NovelToon NovelToon
Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Matahari Tetap Terbit (Kisah Seorang Ibu Pejuang)

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Single Mom
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐

Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keceriaan dan pertemuan kembali

Di teras depan rumah yang kini beralih fungsi menjadi warung makan yang nyaman itu, suasana tetap hangat dan ramai seperti tadi. Pak Sandi duduk santai di salah satu bangku kayu, di hadapannya sudah terhidang sepiring nasi putih hangat, sayur lodeh yang kuahnya kental berwarna kuning cerah, serta sepotong ikan asin goreng yang renyah. Itu adalah pesanan andalan yang tak pernah berubah, menu yang selalu membuatnya rindu dan selalu ia cari setiap kali datang ke sini.

Sambil menikmati suapan demi suapan, Pak Sandi sesekali meneguk teh manis hangat di gelasnya, merasakan kenikmatan rasa masakan yang memang tiada duanya itu.

Di sisi lain, Mbak Siti masih setia berdiri di dekat kompor. Wajan besar berisi minyak panas masih bergolak, mengeluarkan suara desisan setiap kali adonan atau bahan makanan masuk ke dalamnya. Aroma gurih tahu, tempe, dan bakwan yang sedang digoreng kembali semerbak memenuhi udara, mengundang selera siapa saja yang melewati jalan itu. Tangannya bergerak cekatan membolak-balik gorengan agar matangnya merata, sambil sesekali menyapa para pembeli yang duduk mengobrol santai.

Tiba-tiba, dari jalan masuk terdengar suara langkah kaki dan celoteh riang yang sangat familiar. Tak lama kemudian, muncullah Rania berjalan masuk sambil menuntun tangan kecil Naya. Di tangan kiri Rania terlihat beberapa kantong plastik berisi belanjaan yang dibutuhkan, sementara tangan kanannya erat menggenggam tangan putri kecilnya itu.

Belum sempat Rania meletakkan barang bawaannya, Naya langsung berlari kecil dengan antusiasme yang meluap-luap. Wajah mungilnya berseri-seri, matanya berbinar penuh kegembiraan sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah mainan baru di tangannya.

"Mbak Siti! Mbak Siti lihat ! Aku punya mainan baru lho!" teriak Naya dengan suara lantang dan nada bicara yang masih cadel namun terdengar sangat lucu. Ia terus berteriak memanggil-manggil nama Mbak Siti sambil berlari mendekati tempat menggoreng, seolah tak sabar ingin memamerkan benda kesayangannya itu.

Mbak Siti yang sedang sibuk mengaduk gorengan sempat menoleh kaget mendengar suara itu. Begitu melihat Naya yang berlari riang, ia pun langsung tersenyum lebar. Ia menurunkan sedikit api kompornya, lalu menoleh sepenuhnya ke arah si kecil itu. "Waduh, ada Naya cantik sudah pulang rupanya. Ayo sini dekat Mbak Siti, coba lihat apa mainan barunya," jawab Mbak Siti sambil tertawa mendengar teriakan antusias anak itu.

Rania menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah polah putrinya. Ia berjalan perlahan mendekati meja, lalu mulai mengangkat satu per satu kantong belanjaannya untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Di dalam hatinya, ia merasa bahagia melihat Naya sebegitu senangnya. Mainan yang dibelikan tadi saat di pasar harganya memang tidak seberapa, sangat sederhana dan murah meriah saja. Namun bagi Naya, benda itu terasa seperti harta paling berharga di dunia. Keceriaan murni anak kecil yang sederhana itulah yang selalu menjadi kekuatan dan semangat terbesar bagi Rania menjalani hari-hari beratnya.

Setelah semua belanjaan tertata rapi di dapur dan bahan-bahan yang kurang tadi sudah lengkap kembali, Rania pun berjalan keluar lagi menuju teras. Ia berdiri sejenak sambil merapikan sedikit pakaiannya dan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin jalanan. Senyum hangat khasnya kembali menghiasi wajah cantiknya, menyapa setiap pembeli yang ada di situ.

Baru saja ia hendak bertanya kepada Mbak Siti mengenai dagangan yang tersisa, matanya tertuju pada sosok laki-laki yang sedang duduk tenang di bangku kayu depan , Saat itulah Rania baru sadar sepenuhnya bahwa ada Pak Sandi di antara para pembeli pagi itu. Ia sedikit terkejut namun segera diganti dengan senyum ramah.

