Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.
Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.
Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 Pengakuan yang Terlambat
Di belahan dunia lain, suasana ruang kerja besar milik Damir Rendra Raespati terasa sangat sunyi.
Lampu ruangan yang redup membuat suasana malam itu terasa semakin dingin.
Di atas meja kerja mahalnya, berserakan beberapa dokumen, foto, dan laporan tentang seseorang yang selama ini berusaha ia abaikan keberadaannya.
Dariela Atlanna Zavira Raespati.
Putri pertamanya.
Damir duduk diam sambil menatap salah satu foto lama Ela saat masih mengenakan kostum ice skating. Gadis kecil itu terlihat tersenyum tipis sambil menggenggam medali di tangannya.
Senyum yang sekarang terasa sangat menyakitkan untuk dilihat.
Andai dulu ia tidak terlalu menyepelekan anak itu…
Andai dulu ia mau sedikit saja mendengarkan Ela…
Mungkin semuanya tidak akan sehancur ini.
Kini Damir tahu semuanya.
Tentang alasan Ela berhenti dari dunia ice skating yang sangat dicintainya.
Tentang bagaimana hidup anak itu selama tinggal di rumah ibunya—oma Ela—yang ternyata memperlakukan Dariela seperti pembantu dibanding cucu sendiri.
Kalau saja Mbok Yem tidak diam-diam memberitahu semua kenyataan itu beberapa tahun lalu… mungkin sampai sekarang Damir masih merasa dirinya tidak pernah bersalah.
Namun justru karena tahu semuanya sekarang, rasa bersalah itu semakin menghancurkannya sedikit demi sedikit.
Tok. Tok.
Pintu ruang kerja terbuka perlahan.
Damir langsung mengangkat pandangannya dan mendapati putri bungsunya masuk sambil membawa secangkir kopi hangat.
Dhiajeng Kaluna Raespati.
“Ayah…” panggil gadis itu pelan.
Damir langsung melembutkan wajahnya.
“Terima kasih, sayang.”
Ajeng berjalan mendekat lalu meletakkan kopi di meja kerja ayahnya. Namun saat matanya tidak sengaja melihat foto Dariela di atas meja, wajah gadis itu langsung berubah gugup.
Tangannya saling menggenggam gelisah.
“Ayah…”
“Hm?”
Ajeng menunduk beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan suara bergetar,
“Aku… aku mau ngaku sesuatu.”
Damir mulai memperhatikan putrinya serius.
Ajeng menarik napas panjang sebelum akhirnya mulai bicara pelan.
“Dulu waktu aku kecil… aku sama Kak Ela pernah main kejar-kejaran di rumah Oma.”
Damir diam mendengarkan.
“Aku nggak sengaja jatuhin vas bunga kesayangan Oma.”
Suara Ajeng mulai bergetar semakin parah.
“Awalnya aku mau ngaku kalau itu salah aku…”
Air mata mulai jatuh dari matanya.
“Tapi Oma malah marah ke Kak Ela.”
Damir langsung menegang.
Ajeng menangis sambil menutup mulutnya sendiri.
“Oma mukul Kak Ela pakai kayu…”
Kalimat itu membuat tubuh Damir membeku.
“Aku takut banget waktu itu, Yah…”
Ajeng mulai sesenggukan.
“Oma bawa Kak Ela ke gudang… terus bilang kalau Kak Ela yang salah karena bikin aku jatuhin vas itu.”
Damir mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai urat di tangannya terlihat jelas.
“Aku takut…” lanjut Ajeng lirih. “Itu pertama kalinya aku lihat Oma mukul orang.”
Gadis itu menunduk semakin dalam.
“Mbok Yem langsung narik aku keluar terus bawa aku pulang. Aku bahkan demam beberapa hari karena takut.”
Damir memejamkan matanya perlahan.
Dadanya mulai terasa sesak.
“Aku mau bilang ke Ayah…” suara Ajeng makin kecil. “Tapi waktu itu Bunda lagi sakit dan Ayah sibuk kerja terus.”
“Ayah selalu kelihatan capek.”
Ajeng mulai menangis lebih keras.
“Aku takut Ayah marah sama aku…”
Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi selain suara tangisan Ajeng.
“Aku juga egois…” lanjutnya sambil menutup wajahnya sendiri. “Aku dulu nggak mau Ayah datang ke lomba Kak Ela.”
Damir langsung mengangkat pandangannya perlahan.
Ajeng menangis sambil berkata lirih,
“Aku takut Ayah direbut Kak Ela…”
“Kata Oma… Kak Ela sama kayak ibunya. Suka ngerebut milik orang lain.”
Kalimat itu membuat hati Damir terasa seperti diremas.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya… Damir benar-benar sadar sebesar apa penderitaan anak pertamanya selama ini.
Ajeng terus menangis sambil meminta maaf.
“Aku jahat, Yah…”
“Aku harusnya bela Kak Ela…”
Damir akhirnya berdiri lalu memeluk putri bungsunya erat tanpa berkata apa-apa.
Ajeng langsung menangis di pelukan ayahnya.
Sementara Damir…
Pria itu hanya bisa memejamkan mata kuat-kuat sambil menahan tangis dan penyesalan yang terasa semakin menghancurkan dirinya malam itu.
Karena ternyata selama ini…
Anak yang paling membutuhkan dirinya justru adalah anak yang paling sering ia abaikan.