NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-bayang Masalah

Malam semakin larut, menyisakan keheningan yang terasa berat menekan dada. Di apartemen sempit itu, Vira Calista duduk mematung di lantai, menatap layar ponselnya yang gelap. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena asmara, tapi karena rasa takut dan gengsi yang berperang habis-habisan.

Tiga hari. Itu batas waktu yang diberikan. Tiga hari sebelum namanya masuk daftar buronan atau sebelum ia harus mendekam di balik jeruji besi. Tidak ada lagi waktu untuk berpura-pura kuat. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.

Dengan tangan yang gemetar hebat, jari telunjuk Vira kembali menekan tombol daya. Layar menyala, menyilaukan matanya yang sembab. Ia membuka kontak, menelusuri nama-nama yang ada di sana, hingga berhenti pada satu nama yang sudah ia tandai dengan julukan paling buruk: Si Robot Kaku.

Farzhan Ibrahim.

Nafas Vira memburu. Ia menelan ludah berkali-kali, seolah sedang menelan pil pahit sebesar bola tenis. "Ayo Vi, semangat! Anggap aja ini telepon ke bank minta pinjaman! Anggap aja dia mesin ATM berjalan!" bisiknya menyemangati diri sendiri, meski suaranya terdengar sangat tidak yakin.

Jari telunjuknya berhenti tepat di atas tombol panggil. Satu detik, dua detik, tiga detik... Dengan mata terpejam rapat seolah sedang menyalakan dinamit, Vira menekannya.

Tuuut... Tuuut... Tuuut...

Suara sambungan telepon terdengar, menjadi irama yang paling menyiksa di dunia malam itu. Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu jam bagi Vira. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Apa dia angkat? Apa dia sudah tidur? Atau jangan-jangan dia sudah blokir nomor aku karena kesal?

Pikiran-pikiran buruk bertempur cepat di kepalanya. Hingga akhirnya, sambungan tersambung.

"Halo?"

Suara itu terdengar dari seberang. Dalam, berat, datar, dan sangat dingin. Suara yang sangat Vira kenal. Suara yang biasanya hanya keluar jika ia sedang dimarahi atau dicibir. Farzhan mengangkat teleponnya, dan dari nada bicaranya saja, Vira bisa menebak bahwa pria itu sedang tidak senang diganggu di jam segini.

"Hmm... Halo..." jawab Vira terbata-bata, suaranya mengecil seperti semut. "Z-Zhan..."

Di seberang sana, di sebuah kamar tidur utama yang luas dan bernuansa gelap di kediaman keluarga Ibrahim, Farzhan Ibrahim mengerutkan kening. Ia sedang duduk di tepi tempat tidurnya, baru saja selesai melepas kacamata bacanya. Wajahnya tampan namun terlihat sangat lelah, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya akibat pekerjaan yang menumpuk.

Ia melirik layar ponselnya, memastikan nama pemanggil. Vira.

Farzhan menghela napas panjang, napas orang yang sudah menduga bahwa panggilan di jam dua belas malam dari orang ini tidak mungkin membawa kabar baik.

"Kenapa?" tanya Farzhan lagi, suaranya tidak ramah sama sekali. Nada dinginnya seolah bisa membekukan udara di seberang telepon. "Jam segini. Ada bencana apa lagi yang kamu buat sampai harus nelpon aku?"

Hujan batu langsung menghantam hati Vira. Begitu sudah, belum cerita sudah diserang duluan. Tapi mau bagaimana lagi, dia yang butuh bantuan.

"Zhan..." suara Vira mulai bergetar, air matanya sudah siap tumpah lagi. "Aku... aku ada masalah besar nih. Sangat besar. Bukan masalah biasa. Aku Benar-benar buntu Zhan..."

Farzhan diam di sana, tidak menyela, tapi keheningannya justru membuat Vira semakin takut. Ia bisa membayangkan Farzhan di sana sedang memasang wajah sinis, atau mungkin mendengus kesal.

"Cerita," kata Farzhan singkat.

