NovelToon NovelToon
Rahasia Terbesar

Rahasia Terbesar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Misteri / Epik Petualangan
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ingatan kembali

Kembali ke Lin Tian, ia terus memacu pedang terbangnya hingga kecepatannya mencapai batas maksimal. Tubuhnya terasa seperti api karena gesekan dengan udara, jubah putihnya sudah terbakar di beberapa bagian. Ia tidak peduli. Yang ia pikirkan hanyalah Bai Feng.

Satu hari kemudian, Lin Tian tiba di Sekte Ombak Biru.

Ia langsung turun dari pedang terbangnya dan berdiri di halaman depan sekte. Lututnya terasa lemas. Matanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sekte Ombak Biru sudah rata dengan tanah.

Bangunan-bangunan yang dulu menjulang dengan megah kini hanya tinggal tumpukan batu dan kayu. Gerbang biru yang menjadi kebanggaan sekte itu roboh total, pilar-pilarnya patah dan berserakan seperti mainan anak kecil yang dihancurkan. Aula utama, asrama, perpustakaan, ruang tetua... semuanya tidak ada lagi. Hanya puing-puing yang tersisa.

Lin Tian berjalan di antara reruntuhan dengan langkah gontai. Kakinya tanpa sadar membawanya ke sudut barat, tempat ruang tetua biasa berada. Di sana, di bawah tumpukan kayu dan batu bata, ia melihat sehelai jubah biru pekat yang sudah robek dan berlumuran darah kering.

Lin Tian langsung berlutut lalu menyingkirkan kayu-kayu yang menimpa jubah itu satu per satu. Tangannya gemetar hebat, dan butiran keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Di bawah tumpukan puing, Lin Tian melihat tubuh Tetua Chen.

Tubuh itu tidak utuh lagi. Lengan kirinya hilang dari siku ke bawah, perutnya robek terbuka, dan wajahnya... wajah Tetua Chen melotot dengan mata terbuka lebar seperti terkena teror yang luar biasa sebelum mati. Mulutnya menganga, menunjukkan gigi-gigi yang berlumuran darah.

KRAK!

Lin Tian merasakan sesuatu di dalam tubuhnya retak. Bukan tulang, bukan organ, tapi sesuatu yang lebih dalam.

Ia menutup mata Tetua Chen dengan lembut lalu berdiri. Di dekat tubuh Tetua Chen, ia melihat tubuh lain. Tubuh itu lebih muda, berotot, dan masih mengenakan jubah biru yang sama meskipun sudah compang-camping. Posisinya tengkurap.

Lin Tian membalikkan tubuh itu dengan hati-hati.

Kakak Senior Li Wei.

Wajah Li Wei masih tampak tenang, berbeda dengan Tetua Chen. Matanya tertutup rapat, dan tangannya terkunci erat di dadanya seolah sedang berdoa sebelum kematian menjemput. Tidak ada luka menganga di tubuhnya, hanya cakaran-cakaran kecil, seolah ia mati karena kehabisan Qi setelah bertempur terlalu lama.

Lin Tian mengepalkan tangannya. Kepalan yang sangat keras hingga darah menetes dari sela-sela jarinya.

Ia kemudian berlari menuju Kota Naga Patah. Pedang terbangnya ia tinggalkan. Ia ingin merasakan tanah di bawah kakinya, ingin merasakan setiap langkah yang membawanya semakin dekat pada kenyataan yang mungkin paling menyakitkan.

Setelah sampai di kota itu, Lin Tian berhenti di gerbang utama.

Kota Naga Patah tidak lagi seperti kota yang ia kenal.

Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Ada yang utuh, ada yang tidak. Lengan terpisah dari bahu, kepala terlepas dari leher, usus menjuntai dari perut yang robek. Semuanya tertata seperti pemandangan dari neraka. Bekas gigitan binatang buas terlihat di hampir setiap mayat, seolah mereka tidak hanya dibunuh, tapi juga dimakan.

Di sudut jalan, Lin Tian melihat tiga mayat dengan jubah putih keperakan. Seragam Sekte Mutiara Langit. Kultivator kuat sekalipun tidak luput dari keganasan makhluk kegelapan.

Lin Tian langsung panik.

"Feng! Kau masih hidup, Feng?!" teriaknya tanpa peduli siapa yang mendengar.

Ia berlari menuju wilayah timur Kota Naga Patah, tempat kediaman keluarga Bai berada. Setiap langkahnya terasa berat seperti berjalan di dalam lumpur, tapi ia terus berlari.

Setelah sampai di halaman kediaman keluarga Bai, Lin Tian berhenti total.

Tubuhnya membeku.

Di halaman itu, puluhan tubuh berserakan. Sebagian adalah mayat makhluk kegelapan yang sudah hancur dan meleleh menjadi genangan hitam. Sebagian lagi adalah mayat manusia yang sudah tidak bisa dikenali lagi wajahnya karena dagingnya hampir habis dimakan, hanya menyisakan tulang-tulang yang berserakan.

Lin Tian berjalan di antara tulang-tulang itu dengan mata kosong. Kakinya tanpa sadar membawanya ke sudut timur halaman, di dekat pohon beringin kecil yang dulu ia lihat saat pertama kali berkunjung ke sini.

Di sana, di bawah pohon itu, Lin Tian melihat satu tengkorak yang masih memiliki sedikit daging di lengan hingga ke siku. Lengan itu terlepas dari bahu, tergeletak di tanah dengan posisi tertekuk seperti sedang meraih sesuatu.

Lin Tian mendekat dengan kaki yang gemetar. Ia berlutut di samping lengan itu, lalu tangannya terulur perlahan untuk menyentuh pergelangan tangan yang masih tersisa dagingnya.