"Wah, Pak Sandi rupanya sudah ada di sini. Maaf ya Pak, tadi saya baru sadar ada Bapak, saya sibuk mengurus barang bawaan dari pasar dulu," sapa Rania dengan nada bicara yang lembut dan sopan. Ia berjalan mendekati meja tempat Pak Sandi duduk.

Pak Sandi yang sedang menyesap tehnya sedikit terkejut juga, lalu meletakkan gelasnya pelan. Ia membalas sapaan itu dengan senyum akrab. "Iya, Bu Rania. Saya sudah ada di sini cukup lama kok. Tadi saya sempat bertanya sama Mbak Siti, ke mana Ibu pergi, kok tidak ada di tempat biasa. Ternyata keperluan belanja ya."

Rania mengangguk sambil tersenyum sedikit malu. "Iya benar, Pak. Tadi pagi pas mau masak, baru sadar ada beberapa bumbu dan bahan yang kurang jumlahnya. Kebetulan sekalian saya mengantar Dika ke sekolah, jadi sekalian mampir lewat pasar untuk ambil yang kurang itu saja."

Pak Sandi mengangguk paham, lalu percakapan mereka pun mengalir seperti yang tadi ia sampaikan pada Mbak Siti. "Kebetulan sekali saya datang ke sini, Bu. Kemarin dan beberapa hari ini saya sempat ke pasar lho, cari lapak Ibu ke sana ke mari, tanya sana-sini, tapi tidak ketemu sama sekali. Saya sempat bingung, lho. Pikir saya, masa hilang begitu saja. Ternyata bukan hilang, tapi pindah tempat ke lokasi yang jauh lebih bagus, lebih luas, dan strategis begini ya," ucap Pak Sandi sambil menunjuk sekeliling warung yang baru.

Rania tertawa kecil mendengarnya. "Iya, Pak. Maaf ya kalau sempat bikin Bapak bingung. Saya memang sudah memutuskan pindah ke sini. Tempat yang lama di pasar kan agak sempit, dan kebetulan ada kontrakan ini yang pas banget depan rumahnya menghadap jalan raya. Jadi saya pikir, sekalian saja gabung rumah dan tempat usaha biar lebih hemat dan anak-anak juga lebih terawat."

"Keputusan yang sangat tepat dan cerdas sekali, Bu," sahut Pak Sandi dengan nada kagum. "Lihat saja sekarang, suasananya jauh lebih enak, udaranya segar, pembeli pun jadi lebih nyaman mampir. Tidak heran kalau dagangan Ibu makin hari makin laris manis. Di sini juga warga sekitar jadi sangat terbantu, tidak perlu masuk ke dalam pasar yang panas kalau mau beli makanan."

Rania mengangguk setuju, wajahnya bersinar mendengar pujian sekaligus doa itu. "Alhamdulillah itu juga berkat dukungan semua orang, termasuk Bapak yang selalu setia mampir. Rasanya saya jadi makin bersemangat bekerja."

Di samping mereka, Naya masih asyik memainkan mainan barunya sambil sesekali berlari mendekati Mbak Siti yang kini sudah selesai menggoreng. Mbak Siti duduk istirahat sejenak, menatap Naya dengan kasih sayang sambil sesekali tertawa mendengar ocehan polos anak itu. Suasana di depan rumah itu terasa begitu damai, hangat, dan penuh keakraban. Semua orang yang ada di sana merasa betah, baik itu penjual maupun pembeli.

Pembicaraan ringan antara Rania dan Pak Sandi terus berlanjut. Mereka membahas tentang kemudahan lokasi baru, tentang perkembangan sekolah Dika, hingga tentang tingkah laku Naya yang semakin lucu dan cerdas. Pak Sandi tampak sangat menikmati setiap detik obrolan itu. Baginya, berada di dekat Rania, mendengar suara lembutnya, dan melihat senyum tulusnya adalah hal yang selalu membuat hatinya tenang dan bahagia.

Ia kembali mengagumi betapa hebatnya wanita di hadapannya ini. Meski hidupnya penuh liku dan perjuangan sendirian, Rania tetap mampu tersenyum, tetap mampu bekerja keras, dan tetap mampu memberikan kenyamanan bagi orang-orang di sekitarnya.