Dengan napas yang tersengal-sengal, Vira mulai menceritakan segalanya. Ia cerita soal posisinya sebagai bendahara, soal Yorie dan Alan yang menjebaknya, soal data yang dipalsukan, dan tuntutan perusahaan yang memintanya mengganti kerugian dalam jumlah yang fantastis itu. Ia cerita tentang ancaman penjara, tentang kehancuran nama baik, dan tentang ketakutannya yang luar biasa.

Vira menceritakan semuanya dengan terisak-isak. Suaranya pecah, kata-katanya berantakan, tapi ia berusaha sekuat tenaga agar Farzhan mengerti betapa mengerikannya situasi ini.

"...dan mereka kasih waktu cuma tiga hari, Zhan. Tiga hari!" isak Vira di akhir cerita. "Aku tidak punya uang sebanyak itu. Aku tidak berani cerita sama Ayah sama Ibu, nanti mereka sakit hati dan kecewa sama aku. Aku Benar-benar tidak tahu harus minta tolong sama siapa lagi selain kamu..."

Suasana menjadi hening cukup lama setelah Vira selesai bicara. Hanya terdengar suara isakan halus dari gadis itu.

Farzhan di sana masih diam. Matanya yang tajam menatap kosong ke dinding kamar. Otaknya yang bekerja seperti prosesor super komputer mulai mencerna informasi yang baru saja ia terima.

Jebakan kerja? Penggelapan dana? Ancaman hukum?

Biasanya, jika Vira membuat masalah, itu hanya sebatas menumpahkan minuman, kehilangan barang, atau terlambat datang. Tapi ini... ini levelnya sudah berbeda. Ini soal hukum dan masa depan.

"Jumlahnya berapa?" tanya Farzhan akhirnya. Suaranya masih datar, namun ada intonasi serius yang terselip di sana.

Vira menyebutkan angkanya. Sebuah angka yang sangat besar, cukup untuk membeli sebuah mobil mewah atau rumah kecil.

Begitu angka itu terlontar dari mulut Vira, Farzhan menghembuskan napasnya sangat panjang. Ia memijat pelipisnya dengan jari-jarinya yang kekar.

"Kamu ini..." suara Farzhan terdengar rendah, namun penuh dengan penekanan. "Kamu ini benar-benar bencana alam berwujud manusia, ya Vira? Seumur-umur aku tidak pernah lihat orang bisa bikin masalah sebesar ini cuma karena kebodohan dan kecerobohannya sendiri."

"Aku difitnah Zhan!" sanggah Vira lemah, masih menangis. "Aku tidak sengaja..."

"Stop, jangan banyak alasan!" potong Farzhan tegas, membuat Vira langsung menutup mulutnya. "Sekarang, apa yang kamu mau? Kamu nelpon aku jam segini cuma buat curhat atau mau minta solusi?"

Vira menggigit bibir bawahnya. Saatnya tiba. Saat yang paling memalukan dalam hidupnya.

"Aku..." suaranya bergetar hebat. "Aku mau minta tolong kamu pinjamkan uangnya dulu. Plis Zhan... Plis banget. Aku janji aku akan ganti. Aku akan lunasi semuanya!"

"Terus caranya seperti apa? Kamu punya mesin pencetak uang di kamar?" tanya Farzhan sinis.

"Tidaklah.. tapi aku akan kerja keras! Aku akan cari kerja sampingan! Aku akan nabung ketat!" Vira berusaha meyakinkan, meski ia sendiri tahu bahwa dengan gajinya saat ini, butuh waktu belasan tahun untuk melunasi itu.

Atau... sebuah ide gila muncul di kepala Vira. Ide yang muncul karena keputusasaan total.

"Atau... atau..." Vira memberanikan diri, suaranya hampir tak terdengar. "Atau aku jadi babu di rumah kamu Zhan! Aku jadi pembantu pribadi kamu! Aku yang bersihin rumah, aku yang masak, aku yang setrika baju kamu! Aku akan layani kamu sepenuhnya sampai hutangku lunas! Pokoknya apa aja deh yang kamu suruh, aku akan lakukan! Asal kamu mau bantu aku sekarang..."

