NovelToon NovelToon
Aku Ternyata Putra Kaisar Wanita Dinasti Zhou

Aku Ternyata Putra Kaisar Wanita Dinasti Zhou

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sistem / Mengubah sejarah
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: RRS

Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Rahasia Sang Gadis dan Persinggahan di Tanah Jawa

​12 Juli 700 Masehi

​Lautan Nusantara di bulan Juli biasanya tenang, namun bagi mereka yang menyimpan rahasia besar, ketenangan itu justru terasa mencekam. Di atas geladak kapal induk Dinasti Zhou yang tengah membelah ombak menuju wilayah barat, seorang gadis berdiri menatap cakrawala dengan tatapan dingin yang tak pernah ia tunjukkan di depan Maharani.

​Yue Qing bukan sekadar putri bangsawan yang manis. Di balik wajahnya yang setingkat dewi, ia adalah pemimpin tertinggi dari Shadow Phoenix, sebuah organisasi rahasia elit yang bertugas melindungi garis keturunan Kaisar dari balik bayangan. Tugas utamanya saat ini adalah memastikan keamanan Pangeran yang hilang, putra sulung yang sangat dicintai sang Maharani.

​Sambil membelakangi keramaian geladak, Yue Qing mengeluarkan sebuah tabung bambu kecil berisi gulungan sutra tipis. Ia mengikatnya pada kaki seekor burung elang pengintai yang telah dilatih khusus. Pesan itu singkat namun bersifat absolut: “Cari pemuda dengan ciri-ciri Putra Mahkota di setiap pelabuhan dan kota besar Nusantara. Awasi setiap keanehan. Jangan bertindak tanpa perintahku.”

​Elang itu melesat tinggi, menghilang di balik awan. Yue Qing menarik napas panjang, lalu memutar tubuhnya. Ekspresi dinginnya seketika mencair, berganti dengan raut wajah lembut saat ia melangkah menuju ruang pemujaan pribadi di dalam kapal.

​Di dalam ruangan yang harum oleh aroma dupa gaharu, Maharani Wu Lin sudah berlutut di depan altar kecil. Ia sedang bersujud, merapal doa-doa Hindu kuno dalam bahasa Sansekerta yang mengalir fasih dari bibirnya. Sebagai penguasa Dinasti Zhou yang menjadikan Hindu sebagai agama negara, doa adalah sandaran terakhirnya setelah menemukan gubuk kosong di Buton.

​“Semoga para Dewa menghancurkan rintangan di jalan putraku, dan melindunginya dari dinginnya malam,” bisik Wu Lin dengan mata terpejam, air mata masih menyisakan bekas di pipinya.

​Yue Qing berlutut di sampingnya, ikut menangkupkan kedua tangan di depan dada. Mereka berdua tenggelam dalam keheningan spiritual, berdoa bagi keselamatan seorang pemuda yang mereka kira sedang terlunta-lunta di lautan luas sebagai yatim piatu. Mereka tidak tahu bahwa "anak malang" yang mereka tangisi sedang menikmati kemewahan yang melampaui akal sehat zaman ini.

​14 Juli 700 Masehi

​Sementara itu, di pesisir utara Pulau Jawa, wilayah yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Mataram Kuno, sebuah pemandangan surealis tersaji di sebuah teluk yang tenang. Sebuah benda raksasa berwarna putih mengkilap dengan jendela kaca gelap yang memantulkan sinar matahari bersandar dengan angkuh di dekat hutan bakau.

​Yudi memutuskan untuk tidak memasukkan Superyacht miliknya ke dalam inventory. Baginya, membiarkan kapal itu bersandar adalah cara paling santai untuk beristirahat tanpa harus repot melakukan materialisasi ulang. Ia tidak merasa terancam; dengan teknologi pertahanan kapal yang ia miliki, ia yakin tak ada satu pun penduduk lokal yang bisa menembus keamanan "istana" miliknya.

​"Tuan... apakah kita benar-benar akan meninggalkan 'istana terapung' ini di sini?" Galuh bertanya dengan nada khawatir. Ia kini sudah mengenakan pakaian yang lebih layak, sebuah setelan kain berkualitas tinggi dari inventory sipil Yudi.

​Yudi menoleh sambil menyampirkan tas punggungnya. "Siapa yang berani menyentuhnya, Galuh? Biarkan saja di sini. Kita butuh daratan untuk meregangkan kaki."