Tak lama kemudian, Pak Sandi menyelesaikan suapan terakhir makanannya. Ia mengelap mulutnya dengan tisu, lalu meneguk sisa teh manisnya hingga tuntas. Perutnya kenyang, hatinya puas, dan pikirannya pun tenang. Ia menatap Rania, lalu tersenyum.

"Terima kasih banyak ya, Bu Rania. Seperti biasa, enak sekali masakannya. Selalu pas di lidah dan bikin kangen terus. Makin enak rasanya kalau dimakan di tempat yang nyaman begini," ucap Pak Sandi sambil mengambil dompetnya untuk membayar pesanan.

Rania menerimanya dengan ucapan terima kasih. "Sama-sama, Pak Sandi. Yang penting Bapak suka dan kenyang. Terima kasih juga ya sudah mampir. Semoga sehat selalu ya Pak."

Setelah urusan pembayaran selesai, Pak Sandi pun berdiri dari duduknya. Ia menatap sekeliling sekali lagi, melihat Mbak Siti yang sedang menggendong Naya sebentar, melihat pembeli-pembeli lain yang masih duduk mengobrol, dan terakhir menatap Rania dengan pandangan hormat dan kagum.

"Ya sudah, Bu Rania, Mbak Siti... saya pamit dulu ya. Masih ada sedikit urusan di sekolah yang harus diselesaikan. Nanti saya pasti mampir lagi ke sini, tempat barunya lebih dekat dari sekolah , jadi tidak akan bingung lagi seperti kemarin-kemarin," kata Pak Sandi sambil mengangguk hormat dan tersenyum ramah.

"Baik, Pak. Hati-hati di jalan ya. Sampai jumpa lagi," jawab Rania dan Mbak Siti bersamaan sambil melambaikan tangan mengantar kepergiannya.

Langkah kaki Pak Sandi menjauh perlahan menghilang di tikungan jalan. Di belakangnya, Rania kembali sibuk melayani pembeli yang lain, ditemani senyum manis Naya dan kegesitan Mbak Siti. Hari itu pun berlanjut dengan semangat yang sama, penuh kebahagiaan sederhana dan harapan yang terus tumbuh di pinggir jalan raya itu.

1
Yayang Suami Risa
Wah Dika Jadi semangat lagi ya di semangati pak Sandi
Yayang Suami Risa
Semangat Rania hidupmu berubah jadi lebih baik
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Dika kagum sama pak Sandi ya
Bahagia Bersama Dirimu😍😍😍🥰
Pasti uang hasil jualan Rania di tabung ya
@Me and You Married
Dika ayo semangat kerjakan soal ujian ya supaya naik kelas
@Me and You Married
Rania alhamdulilah warung kamu semakin laris ya beda jauh saat dulu sehari baru buka warung
@Yayang Risa Couple Happy
Dika kamu di beri semangat oleh pak Sandi
@Yayang Risa Couple Happy
Rania pasti punya banyak uang
Ya Ris Tak Terpisahkan
Dika jadi semangat lagi setelah di semangati pak Sandi
Ya Ris Tak Terpisahkan
Enak semua menu buatan Rania pantas laris manis ya
❤️⃟𝐖ᵃ𝐟☘𝓡𝓳♉ᵘᵐᵃsʸ𝐀⃝🥀🤎⒋ⷨ͢⚤
Kamu hidup enak tanpa memikirkan keluarga yg kamu tinggalkan Bara setidaknya kirim lah uang sedikit untuk keperluan mereka sehari-hari bukan keluarga baru mu saja yg kau perhatikan
@ Yayang Risa Selamanya
Pak Sandi anda di kagumi oleh Dika
@ Yayang Risa Selamanya
Rania menu makanan kamu lezat dan enak semua
@Yayang Risa Saling 💖❣️💗💕💞
Pak Sandi menyemangati Dika supaya semangat
@Yayang Risa Saling 💖❣️💗💕💞
Rania memang ramah dalam melayani pembeli makanya banyak pelanggan
Risa Yayang Cinta Sejati
Dika semangat kerjakan soal karena ingat perjuangan ibunya buat Dika dan Naya
Risa Yayang Cinta Sejati
Menu makanannya tambah lagi dong Rania
@Yayang Suami Ris4
Dika merasa ibunya berjuang buat dia dan Naya pasti dia bakal berusaha kerjakan soal
@Yayang Suami Ris4
Semua menu gorengan di warung Rania enak semua ya
Suamiku Paling Sempurna
Ayo Dika semangat kerjakan soal dengan baik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!