Vira mengakhiri kalimatnya dengan isak tangis yang tertahan. Ia sudah siap dimaki, siap dicemooh, siap ditolak mentah-mentah.

Di seberang telepon, Farzhan terdiam. Namun, di dalam kepalanya, sesuatu yang besar sedang terjadi.

Saat mendengar tawaran Vira menjadi pembantu, tinggal serumah, melayani dirinya, bukan rasa senang atau menang yang muncul di benak Farzhan. Justru yang muncul adalah sebuah visualisasi masa depan yang mengerikan. Sebuah film horor komedi yang dibintangi oleh dirinya dan Vira Calista.

Farzhan mulai membayangkannya.

Di dalam imajinasi Farzhan...

Ia melihat rumahnya yang selama ini rapi, bersih, dan sunyi seperti perpustakaan nasional, perlahan berubah menjadi kapal pecah.

Ia melihat dapur yang steril, kini penuh dengan asap karena Vira mencoba memasak tapi malah hampir membakar panci. Ia melihat lantai keramik yang mengkilap, kini penuh dengan noda tumpahan makanan karena tangan Vira yang tidak bisa diam. Ia melihat lemari bajunya yang tersusun rapi berdasarkan warna dan jenis, kini berantakan karena Vira menyetrika tapi malah membuat baju kemejanya gosong atau melengkung.

"Zhaaaan! Bantuin dong! Kunci pintunya macet!"

"Aduh, Zhan! Sabunnya habis, terus aku pakai sampo kamu ya!"

"Zhan, aku lupa beli beras, gimana dong?"

Farzhan bisa mendengar suara keributan itu di kepalanya. Suara Vira yang berisik, tangisan Vira jika kesulitan, dan tawa Vira yang renyah namun mengganggu ketenangan.

Ia membayangkan setiap pagi ia akan bangun dengan pemandangan Vira yang berlari kesana-kemari karena telat, menjatuhkan ini-itu, membuat kekacauan demi kekacauan. Hidupnya yang sudah terjadwal rapi dari jam 5 pagi sampai jam 10 malam akan hancur lebur.

Bayangan demi bayangan masalah bermunculan.

- Jika Vira tinggal serumah, berarti ia harus bertanggung jawab atas keselamatan gadis itu.

- Jika Vira ceroboh, ia yang akan pusing membenahinya.

- Jika Vira menangis, ia yang akan merasa bersalah.

- Dan yang paling parah... reputasinya sebagai pria dingin dan tidak peduli akan hancur karena harus terus-terusan mengurusi wanita satu ini.

Farzhan menutup matanya kuat-kuat. Ya Tuhan, ini bukan menolong orang, ini seperti mengadopsi badai.

Memiliki Vira di dekatnya sama saja dengan mengundang masalah 24 jam non-stop. Vira adalah definisi berjalan-jalan dari ketidakpastian. Bersamanya, tidak ada kata 'tenang'. Bersamanya, hidup akan penuh dengan kejutan-kejutan yang tidak menyenangkan.

Farzhan membayangkan dirinya nanti, mungkin dalam waktu satu bulan tinggal bersama Vira, rambutnya akan lebih cepat memutih karena stres. Jantungnya bisa kapan saja berhenti berdetak karena kaget melihat kerusakan yang dibuat gadis itu.

"Dasar wanita pembawa sial..." gerutu Farzhan pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Kenapa harus dia? Kenapa Tuhan menempatkan dia di posisi ini? Ia bisa saja menolak. Ia bisa saja bilang 'urusi sendiri masalahmu'. Uang sebanyak itu bukan masalah baginya, tapi konsekuensi menolong Vira... itu yang mahal harganya. Harganya adalah ketenangan jiwanya selamanya.

 

Kembali ke dunia nyata.

Farzhan membuka matanya. Di luar jendela, bulan tampak bersinar redup tertutup awan. Ia menatap ponselnya, di mana suara isak tangis Vira masih terdengar samar-samar, penuh harap namun penuh ketakutan.

