Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Pagi, Divisi Pemasaran!
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah jendela kaca lantai lima, menggantikan hawa dingin mencekam semalam dengan kehangatan yang perlahan membangunkan kesadaran.
Di atas sofa lobi divisi yang tidak terlalu luas, Arini menggeliat kecil. Matanya mengerjap perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan yang membungkus tubuhnya—jaket parasut tebal milik Rian masih setia menemaninya. Namun, hal kedua yang membuatnya membeku seketika adalah sebuah beban hangat yang bersandar nyaman di bahu kirinya.
Arini menoleh patah-patah. Jantungnya langsung melompat ke tenggorokan.
Rian ada di sana, duduk di lantai beralaskan karpet dengan kepala yang terkulai pulas di atas bahu Arini. Cowok itu tampaknya ketiduran karena kelelahan menjaga Arini semalaman. Napas Rian terdengar teratur, menyapu halus lengan Arini, membuat manajer milenial itu mendadak lupa bagaimana cara bergerak.
“Aduh, mampus... gimana cara banguninnya tanpa bikin canggung?!” batin Arini berteriak histeris. Ia menggigit bibir, bingung harus berbuat apa karena jujur saja, ada bagian kecil di hatinya yang merasa... nyaman.
Klek. Pip-pip-pip!
Suara pintu kaca utama yang terbuka otomatis dari pusat memecah keheningan pagi. Ditambah dengan suara riuh langkah kaki dan tawa khas karyawan yang baru datang.
"Eh, Van, serius lo? Jadi kemarin datanya beneran kelar direvisi?" suara Dian terdengar paling nyaring di antara rombongan staf yang baru masuk.
"Iya, Bu Arini sama Rian yang lembur—EH?!" Kalimat Ivan terputus di udara.
Langkah kaki rombongan staf divisi pemasaran itu mendadak berhenti serentak, seperti rombongan bebek yang dikagetkan klakson truk. Mata mereka semua membulat sempurna, menatap lurus ke arah sofa lobi.
Di sana, Sang Manajer yang biasanya tampil anggun, tegas, dan tanpa celah, sedang duduk dengan rambut yang sedikit acak-acak, memakai jaket parasut kebesaran bawahan pribadinya, dan yang paling ekstrem: ada kepala Rian yang masih bertengger santai di bahunya.
Rian yang terusik oleh suara gaduh itu akhirnya melenguh dan membuka mata. "Eung... jam berapa, Bu?" gumam Rian polos sambil mengucek matanya, sama sekali belum sadar kalau mereka sudah menjadi tontonan gratis di pagi hari.
Begitu kesadaran Rian pulih 100%, ia mendapati puluhan pasang mata staf kantor sedang menatapnya dengan mulut menganga. Ivan bahkan sampai menjatuhkan botol minum yang dipegangnya.
"R-Rian... Bu Arini..." Dian berkedip tiga kali, mencoba memastikan penglihatannya tidak salah. "Kalian... menginap berdua di kantor?"
Rian langsung melompat berdiri seperti disengat listrik. "Eh! Pagi, teman-teman! Ini... ini gak kayak yang kalian pikirin!" panggil Rian panik, wajahnya langsung memerah.
Arini, dengan sisa-sisa wibawa milenialnya yang sudah berada di ambang jurang, langsung berdiri tegak. Ia melepas jaket Rian dengan gerakan secepat kilat dan menyerahkannya kembali ke cowok itu. Ia berdehem sangat keras untuk menetralkan suasana.
"Ehem! Sistem smart lock pintu depan error semalam karena badai. Sinyal kami berdua mati total, jadi kami terpaksa menunggu sampai pintu terbuka otomatis pagi ini," jelas Arini dengan suara ketat yang dibuat-buat, meski pipinya sudah matang berwarna merah kepiting rebus.
Ivan menyenggol lengan Bagas (yang kebetulan ikut mengantar dokumen ke divisi pemasaran). Bagas yang melihat pemandangan itu langsung menahan tawa mati-matian, memasang wajah super jahil ke arah Rian seolah berkata, 'Gila, kemajuan pesat, bray!'
Dian berjalan mendekat dengan senyum penuh arti yang sangat menyebalkan bagi Arini. "Oh... sistemnya error ya, Rin? Sampai bikin kalian... sedekat itu?" goda Dian dengan volume pelan yang hanya bisa didengar Arini.
"Dian! Masuk ke ruangan kamu sekarang! Dan kalian semua, kembali ke kubikel masing-masing! Jam kerja sudah dimulai!" perintah Arini setengah berteriak, mengaktifkan mode 'singa kantor' demi menutupi rasa malu dan salah tingkahnya yang sudah di tingkat maksimal.
Para staf langsung bubar jalan sambil berbisik-bisik dan menahan senyum geli. Sementara Arini langsung melesat masuk ke ruangannya sendiri tanpa menoleh lagi, menutup pintu dengan sedikit dentuman. Di balik pintu, Arini bersandar sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang, menyadari bahwa setelah hari ini, gosip di kantor tidak akan pernah sama lagi.