​Melihat Galuh yang masih tampak gugup, Yudi merogoh sesuatu dari inventory militer. Ia mengeluarkan sebilah Combat Knife berbahan baja karbon hitam yang sangat tajam dan sebuah Crossbow (panah otomatis) modern dengan bidikan optik.

​"Pegang ini," ujar Yudi sambil menyerahkan senjata tersebut. "Pisaunya untuk jarak dekat, panah ini untuk jarak jauh. Kau hanya perlu menarik pelatuk ini untuk menembak. Senjata ini akan menjagamu jika ada binatang buas atau orang jahat."

​Galuh menerima senjata itu dengan tangan gemetar. Ia bisa merasakan kualitas senjata itu—dingin, kokoh, dan mematikan. "Terima kasih, Tuan. Saya akan melakukan yang terbaik untuk membantu Anda."

​Yudi tertawa kecil. "Cukup jaga dirimu sendiri saja." Ia meraba pistol di pinggangnya yang tersembunyi di balik jubah linen, lalu melompat turun ke pasir pantai yang hangat.

​Mereka mulai berjalan memasuki daratan Jawa. Wilayah utara Mataram saat itu adalah tempat yang hijau dan subur. Petak-petak sawah mulai terlihat di kejauhan, dengan para petani yang menggunakan kerbau untuk membajak tanah. Pemandangan ini sangat kontras dengan Superyacht canggih yang mereka tinggalkan di belakang.

​"Jawa... Kerajaan Mataram," gumam Yudi. Ia berjalan dengan santai, benar-benar menikmati perannya sebagai pengembara.

​Ia sama sekali tidak menyadari bahwa jauh di sana, armada besar ibunya tengah mengaduk-aduk lautan Nusantara hanya untuk mencarinya. Baginya, Wu Lin hanyalah ibu yang meninggalkannya belasan tahun lalu, seorang wanita yang mungkin sudah melupakannya di atas takhta emas. Ia tidak menyangka bahwa sang Maharani sedang mempertaruhkan stabilitas kekaisarannya demi mencarinya di pelosok pulau.

​Kehadiran Yudi dan Galuh langsung menarik perhatian warga desa. Penampilan Yudi yang bersih, tampan, dan mengenakan pakaian dengan bahan yang tidak dikenal membuat penduduk setempat berhenti bekerja. Mereka berbisik-bisik, mengira Yudi adalah bangsawan dari kerajaan seberang yang sangat kaya.

​"Tuan, mereka semua menatap kita," bisik Galuh sambil mengeratkan pegangannya pada busur silang di pundaknya.

​"Biarkan saja. Kita di sini hanya untuk jalan-jalan sejenak, melihat-lihat pasar, dan mencari perbekalan segar sebelum kita lanjut berlayar ke Srivijaya," jawab Yudi santai.

​Ia berhenti di sebuah kedai sederhana di pinggir jalan desa. Yudi mengeluarkan sekeping uang perak untuk membayar beberapa bungkus nasi jagung dan kelapa muda. Penjualnya, seorang wanita tua, hampir menjatuhkan kendi airnya saat melihat uang perak dengan ukiran naga yang sangat halus—simbol yang sangat dihormati oleh penganut Hindu di wilayah itu.

​"Ini... ini uang dari Kerajaan Suci di Utara?" tanya wanita itu dengan suara bergetar.

​Yudi hanya tersenyum tipis tanpa memberikan penjelasan rinci. Ia duduk di bangku kayu panjang, menikmati kelapa mudanya sambil mengamati aktivitas pasar desa. Di benaknya, ia hanya memikirkan rute perjalanannya menuju Srivijaya. Ia merasa menjadi penguasa atas hidupnya sendiri, bebas dari beban masa lalu.

​Yudi berdiri, merapikan pakaiannya, dan menatap ke arah pegunungan di tengah Pulau Jawa yang menjulang megah. Ia tidak tahu bahwa instruksi Yue Qing sudah sampai ke pelabuhan-pelabuhan besar di Jawa. Ia tidak tahu bahwa saat ia sedang asyik berjalan-jalan, mata-mata Shadow Phoenix sudah mulai memperhatikan setiap pendatang asing yang memiliki ciri-ciri seperti dirinya.

​"Ayo, Galuh. Kita lihat apa lagi yang ditawarkan pulau ini," ucap Yudi dengan nada penuh antusiasme, sama sekali buta terhadap badai pencarian yang sedang mengarah tepat ke posisinya.

1
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝☝aja, moga novelnya lancar.
Aisyah Suyuti
good
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua kedua itu thor
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor bikin mcnya membuat Kekaisaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!