"Tidak kak"
"Cepat gali, anakku ada di dalam dan hidup, dia sudah lahir!" ucap Kaelan yakin bahkan menggunakan tangannya supaya tidak menyakiti bayinya kalau iya dia sudah lahir di dalam kubur.
"Nak bertahan, ayah akan mengeluarkan kamu secepatnya nak, jangan menangis, ayah di sini kamu jangan takut" ucap Kaelan terus menggali hingga tak terasa waktu sudah masuk waktu mahgrib.
"Nak, itu kain kafannya sudah terlihat" ucap Jamal yang memegang senter supaya Kaelan bisa melihat dengan jelas.
"Maryani sayang, aku di sini, kamu masih hidup kan" ucap Kaelan segera membersihkan tanah yang ada di kain kafan Maryani, Prawira naik dia melihat ke sekeliling karena khawatir makhluk bernama Malak itu datang dan memergoki mereka, di tambah dengan makhluk bernama Jayandanu yang biasanya muncul saat setelah isya.
"Segera bawa naik Maryani" ucap Abidin
"Oek... Oek... Oek..."
Kain kafan yang sudah kotor itu terlihat bergerak di bagian perut bawah Maryani yang masih tertutup tali, saat Kalean membukanya, semua orang terperanjat karena seorang bayi merah terlihat menangis dan bergerak lemah dengan tali pusar yang melilit lehernya.
"Masya Allah kang, bayi Maryani keluar sendiri dari jalan lahirnya, bahkan tidak ada darah sama sekali, Kaelan segera berikan dia, bayi kamu harus segera di urus!" ucap Rumi
Kaelan begitu terkejut, seorang bayi muncul dari dalam kain kafan Maryani yang sudah terlihat kotor dan bahkan bayi itu meringkuk memeluk perut Maryani yang sudah terbujur kaku dengan wajah pucat dan membiru.
"Maryani.... bangun sayang, anak kita juga hidup, kamu juga harusnya hidup, aku sudah di sini" bisik Kaelan memeluk Maryani dengan masih menggendong anaknya yang masih terlilit tali pusar.
"Kaelan bayimu bisa meninggal berikan dia padaku" ucap Rumi tapi Kaelan tetap mengusap pipi Maryani agar terbangun.