[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Dermawan
Hendri, ayahnya, menurunkan korannya sebentar. "Jangan lupa sarapan dulu, Luis. Tumben sekali anak Ibu dan Ayah pergi sepagi ini. Biasanya harus diteriaki lima kali baru mau bangun."
Luis terkekeh sambil menyambar selembar roti tawar. "Hehe, biasalah, Bu, Yah. Aku juga mau sambil olahraga jalan kaki pagi. Biar sehat."
"Olahraga apa yang jalannya pincang begitu?" celetuk Luna tajam.
Luis sempat membeku sesaat, namun ia segera membalas, "Ini namanya teknik jalan baru untuk melatih otot betis. Sudahlah, anak kecil tidak akan paham. Aku pergi dulu!"
Luis tidak benar-benar pergi ke sekolah. Ia menaiki angkutan umum menuju sebuah kawasan pemukiman padat penduduk yang kumuh di pinggiran kota.
Di sinilah Rio tinggal. Sebuah rumah kontrakan kecil dengan dinding triplek dan atap seng yang mulai berkarat.
Luis berdiri di balik pohon besar di seberang rumah itu, memerhatikan dari jauh. Ia melihat Rio keluar dari rumah membawa tas sekolahnya yang sudah kusam.
Di belakangnya, seorang wanita paruh baya, ibunya tampak batuk-batuk kecil sambil memberikan sebungkus nasi kecil sebagai bekal.
Rio tampak mencium tangan ibunya dengan penuh hormat. Meski wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa trauma akibat bully-an Kenzo, ia mencoba tersenyum agar ibunya tidak khawatir.
"Anak yang terlalu baik untuk dunia yang kejam," batin Luis.
Luis tidak mungkin memberikan uang itu secara langsung. Itu akan menimbulkan kecurigaan besar. Ia kemudian berjalan menuju sebuah warung kelontong kecil yang letaknya tepat di samping rumah Rio.
Di sana, ia melihat seorang kurir pengantar paket yang sedang kebingungan mencari alamat.
Luis mendapatkan ide cerdik. Ia menggunakan sistemnya sebentar untuk memindai area sekitar, memastikan tidak ada mata yang mengawasi.
Luis mendekati kurir tersebut dan berkata dengan suara yang tenang, "Mas, saya tadi melihat ibu di rumah nomor 12 itu sedang mencari paket ini. Katanya dia salah tulis alamat, tapi uangnya sudah saya bayar lewat aplikasi. Tolong titipkan amplop ini juga ya, katanya dari kerabatnya di luar kota."
Luis memberikan amplop cokelat tebal berisi uang tunai dua puluh juta rupiah yang sudah ia bungkus rapi dengan kertas kado kusam agar terlihat seperti kiriman biasa.
Ia juga menyelipkan sepucuk surat pendek yang ditulis dengan huruf cetak kaku agar tidak bisa dilacak lewat tulisan tangan:
"Untuk pengobatan Ibu dan biaya sekolah Rio. Gunakan dengan bijak. Kebenaran tidak pernah tidur."
Kurir itu, yang tidak curiga karena Luis memakai seragam sekolah yang rapi, mengangguk saja. Luis memberikan uang 'tips' seratus ribu rupiah kepadanya agar ia segera melakukan tugasnya.
Dari kejauhan, Luis melihat kurir itu mengetuk pintu rumah Rio. Ibu Rio keluar dengan wajah bingung, menerima amplop dan paket titipan itu.
Saat wanita itu membuka amplopnya dan melihat tumpukan uang di dalamnya, ia langsung terduduk lemas di ambang pintu sambil menangis histeris, berkali-kali menyebut nama Tuhan dan bersyukur.
Rio yang belum jauh dari rumah segera berlari kembali, memeluk ibunya dengan bingung sekaligus haru melihat tumpukan uang yang bisa menyelamatkan hidup mereka itu.
Luis, yang masih memperhatikan dari balik pohon, hanya menarik napas panjang. Rasa sakit di rusuknya seolah menghilang sesaat.
"Itu hanya uang muka untuk penderitaan yang kau alami, Rio," gumam Luis. Ia kemudian membalikkan badan, berjalan menuju sekolah dengan langkah yang kini terasa lebih ringan. "Sekarang, mari kita lihat bagaimana sekolah bereaksi tanpa raja kecil mereka."