Di pergelangan itu, ada gelang tali merah. Tali yang sudah lusuh dan pudar warnanya, tapi Lin Tian mengenalnya dengan sangat baik. Itu adalah gelang Bai Feng, yang tidak pernah dilepas oleh sejak hari pertama mereka berteman.

Lin Tian berlutut. Tubuhnya gemetar hebat, dan tangannya yang menyentuh lengan Bai Feng bergetar seperti daun kering tertiup angin.

"Feng..."

Lin Tian teringat saat terakhir kali mereka berpisah. Saat ia pamit untuk pergi ke barat. Saat Bai Feng tertawa dan berkata, "Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Aku yakin itu. Kau mau pergi ke mana?"

Dan Lin Tian saat itu menjawab, "Wilayah barat. Guru menyebutkan bahwa di sana banyak hal baru."

Mereka lalu berpelukan sebentar, dan Lin Tian berkata, "Jangan mati sebelum aku kembali."

Kini Bai Feng benar-benar mati. Teman satu-satunya yang ia miliki di dunia manusia. Teman yang selalu membuatnya tertawa, yang mengajarkan banyak hal baru tentang manusia padanya.

Lin Tian menggigit bibirnya hingga berdarah.

Rasa sakit itu tidak cukup.

Ia mencakar tanah dengan kuku jarinya hingga tanah bercampur darah.

Rasa sakit itu juga tidak cukup.

KRAK!

DUAR!

'HAAAAAAAA!'

Lin Tian berteriak keras mendongak ke langit. Suaranya memecah kesunyian Kota Naga Patah yang sudah berubah menjadi kota mati. Teriakannya mengandung semua rasa sakit, semua kemarahan, semua kebencian yang selama ini ia pendam.

Dan kemudian kultivasinya melonjak.

Pendirian fondasi akhir.

Pendirian fondasi puncak.

Inti emas awal, menengah, akhir, puncak.

Nascent Soul awal, menengah.

Nascent soul akhir.

Berhenti.

Ia melayang ke udara, tubuhnya diselimuti aura merah menyala yang panas dan menekan. Angin berputar di sekelilingnya. Puing-puing bangunan beterbangan. Dan di dalam aura merah itu, ingatannya kembali. Semuanya.

"Ibu. Kau... jahat sekali padaku."

Lin Tian berbicara pada dirinya sendiri, pada angin, pada langit, pada siapa pun yang mau mendengar. "Aku sudah ingat semuanya sekarang."

Ia menghela napas, dan napas itu keluar sebagai uap merah yang membara. "Dua ratus tahun yang lalu, saat kita berdebat tentang siapa ayahku... kau bilang bahwa ayahku adalah seorang manusia yang sudah mati sebelum aku lahir. Tapi aku tidak percaya."

"Lalu kau menyinggung tentang kecepatan peningkatan kultivasiku yang tidak masuk akal. Aku lahir di Pemurnian Qi lapis tujuh, naik ke Pendirian Fondasi dalam waktu sehari, dan mencapai Nascent Soul dalam waktu setahun. Itu tidak normal, dan kau tahu itu."

Lin Tian matanya sayu. "Lalu... saat aku mendapatkan petunjuk yang jelas tentang siapa ayahku... ibu panik. Setelah itu menyegel kultivasiku yang sudah mencapai Nascent Soul tahap akhir. Kemudian ibu menyegel ingatanku, dan menyegel tubuhku dalam peti es selama dua ratus tahun."

"Semua itu agar aku tidak mencari ayahku."

Lin Tian tertawa, dan tawanya terdengar seperti lolongan serigala yang kehilangan kawanannya.

'HAAHAAAHAAAAAAA!'

Auranya semakin meledak. Gelombang energi merah menyebar ke segala arah.

Di tengah pusaran energi merah itu, Lin Tian berdiri dengan ekspresi sedih yang terlihat jelas.

"Apa ini layak, Ibu? Apa kau lihat ini? Teman pertamaku mati."

Tidak ada yang menjawab. Hanya angin malam yang berhembus pelan, membawa debu dan aroma kematian dari Kota Naga Patah yang sudah lenyap.

1
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏🙏👍
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Dragon🐉 gate🐉
perumpamaan macam apa ini🤣🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉
heh! sesama kuntet dilarang body shaming 🤣
Dragon🐉 gate🐉
gw kok bayangin pterodaktil🤔
xi tole
saya lupa
xi tole
saya kaget
🧚Shi Yin 🧚
Eyu.. Lin Han pernah menyebutnya 🤔🤔
🧚Shi Yin 🧚
jangan2 pemimpin kegelapan itu Lin Han 🤔🤔🤔
🧚Shi Yin 🧚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🧚Shi Yin 🧚
😎😎😎😎😎😎
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Hadir..
Aiby Kushina Uzumaki
kalau di bandung mah jigong itu jejak iler kalau bangun tidur 😅🤣🤣🤣
YAKARO: Waduh🤣🤣🤣
Anggota nya tian ada yang jigongan berarti/Facepalm/
total 1 replies
🧚Shi Yin 🧚
udah kehabisan nama ya Thor 😁😁
🧚Shi Yin 🧚: hehe kirain arti yg lain, aroma terapi 🤣🤣
total 2 replies
🧚Shi Yin 🧚
panggillah dia bibi Mu Wan, dia tu seniornya ayahmu 😁
YAKARO: Adik Tian gak tau itu kak🤣
total 1 replies
🧚Shi Yin 🧚
tiap kali baca lavender saya teringat obat nyamuk 🤣🤣 lavender salah satu tanaman pengusir nyamuk 😁
YAKARO: Wkwkwk. Warnanya ungu lavender soalnya😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!