NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempat Berlindung

Angin malam berhembus kencang menerpa wajah Taylor saat dia melesat membawa mobilnya keluar dari gerbang utama Istana Buckingham. Lampu-lampu jalan London yang berjejer rapi di sepanjang jalan hanya terlihat seperti garis cahaya kabur yang lewat dengan cepat di matanya. Kakinya menekan pedal gas sedalam mungkin, jantungnya berdebar tak karuan, dipenuhi rasa takut dan cemas yang tak bisa dia kendalikan. Di dalam benaknya hanya ada satu pikiran: dia harus sampai ke tempat Elizabeth dan Hunter secepat mungkin, sebelum orang lain datang lebih dulu dan menyakiti mereka.

Sepanjang perjalanan, bayang-bayang wajah Guetta dan Berlin terus berputar di dalam pikirannya. Dia tahu betul sifat kedua orang itu—mereka takkan segan-segan melakukan cara kotor apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Selama bertahun-tahun mereka diam dan menyembunyikan niat buruknya, menunggu saat yang tepat untuk menyerang, dan kini saat itu akhirnya tiba. Mereka berharap bisa menggunakan kabar ini untuk membuatnya terlihat buruk di mata rakyat, membuatnya kehilangan dukungan, dan akhirnya mendorongnya keluar dari posisi pewaris takhta, sehingga mereka bisa mengambil alih kekuasaan yang selama ini mereka dambakan.

Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di depan rumah tempat Elizabeth dan Hunter tinggal. Mobilnya berhenti terburu-buru di tepi jalan, dan dia langsung melompat keluar, berlari menuju pintu depan, lalu mengetuknya dengan keras dan cepat. Hanya butuh beberapa detik sebelum pintu terbuka, dan wajah Elizabeth yang terlihat cemas dan bingung muncul di balik pintu.

“Taylor? Kenapa kau datang di jam segini? Ada apa? Wajahmu terlihat pucat sekali,” ucap Elizabeth, menatap laki-laki di hadapannya dengan mata yang melebar. Dia bisa melihat dengan jelas ketakutan dan kegelisahan yang tergambar jelas di wajah Pangeran.

“Kita tak punya waktu banyak, El,” ucap Taylor tergopoh-gopoh, tangannya menggenggam kedua bahu wanita itu erat-erat. “Kabar tentang kehadiranmu dan Hunter sudah menyebar ke seluruh istana. Guetta dan Berlin yang menyebarkannya, dan mereka pasti sudah mengatur rencana buruk untuk menjatuhkan kita. Kalau kita tinggal di sini lebih lama lagi, kalian berdua akan dalam bahaya besar. Kita harus pergi dari sini sekarang juga, membawa kalian ke tempat yang aman sebelum mereka datang.”

Wajah Elizabeth seketika berubah pucat mendengar kata-kata itu. Selama ini dia berharap bisa menyelesaikan semuanya dengan cara yang baik dan teratur, berharap bisa menghadapi masalah ini satu per satu dengan tenang. Tapi kini dia sadar, musuh-musuh mereka takkan memberi mereka waktu untuk bersiap. Mereka bergerak lebih cepat dari yang dia duga, dan kini keselamatan dirinya dan anaknya tergantung pada kecepatan dan keputusan yang mereka ambil saat ini juga.

“Hunter sedang tidur di dalam kamar,” ucap Elizabeth dengan suara yang bergetar karena cemas. “Aku akan segera membereskan barang-barang yang paling penting. Kita butuh waktu sepuluh menit saja, tidak lebih.”

“Cepatlah, sayang. Aku akan menunggu di sini. Jangan bawa terlalu banyak barang, ambil hanya apa yang paling kalian butuhkan. Keamanan kalian adalah hal yang paling penting sekarang,” jawab Taylor, lalu membiarkan wanita itu masuk kembali ke dalam rumah untuk bersiap.

Elizabeth berlari masuk ke dalam kamar tidur tempat anaknya terlelap dalam tidurnya yang nyenyak. Dia mengusap kepala anaknya dengan lembut, lalu menggendong tubuh mungil itu dalam pelukannya. Hunter terbangun sedikit, mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih berat, lalu mengerang pelan.

“Ibu? Kita mau pergi ke mana?” tanya anak itu dengan suara yang masih berat karena mengantuk.

“Kita akan pergi ke tempat yang aman, sayang. Tempat di mana tak ada yang bisa menyakiti kita. Ayah sudah menunggu di luar, dan dia akan menjaga kita,” bisik Elizabeth lembut di telinga anaknya, lalu membungkus tubuh mungil itu dengan selimut hangat. Dia memasukkan pakaian ganti, obat-obatan, dan beberapa barang kesayangan anaknya ke dalam tas kecil, lalu berlari kembali keluar untuk bergabung dengan Taylor.

Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil, dan dalam hitungan detik kendaraan itu kembali melesat menembus gelapnya malam. Elizabeth duduk di kursi belakang, memeluk anaknya erat-erat di dalam pelukannya, menatap punggung Taylor yang terlihat tegang di kursi pengemudi. Dia bisa melihat betapa beratnya beban yang dipikul laki-laki itu di pundaknya, dan hatinya terasa sakit karena menyadari bahwa semua masalah ini datang karena kehadirannya dan anaknya.

“Maafkan aku, Taylor,” bisik Elizabeth pelan, suaranya bergetar menahan tangis. “Seandainya aku tak kembali, seandainya aku menyembunyikan kebenaran ini selamanya, kau takkan harus menghadapi semua masalah ini. Kau takkan harus bertengkar dengan orang tuamu, dan kau takkan harus diancam oleh orang-orang yang iri padamu. Semua ini salahku.”

Taylor menoleh sekilas, menatap wajah wanita itu melalui kaca spion, lalu menggeleng kuat. “Jangan pernah bicara seperti itu, El. Jangan pernah kau menyalahkan dirimu sendiri untuk hal-hal yang tak pernah kau lakukan. Kalau ada yang harus disalahkan, itu adalah aku. Lima tahun yang lalu aku terlalu lemah untuk berjuang mempertahankanmu. Aku membiarkan aturan dan pendapat orang lain memisahkan kita, dan aku membiarkanmu pergi sendirian membawa beban yang seharusnya kita tanggung bersama. Semua ini adalah akibat dari kebodohanku di masa lalu. Tapi sekarang aku sudah berubah. Aku takkan lagi membiarkan siapa pun memisahkan kita, dan aku takkan lagi membiarkan orang yang aku cintai menderita sendirian. Kalau kita harus berjuang melawan seluruh dunia sekalipun, aku akan berjuang bersamamu, sampai napas terakhirku.”

Kata-kata tulus itu membuat air mata Elizabeth mengalir deras di pipinya. Selama bertahun-tahun dia hidup dengan perasaan bersalah dan takut, selalu bertanya-tanya apakah keputusannya untuk kembali adalah hal yang benar atau salah. Kini dia akhirnya sadar, dia tak perlu takut lagi. Selama dia bersama laki-laki ini, dia takkan pernah merasa sendirian lagi, tak peduli seberapa berat rintangan yang harus mereka hadapi.

Mereka melaju melewati pusat kota London, terus bergerak menjauh dari kawasan istana dan daerah pusat pemerintahan, menuju ke arah pinggiran kota yang lebih tenang dan sepi. Setelah perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam, akhirnya mobil itu berbelok masuk ke dalam gerbang besi tinggi yang tersembunyi di antara rimbunnya pepohonan tua. Di ujung jalan setapak yang berkelok-kelok, berdiri sebuah rumah besar bergaya klasik yang dikelilingi oleh taman yang luas dan pagar tinggi yang menutupi pandangan dari luar. Tempat ini adalah kediaman pribadi yang dimiliki keluarga kerajaan, tempat yang jarang dikunjungi orang, dan hanya diketahui oleh sedikit orang yang bisa dipercaya sepenuhnya.

Mobil berhenti di depan tangga masuk, dan Fransiskus sudah berdiri menunggu di depan pintu dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Laki-laki itu adalah satu-satunya orang yang dipercaya Taylor untuk mempersiapkan tempat ini, satu-satunya orang yang tahu rencana mereka, dan satu-satunya orang yang takkan pernah mengkhianati mereka.

“Terima kasih sudah menyiapkan semuanya, Frans,” ucap Taylor saat mereka turun dari mobil. “Kita takkan aman di tempat lain selain di sini untuk sementara waktu. Sampai situasi di dalam istana membaik dan kita bisa mengendalikan keadaan, kita akan tinggal di sini.”

Fransiskus mengangguk, lalu menatap Elizabeth dan anaknya dengan senyum hangat dan lega. “Jangan khawatirkan apa pun, teman-temanku. Tempat ini dikelilingi oleh pengawal yang bisa dipercaya, dan tak ada orang yang bisa masuk ke dalam tanpa izin. Kalian bisa tinggal di sini dengan tenang dan aman, tanpa perlu takut akan gangguan dari siapa pun. Aku sudah menyiapkan kamar tidur, makanan, dan semua yang kalian butuhkan di dalam. Kalian bisa beristirahat dengan tenang malam ini.”