Ia tahu, gadis di seberang sana itu sedang berada di titik terendahnya. Vira yang biasanya keras kepala dan sok berani, kini sudah merendahkan dirinya sampai ke tanah, menawarkan diri menjadi seorang babu hanya demi menyelamatkan nama baik dan kebebasannya.

Dan entah kenapa, meski otaknya berteriak JANGAN! INI BAHAYA! AKAN BANYAK MASALAH!, jauh di lubuk hatinya yang terdalam tidak tega.

Mereka sudah bersama sejak batita. Ia tahu bagaimana Vira. Ia tahu gadis itu memang ceroboh, memang polos, tapi tidak berniat jahat. Vira adalah musuhnya, tapi juga satu-satunya orang yang sudah ia kenal lebih lama dari siapa pun.

Farzhan menghela napas lagi, kali ini napas pasrah. Ia bisa melihat bayang-bayang masalah itu begitu jelas di depan matanya. Hidupnya akan berubah total. Akan berisik, akan berantakan, akan membuatnya emosi setiap hari.

Tapi... ia tidak bisa membiarkan Vira masuk penjara. Tidak bisa membiarkan gadis itu hancur.

"Vira," panggil Farzhan. Suaranya masih dingin, namun masih sopan.

"I-iya Zhan..." jawab Vira takut-takut.

"Berhenti nangis. Suaramu bikin kupingku sakit," kata Farzhan ketus, meski sebenarnya ia merasa tidak nyaman mendengarnya menangis. "Dengarkan aku baik-baik."

Vira mematung, menahan napas.

"Uang itu... aku akan kasih. Aku akan selesaikan masalah hukum dan perusahaanmu hari ini juga sebelum matahari terbit," kata Farzhan pelan namun tegas.

Jantung Vira seolah berhenti berdetak. Mata nya membelalak lebar. "B-benarkah itu Zhan? Kamu mau bantu aku?"

"Tapi," Farzhan memotong cepat, menegaskan syaratnya. "Ingat kata-katamu tadi. Kamu mau jadi apa aja kan? Kamu mau lunasi hutang dengan cara apa aja kan?"

"Iya! Iya! Apapun Zhan! Aku janji!" Vira langsung menyahut cepat, seolah menemukan tali penyelamat di tengah laut luas.

"Bagus," sahut Farzhan. "Mulai besok, kamu pindah ke rumah aku. Kamu tinggal di sini. Dan kamu akan lakukan apa yang aku katakan. Termasuk jadi 'babu' kalau itu mau kamu seperti yang kamu bilang begitu."

Farzhan tersenyum miring di telepon, sebuah senyuman yang penuh arti. Ia sudah bisa menebak, perang yang sesungguhnya baru akan dimulai.

"Tapi ingat ya, Vira," lanjut Farzhan dengan nada mengancam yang seram. "Rumah aku itu zona ketertiban. Kalau kamu bikin satu kerusakan kecil aja... atau bikin aku emosi sedikit aja... hitungan hutangmu bisa bertambah dua kali lipat. Mengerti?"

"M-mengerti! Sangat mengerti Tuan Majikan!" jawab Vira cepat, suaranya sudah terdengar lebih lega meski masih bergetar. "Makasih ya Zhan... Makasih banyak... Aku janji aku akan jadi babu yang baik..."

"Hmph. Kita lihat saja nanti. Siapkan barang-barangmu. Besok jemputan akan datang."

Tut.

Telepon dimatikan.

Vira masih memegang ponselnya erat-erat, menempel di dadanya. Air mata bahagia kini mengalir deras. Ia selamat. Ia diselamatkan. Tapi di balik rasa lega itu, ada perasaan cemas yang menggelitik.

Ia baru saja akan menandatangani kontrak dengan iblisnya sendiri. Ia akan tinggal bersama Farzhan Ibrahim.

Dan di kediaman mewah itu, Farzhan meletakkan ponselnya di nakas. Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk.

"Selamat datang, masalah..." bisiknya pelan. "Masalah yang akhirnya resmi masuk ke dalam hidupku."

Ia tahu, mulai besok, ketenangan yang selama ini ia jaga mati-matian akan lenyap. Digantikan oleh kekacauan bernama Vira Calista.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!