"Sepuluh tahun tanpanya adalah sunyi yang menyiksa. Tapi kepulangannya adalah badai yang tak terduga."
Dulu, Alea hanyalah gadis kecil yang menangis tersedu-sedu saat Uncle Bima—sahabat termuda ayahnya—memilih pergi ke luar negeri. Janji untuk memberi kabar ternyata menjadi kebohongan besar selama satu dekade penuh.
Kini, di usia 18 tahun, Alea bukan lagi "burung kecil" yang lemah. Namun, tepat saat ia akan memulai lembaran baru di bangku kuliah, pria yang pernah menghancurkan hatinya itu kembali muncul. Bima kembali bukan sebagai paman yang lembut, melainkan sosok pria dewasa yang posesif, penuh teka-teki, dan gemar melontarkan godaan yang membuat jantung Alea berpacu tidak keruan.
Terpaut usia 15 tahun, Bima tahu ia seharusnya menjaga jarak. Namun, melihat Alea yang kini begitu memesona, "paman" nakal ini tidak ingin lagi sekadar menjadi sahabat ayahnya.
"Sst, little bird... kau sudah cukup bersinar. Sekarang, waktunya pulang ke sangkarmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. Senjata Makan Tuan
Sore itu, Baskara memberikan ide yang membuat Bima nyaris meledak, namun ia harus tetap tenang.
"Bima, kau bilang mau ke toko buku besar di pusat kota, kan? Sekalian saja antar Alea dan Revan. Revan butuh beberapa referensi buku untuk semester awal, dan Alea juga ingin mencari novel baru."
Bima menyeringai tipis. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu. "Tentu, Baskara. Dengan senang hati."
Alea mendengus, tapi ia tidak bisa menolak di depan ayahnya. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, suasana terasa dingin.
Bima sengaja menyetir dengan kecepatan tinggi setiap kali melewati tikungan, berharap Revan yang duduk di kursi belakang merasa mual atau ketakutan.
Namun, pemuda itu tetap tenang, malah sibuk mengobrol seru dengan Alea tentang penulis favorit mereka.
Sesampainya di pusat perbelanjaan elit, Bima mulai menjalankan rencana liciknya. Saat mereka menaiki eskalator yang sangat panjang dan ramai, Bima sengaja berjalan di depan mereka.
Ia melihat seorang pelayan kebersihan baru saja mengepel lantai di puncak eskalator namun belum memasang tanda peringatan.
Bima sengaja berhenti mendadak tepat saat
mereka sampai di atas, memaksa Revan yang berada di belakangnya untuk melakukan manuver menghindar agar tidak menabrak punggung kokoh Bima.
Rencana Bima sederhana: ia ingin Revan terpeleset di lantai yang licin itu dan jatuh terjungkal dengan cara yang memalukan di depan Alea.
Namun, insting Revan ternyata sangat tajam. Saat kakinya sedikit tergelincir, alih-alih jatuh memalukan, Revan justru dengan sigap menangkap pinggang Alea yang juga hampir kehilangan keseimbangan karena gerakan mendadak Bima.
Sret!
Revan menarik Alea ke dalam pelukannya, melindungi gadis itu agar tidak terbentur lantai. Posisi mereka menjadi sangat intim; wajah Alea terbenam di dada Revan, dan tangan Revan melingkar protektif di punggung Alea.
"Kau tidak apa-apa, Alea?" bisik Revan lembut, suaranya terdengar cemas namun stabil.
Alea mendongak, wajahnya memerah bukan karena marah, tapi karena detak jantung yang tiba-tiba berpacu cepat.
"Aku... aku tidak apa-apa. Terima kasih, Van."
Bima yang berdiri hanya beberapa senti di depan mereka membeku. Rahangnya mengeras hingga urat lehernya menonjol.
Rencananya untuk mempermalukan Revan justru menciptakan momen romantis yang sangat ia benci.
Alih-alih melihat Revan merangkak di lantai, ia malah harus melihat tangannya memeluk tubuh little bird-nya.
"Lantai ini licin. Kau seharusnya lebih hati-hati, Revan," tegur Bima dengan suara yang sedingin es, berusaha menutupi kegagalannya.
Revan tersenyum tenang sembari membantu Alea berdiri tegak, namun ia tidak segera melepaskan tangannya dari bahu Alea.
"Maaf, Pak Bima. Saya pikir Anda tadi berhenti mendadak karena ada masalah. Untungnya Alea tidak apa-apa."
Kelicikan Bima tidak berhenti di situ. Saat berada di dalam toko buku, ia melihat sebuah rak tinggi yang berisi buku-buku referensi berat. Ia sengaja menyenggol salah satu buku besar di rak paling atas saat Revan sedang berdiri di bawahnya, berharap buku itu menimpa kepala Revan.
Tapi lagi-lagi, Revan bergerak lebih cepat. Ia menangkap buku tebal itu dengan satu tangan tepat sebelum mengenai kepalanya, dan di saat yang sama, ia menggunakan lengan lainnya untuk menarik Alea mendekat ke arahnya agar tidak terkena debu atau reruntuhan buku lainnya.
"Wow, refleks yang bagus, Revan!" puji Alea, matanya berbinar kagum melihat ketangkasan temannya.
"Kau seperti atlet."
"Hanya refleks biasa, Alea," sahut Revan rendah, matanya melirik Bima dengan tatapan yang seolah berkata: Aku tahu apa yang sedang kau lakukan.
Bima merasa seperti pecundang di permainannya sendiri. Setiap kali ia mencoba menjatuhkan Revan, pemuda itu justru terlihat seperti pahlawan di mata Alea.
Yang paling menyakitkan adalah setiap kali kekacauan kecil itu terjadi, Alea dan Revan justru berakhir dengan kontak fisik—mulai dari pegangan tangan, pelukan singkat, hingga jarak wajah yang hanya terpaut beberapa inci.
Puncaknya adalah saat mereka di kafetaria toko buku. Bima sengaja memesankan kopi yang sangat panas untuk Revan, berharap pemuda itu akan melepuh atau setidaknya menumpahkannya ke bajunya sendiri.
Namun, saat pelayan datang, Revan dengan sangat sopan justru memberikan kopi itu kepada Bima lebih dulu.
"Silakan, Pak Bima. Anda tampak sangat butuh asupan kafein agar bisa lebih... tenang," ujar Revan dengan senyum yang sangat tulus namun menusuk.
Bima menerima kopi itu dengan tangan gemetar karena emosi. Ia menyadari bahwa Revan bukan lawan yang mudah. Pemuda ini cerdas, tenang, dan memiliki kontrol emosi yang jauh lebih baik darinya saat ini.
"Kau benar-benar luar biasa, Revan," Alea memuji sembari menyesap minumannya, matanya sama sekali tidak melirik Bima.
"Terima kasih sudah menjagaku hari ini."
Bima menatap mereka berdua dari balik cangkir kopinya. Di dalam kepalanya, badai obsesi itu kembali bergemuruh. Ia telah mencoba menjadi manis, ia telah mencoba menjadi licik, namun segalanya berbalik menyerangnya.
"Kita pulang sekarang," perintah Bima dengan nada mutlak, tidak sanggup lagi melihat kebersamaan mereka.
Sepanjang jalan pulang, Bima hanya terdiam membisu dengan cengkeraman tangan yang memutih di kemudi.
Ia sadar, jika ia tidak segera melakukan sesuatu yang lebih ekstrem, little bird-nya akan benar-benar terbang menuju pelukan pemuda yang baru saja mengalahkannya dalam setiap langkah hari ini.