Mereka berjalan masuk ke dalam rumah, dan suasana hangat serta tenang langsung menyelimuti mereka. Hunter yang sejak tadi terbangun dan mulai ceria kembali, berlari-lari kecil menjelajahi ruangan yang luas itu, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu melihat tempat tinggal baru mereka. Elizabeth memandang sekeliling, lalu menoleh menatap Taylor, menyadari bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka akhirnya bisa bersama di bawah satu atap, seperti keluarga yang utuh.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Tak lama setelah mereka duduk dan mulai bersantai, ponsel Taylor berdering keras. Saat dia melihat nama yang tertera di layar, wajahnya kembali berubah serius. Itu adalah Raja, ayahnya sendiri. Dia menarik napas panjang, lalu mengangkat telepon itu.

“Halo, Ayah.”

Suara Raja terdengar dari seberang sambungan, namun kali ini tak ada nada marah atau teriakan seperti sebelumnya. Suaranya terdengar berat, lelah, dan penuh dengan kekhawatiran yang mendalam.

“Taylor, aku tahu kau sudah membawa mereka ke tempat persembunyian. Aku tahu kau takkan membiarkan mereka berada dalam bahaya. Dan aku juga tahu, tak peduli apa yang aku katakan atau lakukan, kau takkan pernah berubah pikiran untuk meninggalkan mereka. Aku meneleponmu bukan untuk marah atau mengancammu lagi. Aku meneleponmu untuk memberitahumu apa yang terjadi di sini, dan apa yang sedang direncanakan oleh musuh-musuhmu.”

Taylor terdiam, tak menyangka bahwa ayahnya akan bicara dengan nada seperti ini. “Apa yang terjadi, Ayah? Apa yang mereka rencanakan?”

“Guetta dan Berlin tak berhenti hanya dengan menyebarkan kabar ke dalam istana. Mereka sudah berbicara dengan para pemimpin partai di parlemen, mereka sudah berbicara dengan tokoh-tokoh masyarakat, dan mereka sudah menyebarkan cerita bohong ke media massa. Mereka mengatakan bahwa wanita itu datang hanya untuk mencari kekayaan dan kedudukan, mereka mengatakan bahwa anak itu bukan darah dagingmu, dan mereka mengatakan bahwa kau sudah kehilangan akal sehat karena cinta, sehingga kau tak lagi pantas memimpin negeri ini. Mereka ingin membuat opini publik menentangmu, sehingga mereka bisa memaksaku untuk mencabut hakmu sebagai pewaris takhta, dan memberikan posisi itu pada orang lain.”

Kata-kata itu membuat darah Taylor mendidih lagi di dalam pembuluh nadinya. Dia tahu mereka akan melakukan apa saja untuk menjatuhkannya, tapi dia tak menyangka mereka akan berani melangkah sejauh ini. Mereka tak hanya ingin menghancurkan masa depannya, tapi mereka juga ingin menghancurkan nama baik wanita dan anak yang dia cintai, memfitnah mereka sebagai orang-orang yang serakah dan tak pantas.

“Mereka takkan bisa melakukan itu, Ayah. Aku takkan membiarkan mereka menyebarkan kebohongan itu begitu saja,” jawab Taylor dengan suara yang tegas dan penuh tekad. “Aku akan membuktikan kebenaran pada semua orang. Aku akan membuktikan bahwa Elizabeth adalah wanita yang mulia, dan Hunter adalah anak kandungku. Aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk melindungi nama baik keluargaku, dan aku akan memastikan bahwa orang-orang yang berani menyakiti mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal.”

“Aku tahu kau akan berjuang, Nak. Dan itulah alasan aku meneleponmu. Aku takkan lagi menghalangimu. Aku takkan lagi memisahkanmu dari orang yang kau cintai. Karena aku sadar, jika aku terus memaksamu melakukan hal yang tak kau inginkan, aku takkan hanya kehilangan anakku, tapi aku juga akan kehilangan kesempatan untuk mengenal cucuku sendiri. Mulai hari ini, aku akan berdiri di sisimu. Kita akan menghadapi masalah ini bersama-sama, sebagai keluarga. Kita akan membuktikan pada semua orang bahwa cinta dan ikatan keluarga lebih kuat daripada aturan dan tradisi lama yang sudah usang.”

Air mata tak terasa menetes di pipi Taylor. Selama ini dia berpikir bahwa dia harus berjuang sendirian melawan seluruh dunia, namun kini dia sadar, dia tak lagi sendirian. Orang tuanya akhirnya mengerti, dan kini mereka akan berdiri bersamanya. Perjuangannya masih panjang dan penuh rintangan, namun kini dia memiliki kekuatan yang tak bisa dikalahkan siapa pun—kekuatan cinta, kekuatan keluarga, dan kekuatan persatuan.

Dia menoleh menatap Elizabeth dan Hunter yang sedang bermain di dekat perapian, tertawa riang dalam kehangatan rumah itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa yakin bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan bisa melewatinya bersama-sama.

Karena keluarga yang bersatu takkan pernah bisa dikalahkan, tak peduli seberapa besar musuh yang mereka hadapi.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!